← Back to list

Mungkin Bukan Tentang Dia

Tentang trauma yang belum selesai, harapan yang tumbuh di ruang abu-abu, dan perjalanan panjang untuk kembali memilih diri sendiri.

Storia in Komunitas Blogger M · 2026-06-16 07:11 · 117 claps · 5.7 min read
#komunitas-blogger-medium #refleksi #hubungan #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧠 · Mental Wellness

Mungkin Bukan Tentang Dia

Tentang trauma yang belum selesai, harapan yang tumbuh di ruang abu-abu, dan perjalanan panjang untuk kembali memilih diri sendiri.

(foto pribadi, diambil di Bali, Juni 2026)

(foto pribadi, diambil di Bali, Juni 2026)

[20/05/26, 11.15.25] ~G: kamu itu berubah ubah [20/05/26, 11.15.40] ~G: hari ini apa besok bisa apa [20/05/26, 11.15.50] ~G: mungkin proses mencernamu tidak on the spot [20/05/26, 11.16.13] ~G: dan fluktuatif [20/05/26, 11.16.28] ~G kayanya mending aku aja yg block ya [20/05/26, 11.16.46] ~G: maaf dan terima kasih

Itu adalah pesan terakhir yang ia kirimkan kepadaku melalui WhatsApp pada tanggal 20 Mei 2026. Sampai hari ini aku masih mengingatnya dengan cukup jelas, bukan karena kata-katanya terdengar kejam atau menyakitkan, melainkan karena itulah akhir dari sebuah hubungan yang selama setahun terakhir mengisi begitu banyak ruang di kepalaku. Saat membaca kembali pesan itu, aku tidak lagi merasakan kemarahan seperti beberapa minggu lalu. Yang muncul justru rasa sedih yang tenang, seperti seseorang yang akhirnya menerima bahwa ada cerita yang memang selesai tanpa penjelasan yang memuaskan, tanpa penutup yang sempurna, dan tanpa kesempatan untuk memperbaiki kesalahpahaman yang terlanjur terjadi.

Beberapa hari terakhir aku terus teringat sebuah konten tiktok yang lewat begitu saja di berandaku. Biasanya aku akan menggeser video semacam itu tanpa berpikir panjang, tetapi entah mengapa kali ini aku berhenti dan mendengarkannya sampai selesai. Isi videonya sederhana, tetapi cukup membuatku terdiam. Ia berkata;

“Kok bisa ada cowok yang belom pernah lo pacarin, jarang ngobrol sama lo, peduli sama hidup lo aja enggak. Tapi bisa mengganggu hidup lo sebegitu chaosnya. — Tarik balik energi lo lagi yuk, pelan-pelan tapi ngebut prioritasin diri lo lagi yuk, ajarin diri sendiri cinta yang bener yuk. Sembuh yuk.. Dari trauma bond, dari familiarity.. Udah cukup yuk bertahan disituasi dimana lo pengen nyelametin orang, lo bertahan disituasi dimana cowok ini bermasalah, tapi lo gak usah ngerasa ketantang. Jangan, gak usah, udah cukup. Sembuhin diri yuk. Karena lo pantes tau dapat yang terbaik. Weak the fu*k up!”

Saat pertama kali mendengarnya aku merasa kalimat itu berlebihan. Namun semakin lama kupikirkan, semakin aku sadar bahwa mungkin aku sedang mendengarkan sesuatu yang selama ini tidak ingin kuakui. Karena memang benar, bagaimana bisa seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi pacarku, seseorang yang bahkan tidak hadir setiap hari dalam hidupku, bisa membuatku menghabiskan begitu banyak energi, waktu, pikiran, dan air mata?

Hari ini tanggal 13 Juni 2026. Jika ditarik tepat satu tahun ke belakang, tanggal 13 Juni 2025 adalah hari ketika aku melihatnya menemani temanku menjaga stand buku di sebuah kafe di Bali. Lucunya, tepat setahun kemudian aku juga berada di Bali. Bedanya, hari ini aku sedang lembur menyelesaikan pekerjaan dan sore tadi baru saja mengikuti kelas membuat Thumbelina bouquet. Hidup terasa lucu jika dipikirkan. Tempatnya masih sama, pulau yang sama, bahkan langit senjanya mungkin tidak jauh berbeda, tetapi orang yang berdiri di dalam cerita ini sudah berubah. Aku yang dulu dan aku yang sekarang juga sudah berbeda.

Saat itu aku melihat unggahan temanku di akun Instagram toko bukunya. Dari sana aku mengetahui bahwa laki-laki yang kusukai sedang berusaha mendekati temanku. Anehnya, aku tidak marah kepada temanku. Aku juga tidak pernah membencinya. Yang muncul justru senyum kecil dan kalimat yang masih kuingat sampai sekarang, “Yah, kalah lagi.” Kalimat itu keluar begitu saja. Bukan karena menganggap cinta sebagai kompetisi, melainkan karena perasaan itu terasa sangat familiar. Ada bagian dalam diriku yang langsung mengenali rasa kecewa tersebut, seolah aku pernah berada di tempat yang sama sebelumnya.

Dan memang benar, aku pernah mengalaminya. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku SMA, aku pernah menyukai seseorang. Namun ketika mengetahui bahwa sahabat dekatku juga menyukainya, aku memilih mundur. Tidak ada yang memintaku untuk mengalah, tidak ada yang memaksaku untuk pergi, tetapi saat itu aku merasa itulah hal yang benar untuk dilakukan. Dari luar mungkin aku terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya aku hancur. Aku hanya tidak pernah membicarakannya terlalu banyak. Mungkin karena itulah ketika kejadian serupa muncul lagi bertahun-tahun kemudian, rasa yang sama langsung datang kembali tanpa perlu diundang.

Beberapa minggu setelah mengetahui kedekatannya dengan temanku, aku mengajaknya bertemu di Bali. Kebetulan saat itu aku memang akan datang ke Bali lagi, tepat satu tahun setelah ditinggalkan oleh seseorang dari masa laluku. Ia mengiyakan ajakan tersebut sebagai teman. Aku masih ingat bagaimana ia menyiapkan itinerary, mengatur tempat yang akan kami kunjungi, dan memastikan semuanya berjalan lancar. Saat itu aku merasa nyaman. Ada rasa aman yang sulit dijelaskan. Bahkan sampai hari ini aku masih mengingat makan malam pertama kami di tahun 2025. Mungkin karena setelah melewati berbagai hal yang berat, rasa aman terasa seperti sesuatu yang sangat berharga.

Namun belakangan aku mulai bertanya-tanya. Apakah yang kurasakan saat itu benar-benar nyaman? Ataukah ada sesuatu yang lebih rumit daripada itu? Aku masih ingat pernah berkata kepadanya dan temanku, “Kayaknya kalian berdua bisa komunikasi karena trauma bond deh.” Saat itu aku mengatakannya sebagai pengamatan terhadap mereka berdua. Lucunya, sekarang setelah banyak refleksi, aku justru bertanya apakah aku sendiri juga sedang berada dalam pola yang sama tanpa menyadarinya.

Aku memperhatikan bagaimana caranya mendekati seseorang yang ia sukai. Ia ikut kegiatan yang sama, datang ke acara yang sama, mencoba hadir di ruang yang sama. Tanpa sadar aku mulai melakukan hal yang serupa. Aku mencoba memahami caranya berkomunikasi, caranya menunjukkan perhatian, bahkan caranya hadir dalam kehidupan orang lain. Aku pikir itu adalah bentuk usaha untuk memahami seseorang yang kusukai. Namun ternyata, apa yang kupahami sebagai perhatian bisa saja diterima dengan cara yang berbeda oleh orang lain. Hal-hal yang menurutku wajar ternyata membuatnya tidak nyaman. Cara aku melibatkan dia dalam kehidupanku, cara aku menunjukkan kepedulian, bahkan caraku berusaha hadir, pada akhirnya tidak sampai kepadanya dengan makna yang sama seperti yang kumaksudkan.

Aku selalu takut mengganggunya. Ketika ia membalas pesan lama, aku menganggapnya sebagai bukti bahwa keberadaanku tidak penting. Ketika ia terlihat sibuk, aku menganggap diriku mengganggu. Ketika ia tidak merespons seperti yang kuharapkan, aku mulai menyusun berbagai kemungkinan di kepalaku. Sampai suatu hari aku mengatakan bahwa aku tidak suka caranya membalas pesan yang terlalu lama, dan ia menjawab, “Iya, besok-besok enggak usah kerja saja.” Saat itu aku merasa tidak dimengerti. Hari ini, ketika melihat semuanya dari jarak yang lebih jauh, aku mulai memahami bahwa kami memang melihat hubungan ini dari sudut yang berbeda.

Jika dipikir-pikir lagi, masa perkenalan kami sebenarnya menyenangkan. Sebagai teman, semuanya terasa ringan. Kekacauan mulai muncul ketika harapan tumbuh lebih besar daripada kenyataan. Aku menganggap perhatian-perhatian kecil sebagai tanda ketertarikan. Aku menganggap pesan-pesan random sebagai sesuatu yang spesial. Aku menganggap kehadiran yang tidak konsisten sebagai seseorang yang sedang berusaha tetapi belum siap. Padahal bisa jadi semuanya jauh lebih sederhana. Bisa jadi baginya aku memang hanya seorang teman.

Tepat satu tahun aku bertahan dalam hubungan yang abu-abu. Namun setelah banyak refleksi, aku menyadari bahwa yang abu-abu bukan hanya hubungan itu. Aku juga abu-abu. Aku terlalu cepat memberi hadiah, terlalu cepat memberi perhatian, terlalu cepat membuka ruang untuk seseorang, tetapi pada saat yang sama justru sangat tertutup ketika ditanya tentang diriku sendiri. Aku takut dikenal lebih dekat. Aku takut jatuh cinta. Aku takut ditolak. Aku takut berharap terlalu jauh. Semua ketakutan itu ternyata berjalan bersamaan tanpa pernah benar-benar kusadari.

Tiga minggu terakhir menjadi minggu-minggu yang penuh refleksi. Aku pergi ke psikolog, mengikuti kelas bunga, kembali belajar Human Design, dan mulai melukat. Bukan karena ingin melupakan dirinya, melainkan karena ingin memahami diriku sendiri. Semakin lama aku merenung, semakin aku sadar bahwa hubungan ini bukanlah sumber dari seluruh luka yang kurasakan. Ia hanya membuka luka-luka lama yang selama ini belum sempat kuproses dengan baik. Ada kehilangan, ada penolakan, ada kesepian, ada ketakutan untuk tidak dipilih, dan semuanya muncul bersamaan.

Hari ini aku tidak ingin menyalahkan dirinya. Aku juga tidak ingin menyalahkan diriku sendiri. Aku hanya ingin menerima bahwa kami adalah dua orang yang bertemu pada waktu yang tidak tepat, dengan luka yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, dan cara mencintai yang berbeda. Aku pernah menyakitinya tanpa sadar, dan ia juga pernah menyakitiku tanpa sadar. Mungkin memang sesederhana itu.

Untuk dirinya, aku berharap hidupnya dipenuhi lebih banyak kebahagiaan daripada kesedihan. Semoga hari-harinya dipenuhi lebih banyak senyum daripada tangisan. Bagaimanapun, ia adalah kakak dari adiknya, cucu kesayangan niangnya, dan Tugus kesayangan mamanya. Tante, terima kasih sudah merawat dan membesarkan Tugus dengan baik.

Dan untuk diriku sendiri, terima kasih karena tetap bertahan. Di tengah perubahan hidup yang begitu cepat, sahabat-sahabat yang mulai menikah, tekanan pekerjaan, kehilangan, dan kebingungan yang datang silih berganti, ternyata aku masih di sini. Masih berjalan. Masih mencoba. Masih percaya bahwa hidup akan menemukan caranya sendiri untuk menjadi lebih baik. Tidak apa-apa jika proses sembuhku berbeda. Tidak apa-apa jika waktuku lebih lama. Yang penting, aku tidak berhenti melangkah. Dan mungkin untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

Sekarang saatnya pulang. Bukan pulang kepadanya, melainkan pulang kepada diriku sendiri.


메타데이터
post_id
bb5700987bce
slug
mungkin-bukan-tentang-dia-bb5700987bce
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/mungkin-bukan-tentang-dia-bb5700987bce
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/mungkin-bukan-tentang-dia-bb5700987bce
author_url
https://medium.com/@storiaapril
status
ok
fetched_at
2026-06-21 12:17:11