← Back to list

Haus Atensi

Mungkin sebagian dari yang membaca judul ini akan merasa frasa tersebut terdengar seperti frasa negatif. Demikian juga aku.

Hanni Rezky Azzahra · 2020-12-29 15:11 · 8 claps · 1.5 min read
#atensi #haus #perhatian #caper #pola-pikir
Open on Medium ↗

Haus Atensi

Mungkin sebagian dari yang membaca judul ini akan merasa frasa tersebut terdengar seperti frasa negatif. Demikian juga aku.

Jika memaknai kata haus sendiri, haus sering terjadi ketika kita sedang kelelahan setelah melakukan suatu aktivitas atau ketika kita kekurangan cairan tubuh sehingga membuat kita ingin minum.

Jadi, haus atensi itu apa? Buruk?

Terlintas di pikiranku, apa sebenarnya yang dimaksud dengan haus akan atensi? Apakah ketika meminta perhatian dari pacar dan ngambek ketika sang pacar tak acuh? Atau ketika membuat status-status di sosial media dan berharap ada notifikasi datang setiap menitnya? Atau bercerita panjang x lebar mengenai apa yang dicapainya untuk mendapat validasi dari orang-orang? Atau apa? Selain itu, memangnya itu hal buruk, kah?

Bukankah setiap orang pernah dan akan selalu bisa merasa haus?

Seperti yang sudah kutulis sebelumnya, haus diakibatkan (bisa) karena kurangnya cairan tubuh atau lelah setelah melakukan sesuatu. Haus atensi juga (bisa) berarti karena kurangnya perhatian pada individu tersebut atau karena individu tersebut usai melalui jalan yang melelahkan, bukan? Lalu, tindakan solusi dari kasus haus tersebut ya diberi air, gak sih? Atau memberi air adalah sebuah pilihan yang salah yang bisa membuat seseorang tersebut menjadi rakus meminum air?

Kalau sifat rakus itu yang salah, rakus itu karena apa?

Terlintas juga di kepalaku karena temanku membahas suatu topik di story Instagramnya. Kurang lebih ini topiknya.

Apakah kesadaran kita dikendalikan oleh hormon?

*mungkin akan kuedit dengan menyertakan link tulisan temanku jika dia membahas topik ini di tulisannya.

Ada orang yang selalu lapar; ada orang yang gampang mengantuk, terlepas dari orang itu belum makan seminggu atau belum tidur 3 malam. Apakah ini (dan kasus rakus di atas) diakibatkan oleh hormon?

Namun, mendengar cerita temanku yang berkata dia terbiasa akan kesendirian membuat dia terbiasa tanpa ada atensi walaupun tubuhnya sebenarnya memberikan sinyal bahwa ia butuh atensi. Namun, pola pikirnyalah yang membuat mentalnya kuat walaupun fisiknya meronta.

Jadi, ya memang, setiap orang butuh atensi. Kadar akan atensi yang dibutuhkan setiap orang pun berbeda dan mungkin atensi yang diinginkan setiap orang pun berbeda. Ini juga PR kita untuk bisa mengendalikan diri.

Kemudian, jika yang kita perlukan air, ya mintalah air ke orang yang bisa memberi kita air. Selain itu, untuk kita lainnya, jika memang tidak bisa memberi bukan berarti kita harus berkata “dasar pengemis!”, kan? Cukup hiraukan dengan senyuman atau syukur setidaknya kita bisa memberi 500 perak.

Mungkin sekian dulu dariku. Doaku tetap sama seperti sebelumnya. Semoga kita selalu bahagia☺


메타데이터
post_id
bb34c95c4fde
slug
haus-atensi-bb34c95c4fde
url
https://medium.com/@hanniazzhr/haus-atensi-bb34c95c4fde
canonical_url
https://medium.com/@hanniazzhr/haus-atensi-bb34c95c4fde
author_url
https://medium.com/@hanniazzhr
status
ok
fetched_at
2026-07-28 15:34:20