Mari Kembali Singgah
Pagi itu terasa sedikit mendung dari biasanya, langit terlihat tak terlalu biru dan aku pun merasakan hawa dingin menusuk kulit-Ku. Aku…
Mari Kembali Singgah
Pagi itu terasa sedikit mendung dari biasanya, langit terlihat tak terlalu biru dan aku pun merasakan hawa dingin menusuk kulit-Ku. Aku terbangun dan keluar dari kamar tidurku, beranjak meninggalkan balutan selimut hangat yang setia menemaniku semalaman tadi, merapikan tempat tidur dan membersihkan diri akan menjadi kegiatan pertamaku di pagi hari ini.
Hari ini tidak istimewa, sama seperti hari-hari lainnya.
Namun, kurasa aku ingin membuat hari ini sedikit berbeda. Aku ingin sedikit merubah rutinitas rebahan ku menjadi kegiatan lain dan kini aku sudah siap untuk berangkat.
Aku mengenakan sweater kuning dengan rok coklat kotak-kotak, aku baru saja membeli sepatu baru! Sepatu boots feminine yang aku temukan setelah berselancar dilautan toko digital berwarna orange berjam-jam.
Anganku bergerak untuk mengambil keranjang jerami dengan pita merah mengelilingi bagian atasnya, lalu melangkahkan kaki-Ku keluar rumah.
Aku melihat sekeliling, cuaca dingin membuat banyak orang merasa sedikit malas untuk pergi keluar rumah, itu sangat wajar. Sesekali aku lihat jendela rumah yang memperlihatkan siluet orang-orang di dalamnya, Mereka nampak bahagia.
Mereka semua sudah memiliki teman di rumahnya, mereka sudah memiliki orang yang bisa setidaknya membantu pekerjaan-pekerjaan rumahnya.
Kaki-Ku terus melangkah hingga pada akhirnya aku melihat toko bunga antik yang berada di ujung jalan, Toko lusuh yang di hiasi bunga-bunga cantik didepannya. Tanganku tergerak untuk mengambil secarik Koran dan segera memilih beberapa bunga indah yang menarik perhatian ku.
“Kau pasti lahir di bulan Juni” ujar seorang pria dengan celemek coklat dan tangan yang terbalutkan sarung tangan. Aku membalasnya dengan senyuman tipis “Lucu sekali tuan, apakah dijaman sekarang peramal masih berkeliaran dimana-mana?” ia tidak menjawab dan langsung meninggalkan-Ku. Perasaan tak enak mulai menguasaiku, kurasa aku membuatnya tersinggung. Tiba-tiba ia kembali dengan lima tangkai bunga daisy berwarna putih di tangan-Nya lalu menyodorkannya kepada-Ku.
Aku terheran, mengapa bunga ini tiba-tiba ia serahkan begitu saja?
“Maaf bila aku kurang sopan nona, biarkan aku untuk membantumu merangkainya”.
Sungguh lihai tanganmu merangkai buket itu. Ku tak pernah tau ada lelaki yang tertarik dengan bakat terampil seperti ini.
Dia, unik.
Benak-Ku ter gerak untuk melontarkan beberapa pertanyaan yang terus menerus berputar dikepalaku.
“Hai tuan, apa kau tak merasa sedih?”
Dahi nya berkerut “sedih akan apa?
“Akan bunga-bunga ini yang kelak akan layu dan mati begitu saja? Bukankah keindahannya hanya sementara? Bukankah semerbak harum nya takan bertahan selamanya? Lantas setelah mereka hilang, apa yang membuatmu tetap mendambakannya?”
Ia tersenyum simpul dan sekarang aku merasa ia mulai tertarik dengan dialog basa basi ku itu.
“Nona sebelumnya, bolehkah jika ku tanyakan namamu terlebih dahulu?”
Manis.
Ia tersenyum simpul kearahku, aku berusaha untuk tidak membuat banyak respon akan hal itu. Namun, panas mulai kurasakan menjalar dan menguasai pipiku.
Tuhan! Jangan biarkan ia melihat respon bodoh ini.
“Justru dengan keindahan sementara itu, kami rela memanfaatkan waktu untuk merawat dan menjaga mereka”
Ia mengambil satu pot berisikan pot bunga mawar lalu memperlihatkan tag keterangan yang menempel disamping pot tersebut.
Disana tertuliskan bahwasannya bunga mawar tertua bisa hidup selama seribu tahun, hal itu dapat terjadi karena bunga tersebut memang di rawat dan di perhatikan dengan sangat baik selain itu bunga tersebut hidup di kawasan beriklim stabil dan menunjang lamanya hidup sang bunga hingga menjadi fosil.
Aku terkesimak dengan fakta menarik itu. Ia masih saja memandangi wajahku yang mulai terpaku dengan bunga mawar di hadapanku.
“Bagaimana dengan bunga palsu? banyak dari mereka juga cantik dan harum sama seperti aslinya”
Sudut bibir nya terus menerus mengangkat ke atas, mata sabitnya terus berbinar seolah menanti pertanyaan selanjutnya. Tangannya bergerak mendekatiku lalu menyentuh pucuk kepalaku
Beku.
Seketika ‘tingkah’ hilang dari kamus hayat ku.
“Kami memilih bahagia dengan yang nyata, meskipun sementara daripada bahagia selamanya namun palsu nyatanya”
Ia mengambilkan buket bunga yang berisikan bunga mawar pesananku dengan beberapa sisipan bunga daisy. Namun, saat aku kerap mengambil buket itu ia menariknya kembali dengan senyuman usil yang terbit di wajahnya.
“Namamu nona?”
Aku menunduk malu dan dengan spontan melepaskan tanganku yang menyilang dan menyodorkan-Nya.
“Hai aku Syakilla”
“… dan aku Alka” Kami berjabat tangan, simbol klise yang menandakan bahwasannya dua insan ini sepakat untuk menjalin komunikasi detik itu dan seterusnya. Meskipun jabat tangan tak bisa menjadi jaminan berjalinnya hubungan yang baik. Namun, tak ada salahnya untuk memulai bukan?
Alka memberikan buket itu sembari menolak beberapa pecahan uang yang Killa serahkan.
“Oh ya, satu lagi…” Aku mengerjap seraya memeluk buket itu sembari terus memusatkan pandanganku kearahnya. “… proses tumbuhnya bunga itu cukup lama Killa, wajar jika kita sesekali bosan sesekali lelah menunggu dan merawat-Nya. Namun, semua proses itu pantas untuk di nantikan”.
Aku tersenyum mendengar pernyataan Alka.
“Esensi dari cinta itu menunggu, Killa”
메타데이터
- post_id
- bbcbead76268
- slug
- mari-kembali-singgah-bbcbead76268
- url
- https://medium.com/@safakarla9/mari-kembali-singgah-bbcbead76268
- canonical_url
- https://medium.com/@safakarla9/mari-kembali-singgah-bbcbead76268
- author_url
- https://medium.com/@safakarla9
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-07 00:45:30