← Back to list

Tidak ada Fratelli D’Italia di New York Tahun Ini

“Italia gagal lolos Piala Dunia tiga kali berturut-turut.”

Terry Arie · 2026-04-19 18:08 · 0 claps · 3.9 min read
#sepakbola #azzurri #timnas #piala-dunia-2026 #italia
Open on Medium ↗

Tidak ada Fratelli D’Italia di New York Tahun Ini

Italia gagal lolos Piala Dunia tiga kali berturut-turut.

Kalimat itu terdengar seperti hoaks April Mop jika dibaca oleh generasi yang tumbuh dengan siaran Serie A setiap pekan macam saya. Tapi itulah kenyataan yang mesti ditelan: Italia tumbang dari Tim nasional sepak bola Bosnia dan Herzegovina lewat adu penalti 4–1. Sebuah kekalahan yang bukan hanya mematahkan tiket Piala Dunia, tapi patah hati kolektif sebuah bangsa sepakbola.

Bagi saya, yang perkenalan pertamanya dengan sepak bola adalah Piala Dunia 1994, ini seakan lingkaran tragis yang tak berkesudahan. Saat itu saya terpukau oleh sosok Roberto Baggio, jatuh cinta pada rambut kriwilnya dan sihir kakinya, kemudian melihat ia mengirim bola dari penalti melambung jauh ke udara. Italia kalah dan saya menangis pertama kali untuk orang lain. Itulah hari ketika saya tahu bahwa mencintai sepak bola sama artinya dengan bersedia patah hati berkali-kali.

Masa itu, Serie A seperti pusat sepakbola dunia. Klub-klub Italia seperti deretan opera megah yang setiap akhir pekan dipentaskan oleh Il Sette Magnifico ( Juventus, Milan, Inter, Roma, Lazio, Parma dan Fiorentina). Pemain- pemain terbaik dunia bermigrasi ke Italia hampir setiap musim dan rekor transfer dunia bergantian lahir dari sana.

Dan buat kita di Indonesia, Serie A bukan hanya liga tapi pintu ke dunia lain. Saya masih takjub ketika mendengar laporan langsung via telepon oleh Bung Rayana Djakasuria di RCTI. Suara berderak-derak yang terkadang tidak jelas pun terasa menakjubkan. Tabloid Bola memanjakan dengan halaman-halaman yang isinya didominasi Serie A dan Liga Inggris. La Liga saat itu paling banter disediakan satu lembar dan Bundesliga masih berbagi halaman dengan Ligue 1 dan Eredivisie.

Tak heran, mayoritas penggemar sepakbola Indonesia saat itu adalah tifosi. Dan karena Tim nasional Indonesia tidak mungkin tampil di Euro dan kecil kemungkinan untuk berlaga di Piala Dunia, otomatis banyak yang mengadopsi Tim nasional sepak bola Italia sebagai tim nasional kedua. Setiap Piala Dunia atau Euro, menyetel TV bukan hanya menonton pertandingan, tapi ikut menyanyikan “Fratelli D’Italia” walau tak tahu lirik bahkan artinya.

Sebagaimana banyak yang suka, tentu banyak pula yang membenci Italia. Tim Azzurri dinilai membosankan, terlalu defensif dan hanya jago bertahan.

Dulu ada pengamat sepakbola yang menyematkan enam kata untuk Timnas Italia, “Robust, Precise, Bold, Tactical, Furbizia, Catenaccio”. Enam kata yang merangkum stigma, filosofi, sekaligus romantisme sepak bola Italia. Namun ironinya, enam kata itu kini lebih cocok menggambarkan masa lalu ketimbang masa kini.

Karena kali ini, dunia pun sepakat: Italia bukan lagi Italia. Media-media Eropa membedahnya tanpa ampun. The Guardian menulis bahwa Italia “adalah tim besar yang hidup dari reputasi lama, bukan dari kemampuan nyata.” La Gazzetta dello Sport menyebut kekalahan ini sebagai “il capitolo piú buio”, bab paling gelap dalam sejarah modern Azzurri. Corriere dello Sport malah lebih pedas: “Italia kehilangan wajah. Bahkan kalah identitas sebelum kalah pertandingan.” ESPN menyebut kegagalan ini bukan kejutan, tapi konsekuensi natural dari “stagnasi kualitas domestik dan gagalnya regenerasi.”

Dan kalau melihat lebih dalam, analisis mereka bukanlah pepesan kosong. Italia kini negara sepakbola tanpa penyerang. Dulu mereka punya Inzaghi, Vieri, Totti, Del Piero. Kini? Tidak ada striker Italia yang mencetak 20 gol konsisten dalam beberapa musim. Di laga melawan Bosnia, Italia punya banyak peluang tapi tidak punya eksekutor. Serangan dibangun dengan ide tapi kemudian buntu di akhirnya. Seorang pengamat pernah berkata, “Dominance without conversion is just expensive cardio”

Lalu, Pelatih. Italia beberapa kali mengganti pelatih, tapi tidak satu pun yang benar-benar menemukan identitas baru. Mereka tidak cukup defensif untuk disebut Italia lama tapi tidak cukup ofensif untuk disebut Nu-Italia. Mereka seperti band yang kehilangan genre, bukan lagi jazz, bukan juga pop, tidak juga bisa dibilang rock.

Lini tengah pun terpapar krisis kreativitas. Italia dulu punya arsitek seperti Pirlo, Montolivo hingga Verratti. Sekarang mereka punya gelandang yang bekerja keras, tapi tidak ada yang memegang baton. Melihat Italia membangun serangan seperti menonton orkestra tanpa kehdiran konduktor, terlihat kompak tapi tidak ada yang menentukan arah.

Sementara regenerasi? Terhambat. Serie A kini didominasi pemain asing. Klub-klub lebih memilih striker dari Amerika Selatan atau Eropa Timur yang kualitasnya biasa saja, tapi dipilih hanya karena murah dan instan. Banyak pemain muda Italia tidak diberi menit bermain.Akibatnya, ketika kualifikasi datang, pool tim nasional sangat sempit mengandalkan Pio Esposito, Scamacca dan Raspadori.

Dan yang paling menyakitkan adalah, Italia sudah kehilangan kemampuan menyelesaikan pekerjaan. Kualifikasi bukan lagi panggung seni, ini tempat menang wajib menang. Tapi Italia justru gugup di laga-laga yang seharusnya bisa mereka atur. Melawan Bosnia, Italia tidak kalah taktik. Mereka kalah mental. Penalti 4–1 itu bukan kekalahan, melainkan sebuah breakdown psikologis.

Tekanan sejarah pun ikut membebani. Italia datang sebagai juara Euro 2020, lalu tiba-tiba terasa seperti tim semenjana. Ekspektasi publik menggunung, kemampuan skuad tidak setara, lalu kemudian kehancuran pelan-pelan terjadi. Media Italia menyebutnya, “schiacciati dal peso della storia”, terjepit beban sejarah.

Lalu apa yang tersisa? sebuah negara besar yang sedang mencari ulang identitasnya sendiri.

Namun dari semua kritik, ada satu hal yang tetap membuka ruang harapan bahwa Italia selalu punya cara untuk bangkit ketika dianggap sudah habis. Mereka pernah menghilang setelah 2018, lalu muncul sebagai juara Euro. Mereka pernah dianggap mati di 2006 karena skandal Calciopoli, lalu dua bulan kemudian mengangkat Piala Dunia.

Italia adalah bangsa yang mengerti bahwa hidup hanyalah siklus antara jatuh dan bangkit. Sekarang terbenam, nanti akan menyala.

Dan mungkin, hari ini Azzurri masih berada di dasar. Tapi dasar adalah tempat terbaik untuk menatap ke atas.

Alla prossima, Azzurri.


메타데이터
post_id
bb6dd8e5df03
slug
tidak-ada-fratelli-ditalia-di-new-york-tahun-ini-bb6dd8e5df03
url
https://medium.com/@cipthami/tidak-ada-fratelli-ditalia-di-new-york-tahun-ini-bb6dd8e5df03
canonical_url
https://medium.com/@cipthami/tidak-ada-fratelli-ditalia-di-new-york-tahun-ini-bb6dd8e5df03
author_url
https://medium.com/@cipthami
status
ok
fetched_at
2026-06-17 18:52:58