#183: Kisah Para Guru
“Buku kumpulan kisah para guru yang datang mengajar di Papua pada periode 1960–1980”
#183: Kisah Para Guru
“Buku kumpulan kisah para guru yang datang mengajar di Papua pada periode 1960–1980”

Buku yang saya baca (Sumber:Pribadi)
Saya baru saja menghabiskan sebuah buku yang berkisah tentang guru-guru perintis yang ada di Tanah Papua.”
Baca selengkapnya klik ***TAUTAN UNTUK TEMAN***
Bukunya berjudul “Kisah-kisah Guru Perintis, Dari Pedalaman Papua Era 1962–1980,” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia. Bukunya sendiri ditulis oleh Bernada Rurit dan Romo J. Sudrijanta, SJ, serta diterbitkan pada tahun 2026. Betul sekali, bukunya baru saja terbit.
Ada lima belas orang guru yang membagikan kisah-kisah kehidupannya. Memang jika dibaca, akan ada polanya yaitu guru-guru yang paling banyak mengisahkannya adalah guru-guru yang punya irisan dengan Kota Nabire.
Dengan kata lain, adalah guru-guru yang pernah bertugas di daerah Paniai, dan kemudian nantinya pernah tinggal (sebagian menetap sampai sekarang) di Nabire. Kisah lainnya datang dari guru di Timika maupun di Merauke.
Melalui cerita dalam buku ini juga, saya jadi mengetahui misalnya ada beberapa gelombang kedatangan para guru ke Tanah Papua. Serta, di daerah mana saja mereka ditempatkan. Ada istilah LOSO MOSO yang merupakan bantuan luar negeri untuk pendidikan di Papua, saat itu. Yang ditujukan bagi yayasan-yayasan keagamaan yang mengelola pendidikan di Tanah Papua.
Kita juga akan dikenalkan dengan istilah YPPK, YPPGI dan lainnya. Yang merupakan yayasan-yayasan yang mengelola sekolah, dan merupakan ujung tombak pengelola pendidikan saat itu.
Ingatan masa kecil
Sebenarnya, menggunakan kata Tanah Papua adalah sebuah frasa yang terlalu umum. Sebab Tanah Papua sangat luas. Padahal, guru-guru yang diceritakan adalah mereka yang bertugas terutama di daerah Paniai saja.
Saya tertarik membeli buku itu, karena merasa bahwa cerita dalam buku tersebut dekat atau punya relevansi yang erat dengan diri saya. Sebab saya lahir dan dibesarkan dari orang tua yang bekerja sebagai guru. Dan keluarga kami pun tinggal di kompleks guru di Nabire. Kompleks guru di Kotabaru.
Ayah saya, pindah ke Nabire pada tahun 1969 dan menjadi guru di Nabire. Setahun kemudian, ia membawa serta ibu dan 4 orang kakak saya dari Banyubiru.
Keluarga kami pun tinggal di daerah yang bernama Morgo, di Kota Lama, Nabire. Nanti pada pertengahan tahun 1970an, baru keluarga kami pindah tinggal di kompleks guru, kompleks Kotabaru yang ada di belakang kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), Nabire.
Kantor Dinas P dan K menyimpan banyak kenangan bagi saya. Karena nyaris tiap sore anak-anak kompleks kotabaru, sebutan kompleks kami, akan main bola di lapangannya.
Mau panas terik, hujan deras, kami akan tetap main bola. Entah sudah berapa banyak kaca-kaca kantor itu yang terkena tendangan anak-anak kecil kompleks. Beberapa diantaranya berguguran yang membuat kami dilarang main untuk beberapa waktu.
Tapi, keberanian selalu datang kembali. Kami pun akan main kembali di halaman rumput kantor itu.
Kompleks kami tinggal, karena kompleks guru maka para guru yang tinggal di sana. Meski, ada juga mereka yang bukan guru tetapi dari dinas-dinas lainnya di Nabire. Para guru, yang saya ingat antara lain terdapat Pak Sam Sumule, Pak Sakiyo, termasuk ayah saya, yang bernama Sumian.
Kembali lagi pada buku yang saya baca, saya mengetahui beberapa tokoh yang turut menceritakan kisah hidup mereka sebagai guru. Nama-nama seperti Pak Paijo, Pak Pius Asmuni, Bu Asmuni, Bu Paijan, maupun Pak Reyaan begitu familiar bagi saya.
Ingatan akan guru
Bu Paijan, sebagai contoh adalah guru saya waktu saya kelas 3 SD. Kami mengetahui bahwa ia adalah seorang guru yang sebelumnya bertugas di daerah pegunungan paniai. Mengingat Nabire adalah kota di pesisir, tempat transit dari berbagai daerah di Paniai, maka guru-guru sering tinggal juga di Nabire dan nantinya bertugas di Nabire.
Pada Bu Paijan, saya masih teringat kelasnya yaitu bahasa Indonesia. Di mana ia mengajarkan kami untuk membuat karya berupa karangan. Saya, menggunakan imajinasi yang terbatas mencoba untuk menulis cerita. Sayangnya, saya belum memahami apa yang dimaksud dengan mengarang dan mulai menulis dengan diberi nomor.
Setiap baris, saya tulis satu kalimat dan saya beri nomor. Jadilah sepuluh nomor, yang berisi sepuluh cerita yang agak samar, apakah nyambung semuanya, ataukah tidak. Tetapi itulah ingatan saya pada Bu Paijan.
Sosok lainnya yang membagikan ceritanya dalam buku itu adalah Pak Reyaan, ia dulunya adalah wakil kepala sekolah di SD Kotabaru. Sekolah saya yang sebenarnya nama panjangnya adalah SD Inpres Kotabaru, tetapi lebih sering disebut SD Kotabaru saja.
Pak Reyaan, seingat saya sosok kurus tinggi berkacamata, dengan motor Rxmax berwarna merah miliknya. Saya memang tidak mendapatkan pengajaran darinya, sebab ketika saya masuk kelas 1, ia adalah guru kelas atas. Mungkin kelas 5 atau 6.
Setahun kemudian, ia pun tak ada lagi di sekolah. Saya baru mengetahuinya dari buku yang saya baca, bahwa ia mendapat promosi menjadi kepala sekolah di tempat yang baru.
Ada satu sosok dari cerita yang saya baca, ceritanya terasa begitu dekat pada saya. Nama tokoh itu adalah Pak Suratmin. Mengapa terasa dekat? Sebab waktu kecil, bapak sering mengajak saya ke rumah Pak Suratmin. Dan sebaliknya, Pak Suratmin sering ke rumah kami menggunakan motor vespanya.
Beliau adalah guru seangkatan bapak saya, yang sama-sama dari Ambarawa. Mereka, bersama beberapa teman guru lainnya dari Banyubiru berangkat ke Irian Barat, saat itu di tahun 1969.
Bapak sendiri adalah lulusan sekolah guru bantu atau SGB. Jadi bukan lulusan diploma atau sarjana muda misalnya. Tapi dari kisah-kisah yang saya baca, dan rekam diingatan dari buku yang saya baca tersebut, guru-guru dari perintis, yang datang 1920an ke Papua.
Disusul guru-guru Badan Urusan Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI), pada tahun 1960an awal, dan kemudian disusul guru-guru pada saat periode Trikora di 1969an.
Dari kisah-kisah para guru dibuku yang saya baca ini, begitu kuat pesan yang ditangkap mereka adalah guru-guru yang punya dedikasi yang besar dan kecintaaan pada apa yang mereka lakukan. Mungkin lebih tepatnya, mereka ini menjadi pendidik, tidak hanya sebagai pengajar.
Atau dalam istilah dari salah satu kisah dibuku ini, adalah guru plus, plus, plus. Maksudnya, jika di kampung, perannya beragam dan banyak.
Saya menemukan banyak kata tentang dedikasi, punya hati, mencintai tanah Papua, mencintai anak-anak Papua, bekerja sepenuh jiwa dan lainnya.
메타데이터
- post_id
- bc0ced4d0601
- slug
- 183-kisah-para-guru-bc0ced4d0601
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/183-kisah-para-guru-bc0ced4d0601
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/183-kisah-para-guru-bc0ced4d0601
- author_url
- https://medium.com/@dayourifanto
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12