Menertawakan Hidup Ala Komika
Preshow SUCI 11, Kompas TV
Menertawakan Hidup Ala Komika
Preshow SUCI 11, Kompas TV

Kompas TV
Muak melihat komedi tak lucu antara politisi yang saling ancam dengan kasus, padahal kita tahu sejatinya mereka semua tikus dengan level yang berbeda saja.
Marah menyaksikan polisi yang tak bosan-bosannya membuat blunder yang bikin setan minder?
Lelah mendengar berbagai kabar buruk di penjuru negeri?
Mungkin ini saatnya kita mengisi ulang endorfin dengan menonton para filusuf kehidupan: para komika. Saya senang sekali lomba Stand up Comedy Indonesia (SUCI) kini sudah memasuki musim ke-11.
Preshow-nya sudah tayang Jumat malam (03 Januari 2024), tulisan ini dibuat untuk mengapresiasi para komika yang lolos, dari saya sebagai penggemar kesenian ini sejak awal kemunculannya di tahun 2011.
Berikut para komika yang lolos Preshow, yang banyak memunculkan wajah baru:
- Fajar Mukti. Ini komika favorit saya. Berbeda dari umumnya komika yang berlatar belakang kelas bawah, maka Fajar berasal dari keluarga berpendidikan. Secara sadar ia membranding dirinya sebagai *komika privilege*. Ia mengawali penampilannya dengan tenang menggunakan kalimat percakapan ala cerita sastra, indah sekali. Belakangan ia menjelaskan pendidikannya yang jurusan Sastra Indonesia (Ooo pantes!). Kelebihannya dalam berbahasa ia mainkan lagi saat secara cerdas menyoroti pergeseran makna setan di bidang kuliner.
- Khairul Umam. Persona Damkar (Pemadam Kebakaran) yang bahkan dari premisnya saja sudah menggelitik: tugas Damkar yang harus menolong kepala anak kecil nyangkut di kaleng biskuit, jari nyangkut di gayung dan semacamnya. Sangat menantikan apa lagi kelucuan yang bisa digali dari profesi yang satu ini.
- Sapar. Teknisi mesin cuci. Kelebihan komika di preshow ini adalah teknik callback, sebuah cara berkomedi yang memanggil ulang kelucuan. Di sini Sapar melakukannya berkali-kali dalam 4 menit penampilannya. Luar biasa!
- Deki Sutrisna. Profesi penjual nasi uduk dan pilihan diksi yang ‘Bekasi’, membuat Deki panen tawa. Kelebihannya adalah menggunakan teknik rule of three, 2 info biasa yang ditutup kelucuan di kalimat ke-3. Deki lincah menggiring ekspektasi lalu mematahkannya dengan enteng ke situasi yang sama sekali berbeda.
- Wahuy. Komika Betawi ini menggunakan joke internal yang paling gampang memancing tawa: Aib sesama komika. Seperti wajarnya darah Betawi, Wahuy dianugerahi pembawaan dan diksi yang kocak. Hanya saja harus dibuktikan lagi kemampuannya dalam membawakan joke yang lebih umum, apakah bisa sama lucunya dengan humor internal?
- Faizal.Berlogat medok dan berwajah ‘kasihan’ adalah cheat komika ini. Faizal termasuk komika slowburn, saya mencatat dari jatah 4 menit dia baru memancing tawa yang lumayan di 1 menit detik 45, sangat riskan. Untungnya premis Bapak Vs Burung hantu sangat kocak dan bikin ngakak.
- Virza Logika. Boleh dibilang ini jenis komika yang bukan “my cup of tea”, gak masuk selera saya. Humornya absurd dan terkesan memilih diksi yang patah saja. Tetapi belajar dari Ebel Cobra yang juga absurd tetapi berhasil meraih juara 3 di SUCI 4, mungkin saja Virza bisa melangkah jauh juga.
- Upit. Satu-satunya komika perempuan yang lolos. Tekniknya self deprecating, merendahkan diri sendiri. Teknik yang biasanya dipakai komika berwajah (maaf) jelek. Teknik yang sama pernah dipakai Yudha Keling, Denny Gitong, Benidictivity hingga Bakriyadi. Yang paling sukses tentu saja Yono Bakrie yang menjadi jawara SUCI X. Patut ditunggu bagaimana upaya Upit bisa merendahkan dirinya untuk mencapai posisi paling tinggi.
- Rizky Prasetya. Dia membawakan persona komika gagal. 13 tahun jadi komika tapi tak kunjung terkenal, padahal kompeisi SUCI saja baru musim ke-11. Premisnya mungkin biasa, tetapi pembawaannya luar biasa, terasa amat jujur dan dari hati. Mungkin itulah yang membuat para juri jatuh hati dan meloloskannya.
- Aldo. Dia mengambil branding yang berisiko: manusia sukses yang hidupnya baik-baik saja. Kontras dengan komika yang katanya harus resah dan ‘gagal’ dalam hidup. Kentara sekali Aldo adalah komika matang yang bisa membawakan premis tak biasa itu dengan terukur.
- Thoriq Al Gadrie. Komika dengan pembawaan yang lucu. Sayangnya, personanya yang seorang Barista, tak mudah diolah jadi premis yang luar biasa. Setidaknya menurut pandangan awam saya, tak semenggelitik persona Damkar, misalnya.
- Ronald. Komika ini tampil nothing to lose. Jika komika lain menyiapkan dan membawakan materi stand up, Ronald bermain humor meta, jenis humor yang bermain di situasi terkini. Ronald seakan baru mengais komedi secara langsung, dia membahas juri dan peserta lain. Sungguh sebuah langkah yang langka untuk awal kompetisi. Salut!
- Ramos Ambarita. Komika yang penampilannya kurang mengesankan, lucu tetapi terasa kalah dengan peserta lolos yang lain. Pembawaannya mengingatkan pada komika senior dari Medan, Lolox.
Demikianlah. Tak sabar menunggu lagi penampilan mereka semua di babak selanjutnya. Biarkan kami tertawa(n) lebih lama dengan kelucuan ini.
메타데이터
- post_id
- bb65f136e527
- slug
- menertawakan-hidup-ala-komika-bb65f136e527
- url
- https://medium.com/@kianbumi2017/menertawakan-hidup-ala-komika-bb65f136e527
- canonical_url
- https://medium.com/@kianbumi2017/menertawakan-hidup-ala-komika-bb65f136e527
- author_url
- https://medium.com/@kianbumi2017
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 10:43:05