← Back to list

Sworn in Blood, Torn by Love

Hanya tentang Kaelen si budak mata - mata dan Thalion si ksatria kerajaan. Keduanya terikat sumpah dengan 'Tuan' nya masing masing…

Ociel H. · 2025-04-06 13:31 · 1 claps · 1.7 min read
#short-story #major-character-death #tragedy #angst #oathkeeper
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval LIT · Literature & Writing 💑 · Relationships 💭 · Philosophy of Spirit

Sworn in Blood, Torn by Love

© wik from Pinterest

© wik from Pinterest

Kaelen hanya bisa menatap pria di depannya. Berdiri dengan begitu gagah. Dengan zirah lengkap dan pedang di genggamannya. Ditatapnya sang pria dengan senyum getir dan air mata yang mengalir.

Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menyalahkan Tuhan atas semua yang dirinya alami. Dirinya selalu berdoa kepada Tuhan. Tapi mengapa hidupnya masih semengenaskan ini.

Dengan cepat Kaelen enyahkan pikiran buruk itu. Dirinya memejamkan matanya. Dalam hatinya, sekali lagi, dirinya memohon pertolongan. Berharap akan kasih Tuhan dan keajaiban.

“Kaelen, apakah kamu memiliki kata-kata terakhir?”

Kaelen membuka matanya, dirinya masih melihat pria yang sama, dengan posisi yang sama di depannya. Ditatapnya pria itu dengan getir.

“Tidak apa, Thalion. Aku rela mati jika itu di tanganmu. Aku hanya berharap, semoga Tuhan memberi kita takdir yang lebih baik, di kehidupan setelah ini.”

Setelahnya dia melihat Thalion mulai mengangkat pedangnya, mengayunkannya dengan cepat. Kaelen terseny, sebelum merasakan sakit yang menyengat di lehernya. Hanya sesaat, sebelum semuanya menjadi gelap.

Sementara Thalion, dirinya masih disitu. Terpaku menatap Tubuh Kaelen dan sudah tergeletak, dengan kepala yang berada tak jauh dari situ. Pandangannya kosong, entah apa yang dipikirkannya.

“Kerja bagus, Sir Thalion. Aku akan membereskan sisanya,” ucapan rekannya yang disusul tepukan dua kali di pundaknya pun tetap membuatnya bergeming.

Tiba-tiba terputar di kepalanya perkataan Kaelen beberapa waktu lalu, seperti kaset rusak.

Aku hanyalah seorang budak yang mengikuti perintah Tuanku. Dan kamu hanyalah seorang ksatria yang mengikuti perintah Rajamu. Hal sesederhana itu, menjadi begitu rumit hanya karena kita saling mencintai.

Dirinya menatap pedangnya yang masih berlumuran darah Kaelen. Ditatapnya lama, hingga dirinya mengarahkan itu ke lehernya sendiri. Berniat untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Kaelen.

Diayunkannya pedang tersebut sambil memejamkan matanya. Namun itu terhenti. Thalion seakan merasakan kehadiran ‘seseorang’ disana. Saat dirinya membuka mata, katakanlah Thalion sudah gila. Karena dirinya melihat Kaelen.

Berdiri di depannya, memegang pergelangan tangannya, sambil menatapnya khawatir. Dirinya bisa melihat Kaelen menggelengkan kepalanya pelan. Seakan memberi isyarat bahwa Thalion tidak seharusnya melakukan hal itu.

Tubuhnya bergetar hebat. Dijatuhkannya pedang miliknya begitu saja. Thalion menunduk dalam. Jemarinya mengepal erat. Air matanya berlomba lomba menuruni pipinya.

Sejak saat itu Thalion hanya hidup sebagai raga yang kosong. Karena jiwanya telah mati. Tepat pada saat dirinya merenggut nyawa kekasih hatinya. Dengan tangannya sendiri.

Thalion hanya hidup untuk mengharapkan kematian. Menunggu saat dimana dirinya bisa bertemu lagi dengan kekasihnya. Berlutut dan memohon untuk sebuah kata maaf yang tidak pantas di dapatnya.


메타데이터
post_id
baca854e447b
slug
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ-baca854e447b
url
https://medium.com/@heyjee/%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4-baca854e447b
canonical_url
https://medium.com/@heyjee/%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4%E3%85%A4-baca854e447b
author_url
https://medium.com/@heyjee
status
ok
fetched_at
2026-08-20 20:16:00