a night of ramen and romance
Tepat 20 menit berlalu dan dering teleponku berbunyi. Memunculkan sebuah nama yang memang aku tunggu kehadirannya untuk menjemput aku…
Tepat 20 menit berlalu dan dering teleponku berbunyi. Memunculkan sebuah nama yang memang aku tunggu kehadirannya untuk menjemput aku demi semangkuk ramen yang 'katanya' enak. Tidak tahu juga siapa yang bilang. Tapi aku selalu percaya ajakan dari Rey tak pernah gagal buat lidahku berdansa ria.
Aku kembali memeriksa penampilanku pada cermin berukuran 28x60 sentimeter yang terletak di sudut kamar. Sedikit memutar tubuh sebanyak 45 derajat kanan-kiri, guna memastikan penampilanku sudah rapi. Aku mengabaikan suara panggilan telepon, membiarkan ia terus berdering sampai aku sudah lebih dulu mengabsen diri pada pandangan lelaki yang memakai jaket hitam dengan detail motif bunga kecil di bagian bahunya. Oh tuhan, Rey dengan jaket hitam, dibalut celana jeans dan jangan lupakan tas sling bag yang hadirnya — mengalahkan jumlah hadirku di kelas Mata Kuliah Filologi. Walaupun penampilan Rey serba hitam gelap di malam senyap, tapi sosoknya selalu hangat seperti selimut cahaya yang membuatku selalu merasa hangat. Ah, begini memang kalau kita sedang jatuh cinta.
Pandangan mata bertemu, membuat sel saraf tubuh lupa dengan cara bagaimana seharusnya mereka tetap bekerja. Tapi jelas ada satu reaksi yang sudah dikenali dan tahu harus berulah apa, iya, senyum yang dengan sendirinya terbit mengukir cinta disana.
“Kebiasaan ga angkat telfon” ujarnya seraya mencolek sedikit lengan kananku. Aku terkekeh seraya mengangkat bahu.
“Kan ga perlu lama langsung ketemu” Aku tersenyum, ia pun ikut tersenyum.
“Kamu dikasih tahu siapa kalau ramen di sana rasanya enak?”
“Kak Seno”
“Tadi kan di chat kamu bilang ’katanya’, berarti kamu belum coba dong? Kok tumben Kak Seno sudah start duluan? Biasanya kan kalian partner makan sana-sini”
Rey tertawa kecil, tangan kirinya bergerak mencari telapak tanganku untuk digenggam dan diusap lembut setelahnya.
“Beberapa hari lalu Kak Seno makan bareng teman kantor divisinya sepulang kerja, makanya aku belum tahu, dan kebetulan rasanya enak banget, also, itu ramen, kamu tahu sendiri gimana hubungan aku dan ramen — aku dan Kak Seno, ya jelas dia langsung kabarin aku”
“Cih, hubungan kamu sama ramen??” aku tertawa dibuatnya, ada-ada saja Rey itu, memang sepertinya pacar nomor satu dia itu ramen, yang kedua barulah aku.
Kami sudah sampai di Kedai Ramen rekomendasi Kak Seno, partner suka-duka Rey sejak duduk di bangku SMA. Selera makan mereka bisa dibilang memang mirip, 85% selalu sama, maka dari itu Rey juga tidak sabar untuk mencoba. Tempat Kedai Ramen tersebut membawa kesan hangat dan nyaman karena ditemani oleh cahaya lampu kuning keemasan. Beberapa tirai dengan aksara tulisan kanji juga tak luput dari pandangan. Aksesoris mebel kayu yang selalu menjadi ciri khas restoran Jepang juga tak ingin kalah hadir disana. Aku menoleh menatap Rey disamping kananku. Ia terlihat sedang merapikan beberapa barang di dalam tas kecilnya. Bukankah satu fakta ini sangat lucu? Disaat seluruh laki-laki di luar sana hanya membawa dompet dan handphone dalam genggaman, justru Rey tak pernah malu dan selalu memakai tas sling bag kecil hitam miliknya.
Beruntunglah aku dan Rey datang saat tempat makan ini masih menyisakan satu meja dengan dua kursi. Jadi kami tidak perlu repot-repot menunggu antrian. Karena sepertinya tempat ini memang selalu ramai dan sungkan dengan kesunyian.
“Kamu mau pesan apa?”
“Aku ikut kamu”
“Hmm, kalau satu pesan shoyu spicy ramen, dan satunya lagi tonkotsu spicy ramen, ok ga?”
Aku mengangguk mengiyakan.
“Nanti saling icip aja, kamu pilih lebih suka yang mana”
Makanan kami sudah datang. Terlihat uap yang mengebul keluar dari dalam mangkuk membuat selera makan bersorak-sorai dengan ramai. Rey di hadapanku juga terlihat sangat bersemangat, matanya berbinar kelap-kelip seperti bintang yang benderang menemani langit malam saat ini. Aku selalu suka melihat binar matanya, indah.
Rey bergerak mengambil sendok ramen dan sumpit untuk ia lap dengan tisu yang sudah disediakan. Tangannya bergerak cukup terburu-buru kalau dilihat dengan seksama. Aku tahu, dia memang sebegitu tidak sabaran menyicipi ramen baru ini. Terlebih lagi, ramen memang menjadi makanan favoritnya. Ia mengelap dua pasang alat makan, satu untukku dan satu yang lain untuk dia. Aku berterima kasih dengan senyum termanis yang pernah aku tunjukkan, setidaknya menurutku. Tujuanku adalah untuk memberitahunya kalau aku sangat suka melihat dia saat ini. Melihatnya bahagia dengan hal kecil semangkuk ramen. Aku ingin dia tahu kalau salah satu bahagiaku ada pada bahagianya.
Tangannya yang memegang dua pipih kayu bernama sumpit itu tertahan ketika dia baru ingin mulai menyicip. Tanganku menahan pergerakannya secepat kilat yang aku bisa.
“Kamu ga mau foto makanannya dulu? Biar bisa nambahin feed di IG kamu tuh” Aku berujar mengingatkannya dengan sedikit nada tertawa kecil. Rey langsung memasang wajah 'Oh iya' seraya bergerak mengambil ponselnya.
Kekasihku ini memang suka kulineran, suka makan, lidahnya suka menjelajah rasa berbagai makanan dari berbagai tempat. Dan ia juga suka mengabadikan itu dengan memotret beberapa makanan yang ia makan. Lebih seringnya lupa sih, karena terlanjur tak sabar icip-icip.
Aku menunggu Rey yang sedang sibuk-asyik memotret dari berbagai sisi. Sepertinya ini menjadi fakta lucu lain dalam hubungan asmara kita. Biasanya yang memotret makanan sebelum di makan adalah sang perempuan kan? Kebetulan aku juga bukan sosok yang terlalu peduli akan hal itu. Kebetulan juga, memang Rey lah yang suka memotret makanan dari sebelum kami menjalin hubungan. Jadi kalau-kalau suatu saat aku ingin punya foto makanan, aku tinggal memintanya kepada Rey. Mudah bukan? :D
Perut kenyang, hati pun senang. Kata-kata siapa ya ini? Aku cukup setuju sekarang, apalagi jika perut kenyang sebab ditemani makan dengan yang tersayang.
Sedikit review ramen disini, rasanya enak! Kalian tidak akan menyesal untuk membeli. Tapi perlu dicatat, ramennya hanya enak, bukan enak banget, bukan enak sekali atau enak aduhai maknyus. Masih ada Kedai Ramen yang lebih enak menurutku dan Rey. But so far, rasanya memuaskan kok!
Aku dan Rey berjalan keluar kedai menuju parkiran dan bergegas kembali memasuki mobil.
“Makasih yaa” ucap Rey saat kami baru saja duduk.
“Kok kamu yang makasih sih? Harusnya aku, kamu jemput aku, kamu antar aku, kamu bayarin aku, perutku kenyang, lidah aku juga ikut senang dikasih asupan makanan kaya rasa, makasih yaa, Rey”
Rey terkekeh gemas. Ia mengusap lembut kepalaku dan menatapku dalam, tatapan yang selalu aku suka.
“Makasih udah temenin aku, makasih karena kamu cantik banget malam ini, makasih atas kamu yang udah mengeluarkan usaha juga, bangkit dari kasur, siap-siap pakai baju cantik, rapih—”
“Kok kesannya aku emang semalas itu ya? sampai hal kecil kaya gitu kamu apresiasi sebegininya?”
Rey terbahak, sampai-sampai kepalanya sedikit mendongak keatas dengan gelak tawanya.
“Aku ga bilang begitu loh yaaa, Aku mau apresiasi semua itu karena aku memang menghargai kamu, aku mau makasih karena kamu yang udah kasih senyum kamu yang cantik, itu bikin aku semangat, beban hidupku kaya terangkat semua”
“Maca ciii?”
“Iyaaa, makasih juga udah ngingetin aku buat ambil foto makanannya…”
“Sama-sama, banyak banget makasihnya deh”
“Kalo gitu sama-samanya harus banyak juga ga sih?”
“Sama-sama, sama-sama, sama—”
“Bukan gitu maksud akuu”
“Lah terus?”
Rey memajukan kepalanya sedikit, mendekat ke arahku dan mencondongkan pipinya di hadapanku. Tapi ia hanya diam saja. Aku tahu maksudnya, tapi aku juga ikut diam. Kita hanya ditemani kesunyian dengan tatapan mata yang terus terpaut satu sama lain. Mencoba berbicara dengan bahasa mata dan hati.
“Ah kamu maaaah” ia mundur. Badannya terpentok ke pintu mobil. Sepertinya itu bukanlah hal yang ia rencanakan. Ranum bibirnya maju, persis seperti anak kecil yang memaksa ingin permen pada sang ibu.
Aku tertawa gemas. Mengabaikan pintanya dan menghadap ke depan seraya bergerak menarik seatbelt untuk dipasang.
“Ayo pulaaang” ucapku dengan nada sedikit jahil.
Rey melakukan hal yang sama. Memakain seatbelt dan menghadap fokus ke depan, namun bibirnya itu juga masih maju ke depan.
Ia menggerakkan kemudi perlahan, mobil kami bergerak perlahan-lahan keluar dari parkiran. Rey mencuri-curi lirikan ke arahku yang asik menatap langit malam yang kebetulan sedang cerah, sama seperti hatiku yang cerah hangat, walaupun udara di luar dingin memekat. Mobil berhasil keluar dari parkiran dan hendak maju menyusuri jalanan.
Cup.
Ah konyol, tiba-tiba Rey yang bergerak mencium pipiku. Sekarang hatiku jadi ikut berdansa ria, tak mau kalah dengan lidah yang sudah puas berdansa rasa.
메타데이터
- post_id
- bb9ae2f5d0fd
- slug
- a-night-of-ramen-and-romance-bb9ae2f5d0fd
- url
- https://medium.com/@baitkata/a-night-of-ramen-and-romance-bb9ae2f5d0fd
- canonical_url
- https://medium.com/@baitkata/a-night-of-ramen-and-romance-bb9ae2f5d0fd
- author_url
- https://medium.com/@baitkata
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 00:52:37