C05Y Vibes
Jam menunjukkan pukul 12.15 siang. Di luar, matahari lagi terik-teriknya, bikin siapa pun yang baru masuk ke dalam resto-kafe C05Y mereka…
C05Y Vibes

cr:pinterest
Jam menunjukkan pukul 12.15 siang. Di luar, matahari lagi terik-teriknya, bikin siapa pun yang baru masuk ke dalam resto-kafe C05Y mereka langsung menghela napas lega begitu diterpa hawa AC. Tapi di dalam, situasinya sama sekali gak bisa dibilang adem.
Suara bising dari arah dapur dan juga orang yang berlalu lalang kala itu menandakan aktivitas sibuk di C05Y. Bagi kelima pemuda ini, jam 12 hingga jam 2 siang adalah medan tempur. Rush Hour makan siang baru saja dimulai dan kafe mereka hari itu penuh sesak. Suara dentingan sendok, obrolan pelanggan, dan mesin kopi berbaur jadi satu, menciptakan simfoni kekacauan yang bikin kepala pening.
Di bar depan, Jerry berdiri di balik mesin espresso dengan gerakan yang super cekatan tapi tenang. Sebagai yang paling tua, cowok 21 tahun itu adalah jangkar ketenangan kafe. Kemeja linennya yang digulung sampai siku memperlihatkan urat-urat tangannya yang tegang saat dia melakukan tamping bubuk kopi, mengetuk portafilter, lalu meng-steam susu dalam hitungan detik. Tangannya bergerak seperti mesin otomatis.
“Bang Jer, meja nomor 4 minta es batu tambahan, sama Ice Americano meja 7 belum keluar!” seru Kenzo yang baru saja melesat melewati bar. “Americano meja 7 on process, dua menit lagi. Es batu ambil sendiri di ice maker bawah, Ken!” sahut Jerry tanpa menoleh, matanya fokus menuangkan susu membentuk latte art di atas cangkir datar.
Kenzo, pemuda itu sedari tadi terlihat berjalan kesana kemari bolak balik mengantar pesanan. Kafe ini terasa sempit kalau Kenzo sudah mondar-mandir membawa nampan besar berisi piring-piring berat. Senyum ramahnya gak luntur saat menyapa pelanggan, meski pelipisnya sudah basah oleh keringat.
“Permisi Kak, ini Fettuccine Carbonara dan Ice Lychee Tea-nya. Selamat menikmati,” ucap Kenzo manis, sebelum berputar balik dengan kecepatan tinggi menuju meja kasir. Di sana, sudah ada antrean lima orang yang mau memesan dan membayar.
Di balik meja kasir yang estetik, berdirilah Sakala dengan kaki yang diangkat satu dibawah meja kasir. Dan jujur saja, kontras visual di area kasir itu luar biasa. Sakala dengan tubuh mungil semampainya terlihat tenggelam di balik mesin POS dan monitor kasir yang besar. Apron kafenya bahkan harus dilingkarkan dua kali di pinggangnya yang ramping supaya gak kedodoran. Tapi jangan tertipu dengan fisiknya yang imut; saat hectic begini, mode “Senggol Bacok” Sakala otomatis aktif. Jarinya menari cepat di atas layar sentuh, mukanya judes tapi tetap efisien.
“Totalnya jadi delapan puluh lima ribu ya Kak, mau pakai QR atau tunai? Oke, ditunggu nomor mejanya,” ucap Sakala cepat, suaranya agak serak karena dari tadi gak berhenti bicara.
Kenzo yang sedang lewat di depannya sengaja mengedipkan sebelah matanya dan mengerucutkan bibirnya melayangan ciuman. Ditengah kesibukan kafe yg sudah seperti medan tempur ini, Kenzo masih sempat sempatnya menggoda Sakala, membuat cowok mungil itu melemparkan tatapan tajam ke arah Kenzo yang hanya dibalas tawa sebelum melesat ke arah dapur.
Juna yang kebetulan keluar dari pintu dapur melihat Kenzo yang menggoda Sakala ditengah kesibukan mereka semua.
“Kenzo, kesini cepetan lo! Lagi rame kayak gini masih sempet sempetnya caper ke Sakala” Ujar Juna cepat, pria itu berdiri di belakang Sakala, mengomel sambil mengoperkan nampan dessert pada Kenzo yang berjalan cengengesan ke arahnya.
Sementara itu, di dalam dapur panas yang suhunya naik drastis, Marvin bertarung dengan waktu. Suara spatula beradu dengan wajan baja terdengar nyaring. Di sebelahnya ada Juna yang baru saja kembali dari depan dan kembali sibuk dengan area pastry dan makanan manis.
“Vin! geser dikit napa, siku lo nyenggol nyenggol gue nih!” Seru Juna sembari mencoba menyingkirkan siku Marvin yang masuk ke area pastry nya.
“Bentar, Jun! Ini aglio olio-nya dikit lagi platting! Sempit ini! “ sahut Marvin dengan suara serak, tangannya menggoyang wajan dengan teknik tossing yang pro banget, membuat aroma bawang putih dan minyak zaitun menyeruak ke seluruh dapur.
“Ya badan lo kegedean, Vin! Makanya sempit!” Sahut Juna cepat.
“Heh diem! fokus kerja sana, ini pesanan udah numpuk!” sentak Sakala dengan suara melengking dari balik meja counter yang tersambung ke dapur, terlihat sebal karena kebisingan dua abangnya itu.
Marvin mendengus kasar. “Lama-lama gue tutup juga nih tempat. Lagian kenapa hari ini rame bener sih, orang-orang pada gabisa cari tempat lain apa ya”
“Apa gue beli aja sekalian saham ini tempat…” lanjut Marvin makin ngaco
Prangg! (Sakala melempar sendok ke arah meja dapur)
“KERJA ATAU GUE TENDANG YA LO, MAS MARVIN!”
“SIAP, KAL!
kan, Sakala mode maungnya keluar.
Pintu dapur kembali terbuka, Kenzo masuk dengan napas memburu membawa tumpukan piring kotor.
“Mas Marvin, Kak Juna, pesanan baru masuk! Meja 5 minta waffle dua, meja 9 minta chicken cordon bleu tiga porsi. Tolong dicepatin ya, tamunya udah mulai nanya-nanya!”
“taruh sini bon-nya!” jawab Juna cepat, langsung mengambil adonan waffle baru.
Kesibukan itu terus berlanjut hingga jam makan siang mulai berakhir
Di luar, jam sudah menunjukkan pukul 13.15. Antrean di kasir Sakala akhirnya mulai mengurai, meski pesanan sisa masih harus diselesaikan satu per satu. Satu jam berikutnya berlalu seperti angin ribut yang perlahan mereda.
Tepat pukul 14.03, suasana C05Y akhirnya benar-benar lengang. Jerry melangkah mendekati meja kasir sambil membawa satu gelas Ice Matcha Latte berukuran besar, Jerry menaruh gelas dingin itu di dekat tangan Sakala.
“Minum dulu, Kal. Suara lu udah kayak orang gak dikasih makan tiga hari.” Sakala melirik gelas itu, lalu menatap Jerry dengan mata berbinar seolah Jerry adalah malaikat penyelamat. Dia langsung menyedot matcha itu sampai tinggal setengah.
“Makasih, Bang Jer. Sumpah, tenggorokan gue mau rasanya kering kerontang. Itu si Kenzo juga kasihan, dari tadi bolak-balik gak berhenti. Kakinya apa gak lemes ya? Gue aja yg cuma berdiri rasanya kaki kayak mau copot”
Jerry terkekeh, menyandarkan pinggangnya di sisi meja kasir sambil mengelap sisa air di tangannya menggunakan clean towel. “Kenzo mah tenaganya kayak badak, Kal. Lu kayak baru kenal dia kemarin sore aja. Gak usah khawatir. Yang penting lu jangan pingsan di sini, repot gue musti gotong lu.”
“Sialan, badan gue gak seringkih itu ya!” umpat Sakala pelan dengan sisa-sisa tenaga judesnya, membuat Jerry makin tertawa renyah. Tepat saat itu, Kenzo kembali ke bar dengan wajah lelah tapi puas.
“Bang Jer, meja 11 puji kopinya enak banget! Terus katanya makanannya Mas Marvin pas mantap.”
Dari balik pintu dapur, Marvin muncul sambil menyeka lehernya pakai handuk kecil, disusul Juna yang membawa nampan berisi beberapa potong croissant sisa pagi tadi yang sengaja dia hangatkan kembali.
“Makan siang kelar?” tanya Marvin, suaranya terdengar lega saat dia mendudukkan badannya yang besar di salah satu kursi bar, membuat kursi itu mendecit pelan.
“Udah agak lengang, tinggal sisa tiga meja yang lagi ngobrol santai,” jawab Jerry sambil melirik jam dinding yang sekarang menunjuk angka 14.05.
“Gila, rekor hari ini kita keluarin hampir seratus porsi dalam dua jam.” Juna menaruh piring croissant di tengah-tengah mereka.
“Nih, ganjel perut dulu sebelum kita bebenah buat shifting sore. Lu juga, Sakala, makan yang banyak biar badannya gak makin abis ditelan meja kasir.”
“Heh! Badan gue ideal ya, Kak Juna!” protes Sakala sambil buru-buru menyambar satu potong croissant cokelat sebelum dihabiskan oleh Kenzo dan Marvin yang porsi makannya kayak kuli.
Di balik kaca kafe yang mulai teduh karena matahari bergeser, kelima cowok itu duduk mengitari bar. Saling melempar ledekan tentang kekacauan di dapur tadi, menertawakan Kenzo yang sempat hampir terpeleset di depan meja pelanggan, dan menghitung estimasi keuntungan hari itu dengan coretan tangan Sakala di atas tisu. Lelahnya fisik mereka seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan sirkel yang sudah terasa seperti rumah sendiri.
메타데이터
- post_id
- bb80b3e31e12
- slug
- c05y-vibes-bb80b3e31e12
- url
- https://medium.com/@vynesolitude/c05y-vibes-bb80b3e31e12
- canonical_url
- https://medium.com/@vynesolitude/c05y-vibes-bb80b3e31e12
- author_url
- https://medium.com/@vynesolitude
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 17:51:13