Ombak, Bulu Babi, dan Papan Luncur
oleh: Miftakhu Rahma Wardhani
Ombak, Bulu Babi, dan Papan Luncur

ombak dan peseluncur yang hebat
“Bagaimana rasanya menaklukkan 2 ombak dengan satu papan luncur?”
Dalam sebuah ruangan, seorang gadis tengah menatap dirinya kembali lamat-lamat. Matanya yang entah sudah kesekian kalinya menangis, bukan sebab orang lain atau masalah yang menghadangnya cukup dalam. Ia tetap ceria, sumringah di mata orang-orang, dan tetap meromantisasi tugas-tugas baik hati yang dengan senang hati menemaninya setiap hari.
Suatu hari, kala suara canda tawa manusia samar-samar telah redup, kala lampu beberapa kamar di sekitarnya mulai perlahan padam, lalu manusia-manusia itu mulai kembali ke dunia yang sempat ditinggalkannya, gadis itu pun kembali pada dunianya. Bagaimana pun, ia tak pernah lepas dari menulis, menulis membuatnya hidup berkali-kali.
“Bagaimana rasanya menaklukkan 2 ombak dengan satu papan luncur?” tanyanya.
Ia berpikir, barangkali terkadang manusia terlihat kurang beruntung sebab hidup membuatnya berjuang lebih keras. Ia tak punya pilihan atau mungkin ia tak punya cukup banyak waktu untuk memperjuangkan dua hal besar dalam satu waktu. Barangkali pula, ia senang memilih dua hal itu dalam satu waktu sembari memaksa tubuh mungilnya untuk tetap maksimal di kedua urusannya. Sebab baginya, hidup ialah tentang perjuangan. Namun, tidak ada perjuangan yang layak dimaksimalkan dengan menanggalkan urusan abadinya, yakni akhirat dan surga.
Bagi seorang peluncur, ombak adalah kawan baiknya berjuang dan papan luncur telah menjadi bagian dirinya yang tak mungkin dilepaskan. Meski ombak terkadang sangat tinggi, deras, dan mampu menenggelamkannya perlahan-lahan, nyatanya ombak pula yang mendewasakannya. Tentu saja, seorang peluncur yang lihai, tak akan pernah menyerah begitu saja.
Pertama, ia akan menghadang ombak-ombak kecil yang riaknya tak cukup deras, ketika itu, ia masih mencobanya pertama kali. Ia terombang-ambing dan hampir tenggelam hingga tangan-tangan baik manusia lainnya memeluknya, memeganginya, sembari berkata, “Tidak masalah, Gadis Kecil, ayo coba lagi, kamu hanya perlu mencobanya beberapa kali.”
Ombak kecil itu pun berhasil ditaklukkannya hingga kemudian muncul ombak-ombak yang semakin deras, semakin dalam, dan kian memaksanya tenggelam. Hingga puncaknya, ia menemui dua ombak yang deras dari kedua sisinya. Lalu, bagaimana?
“Kamu hanya perlu menerjangnya, sebagaimana biasanya, tidak perlu meromantisasinya,” kata seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Bagaimana mungkin?” kata gadis itu.
“Lantas, apa yang tidak mungkin?” cecarnya.
“Memang benar, kita semua akan mampu menerjangnya, hanya saja, tidak mungkin akan berjalan sebagaimana biasanya, akan ada hal yang lebih besar, untuk dikorbankan, diperjuangkan, dan diikhlaskan.”
“Maksudnya?”
“Ketika seorang peluncur bersama papan luncurnya menerjang sebuah ombak, belum tentu ia hanya menghadapi air yang kencang, deras, dan tinggi itu. Barangkali, ada sebuah bulu babi yang menusuk kakinya, meracuninya, hingga rasanya tak mampu lagi untuk berdiri. Mirisnya, itu hanyalah satu ombak, bagaimana jika dua?”
“Tentu terasa berat, ya?”
“Bukan hanya berat, bisa saja menciptakan luka, kekecewaan, kesedihan, bahkan trauma. Oleh sebab itu, dua ombak raksasa itu tidak akan pernah dianugerahkan pada sembarang orang.”
“Lalu, bagaimana kamu akan menaklukkannya?”
“Mungkin hanya akan sesederhana, terus berjalan dan belajar seiring jalannya masa, bila bulu babi itu menancap, aku hanya perlu mencabutnya, merasakan sakitnya, lalu sembuh bersama waktu. Tentang ombak, bukankah Tuhan kita menciptakan segala sesuatu di dunia dengan ujung? Maka, begitu pula keyakinanku, akan selalu ada ujung bagi apapun yang kita perjuangkan, namun tidak akan ada ujung untuk segala sesuatu yang kita cita-citakan, yakni kebahagian abadi selamanya di surga-Nya nanti.”
“Meski kamu sudah mengetahui jawabannya, mengapa kamu masih mempertanyakannya?”
“Manusia seringkali lupa, logika tak akan terus membuatnya hidup. Perihal rasa dan kebaikan hati di dalam jiwanya, akan menghidupkannya berkali-kali. Maka, yang sudah sepantasnya manusia itu lakukan hanyalah menyeimbangkan bagaimana logika dan hatinya terus berjalan beriringan. Itulah yang aku lakukan. Semakin aku menemukan jawaban paling tulus dalam hatiku, maka saat itu pula-lah, aku semakin menemukan arti dalam setiap hal yang perlu aku hadapi.”
Mereka berdua pun bertatap mata, saling memahami bagaimana manusia menemukan jawaban dalam hidupnya masing-masing. Dan sejak saat itu, ia berhenti untuk memaksa gadis kecil itu untuk bertindak sebagaimana orang-orang mengutarakan padanya.
메타데이터
- post_id
- bbf0a5f71405
- slug
- ombak-bulu-babi-dan-papan-luncur-bbf0a5f71405
- url
- https://medium.com/@miftarahma80/ombak-bulu-babi-dan-papan-luncur-bbf0a5f71405
- canonical_url
- https://medium.com/@miftarahma80/ombak-bulu-babi-dan-papan-luncur-bbf0a5f71405
- author_url
- https://medium.com/@miftarahma80
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 10:24:05