← Back to list

Cerita Adik Saya yang Lolos CPNS

#160–[83]: Kegalauan Menghadapi Penempatan di Wilayah Timur Indonesia

Yasir Fuadi · 2025-05-22 09:32 · 236 claps · 4.3 min read paywalled
#bahasa-indonesia #malukuutara #cpns #mahkamah-agung #pengadilan-agama
Open on Medium ↗

SINGAH SEJENAK

Cerita Adik Saya yang Lolos CPNS

#160–[83]: Kegalauan Menghadapi Penempatan di Wilayah Timur Indonesia

Photo by Alvensia Angela on Unsplash

Photo by Alvensia Angela on Unsplash

Akhir tahun 2024 lalu, adik ipar saya mencoba mengikuti jejak saya dengan mendaftar sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Mahkamah Agung. Saat dia berpamitan untuk wawancara dan tes kesamaptaan, saya sempat sedikit mendokumentasikan dalam sebuah tulisan—sekaligus bernostalgia saat saya mengikuti rekrutmen serupa pada tahun 2010 lalu.

Alhamdulillah, dia berhasil lolos dari seluruh rangkaian tes yang ada. Namun euforia itu tidak berlangsung lama dan berganti menjadi kegundahan. Jadwal pengangkatan PNS rekrutmen tahun 2024 mengalami penundaan jadwal pengangkatan akibat efisiensi anggaran.

Belum bergabung di Medium? Lanjutkan membaca di sini.

Di sisi lain, dia sudah bekerja di tempat lain yang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga dia sempat bingung menentukan waktu yang tepat untuk mengundurkan diri. Belum lagi, dia juga sedang merencanakan pernikahan, karena secara usia memang sudah waktunya.

Akhirnya, dia memutuskan menunda pengunduran diri dari pekerjaannya dan memilih menikah terlebih dahulu. Kami sekeluarga juga tidak keberatan dengan itu. Awal April 2025 lalu dia resmi menikah dan tidak lama berselang diikuti kabar bahagia berupa istrinya dinyatakan hamil.

Namun kabar mengejutkan datang pada Minggu malam, 18 Mei 2025, sekitar pukul 22.00 WIB saat daftar penempatan CPNS Mahkamah Agung diumumkan. Adik saya ditempatkan di sebuah Pengadilan Agama di suatu kabupaten di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Inilah risiko memilih mendaftar bekerja di Mahkamah Agung, penempatan memang bisa di mana saja—dari Sabang hingga Merauke.

Terlepas saya sudah mengingatkan adik saya untuk bersiap menghadapi kemungkinan mendapat penempatan di luar Jawa, ketika ternyata hasilnya benar dia ditempatkan di luar Jawa, dia tampak terpukul. Begitu juga istrinya. Maklum, usia pernikahan mereka baru seumur jagung, dan kini harus menghadapi kenyataan akan segera berpisah jarak jauh.

Mereka saat ini masih tinggal bersama saya dan istri. Ketika saya membaca pengumuman itu keesokan paginya, saya memilih tidak langsung berkomentar. Saya paham betul, kondisi hati mereka sedang tidak tenang. Memberikan nasihat di saat emosi belum stabil bukanlah sikap yang bijak. Saya hanya berpesan singkat melalui Whatsapp meminta adik saya itu untuk menenangkan hati dulu dan jangan ambil keputusan besar saat dalam keadaan galau.

Siangnya, istri saya bercerita bahwa adik ipar saya menangis seharian dan bersikeras ingin ikut suaminya ke Maluku Utara. Keputusan yang jelas tidak bijak, mengingat ia sedang hamil muda. Tapi, seperti saya, istri saya memilih untuk menahan komentar dan membiarkan mereka menata perasaan mereka terlebih dahulu.

Berita kedua yang dikabarkan istri saya—yang ini lebih mengejutkan saya—ternyata adik saya mempertimbangkan untuk mengundurkan diri saja dan memilih tetap bekerja di tempat lamanya. Kalaupun tidak di tempat kerja yang lama, dia akan mencari kerja di tempat baru yang lebih dekat keluarga. Dia merasa terlalu berat untuk berpisah dan merantau sejauh itu.

Yang menarik, justru istrinyalah yang lebih rasional dalam menyikapi hal ini. Dia tidak setuju suaminya mundur. Dia tahu betapa berat perjuangannya untuk lolos CPNS di Mahkamah Agung. Saat tes kesamaptaan saja, adik saya sampai muntah-muntah karena memaksakan diri.

Baginya, terlalu mahal jika semua usaha itu disia-siakan hanya karena masalah penempatan. Memang istrinya itu sangat sedih untuk berpisah rasanya sangat berat sampai dia merasa ingin ikut, tapi kalau harus mengundurkan diri rasanya pilihan itu tidak tepat.

Saya sangat memahami kebimbangan itu. Adik saya memang belum pernah merantau seumur hidupnya. Sejak lahir hingga sekarang, dia tidak pernah jauh dari Purwokerto kota kelahirannya. Sekalinya harus pergi, langsung ke ujung timur negeri. Maka, saya sengaja tidak buru-buru berbicara panjang lebar dengannya. Saya biarkan dulu dia bergelut dengan kegalauannya agar bisa lebih menata hati.

Selasa malam, saya mulai membuka percakapan. Singkat saja, karena dia sedang ada keperluan—kemungkinan healing berdua dengan istrinya. Baru pada Rabu malam, setelah makan malam bersama, kami berbicara lebih dalam, bertiga—saya, dia, dan istrinya.

Saya sampaikan bahwa ini memang berita besar dan mengejutkan. Tapi jangan buru-buru menganggap ini cobaan. Ini adalah perjuangan, dan setiap orang mendapat bentuk perjuangan yang berbeda. Jalanilah perjuanganmu ini. Selama ini kamu belum pernah keluar dari rumah dan sekarang waktunya untuk belajar bahwa Indonesia ini begitu luas.

Saya tekankan bahwa masa CPNS ini sifatnya magang, hanya sekitar satu tahun. Fokuslah dulu di situ. Istrinya juga perlu fokus pada kehamilan, menjaga diri, dan jangan dulu berpikir untuk menyusul apalagi berangkat bersama. Terlalu gelap untuk membayangkan di sana bakal seperti apa. Di saat seperti ini, yang paling penting adalah menjaga stabilitas emosi dan kesehatan masing-masing.

Lalu saya sampaikan satu hal yang mungkin terdengar keras, tapi perlu dipertimbangkan yaitu ada baiknya istri adik saya itu tidak usah menyusul ke Maluku untuk seterusnya. Jika kalian tinggal bersama di sana, maka nanti justru tidak ada alasan yang kuat untuk pindah kembali ke Jawa.

Jika istri adik saya ini tetap di Jawa, maka peluang pindah atau mengajukan mutasi tetap terbuka di masa depan. Untuk sementara, biarlah kunjungan saja yang mengisi jarak itu. Sebagai CPNS pun belum memiliki hak cuti, dan bahkan setelah menjadi PNS pun harus pandai-pandai mengatur cuti agar tetap bisa menjenguk keluarga.

Ini memang berat. Sangat berat. Tapi ini adalah konsekuensi seorang pegawai negeri, yang sangat jarang diketahui orang. PNS Kementerian/Lembaga berbeda dengan PNS pemerintah daerah karena cakupan kelembagaannya seluruh Indonesia. Bekerja di luar wilayahnya adalah konsekuensi yang harus dijalani yang nantinya bakal membentuk karakter kita menjadi tangguh.

Tidak ada kompensasi keuangan yang bakal didapat. Mungkin di sana pun tidak ada fasilitas asrama atau rumah dinas. Kemungkinan yang ada adalah kantor lama yang difungsikan sebagai asrama dan kondisinya cenderung apa adanya. Kalau akan mencari kost atau kontrakan, tentu harus biaya sendiri, termasuk transport ke lokasi kerja untuk keberangkatan pertama ini.

Merantau adalah pelajaran yang tidak bisa didapat di bangku sekolah. Ini adalah ilmu praktik dan pelajaran yang benar-benar learning by doing. Sisi positifnya, ada empat orang yang ditempatkan di Pengadilan Agama itu, jadi setidaknya dia tidak sendirian. Seharusnya perjalanan ini tidak sesulit itu. Langkah pertama memang berat, tapi setelahnya akan lebih ringan dan mudah.

Terkait pernikahan yang untuk sementara akan menghadapi ujian berupa jarak, saya percaya mereka akan melewati ini, meski tentu ini bukan hal yang mudah. Sudah banyak pasangan yang mengalami ujian serupa dan berhasil menjalaninya. Saya dan istri insyaallah siap menjaga istri adik saya ini kalau memang mau tetap tinggal di sini, atau kalau mau tinggal dengan orangtuanya juga tidak apa-apa.

Adik saya dan istrinya tidak banyak memberikan tanggapan. Saya berharap mereka bisa memahami bahwa ini bukan tentang senang atau tidak senang, melainkan tentang loyalitas dan menata prioritas.

Maksimal tanggal 2 Juni 2025 adik saya ini sudah harus melapor ke kantor tujuan dia bertugas. Dia punya waktu yang sangat terbatas untuk segera mengambil keputusan. Semoga keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang terbaik baginya dan keluarganya.


메타데이터
post_id
bb5ad51ed2b0
slug
cerita-adik-saya-yang-lolos-cpns-bb5ad51ed2b0
url
https://medium.com/@yasirfuadi/cerita-adik-saya-yang-lolos-cpns-bb5ad51ed2b0
canonical_url
https://medium.com/@yasirfuadi/cerita-adik-saya-yang-lolos-cpns-bb5ad51ed2b0
author_url
https://medium.com/@yasirfuadi
status
ok
fetched_at
2026-06-27 18:20:27