Garis Akhir di Brawijaya
jika 1000x pun aku bisa memutar waktu, aku akan tetap berjalan diwaktu yang sekarang
Garis Akhir di Brawijaya

jika 1000x pun aku bisa memutar waktu, aku akan tetap berjalan diwaktu yang sekarang
Aku datang dari sebuah planet yang jauh.
Membawa sebuah koper, beberapa mimpi yang belum terlalu jelas, dan keberanian yang mungkin lebih besar daripada persiapanku sendiri.
Saat itu aku hanya memikirkan satu hal.
“Aku ingin pergi, menjadi mahasiswa, tak perlu jadi orang hebat setidaknya aku akan memulai sesuatu yang baru. Tujuanku adalah Brawijaya.”
Setidaknya, begitu yang tertulis dalam navigasiku, tapi ternyata, navigasiku sedikit melenceng.
Aku berlabuh di Brawijaya Kediri.
Awalnya aku mengira tempat ini hanya akan menjadi persinggahan.
Sebuah tempat kecil untuk belajar, bertumbuh, lalu suatu hari nanti akan kutinggalkan, aku tidak pernah tahu bahwa tempat yang bahkan awalnya terasa asing ini justru akan menyimpan begitu banyak bagian dari hidupku.
Aku datang sebagai anak rantau yang polos.
Banyak hal yang tidak kumengerti.
Bahasa Jawa yang terdengar begitu cepat, kebiasaan baru orang-orang sekitar, jalan-jalan yang belum kukenal, sampai hal-hal sederhana yang membuatku beberapa kali hanya bisa tersenyum dan berpura-pura paham.
Tapi hari-hari membuat semuanya perlahan berubah. Yang dulu asing menjadi biasa, yang dulu hanya kulewati mulai memiliki cerita, dan tanpa kusadari, Kediri perlahan menjadi tempat yang punya banyak kenangan tentang diriku.
Aku datang untuk menjadi mahasiswa.
Lalu kehidupan membawaku ke banyak tempat yang tidak pernah ada dalam rencana awal.
Aku mencoba organisasi, bertemu banyak orang, mengambil tanggung jawab, jatuh, belajar lagi, sampai akhirnya pernah berdiri di satu titik yang dulu bahkan gipari kecil tidak pernah berani membayangkan, yaitu menjadi Ketua BEM.
Tetapi, ketika semua itu selesai, bukan jabatan yang paling ingin kuingat.
Melainkan orang-orangnya.
Teman-teman yang awalnya hanya sekadar kenalan, lalu menjadi tempat pulang setelah hari yang panjang.
Kakak-kakak yang pernah membimbingku.
Adik-adik yang membuatku belajar menjadi seseorang yang bisa diandalkan.
Hingga orang-orang yang mungkin awalnya tidak punya hubungan apa-apa denganku, tetapi akhirnya menjadi keluarga kecil yang tumbuh bersama di tanah Brawijaya.
Kita memang mungkin tidak pernah benar-benar merencanakannya.
Dan mungkin, justru karena itulah garis akhir ini terasa sedikit berat.
Sebab…
Ternyata yang akan kita tinggalkan bukan hanya kampus.
Kita akan meninggalkan kebiasaan.
Tidak ada lagi ajakan se-sederhana,
“Mau makan di mana?, abis ini ngopi dimana?, mau main kemana lagi?”
Tidak ada lagi ajakan mendadak untuk keluar karena sedang bosan.
Tidak ada lagi duduk berlama-lama membicarakan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Tidak ada lagi perjalanan tanpa tujuan yang akhirnya justru menjadi cerita paling seru.
Hal-hal yang dulu terasa biasa.
Nanti akan menjadi sesuatu yang kita rindukan.
Aku akan mengingat sudut-sudut Kediri yang pernah menjadi tempat kita bermain.
Jalan yang berkali-kali kita lewati.
Tempat makan yang mungkin tidak akan pernah terasa sama ketika kita kembali ke sana sendirian.
Aku akan mengingat wajah-wajah yang pernah memenuhi hari-hariku, suara tawa yang dulu terdengar setiap saat, bahkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu kadang membuat kesal.
Karena mungkin, setelah semua ini selesai, justru hal-hal kecil itulah yang paling sulit dilupakan.
Jokes yang hanya kita mengerti.
Panggilan-panggilan aneh yang tidak akan lucu bagi orang lain.
Kalimat yang sebenarnya sederhana, tapi bisa membuat satu circle tertawa berjam-jam.
Dan suatu hari nanti, mungkin aku akan mendengar salah satu jokes itu lagi, lalu tiba-tiba teringat semuanya.
“Oh, itu waktu aku kuliah dulu.”
Aku akan mengingat kalian dengan cara yang sederhana. Bukan hanya lewat foto, bukan hanya lewat cerita besar yang pernah kita buat, tapi lewat detail-detail kecil yang mungkin bahkan tidak kita sadari sedang kita simpan sebagai kenangan.
Mungkin nanti kita akan pergi ke kota yang berbeda.
Memiliki kesibukan masing-masing.
Ada yang bekerja, melanjutkan pendidikan, pulang ke rumah, atau mengejar kehidupan yang selama ini kita impikan.
Kita mungkin tidak akan lagi bertemu sesering sekarang. Bahkan mungkin, beberapa dari kita perlahan hanya akan menjadi nama di dalam grup yang sesekali muncul.
Tapi aku berharap, sejauh apa pun kita pergi, ketika suatu hari nanti kita bertemu kembali, masih ada satu bagian kecil dari diri kita yang mengenali satu sama lain.
Yang masih bisa tertawa karena satu cerita lama.
Yang masih bisa berkata,
“Eehh, inget nggak dulu kita pernah...”
Lalu semuanya kembali terasa seperti dulu.
Karena pada akhirnya, mungkin kita tidak akan bisa membawa masa-masa ini kembali.
Kita tidak bisa mengulang hari yang sama, duduk di tempat yang sama, dengan orang-orang yang sama.
Waktu akan terus berjalan dan memaksa kita meninggalkan banyak hal.
Tapi setidaknya kita pernah berada di sana.
Pernah menjadi mahasiswa.
Pernah menjadi teman.
Pernah menjadi kakak.
Pernah menjadi adik.
Pernah menjadi keluarga kecil satu sama lain.
Dan kalau suatu hari nanti aku benar-benar meninggalkan Brawijaya, aku tidak ingin mengingatnya hanya sebagai kampus tempat aku mendapatkan gelar, aku ingin mengingatnya sebagai tempat di mana seorang anak rantau yang salah navigasi pernah menemukan begitu banyak alasan untuk bertahan.
Mungkin aku memang salah arah ketika datang ke sini.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak ingin memperbaiki navigasinya.
Karena ternyata, aku berlabuh di tempat yang tepat.
Di Kediri.
Di Brawijaya.
Di antara orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Dan ketika akhirnya sampai pada garis akhir Brawijaya, mungkin aku akan berjalan pergi dengan sedikit berat hati, menoleh sebentar, lalu menyadari bahwa yang kutinggalkan sebenarnya bukan tempat.
Melainkan sebuah masa.
Masa yang suatu hari nanti hanya bisa kukunjungi lewat ingatan.
Dan mungkin, ketika nanti hidup sudah berjalan terlalu jauh, aku akan kembali mengingat semuanya satu per satu.
Satu jalan.
Satu tempat.
Satu tawa.
Satu nama.
Satu cerita.
Lalu tersenyum kecil dan berkata,
“Oh, itu waktu aku kuliah dulu.”
메타데이터
- post_id
- bb6dd8a8805d
- slug
- garis-akhir-di-brawijaya-bb6dd8a8805d
- url
- https://medium.com/@gipariernan/garis-akhir-di-brawijaya-bb6dd8a8805d
- canonical_url
- https://medium.com/@gipariernan/garis-akhir-di-brawijaya-bb6dd8a8805d
- author_url
- https://medium.com/@gipariernan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-24 08:39:01