← Back to list

Deodoran Batu Tawas

Kebiasaan kecil yang bertahan hingga kini

Muhammad Hilal · 2026-03-31 05:51 · 73 claps · 2.7 min read
#tawa #potasium-alum #deodoran #bahasa-indonesia #komunitas-blogger-medium
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Deodoran Batu Tawas

Kebiasaan kecil yang bertahan hingga kini

Photo by Szilvia Basso on Unsplash

Photo by Szilvia Basso on Unsplash

Saya sangat terbiasa pakai batu tawas, alias KAI(SO4)2•12H2O, sebagai deodoran. Ini terkesan kuno sekali, tapi khasiatnya sudah telanjur terasa manjur di ketiak saya. Saya tidak bisa beralih ke deodoran lain.

Kebiasaan ini terbentuk karena lingkungan. Sejak kecil saya melihat ibu saya memakainya. Lalu saya ikut-ikutan pakai dan terus memakainya hingga sekarang.

Saat membeli sebuah bongkahan baru, sisi-sisi batu tawasnya masih kasar dan tajam. Cara yang benar adalah tidak langsung menggosoknya ke ketiak, melainkan dibasahi dulu dengan air lalu diusap-usap dengan telapak tangan hingga halus. Sifat batu tawas seperti kristal garam atau gula, mudah larut dalam cairan.

Saya beda. Saya lebih suka langsung menggosok-gosokkan batu tajam itu ke ketiak, tidak dihaluskan terlebih dahulu. Saya tahu ini berisiko melukai kulit ketiak. Tapi persentuhan batu kasar dan tajam itu dengan kulit ketiak memberi sensasi garuk-garuk yang nagih. Seperti ada bagian-bagian darinya yang tidak bisa digaruk dengan kuku tangan tapi berhasil digaruk oleh batu tawas tajam itu. Tentu ini harus dilakukan pelan-pelan agar risiko iritasinya makin berkurang.

Saya terus memakai deodoran tawas di mana pun. Dalam kantung berisi peralatan mandi, yang dikhususkan untuk kebutuhan perjalanan, saya menyelipkan sebongkah kecil batu tawas. Rasanya tidak nyaman kalau mandi tidak diakhiri dengan gosok-gosok ketiak dengan tawas.

Saat kursus bahasa Inggris di Pare selama dua bulan pada pertengahan tahun 2003, saya lupa tidak membawanya. Saya coba beli deodoran komersial bermerek pengharum badan. Rasanya kurang nyaman. Deodoran tersebut lebih terasa menambal ketiak dengan pengharum, bukan menghilangkan bau busuknya. Saat pengharum itu luntur, baunya kembali tidak enak. Jadi, ia tidak bertahan lama.

Ini beda dengan batu tawas. Ia sanggup menghilangkan bau ketiak dalam waktu lebih lama. Tidak membuatnya jadi harum sih, tapi seenggak-enggaknya tidak bau bangkai. Daya tahannya juga lama. Deodoran komersial biasanya hanya tahan setengah hari. Tawas bisa tahan dua hari dalam keadaan berkeringat terus. Jika tanpa keringat, daya tahannya sanggup tiga hari.

Sekarang sudah banyak deodoran berbahan dasar tawas. Bahkan ada pula deodoran semprot berbahan tawas cair. Banyak makalah R&D (research and development) di Indonesia menawarkan produk tawas cair ini. Tapi batu tawas belum tergantikan bagi saya.

Ada pula dijual tawas bubuk untuk deodoran. Kabarnya ini adalah cara penggunaan yang umum di Filipina. Penggunaan tawas sebagai deodoran memang umum ditemukan di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Saya belum pernah mencobanya. Dipikir-pikir, rasanya kurang enak juga. Sepertinya akan terasa geli di ketiak.

Oleh karena penasaran, saya coba cari tahu kenapa batu tawas bisa menghilangkan bau badan. Jawabannya karena tawas membunuh bakteri biang bau ketiak. Bakteri-bakteri itu ditumpas oleh tawas hingga 80% lebih. Makanya daya tahannya lama.

Ada pula anggapan bahwa tawas sanggup mengecilkan pori-pori sehingga tertutuplah biang keringat (fungsi antiperspiran). Tapi anggapan ini dibantah oleh sebagian ahli. Katanya masih perlu riset lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya.

Kemampuan menumpas kuman-kuman ini tidak bisa dilakukan oleh deodoran komersial yang lebih mengandalkan bau harum. Makanya daya tahannya pendek, sebab bakteri-bakteri itu tetap beraktivitas di sana. Sekali pengharumnya luntur, bau busuknya langsung menyebar lagi.

Saat masih kuliah dulu, teman-teman saya meledek saya setelah mereka tahu bahwa saya menggosok-gosok tawas di ketiak sehabis mandi. Teman yang paling semangat mencemooh saya adalah ER.

“Halah, Lal! Kamu kayak manusia jaman batu! Deodorannya masih tawas loh!” Katanya sambil ketawa.

Setelah beristri, ER dapat hidayah. Dia mengaku, dalam sebuah panggilan video beberapa tahun setelah cemoohan itu, bahwa deodorannya juga berupa batu tawas, hingga sekarang.

Teman saya yang lain, FKH, suatu hari merasa penasaran melihat sebongkah batu putih di atas lemari saya. Seumur-umur, dia tidak pernah melihat batu tawas. Kemungkinan besar, dia menduganya sebagai gula batu.

“Apa ini, Lal?” katanya, sembari mengambil dan mengamati benda itu.

Tiba-tiba dia mengendus-endusnya dan menjilatinya sekali.

“Jangan!” teriak saya seketika.

Hingga kini, dia belum tahu bahwa benda berbentuk batu kristal itu adalah deodoran yang saya pakai sehar-hari. Saya tidak sampai hati memberinya tahu.[]


메타데이터
post_id
bb500c24062e
slug
deodoran-batu-tawas-bb500c24062e
url
https://medium.com/@hilalalify/deodoran-batu-tawas-bb500c24062e
canonical_url
https://medium.com/@hilalalify/deodoran-batu-tawas-bb500c24062e
author_url
https://medium.com/@hilalalify
status
ok
fetched_at
2026-06-21 15:33:18