← Back to list

002

18 Juni 2022

Ventino · 2022-06-18 12:52 · 0 claps · 1.7 min read
#002
Open on Medium ↗

002

18 Juni 2022

Semuanya menanggap bocah itu sebagai manusia yang memang ditakdirkan untuk hidup selayaknya. Arti dari selayaknya di sini adalah sebagai penentu nasib kota mereka ke depannya. Karena para rakyat jelata itu tahu, bahwa bocah itulah yang diramalkan di sebuah buku nun tebal yang terpajang di sebuah museum nan megah di sudut kota. Walau tidak ada bukti yang konkret yang dapat menjelaskan ramalan itu secara detail dan nyata. Namun, mau bagaimana pun, kepercayaan akan hal begituan sudah marak, jadi tidak usah diambil pusing.

Bocah itu adalah seorang anak dari seorang raja, sekaligus calon pangeran di sebuah kerajaan megah di sebuah pulau terpencil yang telah menghilang sejak lama, dan tak banyak orang yang tahu akan keberadaannya. Bahkan, ada seseorang yang pernah menyatakan bahwa ia pernah melihat pulau itu dalam mimpinya, lalu bertemu sang bocah itu. Tuturnya, bocah itu tingginya sekitar lima jengkal telapak tangan orang dewasa; di lehernya terpasang suatu kalung emas berukiran wajah babi; dia telanjang; kepalanya lonjong dan dagunya mencapai bagian dada; dan dia tidak tersenyum. Walau sekali lagi, tidak ada yang dapat betul-betul membuktikan ucapan seseorang itu. Dan karena banyak juga orang-orang yang mulai persetan akan ramalan itu, akhirnya pemikiran akan ramalan itu perlahan pupus tahun demi tahun.

Sekarang buku tebal yang berisi ramalan itu, yang terpajang di museum hanya telah menjadi sebuah pajangan belaka selayaknya sebuah sejarah yang sudah tidak dipedulikan lagi. Apa pulau hilang itu ada atau tidak, tidak ada yang mau tahu akan jawabannya. Tapi, segalanya kembali berubah ketika seorang pedagang dari sebuah negeri entah-berantah hadir ke dalam kota itu. Pedagang berperawakan tua dengan pakaian seadanya, berjualan dengan lapang di dekat pinggir museum. Ia berjualan sebuah buku yang tebal, yang katanya berisi ramalan masa depan yang lebih nyata daripada buku yang ada di museum. Dengan bangga dan rasa percaya diri yang menggebu, dia melabelkan harga yang cukup tinggi pada buku tebal tak pasti itu. Dan sebab tak mau lagi orang-orang di sana ditipu dayakan akan hal yang sama, akhirnya serempak para rakyat mengusir pedagang kumal yang selalu mengoceh hal-hal yang tidak jelas itu.

Pedagang itu telah lenyap dari kota, namun tidak dengan barang dagangannya yang masih berjejer rapi di atas karpet tempatnya berdagang. Kerumunan yang perlahan penasaran akan isi di dalam buku itu, akhirnya membukanya. Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Tak banyak orang tahu, tapi kalanya setelah membuka buku itu sesuatu yang aneh terjadi. Orang-orang di sana seketika merasa diri mereka tercekik akan sesuatu. Leher mereka mengecil karena suatu tekanan entah-berantah. Seketika itu cairan merah meleleh di mana-mana, membuat seisi kota itu menjadi lautan darah. Semua orang di sana mati dalam ketidakjelasan yang tidak masuk akal. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Dan tidak ada pula yang dapat membuktikan keaslian cerita ini secara konkret.


메타데이터
post_id
bb20d110b13d
slug
002-bb20d110b13d
url
https://medium.com/@ventino96/002-bb20d110b13d
canonical_url
https://medium.com/@ventino96/002-bb20d110b13d
author_url
https://medium.com/@ventino96
status
ok
fetched_at
2026-08-18 07:02:42