← Back to list

Membandingkan Nazi dan Orde Baru Dalam Menyikapi Buku

Sebuah resensi Fasisme dan Buku karya Joss Wibisono

naufalriady in Booknotations · 2026-06-11 11:49 · 5 claps · 2.5 min read
#ulasan-buku #review-buku #fasisme #booknotations #june
Open on Medium ↗

Membandingkan Nazi dan Orde Baru Dalam Menyikapi Buku

Sebuah resensi Fasisme dan Buku karya Joss Wibisono

Photo by Mika Baumeister on Unsplash

Photo by Mika Baumeister on Unsplash

Apa persamaan Nazi dan rezim Orde Baru?

Keduanya sama-sama memiliki kecenderungan mencekal, merampas, dan membakar buku.

Lalu apa perbedaannya?

Dalam konteks Nazi, tindakan tersebut kerap dilakukan oleh gerakan mahasiswa dan pustakawan, sedangkan pada rezim Orde Baru dijalankan oleh preman (dengan kedok ormas) serta aparat yang bahkan tidak membaca buku.

Memusuhi buku bukanlah hal baru, baik di Indonesia maupun di dunia. Di Indonesia sendiri, sejak masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga era Soekarno, banyak buku telah menjadi korban. Namun, menurut Joss Wibisono, paham anti-kekiri-kirian yang mengorbankan gerakan dan buku-buku kiri merupakan warisan Orde Baru yang hingga kini masih dirawat.

Dengan tujuan memahami hubungan kelompok konservatif kanan dengan buku, Joss Wibisono membandingkan Exilliteratur — karya sastra pengasingan Jerman pada era Nazi — dengan Sastra Eksil Indonesia pada era Soeharto. Pembeda paling mencolok terletak pada karakter produksinya. Exilliteratur dihasilkan oleh banyak penulis tersohor yang menulis dalam bahasa Jerman, atau yang lahir dan berkebangsaan Jerman tetapi tidak mencerminkan semangat Nazi. Sementara itu, Sastra Eksil Indonesia lebih merupakan hasil tidak langsung dari pengasingan: tidak banyak penulis Indonesia yang sejak awal hidup dalam pengasingan karena tulisannya, tetapi banyak yang justru menjadi penulis setelah tidak dapat kembali ke kampung halamannya.

Ini barulah awal belaka

ketika orang membakar buku

pada akhirnya orang juga membakar

manusia

Dalam tiga larik puisinya, Heine penyair romantik Jerman abad 19 merangkum sekaligus memprediksi corak rezim bengis. Pembakaran buku pada musim semi 1933 di Jerman menjadi salah satu pintu masuk menuju Holocaust — pembunuhan massal berskala luar biasa. Indonesia mungkin belum mengalami pembakaran buku secara massal, tetapi pencekalan dan pembakaran yang terjadi secara sporadis di berbagai daerah dapat dibaca sebagai gejala awal, semacam kanker dalam kehidupan bermasyarakat yang perlu segera dihadapi sebelum perlahan menggerogoti tubuh kita.

Alih-alih sekadar menunjukkan brutalitas pembredelan dan penyitaan buku, Joss Wibisono justru lebih tertarik menelusuri hubungan antara konservatisme kanan dan buku. Pendekatan ini berbeda dengan Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Fernando Báez (terbitan Marjin Kiri) yang lebih menekankan sejarah penghancuran buku secara luas. Buku ini memilih fokus pada kemiripan antara Exilliteratur dan Sastra Eksil Indonesia.

Sebelum masuk pada perbandingan Nazi dan konteks Indonesia, penulis membuka dengan persoalan penyitaan buku yang terjadi belakangan. Pembredelan terhadap buku-buku kiri oleh kelompok-kelompok kanan dipandang sebagai masalah sistematis dan struktural yang telah dirawat sejak Orde Baru. Konotasi terhadap simbol palu arit, filsuf sosialis, hingga nama-nama seperti Marx dan Lenin diposisikan seolah setara dengan membicarakan seks di ruang publik.

Kelompok-kelompok yang melakukan aksi pembredelan ini tidak berdiri sendiri; mereka merupakan kelompok yang dirawat oleh penguasa. Serupa dengan mahasiswa dan pustakawan berhaluan Nazi yang melakukan pembakaran buku di depan universitas Humboldt, tindakan tersebut bukanlah orkestrasi langsung dari elit, tetapi tetap berfungsi menjaga status quo kekuasaan. Penihilan ide-ide yang tidak sesuai membuat posisi elit tetap stabil.

Ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana, elit dengan mudah berlindung di balik istilah “oknum”. Hal ini terlihat, misalnya, dalam film dokumenter besutan Joshua Oppenheimer The Act of Killing, yang menunjukkan bagaimana pembantaian terhadap mereka yang diduga PKI dilakukan oleh ormas-ormas nasionalis seperti Pemuda Pancasila. Pola ini masih berlanjut hingga kini, meski bentuknya bergeser: kelompok akar rumput tetap dirawat, tetapi dengan nilai-nilai yang lebih berbalut agama Islam.

Di ruang publik, rezim Orde Baru maupun pasca-reformasi cenderung mengutuk atau mengabaikan tindakan-tindakan tersebut. Namun, secara diam-diam, mereka justru menjadi enabler bagi aksi-aksi semacam itu. Dalam arti tertentu, ini merupakan manifestasi nyata dari prinsip yang dipopulerkan oleh Don Corleone dalam The Godfather: “Keep your friends close, but your enemies closer.”

Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!

[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com


메타데이터
post_id
bb4f6d21576f
slug
membandingkan-nazi-dan-orde-baru-dalam-menyikapi-buku-bb4f6d21576f
url
https://medium.com/booknotations/membandingkan-nazi-dan-orde-baru-dalam-menyikapi-buku-bb4f6d21576f
canonical_url
https://medium.com/booknotations/membandingkan-nazi-dan-orde-baru-dalam-menyikapi-buku-bb4f6d21576f
author_url
https://medium.com/@naufalriady
status
ok
fetched_at
2026-06-12 18:14:10