← Back to list

[BUILT BY LOVE - 01]

Hujan baru saja reda sore itu. Jalanan masih basah meniggalkan genangan air kecil yang memantulkan cahaya matahari yang mulai turun.

nuurhinsky · 2026-06-21 05:38 · 0 claps · 8.4 min read
#fanfiction #family #lee-know #kim-seungmin #sullyoon
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting ✍️ · Writing & Creative

[BUILT BY LOVE - 01]

Hujan baru saja reda sore itu. Jalanan masih basah meniggalkan genangan air kecil yang memantulkan cahaya matahari yang mulai turun.

Di dalam mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan kecil dekat minimarket, seorang anak perempuan duduk sendirian.

Namanya Yoona.

Usianya baru empat tahun, rambutnya diikat seadanya, dan kedua kakinya bergoyang pelan di kursi yang terlalu besar untuk tubuhnya. Di tangannya ada boneka kelinci yang sudah sedikit kusut di ujung telinga.

Papanya baru saja turun sebentar. Hanya membeli minum. Hanya sebentar.

Papanya keluar sebentar membeli minuman.

Katanya cuma lima menit.

Tapi menurut Yoona, lima menit itu lama sekali.

Sampai tiba-tiba… pintu belakang mobil terbuka.

Seorang anak laki-laki berusia dua belas tahunan masuk tergesa-gesa. Bajunya kotor. Rambutnya berantakan. Wajah penuh keringat dan rambutnya acak-acakan. Napas bocah itu juga ngos-ngosan seperti baru saja lari dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Dan memang benar.

Ia baru saja lari. Dari kejaran satpol PP.

Lalu…

BRAK!

Pintu ditutup.

Anak itu langsung membungkuk di bawah. Berusaha mengecilkan tubuhnya agar tidak terlihat.

Yoona membeku.

Anak laki-laki itu juga membeku saat sadar ada orang di dalam mobil. Detik itu, ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan — ketahuan, atau fakta bahwa ia sudah tidak punya tempat lain untuk bersembunyi. Wajah anak laki-laki itu langsung pucat. Mati aku, pikirnya.

Mata mereka bertemu. Cukup lama mereka saling pandang.

Bocah laki-laki itu bahkan sudah mengulurkan tangan pelan, barangkali Yoona ketakutan dan menangis karenanya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih menangis takut dan berteriak, Yoona justru berkedip lambat sembari menelengkan kepalanya sedikit.

“Kenapa kakak masuk situ?” tanya Yoona polos.

Anak laki-laki itu membeku. Napasnya tercekat. Ia harus pergi. Harus keluar. Harus.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Yoona justru berdiri di kursinya, lalu mendekat sedikit, wajah kecilnya kini lebih dekat dengan wajah bocah laki-laki itu yang penuh debu dan lelah.

“Kakak habis lari ya?” tanya Yoona polos. “Kakak takut?”

Minho menunduk. Tangannya gemetar. “Maaf…” ulangnya lagi, lebih pelan. “Aku… aku cuma mau sembunyi bentar.”

Yoona diam sebentar. Lalu, tanpa ragu sedikit pun, dia mengulurkan tangan kecilnya dan menyentuh lengan anak laki-laki itu.

Hangat.

“Gapapa. Kakak jangan takut. Yoona gak nakal kok,” kata Yoona. “Serius!” Ia mengangkat dua jarinya.

Anak laki-laki itu terdiam. Kata itu… terlalu asing.

Jangan takut.

Ia bahkan sudah lupa rasanya tidak takut. Karena takut adalah hal yang setiap hari harus ia hadapi. Takut dikejar lagi. Takut diusir lagi. Takut dipukul lagi. Takut tidak punya apapun untuk dimakan lagi.

Yoona tersenyum kecil, menunjuk kursi sebelahnya. Yang berada tepat di belakang anak itu, tapi terlalu segan untuk anak laki-laki itu duduki. “Duduk sini aja, kak,” ucapnya kemudian mengulurkan boneka kelincinya. “Nih. Kalo masih takut, peluk aja, kak. Ini jimat sakti tau. Pengusir ketakutan.” Gadis cilik itu mulai mengoceh.

Anak laki-laki itu menatap boneka itu lama. Lalu… senyum kecil perlahan muncul di wajahnya. Ragu-ragu, ia meraih boneka kelinci itu. Tapi sebelumnya, ia usap-usapkan dulu tangannya ke baju agar tak mengotorinya.

Tak lama, suara langkah terdengar dari luar.

Pintu mobil terbuka lebih lebar. Tampak seorang pria setengah baya masuk. Jaehyun, ayah dari anak perempuan tadi.

Tangannya masih memegang botol minuman dingin. Ketika menoleh hendak memberikan salah satu botol pada putrinya, matanya langsung menangkap situasi di dalam mobil — putri kecilnya berdiri di kursi, dan seorang anak laki-laki asing penuh debu di sampingnya.

Pria itu terdiam dengan alis tertaut, yang mana membuat nyali anak itu semakin ciut.

Bocah itu terus menunduk sambil menggumamkan kata yang tidak jelas.

Namun, gadis cilik di samping justru menunjukkan sikap sebaliknya. Dengan antusias, Yoona menunjuknya. “Papa!” panggilnya dengan suara sedikit melengking. “Aku mau kakak yang ini!”

Pria itu langsung membulatkan mata. “Gimana, sayang?”

Yoona mengangguk cepat, lalu tanpa basa-basi menggenggam tangan Minho. “Aku mau kakak yang ini,” rajuknya sekali lagi.

“Yoona,” pria itu memanggil pelan, bernada memperingatkan.

“Ini kakak ini gemes,” katanya serius, lalu menoleh ke Minho lagi, tersenyum lebar. “Ganteng juga.”

Minho langsung kaku total.

Bahkan Jaehyun sempat diam beberapa detik.

Yoona menarik tangan Minho lebih erat. “Aku mau kakak ini.”

Jaehyun menatap Minho lama, seperti sedang menimbang apa yang harus dilakukan.

Anak itu menunduk, tidak berani membalas tatapan. Bahunya masih gemetar, seperti masih setengah berlari dari orang-orang yang ingin menangkapnya tadi.

“Nama kamu siapa?” tanya pria itu dengan suara tenang.

Ragu-ragu, anak laki-laki itu menjawab. “…Minho.”

“Kamu kenapa ada di sini?”

Minho hanya diam. Masih terlalu gemetar dan takut untuk menjawab.

Jaehyun juga tak ingin memaksa. Jadi, ia berikan saja satu botol air miliknya pada anak itu. Pria itu menoleh sebentar ke luar, memeriksa barangkali masih ada petugas yang berlalu lalang. “Orang-orang yang ngejar kamu udah pergi. Kamu aman sekarang,” katanya kemudian. “Om mau pergi, kamu mau turun disini atau ikut — ”

“K-kalian… gak mau jahatin aku, kan?” tanya Minho sambil terus menunduk. Masih ketakutan.

Yoona langsung turun dari kursinya dan menggenggam tangan Minho. “Kakak kasihan,” katanya pelan. “Papa gimana sih, kan kakak ini masih takut. Kok malah digituin? Kan papa sendiri yang bilang kalo diajak pergi om omo gak dikenal jangan mau. Papa malah nanya kaya gitu padahal kakak ini masih ketakutan. Gimana sih?” omelnya.

Jaehyun menatap putrinya lama, lalu menghela napas pelan. “Iya, sayang. Papa minta maaf.” Ia kemudian menoleh pada Minho. “Maaf. Tapi om gak bisa disini lama-lama. Kalo kamu gak mau, om bisa antar — ”

“A-aku ikut,” potong Minho cepat. Awalnya ia ingin lari saja tadi. Tapi entah kenapa… tatapan tenang pria itu membuatnya merasa sedikit lebih aman. Jadi, ia rasa tidak apa ikut dengannya. Toh, Minho tak punya rumah untuk pulang, dan kembali ke warung tempatnya mengambil dagangan keripik tanpa menyetorkan uang juga pasti akan membuatnya dipukuli dan dibiarkan tidur di luar dalam keadaan lapar lagi.

“Kakak mau ikut? Beneran? Mau?” tanya Yoona antusias.

Minho mengangguk pelan, yang langsung disambut pelukan erat dari anak perempuan empat tahunan itu. “Yeay! Yoona punya kakak baru!”


Satu jam kemudian, mereka tetap melanjutkan tujuan awal.

Panti asuhan.

Karena hari itu sebenarnya Jaehyun hendak menjemput seorang anak lain untuk diadopsi.

Seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Seungmin namanya.

Ketika mereka masuk ke halaman panti. Seungmin sedang duduk di teras sambil membaca buku. Anak itu lebih banyak diam, dengan mata yang terlalu tenang untuk anak seusianya.

Jaehyun mengenalnya. Ia pernah mengenal ibunya, salah seorang pelayan di rumah lamanya yang terpaksa berhenti bekerja karena sakit keras. Jaehyun pernah berjanji akan membantu, tapi gagal menepati itu tepat waktu.

Dan sekarang, ia di sini.

Yoona turun dari mobil lebih dulu, berlari kecil ke dalam panti. Begitu melihat Seungmin, dia berhenti. Menatap lama.

Lalu…

“Papa! Ini kakak, ya?” tanya gadis kecil itu sambil mendongak pada sang ayah.

Seungmin mengangkat kepala pelan. Menatap beberapa saat, berusaha mengingat pria baik yang minggu lalu datang kesini untuk mengurus berkas adopsinya. Sudut bibir anak itu tertarik sedikit. Hanya saja… ia masih canggung untuk memanggil ataupu menyapanya.

Yoona mendekat, tanpa takut, lalu duduk di depannya.

“Kakak kenapa diem aja?”

Seungmin tidak langsung menjawab. Lalu pelan sekali, suaranya keluar. “Biar gak ganggu.”

Yoona mengerutkan dahi. “Ganggu siapa? Papa keganggu gak?” tanyanya yang dibalas dengan gelengan oleh pria itu.

“Ganggu kakak, gak?” Yoona menoleh pada Minho.

Minho menggeleng pelan, sedikit ragu kenapa anak ini malah bertanya padanya. Tapi untuk bagian mengganggu itu… tentu saja ia tidak merasa terganggu sedikitpun.

“Tuh kan! Gak ganggu tau!” Yoona mengulurkan tangan pada Seungmin. “Ayo main!” ajaknya.

Seungmin awalnya hanya dia. Sedikit ragu, terus menatap ke arah Jehyun malah karena takut tidak diijinkan.

Jaehyun menepuk pelan pundak Seungmin. “Tuh. Diajak main. Kamu main dulu sama Yoona, ya. Papa mau ketemu ibu panti dulu di dalam.”

Sudut bibir anak itu tertarik begitu mendengar kata ‘papa’ disebut. Ia mengangguk cepat lalu menggandeng tangan Yoona dan mengajak gadis itu bermain di ayunan.

Minho duduk di ruang kecil panti itu dengan tangan masih dingin. Jaehyun menyuruhnya menunggu sebentar selagi pria itu menemui ibu panti.

Tak lama berselang, pria itu berderap keluar lantas berjongkok di depan Minho.

Jaehyun tidak langsung mengajaknya bicara. Melihat anak itu gemetar dan sesekali memegangi perut, membuatnya menduga anak itu sedang lapar. “Om punya makanan. Kamu makan dulu, ya.” Ia mengeluarkan sebungkus onigiri dari saku jaket dan memberikannya pada Minho.

Minho mengangguk pelan lantas memakannya.

Mereka diam disana cukup lama, sampai akhirnya pria itu mengajak Minho ke pintu samping panti yang mengarah langsung ke taman bermain kecil.

“Kamu mau cerita?” tanya Jaehyun membuka obrolan. “Jangan takut. Om gak akan jahatin kamu.”

“Om baik,” kata Minho pelan, masih tak berani menatap lawan bicaranya. “Makasih, ya.”

Anak itu diam cukup lama. Memgumpulkan keberanian, sebelum akhirnya membuka semuanya. Ada banyak cerita. Ada masa lalu yang keluar satu per satu dari mulut Minho, yang sudah terlalu lama ditahan.

Tentang orang tua yang sudah tidak ada.

Tentang malam-malam di jalanan.

Tentang dirnya yang pernah diculik untuk dijadikan pengemis jalanan, tapi untung saja ia berhasil kabur.

Tentang jualan keripik yang baru sempat sekali ia lakukan sebelum semuanya kacau lagi.

Tentang hidup yang tidak pernah benar-benar memberi kesempatan.

Tentang semuanya. Sampai tanpa sadar, anak itu mulai menangis sesenggukan.

Jaehyun mendengar semuanya tanpa menyela terlalu banyak. Dan setelah itu, dia menghela napas. “Om gak mau biarin kamu kesana lagi.” Tentu saja. Memangnya siapa yang tega membiarkan anak sekecil ini bertarung dengan kehidupan sekeras itu.

Tadinya, Jaehyun pikir akan menitipkan Minho di pantai saja sementara waktu. Paling tidak agar anak ini memiliki tempat untuk tidur dan makanan yang layak. Tapi entah kenapa, melihat mata anak ini, membuatnya jadi ingin membawanya pulang juga. Terlebih Yoona juga tampak senang berada di dekatnya.

“Kalau kamu mau,” kata pria itu akhirnya. “Tinggal di rumah om gimana?”

Minho menatapnya cepat.

“Om akan urus semuanya nanti.” Jaehyun melanjutkan. “Tapi manggilnya jangan om kalo gitu. Panggil papa.”

Minho menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Lidahkan terasa kelu tapi pada akhirnya, ia ucapkan pelan kata itu. “Papa…”

Pria itu tersenyum lalu mengusap puncak kepala anak itu. “Anak pintar. Ayo pulang. Adik-adik kamu udah nunggu.”


Rumah besar itu terasa berbeda ketika mereka pulang. Terasa lebih ramai. Lebih hidup. Biasanya hanya ada Yoona yang berisik dan papanya yang pusing melihat tingkahnya. Sekarang, ada dua anak lagi yang tinggal disini.

Begitu masuk, Yoona langsung berlari ke kamar lalu kembali sambil membawa empat kantong pakaian baru.

“Aku pilih sendiri, tau!” Gadis cilik itu membentangkan empat setel pakaian di lengan mungilnya. “Yang ini buat Kak Seungmin. Yang ini buat Kak Minho.” Ia menujuk menggunakan dagu karena tangannya sudah penuh.

“Ini buat aku?” tanya Seungmin ragu.

“Iya. Ayo ambil.”

Seungmin perlahan mengambil dua bungkus pakaian yang tadi dipilihkan Yoona. Sementara Minho bahkan tidak berani menyentuhnya. Takut mengotori.

Tapi Yoona langsung menyodorkan dua kantong yang tersisa itu ke Minho. “Kakak juga pake. Dibagi ya. Dua dua. Kalian kan sama.” Maksudnya ukuran badan mereka hampir mirip — berbeda tinggi saja.

Mereka lalu pergi ke kamar masing-masing yang sebelumnya sudah mereka pilih sendiri. Lalu mandi di kamar mandi yang ada disana.

Minho berjalan pelan ke dalam kamar mandi. Senyumnya tergurat pelan begitu air keran menyentuh kulit.

Air hangat pertama dalam waktu yang mungkin sudah lama tidak Minho rasakan membuat bahunya sedikit turun, seolah tubuhnya akhirnya mengizinkan dirinya untuk berhenti siaga sebentar.

Saat dia keluar dari kamar mandi, Yoona sudah berdiri di depan pintu.

Gadis kecil itu menatap Minho dari atas ke bawah, lalu tersenyum lebar. “Wah…” katanya pelan, seperti tidak percaya. “Kakak ganteng banget.”

Seungmin yang baru keluar beberapa menit kemudian juga ditatap hal yang sama.

Yoona menepuk pelan pipinya sambil berdecak pelan. “Pusing. Kakaknya Yoona ganteng-ganteng semuanya.” Ia menoleh pada Jaehyun yang baru saja selesai bersiap dan mengatakan hal serupa. “Papa juga ganteng banget.”

Pria itu tertawa pelan kemudian menggendong putrinya itu dan memencet pelan hidungnya. “Bisa aja anak papa.” Ia lantas menoleh pada Minho dan Seungmin yang sama-sama masih canggung. “Udah siap? Ayo kita pergi.”

Malam itu, mereka makan bersama di luar.

Tidak ada yang terlalu mewah. Hanya makanan hangat, meja kecil, dan suara kota yang jauh di belakang mereka. Tapi untuk Minho dan Seungmin yang sebelumnya tidak benar-benar punya tempat pulang… ini terasa seperti mimpi yang terlalu indah.

Setelah makan, Jaehyun membawa mereka ke studio foto.

“Biar ada kenang-kenangan,” katanya pria itu. “Buat dipajang di rumah.”

Yoona langsung duduk di tengah. Minho dan Seungmin di kiri-kanannya, masih canggung, masih seperti tidak percaya bahwa mereka boleh berada di sana. Sementara Jaehyun duduk di belakang mereka, di kursi yang sedikit lebih tinggi. Kedua tangannya merangkul bahu Seungmin dan Minho.

Flash kamera menyala.

Yoona tersenyum paling lebar di semua foto.

Minho masih kaku di awal, tapi di foto terakhir, sudut bibirnya naik sedikit — hampir tidak terlihat, tapi ada.

Seungmin menatap kamera dengan tenang, seperti sedang mencoba mengingat momen ini agar tidak hilang.

Setengah jam kemudian, foto itu dicetak. Dan malam itu juga, Yoona sendiri yang menempelkannya di ruang tamu rumah mereka, dengan digendong sang ayah.

“Ini rumah kita sekarang,” kata Yoona bangga. Ia menoleh ke mereka berdua, lalu tersenyum hingga sudut matanya mengecil. Ia memeluk lengan Seungmin dan Minho dengan kedua tangan.

“Aku punya dua kakak.”


메타데이터
post_id
bbba4e564eea
slug
built-by-love-01-bbba4e564eea
url
https://medium.com/@nuurhinsky/built-by-love-01-bbba4e564eea
canonical_url
https://medium.com/@nuurhinsky/built-by-love-01-bbba4e564eea
author_url
https://medium.com/@nuurhinsky
status
ok
fetched_at
2026-08-15 22:57:38