Mantan Kandung
Dan aku sadar kami tidak pernah benar-benar putus. Kami hanya mengganti status.
Mantan Kandung

Bogor, 03 Januari 2026
Dan aku sadar kami tidak pernah benar-benar putus. Kami hanya mengganti status.
“Katanya, sayang itu selamanya”. Pantas saja mantan kandung selalu jadi tempat pelarian karena hanya padanya, keluh kesah kita diterima tanpa harus menjelaskan apa-apa.”
Aku mengenal Alaska di tahun 2019. Waktu itu aku kelas sebelas, sebentar lagi naik kelas dua belas. Kami berdiri di halaman Polres Pelabuhan Ratu, mengantre tes bintara polisi, di bawah matahari yang lebih galak dari petugas.
Setiap kali latihan binsik, Alaska selalu menatapku. Diam, lama, tanpa senyum. Di kepalaku waktu itu cuma ada satu kalimat: “Apaan sih bapak-bapak, ngeliatin aku terus.” Dia berkumis.
Dia alisnya tebal. Mukanya serius. Auranya seperti orang yang hidupnya cuma diisi apel pagi dan baris-berbaris. Aku tidak suka.
Sampai akhirnya aku terbiasa. Dan dari terbiasa, aku mulai jatuh. Kami jadian.
Dan seperti kebanyakan cerita yang terlalu manis di awal, hidup mulai memberi ujian. Seleksi pusat di Bandung—aku tidak lolos. Yang lolos justru Alaska. Aku tetap menemaninya.
Mengantar tes lanjutan, menunggu di luar pagar pendidikan, menjenguk saat dia mulai terlihat kurus, dan berdiri paling belakang di hari pelantikannya. Ibunya hafal caraku minum kopi. Ayahnya sering menepuk pundakku sambil bilang, “Nanti kamu juga menyusul.”
Aku menghabiskan lebih banyak waktu di rumah orang tuanya dibanding rumahku sendiri. Kami tumbuh bersama. Kami membayangkan masa depan dengan serius.
Tiga tahun kemudian, Alaska mengakhiri semuanya. Sepihak. Tanpa peringatan. Tanpa perpisahan yang layak. Yang tersisa cuma satu foto di media sosial foto dirinya dengan perempuan lain.
Aku pindah ke Jakarta. Kuliah. Jatuh cinta lagi, kali ini dengan Ale orang Makassar yang kukenal dari Instagram. Kost kami dekat, dan dia memberi apa yang dulu tidak pernah kuminta: waktu, perhatian, dan materi. Kami bertahan tiga tahun. Dan berakhir dengan cerita yang sama: pengkhianatan.
Aku mengira semua mantan akan punya pintu pulang yang sama. Ternyata tidak. Aku tidak pernah kembali ke Ale. Tidak pernah kepo. Tidak pernah cerita. Tidak pernah pulang.
Tapi Alaska… selalu berbeda. Tiga tahun kami asing. Benar-benar tidak ada kabar.
Sampai suatu hari, mantan selingkuhannya menghubungiku meminta maaf. Katanya takut karma. Katanya menyesal. Katanya hubungannya sekarang tidak pernah benar-benar tenang.
Tahun keempat, Alaska meneleponku. Entah dari mana dia tahu aku sudah putus. Kami bertemu. Ngobrol seperti dua orang dewasa yang pernah saling memiliki segalanya. Lalu asing lagi.
kami mengulang kebiasaan itu. Kadang dia datang ke rumah. Curhat. Kadang bercanda soal, “Gimana kalau kita pengajuan, nikah kantor?” Kadang dia kirim foto perempuan yang lagi diajak jalan. Aku ledekin. Kami tertawa. Lalu asing lagi.
Sampai suatu malam dia mengirim foto buket yang kubawa waktu pelantikannya. Masih ada. Masih disimpan. Rapi.
Kadang dia kirim foto kami. Kadang cuma bilang, “Neng, kamu lagi di mana?”
Dan aku sadar kami tidak pernah benar-benar putus. Kami hanya mengganti status.
Kadang Alaska menelepon, dan aku tidak sempat mengangkatnya. Beberapa menit kemudian aku membalas: “Kenapa, kangen lu ya sama gua?” Dia membalas dengan stiker ketawa, lalu kami chatingan. Bercanda. Cerita hal-hal kecil. Seolah tidak pernah ada jarak tiga tahun di antara kami. Lalu… asing lagi.
Kadang dia repost story WhatsApp-ku. Kadang aku membalas chatnya. Kadang juga tidak. Kadang dia hanya mengirim satu kata: “Neng.” Aku membalas: “Apa, sayang.” Kami chatingan. Kami tertawa. Kami seperti orang yang hampir pulang. Lalu… asing lagi.
Hubungan kami berjalan seperti lampu sein -kedip, menyala, lalu mati sendiri.
Pernah terlintas di kepalaku: Apa balikan saja, ya? Tapi aku juga masih ingat: sifatnya belum berubah. Hidupnya masih berantakan. Dan aku tidak mau lagi menjadi orang yang patah di tempat yang sama. Jadi aku memilih bertahan di posisi paling aman dekat, tapi tidak kembali. Ada, tapi tidak menyerahkan diri sepenuhnya. Karena setiap aku lelah, kecewa, atau hampir runtuh, aku selalu pulang ke dia.
Dan dia juga begitu. Kami bukan pasangan. Tapi kami juga bukan sekadar mantan. Kami adalah dua orang yang terlalu lama saling menjadi rumah, sampai lupa bagaimana caranya benar-benar pergi.
Ada orang yang tidak pernah kita pamerkan. Tidak kita ceritakan ke siapa pun. Tapi selalu jadi tempat kita pulang saat hidup sedang tidak ramah. Dan mungkin… itulah arti sebenarnya dari mantan kandung. Bukan yang masih kita cintai, tapi yang selalu tahu bagaimana cara membuat kita merasa utuh lagi @ meski tidak pernah lagi jadi milik kita.
메타데이터
- post_id
- bb6ab06b01e9
- slug
- mantan-kandung-bb6ab06b01e9
- url
- https://medium.com/@caaantika28/mantan-kandung-bb6ab06b01e9
- canonical_url
- https://medium.com/@caaantika28/mantan-kandung-bb6ab06b01e9
- author_url
- https://medium.com/@caaantika28
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 17:33:19