Semua Terjadi Karena Aku Pemalu
Aku suka menyapa dan beramah-tamah kepada banyak orang. Aku juga suka bercerita banyak hal kepada teman-teman. Jadi mengapa judul tulisan…
Semua Terjadi Karena Aku Pemalu

Aku suka menyapa dan beramah-tamah kepada banyak orang. Aku juga suka bercerita banyak hal kepada teman-teman. Jadi mengapa judul tulisan ini malah “Semua Terjadi Karena Aku Pemalu”? Padahal tidak ada diksi yang mendeskripsikan bahwa aku adalah seorang yang pemalu.
Sebelum aku terbentuk menjadi manusia yang seperti sekang, aku melewati banyak hal yang memalukan yang memaksaku untuk berkembang, tetapi aku akan menuliskan beberapa diantaranya. Saat berada di sekolah dasar, aku malu teman-teman yang tinggal di komplek sebelah lancar mengaji dengan pemahaman tajwid yang baik. Rasanya malu sekali berteman dengan mereka disaat tidak ada pemahaman itu, aku mencoba memberanikan diri untuk pindah Tempat Pengajian Al-Qur’an (TPA) di komplek mereka. Ternyata aku menemukan rasa malu yang lainnya, aku harus turun mushaf untuk memulai semuanya dari awal. Malu, tetapi seiring berjalannya waktu semua terkendali.
Rasa malu itu bahkan juga muncul ketika aku sedang di warnet. Iya, warnet. Aku begitu lancar saat bermain game atau menonon video di youtube. Namun, saat ingin mengerjakan tugas di warnet, aku menyerahkannya kepada penjaga warnet. Rasanya, malu! Tidak lama dari merasakan malu itu, aku memutuskan untuk mengikuti kursus komputer yang mengurangi banyak jam bermainku. Jangan tanya bagaimana rasanya, di hari pertama aku keringat dingin hingga tetikusku begitu licinnya sulit untuk diganggam.
Aku pikir aku telah bisa mengendalikan rasa malu itu, ternyata aku terlalu jumawa. Rasa malu semakin besar ketika berada di perkuliahan. Melihat banyak teman yang dapat berbicara dengan santainya di depan banyak orang adalah hal yang mengesankan. Aku malu saat presentasi dengan biasa-biasa saja. Apa yang aku perbuat kali ini? Bergabung dengan organisasi yang relevan dan mengikuti kegiatan pendukung lainnya. Aduh, begitu sulitnya! Seiring berjalannya waktu bahkan aku sudah bisa presentasi dengan menyisipkan humor, hingga yang berkata “Senang sekali jika kamu yang presentasi, aku bisa belajar sambil tertawa”.
Malu rasanya saat minim pengetahuan yang dasarnya bisa didapatkan dari belajar. Malu rasanya tidak melakukan apa-apa di bumi Allah yang luas ini. Malu rasanya menjadi biasa-biasa saja, padahal bisa mempelajari dan mendapatkannya. Sampai sekarang masih banyak rasa malu yang aku rasakan, salah satunya belum bisa berbicara sembari menatap matamu.
메타데이터
- post_id
- bc0c503a12ca
- slug
- semua-terjadi-karena-aku-pemalu-bc0c503a12ca
- url
- https://medium.com/@rindiyanti1020/semua-terjadi-karena-aku-pemalu-bc0c503a12ca
- canonical_url
- https://medium.com/@rindiyanti1020/semua-terjadi-karena-aku-pemalu-bc0c503a12ca
- author_url
- https://medium.com/@rindiyanti1020
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29