“Koloni Lepra di Jombang: Dari Masalah Penyakit Hingga Kedermawanan”
selalu cenderung membuang penderita kusta ke tempat-tempat Malaria, dan kemudian menyebut diri mereka sebagai “dermawan”!
“Koloni Lepra di Jombang: Dari Masalah Penyakit Hingga Kedermawanan”

Dr. C. Gramberg saat bekerja di Rumah Sakit Misi Mojowarno, Jombang. Source: Digital Collection Leiden
Lepra merupakan salah satu bagian dari penyakit rakyat yang harus diberantas. Bisa dibilang bahwa penyakit lepra atau kusta ini merupakan sebuah penyakit endemik, dan salah satu daerah endemik dari lepra adalah Jawa Timur. Di masa kolonial, lepra merupakan sebuah penyakit yang menjangkiti banyak masyarakat dan membuat banyak orang menjadi fobia dengan lepra, dan salah satunya yang akan dibahas dalam bab ini.
Menurut data yang dihimpun oleh RS zending Mojowarno pada tahun 1935, setidaknya terdapat 315 pasien lepra alias 0,6% dari jumlah penduduk Jombang. Hal ini menunjukkan betapa banyaknya masyarakat Jombang saat itu terjangkit lepra.[1] Dalam beberapa waktu, RS zending Mojowarno memindahkan pasien lepra yang ada di sana ke RS Lepra Donorojo di Jepara menggunakan trem rumah sakit, karena sesaknya ruang di RS zending Mojowarno untuk menampung mereka.
Kasus-Kasus Lepra di Jombang
Selain banyaknya kasus lepra, terdapat juga kasus sikap fobia terhadap pasien lepra yang tidak main-main, terutama setelah Hindia Belanda mengalami wabah seperti pes, kolera, hingga flu Spanyol. Tidak hanya kaum Eropa saja yang ketakutan, namun juga kelompok bumiputra. Hal ini dapat terlihat dalam salah satu insiden pembakaran mayat yang terjadi di Ngoro tanggal 11 November 1916, dalam koran Het Nieuws van den dag voor Ned-Indie menjelaskan bahwa terdapat insiden di Ngoro soal seorang bapak tua yang membakar mayat anaknya yang terjangkit lepra di umur 16 tahun. Si bapak merasa ketakutan jika anaknya menulari lepra ke tubuhnya, sehingga ia menaruh jenazah anaknya dalam keadaan najis di dalam sebuah lubang, ditutup dengan daun-daun kering dan disiram dengan minyak tanah, setelah itu dibakar. Metode yang dilakukannya terinspirasi dari upaya pemberantasan pes yang juga menggunakan metode dibakar.[2]
Koloni Lepra Pulosari
Jombang sebagai bagian dari endemik lepra pun pada akhirnya membutuhkan sebuah gagasan yang lebih besar untuk menanganinya. Salah satunya adalah dengan cara membangun sebuah koloni yang dapat menampung para penderita lepra. Gagasan tentang koloni memang tidak terlalu baru, mengingat di tahun 1934 terdapat juga koloni sekaligus rumah singgah untuk orang gila yang dibangun oleh P.M Wulfften Palthe di Lenteng Agoeng ataupun kamp Plantungan yang menjadi pusat observasi sekaligus koloni lepra. Walaupun begitu, nampaknya terdapat sebuah perbedaan antara koloni yang sudah ada dengan koloni lepra yang ada di Jombang.
Terdapat sebuah alasan yang mendasari pembangunan koloni lepra ini yaitu, jumlah pasien lepra yang ada di RS zending Mojowarno telah begitu sesak sehingga membutuhkan ruang lebih untuk pasien lepra, walaupun pernah terjadi pengiriman para pasien lepra dari RS zending Mojowarno ke RS lepra Donorojo yang nampaknya hal tersebut tidak begitu efektif, sehingga membutuhkan cara yang lebih efisien.[3]

Kereta api milik RS Lepra Donorojo saat sedang melawat ke RS Mojowarno dengan tujuan memindahkan sebagian pasien lepra RS Mojowarno ke RS Donorojo. Source: Digital Collection Leiden
Gagasan yang diusung adalah membangun sebuah desa khusus untuk pasien lepra yang masih kuat secara fisik dan pasien tersebut harus memiliki alasan sosial sehingga nantinya dapat mengelola dan menyewa tanah.[4] Gagasan soal koloni pedesaan ini tidak lain bertujuan untuk memberdayakan para pasien lepra yang sering kali tidak diharapkan oleh masyarakat normal. Walaupun begitu, tidak ada catatan mendetil soal kapan berdirinya koloni ini, namun setidaknya tidak jauh dari perencanaan di tahun 1935.[5] Kemungkinan, koloni tersebut selesai di bangun pada sekitaran tahun 1936 hingga 1937, sebab di tahun 1938 sudah terdapat sebuah laporan yang mendetil soal koloni ini.
Di tahun 1938, terdapat sebuah laporan dari koresponden De Indische Courant yang melaporkan soal kondisi dari koloni Pulosari yang menurut koresponden tersebut sudah layak huni. Di awal kalimat dari tulisan sang koresponden, ia menceritakan kalau koloni ini jarang terekspos oleh media, padahal koloni lepra Pulosari merupakan sebuah terobosan yang bagus, walaupun sudah pernah dibuat di Plantungan.
Dalam laporan perjalanan tersebut, sang koresponden menceritakan latar belakang pembuatan koloni ini yang berawal dari sesaknya RS zending Mojowarno yang sudah sesak karena banyaknya pasien lepra, sehingga pihak rumah sakit membutuhkan lahan baru, namun yang masih dalam jangkauan tenaga medis rumah sakit. Tanah baru tersebut berada di Pulosari, Bareng, alias berjarak sekitar 10 km dari RS zending itu sendiri.
Berdirinya koloni lepra ini menjadi sebuah jalan keluar bagi RS zending, dan jalan tersebut juga diterima dengan baik oleh penderita lepra, sehingga RS pun bergegas untuk menyiapkan segala hal untuk diletakkan di sana, seperti misalnya membongkar beberapa rumah dinas zending untuk keperluan pemukiman di Pulosari.[6] Fasilitas yang dibangun oleh RS antara lain adalah bangunan pemukiman, kandang sapi, dan membuat sebuah pertanian skala kecil, hal tersebut berfungsi untuk memberdayakan masyarakat penderita lepra yang kerap kali dianggap sebagai beban masyarakat dan tidak memiliki pekerjaan.
Bahkan saja, para penderita lepra juga merasakan hasil lain selain pekerjaan berat yaitu upah tiap individu sebesar f 0.10 per hari untuk pekerjaan kecil harian, seperti yang disebutkan oleh koresponden di bawah ini:
“Het werk, dat steeds rouleert en van lichte aard blijft, bestaat uit het onderhouden van gebouwen, de zorg voor de koeien, het planten en schoonhouden van olifantgras, snijden, etc.”**[7]**
(Pekerjaan harian yang selalu ada dan bersifat ringan seperti memelihara bangunan, merawat sapi, menanam, membersihkan rumput gajah yang tersebar, menebang, dan lain-lain)
Tidak berselang lama, ucap sang koresponden, koloni ini menjadi kian sesak karena memang pada mula-mulanya hanya diperuntukkan untuk sekitar 12 orang saja, namun seiring waktu bertambah menjadi 30 orang. Hal ini mengakibatkan sebagian pasien harus bertempat tinggal di kandang sapi untuk beberapa waktu. Bagi RS zending, hal ini merupakan sebuah kesuksesan dalam menangani kusta, karena banyaknya penderita lepra yang minat untuk tinggal di sana. Di lain hal, menurut para penderita lepra yang sudah tinggal di Pulosari, koloni ini tidak hanya meringankan penderitaan fisik, namun juga sangat mengurangi penderitaan psikologis, karena koloni ini dapat memulihkan kepercayaan diri mereka dan memungkinkan mereka untuk tetap menjadi orang yang berguna.[8]
Masalah Koloni Lepra
Walaupun koloni lepra Pulosari nampak rapi dan teratur sebagaimana yang dijelaskan oleh koresponden De Indische Courant dalam laporannya tanggal 22 Agustus 1938, nyatanya terdapat sebuah cerita lain mengenai koloni ini. Bisa dikatakan cerita lain tersebut merupakan sebuah antitesa dari laporan koresponden yang dilaporkan pada 22 Agustus 1938 di atas.
Misalnya dalam artikel yang sama, yaitu laporan koresponden tersebut yang mana menyebutkan bahwasanya sebagian pasien harus ditempatkan di kandang sapi karena keterbatasan ruang. Hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah ironi yang sangat menyedihkan, karena terbatasnya dana dan pemerintah juga saling lempar tangan mengenai, siapa yang harus bertanggung jawab dalam perihal subsidi, pusat atau daerah?
Di lain hal, terdapat permasalahan lain yang tak kalah ironis ketimbang masalah subsidi. Hal tersebut diungkapkan oleh De Indische Courant tanggal 22 Oktober 1938 dengan judul artikelnya yaitu “Pro Leproos”. Dalam artikel tersebut menjelaskan permasalahan lepra yang beberapa bulan terakhir menjadi sorotan publik, karena para penderita lepra masih dianggap bukan sebagai manusia, namun merupakan entitas yang berbeda dan harus disingkirkan dari masyarakat normal. Beberapa orang yang pro pada penderita lepra menganggap bahwasanya hal tersebut merupakan tindakan yang biadab.
Permasalahan yang serius sebenarnya adalah penyingkiran itu sendiri. Penulis artikel tersebut dengan menggebu-gebu marah menganggap bahwa para pendahulu (bisa dibaca: orang penting) mereka cenderung menyingkirkan para penderita lepra dengan dalih kesejahteraan sosial, dan menaruh penderita lepra tersebut di suatu tempat yang sebenarnya merupakan sarang malaria.
“De redactie schrijft nog eens over het „wonderlijke” gedrag der voorgangers, die steeds de neiging hadden leprozen te verbannen naar Malaria-oorden, en zich dan toch „filantropen” noemden!”**[9]**
(Para editor menulis lagi tentang perilaku “aneh” para pendahulu, yang selalu cenderung membuang penderita kusta ke tempat-tempat Malaria, dan kemudian menyebut diri mereka sebagai “dermawan”!)

Poliklinik Lepra “Donorojo”, Jepara, Jawa Tengah. Poliklinik ini berada dekat dengan hutan yang merupakan sarang malaria. Source: Delpher
Maksud dari artikel tersebut terjawab dengan pemberitaan lain di koran yang sama tertanggal 3 Juni 1938, yang menjelaskan kondisi rumah sakit lepra Donorojo yang sangat mengenaskan karena akses mobilisasi yang buruk, ketersediaan pangan yang tidak memadai hingga bahkan RS tersebut terletak tak jauh dari hutan, yang mana notabenenya adalah sarang malaria.[10] Kondisi semacam RS Lepra Donorojo juga dialami dengan koloni lepra di Plantungan, yang berada di tengah hutan. Tak lain dan tidak bukan, artikel “Pro Leproos” juga ingin mengkritik koloni Pulosari yang mana kondisi koloni tersebut juga hampir mirip dengan yang ada di Donorojo dan Plantungan, alias daerah yang jauh dari masyarakat normal, dan berada di tengah hutan.
Subsidi Pemerintah?
Menurut RS zending Mojowarno, koloni lepra Pulosari haruslah dibangun bersama antara zending dengan pemerintah, mengingat manfaatnya yang begitu luar biasa bagi masyarakat luas. Maksud dari pihak RS zending adalah koloni Pulosari ini tidak memiliki dana yang besar untuk memperbesar koloni.[11] Maka tak heran jika ada beberapa pasien yang harus ditempatkan di tempat yang tidak layak.
Masalah dana tersebut ditanggapi oleh pemerintah, walaupun tidak menghasilkan dua jawaban yang memuaskan, antara lain: Pertama, nantinya pemerintah akan membentuk sebuah lembaga subsidi untuk masalah kesehatan bernama Hygiene Centrum di tahun 1938 yang diisi oleh pemerintah dan pihak filantropis pabrik gula; Kedua, terdapat sebuah perdebatan soal siapa yang harus bertanggung jawab atas masalah lepra.
Subsidi pemerintah dapat dikatakan tidak sepenuhnya menutupi biaya koloni Pulosari, namun setidaknya membuktikan bahwa negara hadir dalam menangani lepra. Terhitung di tahun 1939, koloni lepra Pulosari hanya mendapat sumbangan dari pemerintah sebesar 100 gulden saja, dengan alasan bahwa koloni ini diciptakan oleh pihak swasta, dan pemerintah daerah hanya sebagai seorang penyumbang belaka.[12] Alasannya adalah menurut rapat dewan kabupaten pada 7 Desember 1938 menyatakan bahwa masalah lepra adalah tanggung jawab negara. Walaupun begitu, pernyataan yang nampak tidak bertanggung jawab tersebut disanggah oleh tuan Nitisastro yang merupakan seorang aktivis pergerakan Parindra Jombang, tuan Nitisastro menyatakan bahwa merawat kelompok lepra juga merupakan bagian dari tugas pemerintah daerah.[13]
Tak dapat dipungkiri juga bahwasanya nantinya di tahun 1939, saat Lembaga Hygiene Centrum dibentuk oleh pemerintah Jombang, tidak ada penambahan nominal yang diberikan kepada koloni lepra Pulosari, alias tetap 100 gulden. Padahal saja, Lembaga tersebut merupakan Lembaga yang terintegrasi antara pemerintah daerah dengan kelompok filantropis pabrik gula yang ada di Jombang. Menurut laporan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie tanggal 18 Oktober 1939 melaporkan jumlah subsidi yang diberikan oleh Hygiene Centrum untuk tahun 1940 kepada beberapa instansi kesehatan,[14] seperti berikut:
- Rumah Sakit Zending Mojowarno: f 750.-
- Sanatorium TBC Wonosalam: f 400.-
- Pemeliharaan Poliklinik Gudo: f 180.-
- Koloni Lepra Pulosari: f 100.-
Total: f 1430.-
*Tulisan ini merupakan bagian dari rancangan buku saya, dan tulisan ini membutuhkan riset yang lebih mendalam.
Terima kasih.
Daftar Pustaka
[1] “Jaarverslag Zendingsziekenhuis te Modjowarno over het jaar 1934,” 3 September 1935.
[2] “Als een pestrat verbrand.,” Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 11 November 1916.
[3] “Djombang. (Van Onzen Correspondent). Medisch Buitenwerk,” De Indische Courant, 14 Desember 1934.
[4] “Zendingsziekenhuis Modjowarno,” Soerabaijasch Handelsblad, 10 April 1935.
[5] “Zendingsziekenhuis Modjowarno.”, Ibid.
[6] “Leprozenstichting Poelosari,” De Indische Courant, 22 Agustus 1938.
[7] “Leprozenstichting Poelosari.”
[8] “Djombang (Van-Onzen Correspondent.) Leprozen-Onderzoek,” De Indische Courant, 18 Oktober 1938.
[9] “Pro Leproos,” De Indische Courant, 22 Oktober 1938.
[10] “Twee Dagen Bij De Leprozen,” De Indische Courant, 3 Juni 1938.
[11] “Djombang (Van-Onzen Correspondent.) Leprozen-Onderzoek.”
[12] “Djombang (Van Onzen Correspondent.) Lepra Landbouw-kolonie,” De Indische Courant, 22 Mei 1939.
[13] “Djombang (Van Onzen Correspondent.) Regentschapvergadering,” De Indische Courant, 20 Desember 1938.
[14] “Djombang. SUBSIDIES AAN HYGIËNISCHE INSTELLINGEN,” Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 18 Oktober 1939.
메타데이터
- post_id
- bb69cf0bba8e
- slug
- koloni-lepra-di-jombang-dari-masalah-penyakit-hingga-kedermawanan-bb69cf0bba8e
- url
- https://medium.com/@widii.1926/koloni-lepra-di-jombang-dari-masalah-penyakit-hingga-kedermawanan-bb69cf0bba8e
- canonical_url
- https://medium.com/@widii.1926/koloni-lepra-di-jombang-dari-masalah-penyakit-hingga-kedermawanan-bb69cf0bba8e
- author_url
- https://medium.com/@widii.1926
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 10:39:35