← Back to list

Belajar Geografi Lagi di Usia Dewasa: Reorientasi Diri Memandang Dunia

Geografi menjadi salah satu pelajaran yang kurang menarik bagi saya pribadi ketika di bangku sekolah. Tidak ada alasan khusus sebenarnya…

Muhammad Rizko Fatra · 2026-06-18 04:51 · 0 claps · 3.1 min read
#geografi
Open on Medium ↗

Belajar Geografi Lagi di Usia Dewasa: Reorientasi Diri Memandang Dunia

Photo by Random Person on Unsplash

Photo by Random Person on Unsplash

Geografi menjadi salah satu pelajaran yang kurang menarik bagi saya pribadi ketika di bangku sekolah. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, entah cara penyampaian materi yang terlalu monoton kala itu, atau memang saya tidak memiliki ketertarikan mempelajari kehidupan dan lingkungan di bumi.

Namun, seiring bertambahnya usia, saya merasa mempelajari geografi adalah salah satu target yang harus dicapai dalam hidup. Ini bukan hanya soal mengingat tentang ibu kota negara, mata uang negara, batas-batas wilayah negara, atau sungai terpanjang di dunia, karena geografi lebih dari itu. Geografi adalah mempelajari dan mengenali lingkungan tempat kita tinggal — planet Bumi.

Ilustrasinya seperti ketika Anda tinggal di sebuah perumahan di Menteng (Jakarta Pusat), Country Heights di Kajang (Selangor), atau kawasan Indooroopilly (Brisbane, Australia), tentunya Anda harus mengenal setiap tikungan, jalan kecil, dan siapa saja tetangga di sekitar Anda, bukan? Sama halnya dengan mempelajari geografi, ini adalah bagian dari mengenal tempat kita hidup dan tinggal namun dengan skala yang lebih besar.

Saat remaja, saya sempat berpikir kenapa semua siswa harus belajar geografi? Bukankah ilmu pelajaran ini seharusnya hanya perlu dipelajari oleh orang-orang yang tertarik dengan bumi dan isinya?

Bayangkan, untuk apa kita harus mengingat sungai terpanjang di dunia yang letaknya bukan di Indonesia, atau apa alasan kita harus mengetahui ibu kota Australia padahal kita tidak tinggal di sana.

Namun, pemikiran itu akhirnya berubah 180 derajat ketika saya mulai rutin kembali membaca buku di tahun 2019, saat itu usia saya di 20-an akhir.

Membaca buku menggeser perspektif lama

Photo by Matias North on Unsplash

Photo by Matias North on Unsplash

Membaca buku memberikan perspektif baru bahwa dengan mengenal dunia, maka cara pikir saya pun akan lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi berbagai hal yang terjadi di sekitar.

Dari membaca berbagai fiksi dan non-fiksi saya terpapar oleh cerita yang mengambil latar kejadian di suatu kota di benua lain. Perlahan tapi pasti, hal ini yang memicu saya untuk lebih mengenal geografi.

Kemudian, perlahan saya mulai membaca-baca lagi tentang geografi mulai dari mengingat-ingat ibu kota tiap negara dari skala nasional, Asia Tenggara, dan berlanjut ke benua-benua lain.

Tujuan mempelajari geografi lagi di usia 30-an bukan hanya soal untuk menjadi “yang paling tahu” atau “yang paling berwawasan luas”, namun untuk menambah pengalaman, memperkaya wawasan diri pribadi, dan agar lebih bijak serta menghargai peristiwa apapun. Singkatnya, dengan mempelajari geografi bisa mengajarkan kita merespon fenomena-fenomena di dunia dengan lebih logis dan objektif.

Manfaat Belajar Geografi di Usia Dewasa

Photo by Nada Habashy on Unsplash

Photo by Nada Habashy on Unsplash

Pernyataan saya mungkin akan terdengar tidak biasa, tapi mempelajari geografi menurut saya adalah bentuk mensyukuri karya cipta Allah, sang Pencipta. Selain itu, mempelajari geografi juga menjadi sarana untuk mempertajam kemampuan berpikir kritis dan strategis.

Umumnya, seseorang yang menyukai geografi akan tertarik dengan ilmu lain yang berkaitan misalnya sejarah, geopolitik, filsafat, dan ilmu-ilmu yang mempelajari perkembangan manusia. Hal ini menjadi pemicu seseorang untuk menjadi lebih gemar mengulik lewat membaca buku, artikel, jurnal dan karya tulis lain yang bersifat ilmiah.

Saya percaya bahwa otak manusia harus terus diasah di usia dewasa. Sudah banyak penelitian yang melakukan observasi pada konteks tersebut, Anda bisa mencarinya melalui Google atau bantuan AI. Namun, hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah mempelajari geografi menjadi salah satu sarana untuk memperkuat fungsi otak agar tidak mudah pikun dan melatih pikiran untuk lebih open-minded.

Manfaat mempelajari geografi tidak hanya fokus pada perkembangan kognitif otak namun juga bermanfaat pada kehidupan sehari-hari, contohnya menjadi topik pembahasan saat berkenalan dengan orang, menjadi panduan ketika akan mengunjungi sebuah negara lain dan sebagainya.

Lantas, apakah artinya kita harus menguasai seluruh ilmu geografi dan turunannya? Ya bisa saja jika Anda sanggup, tapi fokus utamanya bukanlah untuk menjadi “yang paling berwawasan” tapi untuk membantu diri agar lebih bijak menyikapi fenomena di sekitar kita. Cobalah dengan mempelajari ulang hal-hal kecil seperti ibu kota provinsi di Indonesia, sungai-sungai terkenal di Indonesia, kemudian beranjak ke skala regional yang lebih luas dan topik yang lebih beragam.

Menurut saya pribadi, tidak ada aturan atau alur baku dalam mempelajari geografi, Anda cukup mulai dari hal yang ingin Anda ketahui dan yang terpenting adalah memulai.


메타데이터
post_id
bb0900feccb9
slug
belajar-geografi-lagi-di-usia-dewasa-reorientasi-diri-memandang-dunia-bb0900feccb9
url
https://medium.com/@rizkofatra/belajar-geografi-lagi-di-usia-dewasa-reorientasi-diri-memandang-dunia-bb0900feccb9
canonical_url
https://medium.com/@rizkofatra/belajar-geografi-lagi-di-usia-dewasa-reorientasi-diri-memandang-dunia-bb0900feccb9
author_url
https://medium.com/@rizkofatra
status
ok
fetched_at
2026-07-26 12:13:33