← Back to list

“Budaya Lupa Maut: Penyakit Kronis Manusia Modern”

Kita semua hidup di dalam dunia yang penuh dengan perdebatan. Mulai dari urusan politik yang memanas, perdebatan protokol kesehatan, selera…

Maqdis Jannatan Ahmad Zain · 2026-05-14 09:45 · 0 claps · 3.3 min read
#maut #tuhan #pulang #takut #al-quran
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

“Budaya Lupa Maut: Penyakit Kronis Manusia Modern”

Kita semua hidup di dalam dunia yang penuh dengan perdebatan. Mulai dari urusan politik yang memanas, perdebatan protokol kesehatan, selera gaya hidup, bahkan hal-hal remeh di sosial media. Namun, ada satu hal yang tidak pernah diperdebatkan kepastiannya oleh satu manusia manapun yakni, kematian. Tidak peduli apa agamanya, berapa mobil yang terparkir di garasinya, atau seberapa sehat gaya hidupnya, kematian adalah titik temu paling absolut bagi setiap nyawa. Dari delapan miliar penduduk bumi, semuanya sepakat bahwa nafas akan ada batasnnya.

Kita Tahu, Tapi Lupa

Akan tetapi, disinilah letak paradoks terbesarnya. Kita sepakat bahwa maut itu pasti datang, namun perilaku kita sering kali menunjukkan sebaliknya. Kita hidup dengan ambisi yang seolah tanpa batas akhir, seakan-akan kaki kita berpijak di bumi ini selamanya. Kita bergitu tekun mencicil kemewahan dunia, mulai dari membangun karir yang mapan, mengumpulkan aset properti, hingga memoles citra diri di media sosial. Namun, ditengah kesibukan itu, kita sering lupa “mencicil” persiapan untuk sebuah perjalanan panjang bernama kepulangan kepada sang pencipta.

Dalam Islam, kematian bukanlah perjalanan menuju kehampaan yang asing dan menakutkan. Ia adalah kepulangan yang berarti kembali ke tempat yang lebih hakiki dari sekadar dunia yang fatamorgana. Kita sering merasa takut membayangkan kematian karena terlanjur menganggap dunia sebagai rumah abadi. Padahal, Al-quran berkali-kali mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini tidak lebih dari perhiasan yang menipu dan kesenangan yang fana. Keterikatan itulah yang membuat kematian terasa seperti kehilangan, bukan seperti kepulangan.

Tanpa Janji Temu

Sayangnya, satu hal yang sering kita lupakan adalah bahwa kematian ini sering kali bersifat dadakan. Dalam logika manusia, kematian kerap dikaitkan dengan usia yang sudah senja atau riwayat penyakit yang parah. Padahal, kenyataanya kematian tidak pernah membutuhkan alasan medis untuk menjemput. Ia tidak mengetuk pintu untuk meminta izin, juga menunggu daftar keinginan kita selesai terpeneuhi. Ia hadir tepat saat jatah waktu habis, tanpa peduli apakah kita sedang berada di puncak atau baru saja merencanakan masa depan.

Ketetapan ini digambarkan dengan sangat tegas dalam Al-Qur’an “Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS. Al-A’raf 34). Ayat ini menjadi pengingat bahwa kematian adalah satu-satunya tamu yang tidak dapat dinegosiasi dan sering kali datang secara tiba-tiba. Ketidakpastian inilah yang memaksa kita untuk selalu berada dalam posisi “selalu siap”. Namun, siap yang dimaksud adalah memastikan bahwa setiap aktivitas yang kita kerjakan selama kita hidup senantiasa bernilai ibadah dan kebaikan.

Mengapa Kita Takut Membicarakannya?

Anehnya, meskipun kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, kita sering menganggapnya sebagai topik yang tabu atau “pamali”. Ada semacam ketakutan kolektif bahwa membicarakan kematian akan membawa sial atau mengandung malapetaka. Seoalah-olah dengan menutup mata dan menghindari pembicaraanya, kita bisa menunda kedatangan malaikat maut untuk memperpanjang sisa usia kita di dunia.

Padahal, sikap abai inilah yang sering membuat hidup kita kehilangan arah. Karena merasa waktu masih panjang, kita menjadi terlalu berani menumpuk dosa dan terlalu santai menunda amal. Kita terjebak dalam kesia-siaan duniawi karena lupa bahwa waktu yang kita miliki di sini lebih sedikit dari yang kita bayangkan. Membicarakan kematian sebenarnya bukan untuk menciptakan rasa takut yang melumpuhkan, melainkan untuk membangun kesadaran bahwa penyesalan akan muncul saat waktu benar-benar habis.

Mengingat Mati sebagai Rem dan Gas

Inilah alasan mengapa Rasulullah SAW dalam hadist nya berkata “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi). Sebutan “pemutus kelezatan” ini bukanlah kalimat yang bertujuan untuk membuat kita pesimis, melainkan pengingat bahwa kematian akan menghentikan seluruh gemerlap duniawi yang selama ini memabukkan. Dalam praktiknya, ingatan akan kematian berfungsi sebagai rem yang pakem saat ambisi kita mulai menghalalkan segala cara, sekaligus menjadi gas yang kuat saat kita mulai merasa lelah atau menunda-nunda untuk berbuat kebaikan.

Kemudian, Imam Al-Qurtubi dalam kita At-Tadzkirah menjelaskan bahwa orang yang banyak mengingat kematian akan dianugerahi tiga kemuliaan: segera bertaubat, hati yang qanaah (merasa cukup), serta semangat dalam beribadah. Sebaliknya, saat kita sengaja melupakat kematian, kita sebenarnya sedang menghukum diri sendiri dengan sikap malas, rasa tidak puas yang tiada habisnya, dan kebiasaan menunda perbaikan diri. Dengan kesadaran ini, setiap pekerjaan kita dimanapun dan kapanpun akan terasa lebih berkualitas, karena setiap peluh yang menetes menjadi amal kebaikan yang terus mengalir.

Menghargai Sisa Nafas

Pada akhirnya, mengingat kematian adalah cara terbaik untuk benar-benar mencintai kehidupan. Ia mengajarkan kita untuk menghargai setiap detik yang tersisa, melepas dendam yang menyesakkan dada, dan tidak lagi menunda ucapan maaf yang seharusnya disampaikan hari ini. Hidup yang selalu ingat akan kematian adalah hidup yang penuh ketelitian, hidup yang lebih berhati-hati dalam bertindak karena sadar bahwa suatu saat nanti, layar pertunjukkan ini akan berakhir.

Jangan biarkan diri kita terus terjebak dalam kata “nanti”, sebab kematian sering kali datang saat kita sedang sibuk-sibuknya merencanakan masa depan. Mari kira mulai menyiapkan bekal kepulangan itu dari sekarang, melalui kebaikan-kebaikan yang kita lakukan dengan niat mendapatkan ridho Allah SWT. Hasil yang indah bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari hari-hari yang telah kita isi dengan persiapan yang indah pula.


메타데이터
post_id
bb5e1f082e81
slug
budaya-lupa-maut-penyakit-kronis-manusia-modern-bb5e1f082e81
url
https://medium.com/@ahmadzain111005/budaya-lupa-maut-penyakit-kronis-manusia-modern-bb5e1f082e81
canonical_url
https://medium.com/@ahmadzain111005/budaya-lupa-maut-penyakit-kronis-manusia-modern-bb5e1f082e81
author_url
https://medium.com/@ahmadzain111005
status
ok
fetched_at
2026-07-10 15:46:15