Di Ambang Jaladri: Ketika Laut Ditinggalkan dan Nelayan Cuma Jadi Angka Kemiskinan
“Segara tidak pernah lupa kepada siapa ia pernah memberi kehidupan. Manusialah yang kerap lupa pada laut.”
Di Ambang Jaladri: Ketika Laut Ditinggalkan dan Nelayan Cuma Jadi Angka Kemiskinan
“Segara tidak pernah lupa kepada siapa ia pernah memberi kehidupan. Manusialah yang kerap lupa pada laut.”
Kalau Anda main ke Campurejo Aka Tjamploeng Gresik, lalu berdiri menghadap utara, tak ada yang berubah dari lautnya. Angin dan ombaknya masih sama seperti ratusan tahun lalu. Yang berubah drastis adalah manusianya.
Di kampung yang dulunya bernama Tjamploenk ini, laut perlahan kehilangan wibawa. Dulu, laut adalah pusat semesta. Sekarang? Laut cuma tempat cari makan seadanya, atau malah direduksi oleh birokrat menjadi deretan angka membosankan: statistik tonase, kuota bantuan alat tangkap, dan grafik kemiskinan.
Padahal jauh sebelum pejabat kenal istilah “desa pesisir”, orang pantai utara Jawa sudah menjadikan laut sebagai poros kebudayaan. Tragisnya, warga yang dulu hidup di jantung maritim Jawa kini malah diposisikan seperti warga kelas dua yang baru diingat kalau ada pembagian bansos.
Kalau pernah baca sejarah, pesisir Gresik itu dulu bagian dari jejaring bandar niaga internasional. Kapal-kapal dari Malaka, Gujarat, Tiongkok, hingga Timur Tengah berlabuh di Segara Jawa bawa rempah, bahasa, agama, dan teknologi.
Di sinilah Kadipaten Sidayu (Sedayulawas) memegang peran vital. Sidayu berjaya bukan karena militernya seram, tapi karena paham cara menguasai simpul perdagangan. Siapa pegang muara, dialah yang pegang dompet kawasan.
Sosiolog Pierre Bourdieu punya konsep habitus — cara berpikir yang lahir dari sejarah panjang. Bagi warga Campurejo, jadi nelayan itu cara hidup. Gotong royong dorong perahu, pinjam alat mesin kapal tanpa hitung-hitungan, hingga saling bantu saat tangkapan kosong. Francis Fukuyama sebut ini social capital (modal sosial). Modal yang lahir dari tempaan badai dan kesadaran bahwa ombak tak pernah peduli kamu pejabat atau orang miskin.
Sayangnya, Indonesia modern lebih suka memunggungi laut dan menatap daratan. Jalan tol dan kawasan industri dibangun di darat. Laut cuma dianggap garis batas di peta administratif. Nelayan pun terpinggirkan.
Dampaknya? Anak muda Campurejo lebih memilih kerja pabrik atau merantau. Pilihan rasional, sebab laut tak lagi menjanjikan: harga solar makin mahal, cuaca makin ngawur, dan harga ikan dimainkan tengkulak. Menjadi nelayan berubah dari kebanggaan menjadi “pilihan terakhir kalau kepepet”.
Orang tua di kampung masih punya pengetahuan ekologis luar biasa — paham musim dari warna langit dan bau udara, bukan cuma citra satelit. Namun pengetahuan lokal ini sering dianggap sepele oleh kalkulasi pembangunan modern yang cuma sibuk menghitung tonase ikan.
Padahal, yang paling cepat musnah hari ini bukanlah stok ikan, melainkan ingatan. Maurice Halbwachs menyebutnya memoria kolektif. Ketika warga Campurejo lupa bahwa kampungnya dulu adalah simpul kejayaan maritim Jawa, di situlah mereka kehilangan identitasnya.
Tentu kita tak bisa memutar waktu kembali ke abad ke-16. Namun sebelum pemerintah tergesa-gesa bikin dermaga baru atau membagikan alat tangkap, ada satu tugas mendesak: mengingat kembali.
Sebab, sebuah masyarakat tidak runtuh karena kekayaan alamnya habis, melainkan ketika mereka lupa dari mana mereka berasal.
메타데이터
- post_id
- bbc7a98bea5c
- slug
- di-ambang-jaladri-ketika-laut-ditinggalkan-dan-nelayan-cuma-jadi-angka-kemiskinan-bbc7a98bea5c
- url
- https://medium.com/@agungizzulhaqq/di-ambang-jaladri-ketika-laut-ditinggalkan-dan-nelayan-cuma-jadi-angka-kemiskinan-bbc7a98bea5c
- canonical_url
- https://medium.com/@agungizzulhaqq/di-ambang-jaladri-ketika-laut-ditinggalkan-dan-nelayan-cuma-jadi-angka-kemiskinan-bbc7a98bea5c
- author_url
- https://medium.com/@agungizzulhaqq
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 16:20:22