WHY we need a Life Insurance
Masih pagi seperti biasanya, aku sudah berhadapan dengan monitor. Bersiap untuk bekerja dengan giat. Dikantor asuransi jiwa milik negara…
WHY we need a Life Insurance
Masih pagi seperti biasanya, aku sudah berhadapan dengan monitor. Bersiap untuk bekerja dengan giat. Dikantor asuransi jiwa milik negara itu tak banyak pegawai sehingga kantor terlihat cukup sepi, namun telah banyak kegiatan didalamnya. Para pegawai hilir mudik menunaikan tugasnya begitupun para juru layan dan satpam.
Dering telepon di ujung ruangan memecah keheningan, seorang pegawai senior menjawab dan berbicara dengan cukup panik. Ada berita bahwa salah satu pegawai kantor cabang kami terkena stroke mendadak dan sedang dirawat di rumah sakit. Kamipun turut shock karena pegawai tersebut sebelumnya masih bertemu dengan ku dalam keadaan sehat walafiat. Pegawai tersebut juga cukup giat berolahraga dan menerapkan pola hidup yang sehat. Sangat berbeda denganku yang kesehariannya dengan asupan makanan siap saji dan jarang berolahraga.
Hingga akhirnya saat jam istirahat tiba, aku bersama teman-teman kantor menjenguk pegawai tersebut di Rumah sakit. Sesampainya aku disana, hatiku cukup miris melihat kondisinya yang sudah lumpuh sebagian dan tak dapat berbicara lagi. Bentuk wajahnya telah kaku. Saat itu belum banyak hasil pemeriksaan yang keluar. Kami hanya mencoba menghibur dan membesarkan hati pegawai tersebut beserta keluarganya yang nampak kaget dan masih tidak percaya dengan kondisi suami dan ayahnya. Mungkin juga ada kekhawatiran yang sangat besar dipihak keluarga karena pegawai tersebut satu-satunya sumber penghasilan dalam keluarga. Dengan sakitnya dia maka secara otomatis keuangan keluarga mereka juga terganggu. Syukurnya biaya rumah sakit masih ditanggung BPJS Kesehatan dan Asuransi Kantor. Karena biaya tersebut cukup memberatkan jika harus tanggung secara pribadi.
Selang 2 bulan kami sekantor mengunjungi rumah pegawai tersebut yang menjalani rawat jalan. Dia harus menjalani kemoterapi dirumah setiap 2 kali seminggu dan konsultasi ke dokter rumah sakit setiap minggu. Tentunya hal tersebut memerlukan biaya yang cukup besar. Hari demi hari biaya pengobatan dan perawatan terus menguras tabungan. Ada banyak bantuan dari sanak saudara dan kolega namun tetap saja kebutuhan semakin hari semakin banyak. Tak hanya untuk biaya pengobatan tetapi juga biaya hidup dan pendidikan anak. Beruntungnya mereka masih memperoleh gaji bulanan dari kantor namun telah berkurang dari biasanya, karena pegawai tersebut diberikan cuti sakit selama 2 tahun
Setelah 2 tahun berlalu, akhirnya pihak keluarga pegawai tersebut mengajukan pensiun dini, dengan alasan tagihan cicilan rumah harus segera dilunasi dan mereka tak memiliki cukup dana untuk melunasi. Akhirnya jalan satu-satunya adalah mengajukan pensiun dini agar memperoleh dana pesangon dari kantor yang diperkirakan cukup melunasi hutang dan bertahan hidup dengan membuka usaha.
Tak berselang lama setelah pengajuan pensiun dini, aku mendengar berita bahwa kondisi keuangan keluarga tersebut semakin memburuk. Usaha yang dirintis tak berhasil dan bahkan gulung tikar. Dana pesangon telah habis untuk biaya perawatan dan biaya hidup. Hingga akhirnya keluarga tersebut berhutang dimana-mana. Dan kondisi tersebut terus berlanjut hingga pegawai tersebut tutup usia. Dia meninggalkan keluarga dengan keruntuhan pilar penopang keuangan keluarga, namun tak memiliki back up atas kondisi tersebut.
Hal tersebut cukup menyayat hati, sungguh miris kehidupan keluarga ketika terjadi risiko pada pencari nafkah. Atas kejadian itu akhirnya aku memahami secara nyata pentingnya pekerjaan ku dibidang Asuransi Jiwa. Kehadirannya membantu menjaga kesejahteraan keluarga agar mampu bertahan dengan hidup yang layak bahkan disaat hal terburuk terjadi. Asuransi Jiwa dibutuhkan ketika kita memiliki keluarga yang hidupnya bergantung pada penghasilan kita.
Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Mencegah kerugian finansial yang mungkin saja terjadi kapan saja, tentunya menjadi pilihan yang bijak agar kita dan keluarga memiliki kehidupan yang lebih aman dan sejahtera. Tentunya saya pun sangat menyayangkan bahwa seorang pegawai yang bekerja di perusahaan asuransi jiwa, justru belum memahami konsep asuransi itu sendiri.
Sejak saat itu, akupun semakin sadar diri bahwa aku ingin hidup dengan tenang sekalipun terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan dan tak terduga itu terjadi. Aku ingin hidup dengan tenang, dan tak ingin meninggalkan beban jika aku telah tiada. Dan salah satu ikhtiarku adalah menyiapkan asuransi berupa Proteksi, Kesehatan dan Investasi dalam satu paket asuransi Unit Link melalui perusahaan yang sangat terpercaya.
Happy Family
메타데이터
- post_id
- bbffa479f5da
- slug
- why-we-need-a-life-insurance-bbffa479f5da
- url
- https://medium.com/@amirahtiro/why-we-need-a-life-insurance-bbffa479f5da
- canonical_url
- https://medium.com/@amirahtiro/why-we-need-a-life-insurance-bbffa479f5da
- author_url
- https://medium.com/@amirahtiro
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 12:41:27