← Back to list

Aku Bangga Menjadi Budhe

Sebutan Bagi Perempuan Tua Bukanlah Hinaan

Meutia Faradilla in Perspektif Perempuan · 2025-06-01 12:06 · 272 claps · 5.2 min read
#perempuan #feminisme #cerita-perempuan #memoar #perspektif-perempuan
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics ✊ · Equality & Identity

Aku Bangga Menjadi Budhe

Sebutan Bagi Perempuan Tua Bukanlah Hinaan

Sumber gambar: di sini

Sumber gambar: di sini

Sebutan Budhe sebagai Ledekan

Sejak 1,5 tahun yang lalu saya berulang kali diserang oleh gerombolan misoginis lokal di Twitter/X (selanjutnya saya sebut Twitter). Mereka membenci saya karena saya vokal menyuarakan pengalaman perempuan yang saya rasakan dan amati. Mereka membenci saya karena saya mengaku sebagai seorang feminis. Mereka membenci saya karena saya kritis. Sampai akhirnya mereka berusaha membenci dan memfitnah saya dengan menyebut saya islamofobia. Selama 1,5 tahun terakhir mereka konsisten dengan kebenciannya, termasuk dengan cara menyuruh saya melepas jilbab, murtad, dan sejenisnya.

Entah sejak kapan persisnya, tapi mereka mulai memanggil saya dengan panggilan yang menurut mereka mengejek, “budhe”. Bagi mereka, saya ini budhe-budhe berisik yang sibuk menyalahkan laki-laki. Budhe-budhe yang tidak mampu menarik perhatian laki-laki sehingga menjadi bitter atau pahit sendiri dan marah karena hal tersebut. Kemarahan yang menurut mereka saya lampiaskan dengan sibuk menyalahkan laki-laki.

Panggilan budhe ini kemudian mereka lemparkan kepada perempuan mana pun di Twitter yang kritis dan vokal menentang patriarki dan misogini. Beberapa teman dan kenalan saya mendapat panggilan serupa. Tidak hanya budhe, mereka juga memanggil “tante” dengan tujuan meledek pada perempuan-perempuan tersebut. Kata kuncinya: meledek.

Usia saya memang usia yang sudah pantas menjadi budhe. Bahkan sejak satu dekade yang lalu pun saya sudah menjadi tante atau budhe bagi anak-anak kolega saya. Suatu fakta yang tidak pernah mengganggu. Masa mau usia 18–an terus sepanjang hayat? Kan itu aneh sekali. Bagi seorang perempuan, menikah atau tidak, dia akan mencapai usia menjadi seorang tante atau budhe. Itu sudah kepastian. Selama ia memiliki saudara, kerabat, dan teman, ia akan menjadi tante atau budhe seorang anak. Jadi, sebenarnya tidak ada yang aneh dengan menjadi tante atau budhe.

Hanya saja, panggilan tante atau budhe yang dilontarkan oleh gerombolan tersebut memang bertujuan untuk meledek. Ledekan yang berhubungan dengan usia. Usia sudah 30-an atau 40-an kok masih twitteran. Kok masih marah-marah aja soal laki-laki. Kok menyalahkan laki-laki. Kok vokal bersuara. Kok nggak ada respect-nya sama laki-laki. Kok nggak lemah lembut. Dan segala macam kok lain, kecuali kok bulu tangkis.

Perempuan Tua dalam Pandangan Perempuan Feminis

Dalam sejarah dunia, terutama di suku-suku asli, perempuan yang menua adalah penjaga kebijaksanaan. Ia adalah tempat meminta nasihat. Dan perempuan tua adalah warga suku yang berani untuk bicara. Keberaniannya untuk bicara karena ia berusia tua itu. Tua adalah penghargaan, karena ia berhasil melewati berbagai macam cobaan hidup (perang, kelaparan, bencana) dan tetap hidup sehat.

Ketika terjadi perburuan penyihir di Eropa dan Amerika Utara, salah satu target utama adalah perempuan tua. Mona Chollet dalam bukunya In Defense of Witches mengatakan bahwa kemungkinan besar perempuan tua menjadi target karena kepercayaan diri yang mereka tampilkan. Para perempuan tua ini, yang dituduh sebagai penyihir, melawan balik pada para pendeta dan hakim. Mereka tidak mau menjadi submisif. Mereka tidak tunduk.

Audre Lorde, seorang penyair Afrika-Amerika mengatakan bahwa ia tidak takut menjadi tua, karena ia merasa lebih bebas dari berbagai hambatan, ketakutan, dan kebimbangan usia muda. Menjadi tua, menurut Audre Lorde adalah saat untuk menghargai pelajaran bertahan hidup dan persepsi-persepsi yang ia bentuk selama hidup. Baginya, menjadi tua adalah berkah.

Sementara itu Susan Sontag dalam esainya The Double Standard of Aging (1972) mengatakan bahwa laki-laki dididik untuk mempertahankan maskulinitasnya (kompeten, kendali diri, otonomi) yang tidak akan lekang oleh waktu. Sementara feminitas yang ditanamkan di dalam diri perempuan (pasif, inkompetensi, ketidakberdayaan, menjadi baik dan lemah lembut), justru tidak akan berubah seiring dengan waktu. Dan diharapkan tidak akan pernah berubah.

Dalam esainya, Susan Sontag menyoroti betapa tidak adilnya pandangan dunia terhadap perempuan yang menua. Ia menyoroti bagaimana perempuan diharuskan dan disibukkan untuk terus tampil muda agar tetap relevan, sementara laki-laki dibiarkan menua apa adanya. Bahkan laki-laki dipuji bila menua. Sifat-sifat maskulinitasnya, seperti yang dikatakan sebelumnya justru dianggap lebih baik, lebih matang, seiring dengan bertambahnya usia.

Upaya Menundukkan Perempuan dengan Ledekan “Budhe”

Menggunakan panggilan “budhe”. “tante” atau “emak-emak” (versi lain juga bisa “ibu-ibu”) dengan maksud meledek adalah bagian dari upaya pembungkaman suara perempuan. Dengan menggunakan panggilan tersebut, para gerombolan misoginis hendak menundukkan dan mendudukkan kembali perempuan yang sedang diledek pada tempatnya. Untuk menjadi submisif. Untuk menjadi pasif.

Meledek dengan panggilan “budhe”, “tante”, atau “emak-emak” adalah upaya untuk mengingatkan bahwa perempuan yang sedang diledek sudah tua. Karena sudah tua, tidak ada artinya dalam diskursus, dalam masyarakat. Sudahlah, karena sudah tua, sebaiknya diam saja. Lebih bagus baca zikir atau doa karena sebentar lagi menyambut mati. Lebih bagus pikirkan dan refleksi diri kenapa belum dapat jodoh. Lebih bagus urus anak aja sesuai kewajibannya.

Sebenarnya ledekan ini tidak mutlak hanya diberikan pada perempuan yang vokal tentang patriarki dan misoginis serta perempuan feminis, bahkan perempuan lain pun tak akan lepas dari ledekan ini. Tentu saja pembaca bisa mengingat kembali bagaimana maraknya ungkapan, “sein kiri belok kanan kayak emak-emak” (atau berbagai kejadian berlalu lintas lain yang kemudian menghasilkan ungkapan yang serupa).

Intinya adalah, ketika perempuan ikut melakukan aktivitas atau peran yang biasa dilakukan laki-laki, maka ia akan berusaha ditundukkan, dihalangi, dan dibungkam. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan membuatnya malu, melalui ledekan. Ledekan apa pun itu. Dan bagi perempuan, yang beribu tahun dibuat tidak merasa aman dengan proses penuaan dirinya, ledekan yang menggunakan sebutan bagi perempuan tua akan berpotensi membuatnya terdiam, paling tidak untuk sementara.

Susan Sontag menjelaskan dengan cukup panjang dalam artikelnya mengapa perempuan begitu sensitif soal penuaan dirinya. Jadi, Anda bisa membayangkan, ketika perempuan diledek dengan sebutan untuk perempuan tua, maka paling tidak ada rasa tidak nyaman hadir dalam dirinya.

Perempuan punya pilihan lain. Mereka bisa bercita-cita menjadi orang bijak, bukan hanya baik hati; menjadi kompeten, bukan hanya suka menolong; menjadi kuat, bukan hanya anggun; menjadi ambisius bagi diri mereka sendiri, bukan hanya bagi diri mereka sendiri dalam hubungannya dengan laki-laki dan anak-anak. Mereka bisa membiarkan diri mereka menua secara alami dan tanpa rasa malu, secara aktif memprotes dan tidak menaati konvensi yang berasal dari standar ganda masyarakat ini tentang penuaan (Susan Sontag, The Double Standard of Aging)

Bangga Menjadi Perempuan Tua

Sebagai perempuan yang cerdas, kita justru tidak perlu khawatir, takut, atau merasa terhina dengan panggilan yang dimaksudkan untuk meledek tersebut. Mengapa? Pertama, fakta menyatakan bahwa angka harapan hidup perempuan di Indonesia naik, hingga berusia sekitar 70 tahun. Berdasarkan fakta tersebut, perempuan di Indonesia sudah pasti akan menjadi tante, budhe, ibu, bahkan nenek dari seseorang. Bahkan kalau bukan dari hubungan darah, dari relasi dengan kolega dan teman pun kita akan mendapatkan panggilan itu.

Kedua, perempuan tua adalah perempuan yang memiliki berbagai pengalaman. Kita adalah sumber cerita dan pengalaman. Kita adalah sumber sejarah, minimal di dalam keluarga kita. Ketiga, kebanyakan perempuan hari ini, paling tidak di kota, sudah berpendidikan. Perempuan yang menua adalah perempuan yang sudah mengenyam pendidikan. Perempuan yang berpotensi untuk berdaya akan dirinya sendiri. Ini adalah suatu inspirasi bagi generasi lebih muda, terutama perempuan muda. Keempat, sebagian perempuan yang menua atau sudah tua justru punya kemampuan dan kemauan untuk bersuara. Maka kita harus berupaya untuk bersuara. Kalau bukan perempuan yang menyuarakan pengalamannya sendiri dan sesamanya, lalu siapa lagi?

Menjadi seorang budhe, tante, ibu, atau nenek bukanlah hal yang rendah. Bahkan saya bangga menjadi seorang budhe atau tante. Dulu mungkin konsep menua itu saya bayangkan sebagai hal yang menakutkan, karena yang teringat adalah nenek yang sakit atau nenek yang encok-encok.

Namun, terlepas dari keterbatasan fisik para perempuan tua, beberapa kali saya melihat beberapa dari mereka yang begitu tajam dalam berpikir dan keras dalam bersuara. Yang meski dengan ketajaman dan kerasnya suara itu, ia tetap memiliki welas asih yang sangat luas bagi sesama. Saya berharap saya mampu menjadi perempuan seperti itu.

Susan Sontag mengatakan, “Perempuan sudah terbiasa dengan menggunakan topeng, senyum, dan kebohongan mereka yang menawan sebagai perlindungan. Tanpa perlindungan ini, mereka tahu, mereka akan lebih rentan. Namun, dengan melindungi diri mereka sebagai perempuan, mereka akan menempatkan diri mereka sebagai orang dewasa.”

Dan saya ingin menjadi dewasa. Tidak hanya menjadi, tapi juga bangga menjadi perempuan dewasa. Yang akan terus menyuarakan perspektif dan pengalaman perempuan. Yang akan berteriak melawan patriarki dan misoginisme. Semoga Tuhan menyertai dan memampukan.


메타데이터
post_id
bb5135d2e6de
slug
aku-bangga-menjadi-budhe-bb5135d2e6de
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/aku-bangga-menjadi-budhe-bb5135d2e6de
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/aku-bangga-menjadi-budhe-bb5135d2e6de
author_url
https://medium.com/@meutia.faradilla
status
ok
fetched_at
2026-07-31 21:50:41