Segala Tentang Kamu
Kita berada dalam satu ruang dan dimensi yang sama. Namun, keadaan tak mengizinkan kita ‘tuk melantunkan perasaan.
Segala Tentang Kamu

Kita berada dalam satu ruang dan dimensi yang sama. Namun, keadaan tak mengizinkan kita ‘tuk melantunkan perasaan.
Pertemuan adalah takdir. Ketika sepasang mata bertemu, saat itulah mereka menandai keberadaan satu sama lain. Saling mengenal nama indah yang tersemat pada raga, juga mengingat rupa yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Besar.
Namanya Yerin. Perempuan dengan senyum secerah mentari. Tiada hari tanpa wajah bahagianya. Ia seorang yang mudah bergaul dan suka memulai pembicaraan. Temannya banyak, dan orang-orang menyukainya.
Sedang sang pria bernama Wonwoo. Matanya sekelam bulan. Hari-harinya hanya membaca buku dan menikmati kesendiriannya. Temannya hanya bisa dihitung jari, dan orang-orang cenderung mengabaikannya.
Keduanya bersinggungan secara tak sengaja di ruang sepi penuh buku. Pertemuan mereka tidaklah secantik pertemuan dalam novel romansa. Hanya dengan keadaan sang gadis yang tertidur, dan sang pemuda yang terganggu oleh suara dengkurannya.
Maka ketika kedua mata bersitatap, ruang dan dimensi khusus seakan tercipta untuk mereka. Tanpa sadar bibir pun membuka percakapan sederhana tak terlupakan.
“Maaf, kalau kamu mau tidur, sebaiknya jangan di perpustakaan. Kamu menggangguku.”
“Nggak ah. Perpustakaannya dingin. Ini tempat yang cocok untuk tidur.”
“Kalau mencari tempat dingin, lebih baik kau ke UKS. Ada ranjang yang bisa kau tiduri,” keluh sang pria dengan mata tak terlepas dari buku.
“Aku diusir. Mending di sini, soalnya aku punya alasan.”
“Alasan apa?”
“Belajar tentu saja.”
“Kau mau aku melaporkanmu?”
Sang gadis tersenyum miring. “Memang kau siapa?”
Sang pria langsung menyodorkan sebuah kartu organisasi.
“OSIS?!” pekik gadis itu. “Kau bohong ya? Aku nggak kenal tuh!”
“Memangnya kamu kenal semua anggota OSIS?”
Sang gadis menyengir tanpa dosa. “Kalau begitu tolong jangan laporkan aku eum…,” ia melirik kartu yang segera ditarik oleh sang pria — telat karena gadis itu sudah melihat namanya, “… Jeon Wonwoo.”
Wonwoo sempat ingin membalas, namun terhenti ketika pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka, menampakkan seorang guru lelaki berkacamata.
“Ada yang melihat Jung Yerin?”
Wonwoo hanya diam. Gadis itu bersembunyi di kolong meja.
“Kau sendirian, Wonwoo?”
“Ya, Pak. Kelas saya sedang kosong, jadi saya ke sini.”
“Melihat murid perempuan?”
Wonwoo menggeleng. “Bapak mencari siapa?”
“Jung Yerin kelas IPS 2. Dia tidak ada dikelasku.”
Mata Wonwoo melirik ke kolong meja. Gadis itu menunduk, menyembunyikan keberadaannya dengan sangat baik.
“Mungkin di UKS atau atap? Bukannya para murid sering ke sana kalau bolos?”
“Bapak sudah ke UKS, tapi dia nggak ada. Bapak akan coba ke atap kalau begitu. Terimakasih, Wonwoo.”
Begitu sang guru pergi, Yerin langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Ia melirik Wonwoo sebentar, lalu tersenyum.
“Makasih, ya. Aku harus pergi. Sampai jumpa!”
Pertemuan singkat, namun entah mengapa sangat membekas dalam memori.
Karena sejak saat itulah keduanya tanpa sadar saling mencari.
Dalam kebisuan mereka tau. Jung Yerin adalah siswi yang berprestasi di bidang tari. Ia merupakan salah satu murid andalan yang selalu mengikuti lomba. Sedangkan Jeon Wonwoo adalah siswa yang aktif di bidang sastra. Diam-diam ia telah menerbitkan empat buah buku, dan namanya telah dikenal oleh para pencinta sastra.
Percakapan itu memang membekas, namun tidak menjadikan mereka saling mengenal. Mereka kadang berpapasan, namun tak satupun kata terucap untuk menyapa. Hanya memerhatikan dalam diam dan bertanya, bagaimana kabarnya? Apakah ia baik-baik saja?
Jawaban itu mereka cari tau sendiri.
Hingga akhirnya timbul rasa suka.
Alunan musik klasik memenuhi ruangan. Suasana syahdu nan romantis melingkupi kedua pasangan yang tengah malu-malu di depan altar. Cincin tersemat di jari manis. Pertanda bahwa mereka telah terikat.
Kedua pasang mata tak berani melirik satu sama lain. Malu dan takut bila tak bisa menahan hasrat terpendam.
“Selamat atas pernikahan kalian!”
Hari ini merupakan hari sakral. Sepasang manusia tengah mengikat janji suci sehidup semati. Dua manusia yang berkebalikan, namun saling melengkapi.
Keduanya terkejut saat kulit lengan tak sengaja bersentuhan.
“Ouch!”
“Maaf…”
Akhirnya kedua pasang matapun bersitatap. Meski jantung berdebar kencang, tautan mata itu tak mereka lepaskan.
Lalu keduanya tertawa kecil.
“Kau kayak nggak pernah nyentuh wanita aja.”
“Kamu juga kaget. Jangan cuma menyalahkanku!”
“Uh… jantungku…”
Sang pria tersenyum simpul dan menatap dalam sang kekasih hati.
Tiba-tiba lagu berubah menjadi waltz, pertanda bahwa acara dansa telah dimulai. Para tamu pun berbondong-bondong ke lantai dansa untuk menari bersama pasangan mereka.
Seketika itu pula Yerin mengulurkan tangannya. Wonwoo menatapnya bingung. Senyum khas Yerin pun membalas tatapan sang kekasih.
“Ayo berdansa denganku!”
Wonwoo terdiam. Ini pertama kalinya seorang perempuan mengajaknya berdansa.
“Aku baru tau seorang perempuan bisa mengajak berdansa.”
“Karena aku Jung Yerin!”
“Kau memang aneh.”
Yerin hanya tersenyum dengan mata yang melengkung. “Makanya ayo!”
“Tapi…”
“Mempelai harus berdansa, kan? Coba kau lihat para tamu. Masa kita sebagai tuan rumah tidak berdansa?” Yerin berucap dengan wajah lucu.
“Aku nggak bisa berdansa.”
“Kau lupa aku seorang penari?” Tanpa basa-basi, Yerin segera menarik tangan Wonwoo, menuju ke tengah-tengah lantai dansa. “Aku akan menuntunmu. Ini cuma dansa sederhana kok.”
“Aku takut melukai kakimu.”
“Tak masalah. Aku sudah biasa cedera berkali-kali.” Lagi-lagi senyum tersemat di bibir pemilik gaun putih. “Atau kau merasa harga dirimu terluka, Tuan Jeon?”
Segera Wonwoo menggeleng. Tidak, ia tidak merasa begitu. Menurutnya, tidak ada yang harus dikhawatirkan jika itu Yerin.
Karena Yerin separuh hidupnya sekarang.
“I trust you, Jung Yerin.”
Senyuman Yerin semakin melebar. Secara tiba-tiba, ia memutar dirinya. Membuat Wonwoo kaget kalau-kalau perempuan itu jatuh. Secara refleks tangannya melingkar di pinggang sang wanita dan mendekatkan tubuhnya.
“Gerakan yang bagus, Jeon.”
“Ck, jangan melakukan hal yang gila, Yerin!”
“Aku hanya berputar. Kau saja yang banyak pikiran.”
Wonwoo mendengus malu. Sedangkan Yerin dengan sigap meraih jari jemari Wonwoo, dan menggenggamnya.
“Ikuti langkahku.”
Maka Yerin mulai menuntun Wonwoo, diikuti dengan iringan lagu waltz yang romantis.
Mereka takut. Tidak percaya diri. Menurut Wonwoo, Yerin akan sulit didekati. Ia dikelilingi banyak orang hebat, juga lelaki yang tampan dan berbakat. Dibanding mereka, apalah Wonwoo dimatanya.
Terlebih ia tak punya keberanian untuk menyapa.
Wonwoo sendiri tak tau sejak kapan perasaan itu berlabuh. Entah karena pertemuan mereka di perpustakaan, atau malah sebelumnya. Wonwoo sudah menyadari keberadaan Yerin sejak lama. Bagaimana tidak, gadis itu hobi kabur dari kelas.
Wonwoo juga salah satu penonton setianya saat ia tampil. Padahal ia bukanlah orang yang mau repot-repot hanya untuk menonton orang. Meski jabatannya di OSIS membuatnya selalu menjadi panitia acara — yang otomatis membuatnya menjadi pendamping siswa yang mengikuti lomba — Wonwoo tidak akan menonton dan lebih memilih untuk jajan di stand yang tersedia.
Namun, hal itu tidak berlaku untuk Yerin. Ketika gadis itu mulai bergerak, disitulah ia dapat merasakan bebasnya gadis itu saat di panggung. Perasaan gadis itu ketika menari seakan menyentuh sanubari. Cantik, itu yang ia pikirkan.
Saat melihat Yerin memenangkan kejuaraan, ia akan merasa bangga. Saat melihat Yerin terjatuh, ia akan merasa khawatir. Segala tentang Yerin sangat tidak masuk akal di kepalanya. Bagaimana bisa ia menaruh hati pada perempuan itu?
Namun, ia sadar diri. Yerin akan lebih baik bersama dengan pria lain. Bukan dirinya.
Tidak hanya sekali ia melihat Yerin tertawa bersama pria lain dan menghabiskan waktunya bersama mereka. Tipe seperti Yerin tentu tidak akan betah bicara dengan satu orang pria saja. Wonwoo juga sering mendapati loker Yerin didatangi para pengirim surat yang kemudian akan dibaca gadis itu dengan hati berbunga.
“Wonwoo?”
“Iya?!”
Wonwoo tersentak dari lamunan. Di depannya, sang gadis melambai dengan pakaian yang begitu cantik. Ia lupa, sebentar lagi pentas seni akan dimulai.
“Kami tampil urutan berapa?”
Dengan sigap Wonwoo mengecek jadwalnya. Pasangan penari yang memenangkan kompetisi tingkat nasional akan menampilkan tarian kontemporer.
Mereka adalah Jung Yerin dan teman dekat Wonwoo, Wen Junhui.
“Kalian tampil setelah pentas angklung. Duduk saja di sini dulu,” ujar Wonwoo dengan profesional.
Ketika sampai pada pertengahan acara, barulah Yerin dan Jun bersiap-siap. Wonwoo tidak banyak bicara. Ia hanya mengucapkan semangat pada Jun.
Ia tidak berani menyemangati Yerin.
Maka saat musik diputar, Yerin dan Jun memberikan atraksi terbaik mereka di panggung. Ini adalah penampilan terakhir mereka, karena beberapa bulan lagi mereka akan lulus dari sekolah ini.
Wonwoo tak berhenti kagum. Gerakan Yerin sangat detail dan indah. Juga Jun yang melengkapi dengan atraksi tak kalah hebat. Dalam diam Wonwoo merasa iri. Jun sangat cocok bersanding dengan Yerin. Ia sangat melengkapi Yerin di penampilan kali ini.
Yerin pantas bersama Jun.
Wonwoo mulai membayangkan. Seandainya ia adalah Jun, apakah ia bisa melengkapi Yerin seperti itu?
Apa rasanya menari dengan bebas bersama Yerin?
“Wonwoo, jangan sibuk menghitung tempo. Gerakanmu jadi aneh.”
Perempuan itu menggerutu saat Wonwoo berkali-kali salah langkah. Mereka berhenti sejenak, mengatur nafas.
“Sudahlah, aku merasa malu,” ucap Wonwoo saat mengetahui kalau mereka tengah menjadi pusat perhatian.
“Kau mau menyerah? Enak saja!” omel Yerin. Dengan cepat ia bawa kembali tubuh Wonwoo untuk bergerak.
“Sudah kubilang ikuti saja langkahku. Kau tak perlu mengkhawatirkan tempo, oke?” bisik Yerin tepat di telinga Wonwoo. “Aku tak masalah jika kau menginjak gaunku. Percaya aku.”
Dalam sekejap Yerin berhasil membawa Wonwoo melangkah. Meski awalnya masih terasa kaku, Yerin tetap melanjutkan dengan percaya diri.
Mereka bertatapan. Dalam dan penuh arti. Di saat seperti ini, waktu pun terasa terhenti untuk mereka. Menyediakan tempat khusus dimana mereka dapat merasakan perasaan satu sama lain.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Wonwoo percaya pada Yerin. Sepasang kekasih itu mulai terbiasa dengan tempo langkah mereka.
“Bisa kan?”
Wonwoo melihat Yerin menyeringai. Tautan mata tak terlepas, justru malah semakin dalam. Mereka menyelami arti tatapan masing-masing.
Penuh rasa, penuh sayang.
Penuh cinta.
Maka Wonwoo dengan berani mengambil langkah tak terduga, membuat Yerin agak sedikit kaget karena ulahnya. Akibatnya, ia menginjak kaki sang pria.
“Ternyata kau yang menginjak kakiku,” goda Wonwoo.
“Oh ya?” Seringai Yerin semakin melebar. “Kalau begitu, aku juga tak akan segan-segan.”
Mendengar itu, Wonwoo jadi ciut. Yerin bukanlah seseorang yang menarik kata-katanya. Lihat saja, sekarang gadis itu mulai berputar di rengkuhan Wonwoo.
“Coba lawan aku!”
Gerakan yang semula sederhana kini menjadi lebih kompleks. Wonwoo tak segan-segan melangkah lebih jauh, dan Yerin pun tak ragu bergerak secara bebas. Tak ada halangan dalam gerakan mereka. Seakan lantai dansa hanya tersedia untuk mereka saja.
Tangan Wonwoo memeluk pinggang kurus Yerin, sedangkan Yerin memegang erat pundak Wonwoo. Terus melangkah tanpa henti dengan lagu waltz yang seakan tak pernah berakhir.
Jadi ini rasanya menari bersama Yerin.
Menurut Yerin, Wonwoo akan sulit didekati.
Bagaimana tidak? Lelaki itu banyak menghabiskan waktunya seorang diri. Ia pasti menutup diri dari kehadiran orang lain, terutama orang yang tidak ia kenal dekat.
Setelah kejadian itu, Yerin jadi sering melihatnya. Ternyata memang benar ia anggota OSIS. Ia sering menjadi pendamping Yerin ketika ikut lomba.
Selama itu pula Yerin menyadari kalau ia bukanlah apa-apa.
Wonwoo hanya mau bicara santai dengan orang yang dekat dengannya. Contohnya Kwon Soonyoung, ketua klub tarinya. Soonyoung dan Wonwoo merupakan teman SMP. Interaksi mereka berada diluar dugaan Yerin. Wonwoo yang selama ini hanya menjawab singkat dan tersenyum tipis ternyata bisa terbahak dengan pemuda bermarga Kwon itu.
Seketika Yerin merasa iri.
Ia tau dirinya tidak akan mampu mendekati Wonwoo. Melihat perlakuan Wonwoo dengan para gadis saja sudah membuatnya minder. Wonwoo tidak akan menanggapi mereka panjang-panjang. Ia juga jarang menampilkan ekspresi yang berarti. Jika Yerin melakukan sesuatu yang biasa ia lakukan pada teman lelakinya yang lain, sudah pasti Wonwoo akan merasa risih.
Karena itulah ia pura-pura tidak peduli.
Yerin tidak tau sejak kapan ia menyukai pemuda Jeon itu. Entah saat pertemuan mereka di perpustakaan, atau malah setelahnya. Yerin benar-benar tidak tau siapa Jeon Wonwoo sebelumnya. Ia sangat terkejut saat tau Wonwoo merupakan siswa yang aktif di bidang sastra.
Ia tak pernah menyangka buku yang diterbitkan Wonwoo adalah buku favoritnya.
Saat ia tak tahan untuk mendekat, iapun berniat mencobanya. Namun, niat itu tak terlaksana karena suatu hari, ia melihat Wonwoo sedang berbincang akrab dengan seorang gadis tepat di gerbang sekolah.
Dengan cara bicara yang sama seperti saat ia mengobrol dengan Soonyoung.
Ketika itu Yerin tersenyum miris. Pastilah ia tak memiliki ruang untuk mendekat. Wonwoo terlalu sulit untuk ia gapai.
Perempuan itu pasti spesial untuk Wonwoo.
Setelah itu, masa SMA mereka berakhir. Kisah merekapun terhenti.
. . .
Ternyata belum. Mereka kembali dipertemukan di kampus yang sama meski berbeda fakultas.
Hubungan mereka tidak berubah. Setiap hari dipenuhi oleh angan-angan semu. Berharap jika ada kesempatan diantara mereka.
Tapi bagi Wonwoo yang rendah diri, berapa kesempatanpun tidak akan cukup. Menurutnya Yerin tetap akan menjadi matahari. Jauh dan mustahil untuk didekati.
Semua bermula ketika Yerin ditembak oleh kakak tingkat di depan umum. Saat itu Wonwoo hanya terdiam di sana. Tanpa aba-aba, mata mereka bertubrukan sejenak. Membuat hati Wonwoo kepalang perih saat mengetahui jawaban sang gadis.
Ia menerima kakak tingkat itu.
Wonwoo harus merelakan perasaan sepihaknya. Lagipula, untuk apa menyukai bila tak dapat digapai?
Juga bagi Yerin yang sibuk berprasangka. Wonwoo pasti sudah memiliki orang spesial di hatinya. Jadi apalagi yang harus ia harapkan? Untuk apa ia terus menyukai bila tak berbalas?
Apalah artinya mencinta bila tak terucap?
Karena itulah ia menerima sang kakak kelas.
Sudah tiga kali mereka berganti lagu. Namun, pasangan kekasih itu tetap melanjutkan langkahnya dengan berani. Tempat itu benar-benar tercipta untuk mereka saja. Tiada yang berani mengusik indahnya cinta mereka.
“Hey, Wonwoo,”
“Hm?”
Yerin membelai sisi kiri wajah Wonwoo dengan penuh kelembutan.
“Apakah kamu memang biasa menatapku seperti ini?”
“Maksudnya?”
“Kamu. Menatapku sedalam ini.”
Dengan kaki yang masih terus melangkah, Wonwoo menjawab ringan,
“Aku selalu memujamu.”
Rona merah tak dapat terhindar dari wajah Yerin. Dengan malu, ia menunduk menatap kaki mereka yang melangkah berirama.
“Aku tak menyangka kau cepat belajar,” katanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Bilang saja kau malu,” Wonwoo tetap menatap wanitanya. Yerin mulai menepuk pundak Wonwoo sebagai pelampiasan. “Kau indah, Yerin. Bagaimana bisa aku berhenti memuja?”
“Aneh,” Yerin tertawa kecil. Ia kembali menatap sang pria. “Memang ya, Jeon Wonwoo dengan keelokan kata-katanya.”
“Hanya untukmu.”
“Bohong. Kau menulisnya juga untuk pembacamu.”
“Itu benar. Tapi saat menulisnya, aku selalu memikirkanmu,” kata Wonwoo sambil merapatkan tubuhnya pada sang wanita. “Aku menulis sesuai perasaanku.”
Yerin mengernyit. “Jadi semua buku patah hati yang kau tulis?”
“Iya. Itu perasaanku.”
“Sejak kapan kau menulis tentangku?”
“Entah. Mungkin sejak awal kita satu sekolah,” jawab Wonwoo yang membuat Yerin melongo terkejut. “Sejak dulu aku selalu memerhatikanmu.”
Yerin bungkam. Pria itu baru saja mengatakannya.
Aku selalu memerhatikanmu.
Seketika itu pula Yerin merasa lega sekaligus sesak. Jadi, segala hal yang ia pertanyakan dan segala resah yang ia rasakan tiap waktu itu tiada artinya?
Semuanya sia-sia?
“Kenapa kau tak bilang dari dulu?!”
Wonwoo tersenyum dengan wajah teduhnya. Ia mengelus pipi kiri Yerin, melepaskan rangkulan mereka sejenak.
“Bagiku kau sulit sekali digapai. Kau dikelilingi banyak orang. Wanita sepertimu tentu tidak akan mau bersama denganku yang tidak punya eksistensi berarti. Aku hanya pria bayangan yang mengagumimu dalam diam. Bukan pria yang menunjukkan cintanya secara jelas,” ujarnya penuh kelembutan. Mata Yerin berkaca-kaca mendengarnya. “Maaf sudah menyembunyikannya.”
“Wonwoo,” Yerin kembali meraih sisi wajah Wonwoo dan mengelus rahang tajamnya. “Aku juga mengagumimu sendirian.”
Langkah kaki mereka melambat, mengikuti tempo lagu yang sekarang mengudara.
“Kamu penyendiri. Orang sepertimu tentu tidak akan nyaman denganku. Kamu cuma akan bicara lepas bila bersama orang tertentu saja. Saat aku melihatmu mengeluarkan berbagai macam ekspresi pada ‘orang tertentu’ membuatku urung menyapamu. Kamu mungkin tidak akan menerimaku. Apalagi kalau kamu sudah punya seseorang yang spesial di hatimu,” ungkap Yerin tulus. Ia menatap Wonwoo dengan lembut. “Maaf, aku penakut.”
Wonwoo tertawa. Semua terasa lucu. Takdir benar-benar mempermainkan mereka.
“Seandainya waktu bisa terulang, apakah kita akan lebih cepat bersama?” bisiknya sendu.
Yerin menggeleng dengan senyum tipis. “Bila waktu terulang, belum tentu kita bisa mengikat janji seperti sekarang. Semua sudah terencana begini oleh Tuhan. Sudah sepatutnya kita syukuri.”
“Kau benar.”
Tiba-tiba Wonwoo memutar tubuh Yerin, membuat perempuan itu kehilangan keseimbangan dan segera ditangkap sang kekasih.
“Ayo mendekat. Aku ingin terus memelukmu.”
Hubungan Yerin kandas dalam sekejap. Ternyata ia hanya dipermainkan. Yerin merasa rendah. Padahal sebelumnya, pria itu memperlakukannya begitu baik dan berhasil membuatnya sangat percaya.
Yerin bahkan sudah jatuh padanya.
Kehidupan perkuliahan semakin membosankan. Yerin tidak pernah melihat Wonwoo lagi. Pemuda itu menghilang seakan tak pernah ada di dunia ini. Hingga kelulusanpun Yerin tak bertemu dengannya.
Tapi ternyata, mereka ditakdirkan untuk berpapasan lagi. Sekitar dua bulan setelah kelulusan, mereka berjumpa di kantor yang sama.
Dengan perasaan berbeda.
Ketakutan Yerin menjadi kenyataan. Wonwoo memiliki seorang spesial di sisinya. Sementara Yerin telah kehilangan orang spesial itu. Mereka kini sama-sama menjauh. Bertegur sapa saja tidak, bagaimana mau bicara santai?
Sejak kejadian patah hati, Yerin selalu menolak pria yang mendekatinya. Semua pria yang ia temui sama sekali tidak cocok dengannya. Ia juga malas memikirkan hubungan yang tidak serius. Jika seriuspun, Yerin akan benar-benar selektif.
Satu setengah tahun setelah ia bekerja, perusahaannya menggelar sebuah acara besar dimana banyak kolega penting. Para karyawan bebas menikmati acara sesuka hati. Ada banyak makanan, juga tempat berdansa dan karaoke bersama.
Di situlah Yerin melihat Wonwoo sendirian, sama seperti dirinya. Pemuda terlihat tidak tertarik dengan pesta.
Hatinya berdegup kencang. Setelah sekian lama, Yerin memberanikan diri untuk menyapa Wonwoo lagi.
“Sendirian?”
Pria itu menoleh. Wajahnya datar, seperti biasa.
“Ya.”
“Oh, kukira kamu bersama seseorang,” celetuk Yerin santai. “Boleh aku duduk di sini? Aku juga sendiri.”
“Silakan.”
Hening. Mereka memilih untuk menikmati minuman masing-masing.
Tapi Yerin tidak menyerah.
Setidaknya sebelum dunia berakhir, ia ingin mengobrol banyak dengan pria itu.
“Kamu sudah makan?”
“Sudah. Kamu?”
“Sudah juga. Oh ya, kamu udah coba es krimnya?”
“Gigiku sedang ngilu, jadi aku nggak bisa makan.”
“Wah sayang sekali. Padahal rasanya sangat enak. Aku berencana untuk bertanya mereknya pada penyelenggara acara. Siapa tau aku bisa stok di rumah. Hehe…”
Diam-diam Wonwoo tersenyum. Ia merindukan cengiran perempuan itu.
“Kamu nggak bawa pacarmu?”
Wonwoo mengernyit saat mendengar pertanyaan gadis itu.
“Pacar?”
“Iya. Ituloh cewek yang selalu bareng kamu.”
Wonwoo malah menatap sang gadis dengan penuh selidik. “Justru aku yang tanya, pacarmu mana?”
“Kok tanya balik sih?” Yerin merengut. “Aku udah lama putus tau. Sekitar enam bulan sebelum wisuda? Ah, entahlah.”
Wonwoo terlihat terkejut. “Begitu? Maaf.”
“Ya, nggak masalah. Aku saja yang terlalu terbuai sama laki-laki. Harusnya aku nggak usah percaya sama dia. Jadinya kan begini,” gerutu Yerin. “Sayang sekali, padahal aku sudah jatuh cinta padanya.”
Wonwoo diam menatap Yerin.
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Mana pacarmu?”
“Kamu pikir orang sepertiku punya pacar?” Wonwoo menyeringai, membuat ia berkali-kali lipat lebih tampan. “Aku ini jomblo sejak lahir.”
“Hah?! Mustahil!” Yerin memekik.
“Apa yang mustahil? Justru kalau aku punya pacar orang bakal terheran-heran,” ujar Wonwoo saat melihat reaksi Yerin.
“Jadi cewek yang sering bersamamu siapa dong?”
Wonwoo terkekeh. “Kakak sepupuku. Kebetulan dia kerja di sini juga.”
“O-oh…”
Yerin merasa malu sudah berspekulasi tidak-tidak.
“Kalau aku tau kamu sendiri dari dulu, mending aku pacaran dengan kamu saja daripada sama kating sialan itu!”
Wonwoo membelalakkan mata. Terkejut dengan ucapan spontan Yerin. Beberapa detik kemudian perempuan itupun sadar dan menutup mulutnya.
“A-aku tidak bermaksud…”
Di tengah keramaian pesta, mereka terdiam menahan malu. Perasaan yang dulunya sempat tak terasa kini muncul kembali ke permukaan. Jantung mereka berdebar, wajah mereka memerah. Mereka saling mencuri pandang. Bila tertangkap basah, mereka akan langsung meminum jus sebagai pengalihan.
Waktu terasa terhenti untuk mereka. Lagi-lagi perasaan menggebu seakan membuat dimensi khusus yang isinya hanya ada pria bernama Wonwoo dan juga wanita bernama Yerin.
Tidak tahan.
“Ye… Rin…”
Itu pertama kalinya Wonwoo memulai pembicaraan.
“Y-ya?”
Mata tidak saling melirik, namun Wonwoo benar-benar mengatakannya.
“Aku sedang sendiri. Kalau kamu mau… mungkin kita bisa mencoba?”
Batas-batas diantara mereka mulai lumpuh sejak hari itu.
Satu tahun dua bulan berlalu hingga mereka bisa berdiri bersisian.
Mereka terus bergerak, namun tiada lelah terasa. Keduanya masih saling memeluk, menyalurkan cinta mereka.
“Aku jadi ingat kejadian tiga bulan lalu,” celetuk Yerin. Sekarang kedua dahi mereka saling menempel.
“Kenapa?”
“Kaget, Won. Kamu tiba-tiba datang ke rumah buat lamar aku.”
Wonwoo tertawa pelan. Manis sekali wajahnya.
“Aku kan sudah bilang waktu itu, Sayang,” Yerin merinding saat Wonwoo memanggilnya ‘sayang’. “Aku benar-benar ingin hidup bersamamu.”
Yerin resah. Dahinya mengerut. Iapun menatap Wonwoo dalam.
“Apa kau tidak mau mengatakannya dengan jelas? Kau selalu memakai kiasan untuk menyatakan perasaanmu,” keluh Yerin. Hidung mereka kini menempel.
Terlalu dekat, tapi mereka menyukainya.
“Ayo katakan dengan jelas!”
Dibanding menuruti perkataan Yerin, Wonwoo malah semakin mempersempit jarak diantara mereka. Membuat para tamu memekik tertahan melihat kedua mempelai itu.
Pria itu menciumnya.
Sebelas bulan bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. Yerin dan Wonwoo benar-benar meruntuhkan segala batasan yang mereka buat. Wonwoo semakin percaya diri untuk berbicara dengan Yerin. Sedangkan Yerin mengembalikan kepercayaannya hanya untuk Wonwoo.
Sore itu, mereka duduk santai di depan kantor setelah bekerja untuk berbincang tentang banyak hal. Awal mula mereka mencoba dekat, Wonwoo masihlah pria berwajah datar. Namun lama kelamaan, ia sudah bisa berbaur dengan Yerin. Apalagi wanita itu mudah sekali membawa suasana.
“Ternyata umurku sudah 25 tahun ya,” ucap Yerin sembari meminum coklat panasnya. Beberapa menit lagi matahari akan terbenam. Angin mulai berhembus, menciptakan sensai dingin di kulit mereka.
“Aku juga.”
“Apakah tahun depan aku akan menjalani hidup baru?”
Wonwo meliriknya sebentar, lalu mengangkat bahu. “Nggak tau. Itu kan hidupmu.”
“Ah, Wonwoo nggak seru!” keluh Yerin sebal. Memang dirinya yang penuh ekspresi ini sangat cocok dengan pria lempeng seperti Wonwoo.
“Jadi aku harus gimana?”
“Katakan hal yang berguna kek! Atau lakukan sesuatu untukku,” kata Yerin sambil merengut.
“Maksudmu lakukan sesuatu?”
“Iya, mencoba hal baru misalnya.”
Yerin tidak tau apa yang salah dari ucapannya, tapi gara-gara itu Wonwoo menatapnya lama sekali. Seakan-akan Yerin akan lepas bila ia berhenti menatap.
Yerin mendadak gugup.
“Wonwoo…?”
“Yerin,” pria itu berucap dengan suara yang sedikit ganjil. Terdengar dalam dan serius.
“Ya?”
“Mau jadi milikku?”
Seketika Yerin tersedak. Ia melotot pada sang pria.
“Maksudmu apa?!”
Meski begitu, tatapan Wonwoo tidaklah berubah. Malah semakin dalam. Jantung Yerin makin tidak tenang.
“Iya, jadi milikku,” pria itu memberi jeda, “Aku juga mau jadi milikmu.”
Hari itu Wonwoo mengatakannya, tepat saat matahari mulai terbenam. Seakan langitpun merestui perasaan mereka yang terpendam.
“Wonwoo, kau…”
“Kau bilang mau hidup baru kan? Kalau begitu, ayo hidup bersamaku.”
Mereka terdiam lama. Tapi akhirnya, Yerin mengangguk malu-malu dengan semburat merah di kedua pipinya. Menciptakan hembusan nafas lega dari sang pria.
Sore itu, akhirnya mereka menjalin cinta yang selama ini tertahan begitu lama.
Dan keesokan harinya, Wonwoo datang ke rumah Yerin untuk melamarnya.
Tautan bibir terlepas. Yerin bergetar dalam dekapan Wonwoo, merasa malu dan lemas karena kejadian barusan.
“Yerin,” sang pria berbisik lembut. Mencoba menarik perhatian sang kekasih hati. “Aku tau ada yang mau kau katakan juga padaku. Mau mengatakannya bergantian?”
Dalam pelukan sang pria, Yerin mengangguk. Ia menatap mata rubah suaminya dengan penuh perasaan. Mereka bergeming di tengah lantai dansa meski lagu waltz masih bergema.
“Yerin,” mulai sang pria.
“Wonwoo,” balas sang wanita.
Wonwoo tersenyum.
“Aku cinta kamu.”
Jantung Yerin terasa lepas. Ia merasakan perasaan luar biasa. Berdebar, merinding, juga lega.
“Aku juga cinta kamu, Wonwoo.”
Dan Wonwoo pun merasakan hal yang sama.
“Aku selalu bermimpi bersamamu. Aku rindu kamu di sekitarku. Segala tentangmu membuatku ingin memilikimu. Aku… benar-benar cinta kamu, Yerin.”
Air mata Yerin menetes. Ia terharu. Wonwoo… pria itu benar-benar tak terbaca.
“Kau…,” Yerin terisak. “Aku juga selalu ingin bersamamu. Sejak dulu aku menahannya, Wonwoo. Aku ingin memilikimu. Aku rindu kamu ketika dirimu tak terlihat olehku. Aku juga… sangat mencintaimu. Segala tentang kamu.”
Setelah itu, keduanya menyatukan bibir kembali. Tanpa paksaan, murni karena perasaan cinta yang begitu dalam.
Semua yang tertahan selama ini telah terlepas. Sekarang tidak ada lagi rasa yang disembunyikan. Segalanya telah tertuang dalam ciuman manis penuh kasih.
Lagu waltz pun berhenti, dansa telah selesai. Menghadirkan tepuk tangan dari semua orang. Tautan bibir dilepas, demi menatap mata satu sama lain. Keduanya sangat bahagia. Karena kini, hanya ada Yerin, Wonwoo, dan juga cinta mereka yang mengudara.
“Ayo istirahat dulu. Kita masih punya banyak untuk berdansa,” kata Yerin sambil mengerlingkan matanya.
Wonwoo tertawa. Lalu melangkah bersama istrinya untuk duduk di kursi mereka.
Benar, masih ada waktu lain untuk saling merasakan cinta.
Karena bukan hari ini saja. Ada hari esok dan tahun-tahun berikutnya yang akan berisi segala tentang mereka.
Karena Wonwoo dan Yerin bukan lagi aku dan dirimu.
Melainkan kita.
Begitu duduk, mereka masih sempat untuk saling bertatapan dan kembali mengatakan hal sakral. Namun, tidak bergantian seperti tadi, melainkan secara bersamaan.
“Aku mencintaimu.”
Selamat menempuh hidup baru!
. .
END
메타데이터
- post_id
- bb28500029cc
- slug
- segala-tentang-kamu-bb28500029cc
- url
- https://medium.com/@arisayrazi/segala-tentang-kamu-bb28500029cc
- canonical_url
- https://medium.com/@arisayrazi/segala-tentang-kamu-bb28500029cc
- author_url
- https://medium.com/@arisayrazi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 12:09:50