KENAPA PULANG LEBIH CEPAT DARIPADA PERGI?? INI PENJELASAN TERBARUNYA!!
Ternyata pulang memang selalu lebih cepat daripada pergi. Begini ceritanya.
KENAPA PULANG LEBIH CEPAT DARIPADA PERGI?? INI PENJELASAN TERBARUNYA!!
Ternyata pulang memang selalu lebih cepat daripada pergi. Begini ceritanya.

Pernah nggak kalian malam-malam, dalam diam di atas motor, sendirian, sembari melihat sekitar, kemudian tiba-tiba muncul sebuah tanya:
“Eh, kok tadi pas berangkat lebih jauh ya jalannya daripada pas pulang?”
Padahal jalurnya juga sama saja.
Apa jangan-jangan ada yang numpang di jok belakang? atau halusinasi gara-gara belum makan? Apalagi jalannya lewat kuburan yang sebelamnya ada pasar malam.
Aku yakin mayoritas manusia yang pernah jalan-jalan naik kendaraan pernah bertanya begini. Dan mayoritas dari mereka membiarkan perasaan itu menjadi urban legend dalam pikirannya sendiri.
Kita akan bedah, saudara-saudara.
Pertanyaan: Apa benar jaraknya beda antara pergi dan pulang?
Tentu tidak. Coba saja dengan jarak yang sama di waktu yang sama dan dengan kondisi jalan yang sama. Pasti arah pulang tetap lebih cepat. Terkhusus area yang baru pertama kali kita lalui.
Jika demikian, maka itu hanyalah persepsi otak kita saja. ILUSI.
Begini penjelasannya:
Ada 3 faktor yang mempengaruhi:
- Memori dan Persepsi Waktu
- Emosi dan Ekspektasi
- Landmark dan Prediction Bias
MEMORI DAN PERSEPSI WAKTU
Saat perjalanan pergi, otak kita memproses banyak informasi baru (sadar atau tidak sadar; manual atau otomatis): rute baru, pertigaan, ibuk-ibuk jualan pecel, jeglongan, polisi tidur(an). Ini membuat perhatian meningkat dan waktu terasa berjalan lebih lambat. Sebaliknya saat pulang, karena otak sudah mengenali rute dan tidak menyimpan banyak hal baru, maka waktu terasa lebih cepat. Kinerja otak lebih mudah dan lebih santai.
Hal ini didukung oleh Prospective Time Judgment Theory dan Retrospective Time Judgment Theory
Prospektif terjadi ketika dalam perjalanan. Pemrosesan apa yang terjadi di perjalanan itulah yang dinamakan prospektif. Efek melambat dan menyempitnya waktu kita rasakan ketika di perjalanan.
Sebaliknya Retrospektif terjadi setelah perjalanan. Semakin banyak hal yang diingat dalam perjalanan, maka seakan menjadi perjalanan yang panjang dan bermakna.
EMOSI DAN EKSPEKTASI
Ketika kita akan pergi ke suatu tempat yang baru, kita belum tahu pasti seberapa jauh atau berapa lama perjalanan tersebut meskipun sekarang sudah ada maps yang mengkalkulasi.
Intinya, banyak hal yang tak pasti dalam perjalanan.
Ketidaktahuan dan ketidakpastian menimbulkan ketegangan, waspada, perhatian tinggi dan antisipasi terhadap apapun. Itulah yang menyebabkan waktu perjalanan seakan jauh sekali.
Dalamm Cognitive Load Theory, ketidakpastian menambah beban kognitif sehingga persepsi waktu ikut melar
Dan alasan yang terakhir akan sangat menjelaskan mengapa semua ini bisa terjadi

LANDMARK PREDICTION BIAS
Saat kamu pergi dari titik A ke titik C dengan jarak 10 KM, kamu akan melewati titik B yang jaraknya lebih dekat dengan titik C. Jarak titik A dengan titik B adalah 7 KM dan titik B ke titik C adalah 3 KM.
Secara tidak sadar, otak kita menyimpan informasi bahwa dalam 1 kali perjalanan berangkat dari titik A ke titik B dibutuhkan waktu yang lama. Misalnya 10 menit.
Ketika perjalanan pulang, otak kita memutar kaset yang sama. Perjalanan pulang dari titik C ke titik B, dianggap sebagai perjalanan berangkat. Alhasil, otak kita mengira perjalanan tersebut akan berlangsung selama 10 menit, ternyata hanya 6 menit.
“Loh, kok udah di titik B aja. cepet ya.”
Padahal jarak menuju titik B ketika berangkat dan pulang memang berbeda. Lalu, bagaimana jika landmark yang diingat otak jaraknya lebih dekat dengan titik A? Ternyata, otak kita cenderung menurunkan jangkar ke landmark yang baru dan lebih dekat dengan titik akhir perjalanan. Landmark yang dekat dengan titik awal sudah familiar dan kita juga tidak fokus karena perjalanan masih jauh.
Itulah bias yang terjadi. Titik B adalah jangkar memori. Otak tidak menyimpan peta presisi, tapi hanya titik-titik penting yang jika muncul lebih awal dalam perjalanan pulang akan menciptakan ilusi waktu yang lebih cepat.
Jadi, bukan jalannya yang berubah, tetapi cara otak kita yang bekerja berbeda. Semakin familiar rutenya, semakin pendek waktunya.
Semoga ini mampu menjelaskan, saudara-saudara. Kunjungi versi carouselnya di sini Versi Carousel
메타데이터
- post_id
- bb03b8fafac2
- slug
- kenapa-pulang-lebih-cepat-daripada-pergi-ini-penjelasan-terbarunya-bb03b8fafac2
- url
- https://medium.com/@aaroonlib/kenapa-pulang-lebih-cepat-daripada-pergi-ini-penjelasan-terbarunya-bb03b8fafac2
- canonical_url
- https://medium.com/@aaroonlib/kenapa-pulang-lebih-cepat-daripada-pergi-ini-penjelasan-terbarunya-bb03b8fafac2
- author_url
- https://medium.com/@aaroonlib
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 20:16:07