← Back to list

You, Unexpectedly

Part 4

starforthesky · 2025-04-08 10:02 · 5 claps · 7.6 min read
#binhao #binneul #bxb #zb1
Open on Medium ↗

You, Unexpectedly

Part 4

Zhang Hao berjalan dengan langkah sedikit tergesa menuju backstage, meninggalkan Jiwoong yang masih berdiri di tempat. Ia tahu betul bahwa Jiwoong pasti akan memasang ekspresi tidak suka karena perilakunya barusan, namun ia tidak berniat menoleh ke belakang.

Biarlah — pikirnya.

Begitu mencapai pintu, ia mendapati Hanbin sedang bersandar di dinding. Pemuda itu hanya melirik sekilas sebelum berbalik dan berjalan lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Zhang Hao spontan mengekor di belakangnya — hening. Tak satu pun dari keduanya yang membuka suara hingga akhirnya mereka tiba di area parkiran kampus. Barulah Hanbin meliriknya lagi, kali ini dengan ekspresi khawatir di wajahnya.

“Lo nggak apa-apa, Kak?”

Kalimat pertama yang keluar dari bibir Hanbin.

Khawatir? Tentu saja. Bahkan sejak sebelum acara dimulai — tepatnya saat Jiwoong menghampiri Zhang Hao — Hanbin sudah menangkap ketidaknyamanan yang jelas terpancar di wajah kakak tingkatnya itu.

“Nggak apa-apa, Bin... Makasih ya?” Zhang Hao tersenyum lembut, meski senyumnya terasa sedikit dipaksakan.

”Kak, lo boleh kok bilang kalau lo kenapa-kenapa.” Sahut Hanbin, matanya masih menatap lekat sosok di depannya.

Niat hati ingin rasanya ia menggenggam tangan Zhang Hao — memberi sedikit ketenangan yang mungkin dibutuhkan — tapi, ia sadar akan batasan yang ada. Alih-alih melangkah lebih jauh, ia hanya berdiri di sana dan menunggu.

“Gue… beneran nggak apa-apa, Bin…” Jemari Zhang Hao tanpa sadar semakin erat menggenggam tasnya, seakan menjadi bukti bahwa hatinya berkata sebaliknya.

Hanbin menghela napas kasar. Kalau boleh jujur, dia ingin bertanya lebih jauh. Namun, dirinya tahu, semakin Hanbin memaksa akan semakin membuat Zhang Hao merasa tidak nyaman.

Sejenak, suasana hening menyelimuti mereka berdua. Hingga akhirnya saat napasnya sudah lebih stabil, Zhang Hao melirik Hanbin, “Lo… ngapain di sini, Bin?”

Sebagai mahasiswa baru di kampus ini, Hanbin wajib untuk mengikuti beberapa workshop atau kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak kampus selama tahun pertamanya. Kegiatan ini menjadi salah satu pemenuhan syarat untuk melanjutkan ke semester berikutnya.

Maka, begitu ada pengumuman tentang workshop yang diadakan hari ini — ditambah dengan informasi bahwa Zhang Hao yang akan menjadi moderator — Hanbin tak ragu untuk segera mendaftarkan diri.

Pagi tadi saat baru saja memasuki ruangan workshop, Hanbin melihat Zhang Hao di depan sana tengah menyiapkan diri dan membaca sesuatu. Niat hati ingin menyapa sang kakak tingkat, namun langkahnya terhenti ketika melihat Jiwoong menghampiri Zhang Hao lebih dulu.

Dari kejauhan, Hanbin bisa melihat dengan jelas ekspresi kurang nyaman di wajah Zhang Hao saat berbincang dengan ketua BEM itu. Baru saja ia berniat mendekat tetapi tepat saat itu juga, salah satu panitia datang dan mengajak Zhang Hao berbicara. Tak lama, panitia tersebut mengajak Zhang Hao pergi menuju backstage.

Hanbin baru saja melangkah menuju pintu untuk keluar ruangan namun tanpa sengaja ia kembali melirik ke arah panggung. Pandangannya langsung tertuju pada sosok Kim Jiwoong yang kini sudah kembali menghampiri Zhang Hao.

Alisnya bertaut.

Dari tempatnya berdiri, Hanbin bisa melihat bagaimana Jiwoong mengajak Zhang Hao berbicara. Hanbin melihat dengan jelas, pemuda itu semakin mendekatkan dirinya dengan sang kakak tingkat, sementara Zhang Hao tampak semakin tidak nyaman.

Hanbin mengepalkan tangannya. Entah kenapa, pemandangan di depannya membuat dadanya terasa panas.

Bukan — bukan karena ada seseorang yang mendekati pemuda manis yang belakangan ini menarik perhatiannya, tapi karena ekspresi yang ditunjukkan Zhang Hao.

Sorot matanya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Gerak-geriknya yang terburu-buru, seolah ingin segera pergi dari tempatnya sekarang.

Dan Hanbin tidak suka melihat itu.

Hanbin benar-benar tidak bisa berdiam diri saat ia melihat Jiwoong kemudian secara tiba-tiba berusaha menggenggam pergelangan tangan Zhang Hao — seakan menahannya agar tetap di tempat.

Wajah Zhang Hao seketika menegang. Bukan hanya terkejut, ada ketakutan dalam sorot matanya.

Dan itu membuat Hanbin tanpa berpikir panjang memanggil nama Zhang Hao.

“Kak Zhang Hao!” Panggilnya cukup keras hingga terdengar oleh keduanya.

Seketika, Zhang Hao menoleh, tangannya dia lepaskan dari genggaman Jiwoong.

Ekspresinya yang semula tegang berubah menjadi sedikit lega saat melihat Hanbin berdiri tak jauh dari sana.

Namun, berbeda dengan Zhang Hao, Jiwoong justru menunjukkan reaksi sebaliknya. Hanbin bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana ketidaksukaan tergambar di wajah ketua BEM itu saat menyadari keberadaannya.

Hanya saja Hanbin tidak peduli.

“Kak, udah selesai? Gue tunggu di luar.” Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Tanpa menunggu jawaban, Hanbin berbalik dan berjalan keluar pintu untuk menunggu pemuda itu.

Ia hanya berharap Zhang Hao menangkap kode dari ucapannya dan menyusulnya.

Kini, keduanya telah berada di dalam mobil Hanbin.

Saat Zhang Hao tadi bertanya kenapa Hanbin ada di sana, pemuda itu tidak langsung menjawab. Sebagai gantinya, ia hanya mengajak sang kakak tingkat untuk masuk ke dalam mobil dan memberinya tempat untuk menenangkan diri.

Awalnya, Hanbin ragu apakah Zhang Hao akan menerima ajakannya. Namun di luar dugaannya, Zhang Hao mengangguk dan tanpa banyak bicara mengikuti langkahnya menuju mobil.

Saat Zhang Hao masuk ke dalam mobil, Hanbin tidak langsung menyusul ke bangku pengemudi. Ia memilih untuk memberikan waktu sejenak, membiarkan Zhang Hao menenangkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya dirinya masuk ke dalam mobil.

Saat dirinya masuk, Zhang Hao tengah menatap lurus ke depan. Tatapannya kosong, pikirannya entah melayang ke mana.

Hanbin tidak langsung mengajaknya bicara. Ia hanya duduk di sampingnya, memperhatikannya dalam diam — memberi Zhang Hao ruang dan waktu untuk menenangkan diri.

Waktu berlalu, suasana di dalam mobil masih sunyi. Hanya suara hembusan napas keduanya yang terdengar saling mengisi.

Zhang Hao menghela napas panjang. Tangannya perlahan mulai santai, ketegangan di raut wajahnya pun mulai menghilang.

“Bin, sorry..” Gumamnya lirih.

Hanbin menoleh, “Kenapa minta maaf, kak?”

Zhang Hao menoleh ke arah Hanbin, dirinya terdiam. Hanbin masih menatapnya dan menunggu dengan sabar.

“Sorry, gue bikin lo jadi harus kejebak di situasi tadi. Sorry juga kalo gue jadi ngerepotin lo.” Zhang Hao kembali menundukkan kepalanya, jemarinya memainkan ujung baju.

“Kak,” Panggil Hanbin, “Kak, boleh liat gue sebentar?” Lanjutnya pelan penuh hati-hati.

Zhang Hao kembali menoleh, matanya sedikit berkaca-kaca. Ada air mata yang seakan menggantung di sana — tertahan, seolah menunggu pemicu kecil untuk akhirnya jatuh.

Hanbin melihat itu.

Dengan hati-hati, pemuda itu melanjutkan.

“Kak, lo nggak bikin gue kejebak di situasi tadi. Lo juga nggak ngerepotin gue.” Hanbin sedikit merubah posisi duduknya agar mudah melihat kedua mata Zhang Hao. “Gue ngelakuin ini karena gue mau. Gue lihat lo nggak nyaman sama Jiwoong, dan…”

Hanbin menghela napas, ia tatap lembut pemuda di depannya dan melanjutkan, “Gue nggak suka lihat itu. Gue nggak mau lo diapa-apain sama dia, Kak.”

Zhang Hao terdiam. Pandangannya menatap Hanbin, seakan ingin mencari kejujuran di balik kata-kata itu.

Sementara itu, Hanbin hanya balas menatapnya. Tatapan penuh ketenangan dan kejujuran. Zhang Hao bisa melihat itu dan perlahan, senyum kecil terukir di wajahnya.

“Makasih ya, Bin…” Ucapnya lirih. “Gue nggak tahu… kalau lo nggak ada tadi, gue bakal diapain sama kak Jiwoong…”

Zhang Hao kembali menghela napas panjang, seakan mencoba meredakan emosi yang masih tersisa dalam dirinya.

“Gue juga nggak ngerti kenapa dia akhir-akhir ini jadi kayak gitu ke gue.” Lanjutnya dan suaranya memelan, “Terus tadi pas dia ngajak gue, gue langsung kepikiran pertanyaan lo waktu di taman…”

Hanbin mengangguk kecil. Ia tetap diam, membiarkan Zhang Hao mengeluarkan semua yang ingin dia katakan tanpa terburu-buru.

“Gue…” Zhang Hao menggigit bibirnya sebelum melanjutkan, “Gue udah nolak dia. Tapi dia malah jadi makin maksa… dan gue nggak suka…”

Zhang Hao kembali menundukkan kepalanya.

Hanbin menatapnya, sejujurnya hatinya terasa sesak melihat Zhang Hao seperti ini. Ingin rasanya ia menarik pemuda itu ke dalam dekapannya, memberikan ketenangan yang mungkin dibutuhkan.

Namun tidak untuk saat ini. Ia tahu… ini bukan saat yang tepat.

Jadi, yang bisa Hanbin lakukan hanyalah menyentuh punggung tangan Zhang Hao dengan lembut. Sebuah sentuhan ringan dan tidak memaksa, namun cukup untuk mengingatkan bahwa dia tidak sendiri.

Setelah kejadian beberapa minggu yang lalu, hubungan antara Hanbin dan Zhang Hao semakin dekat. Hanbin selalu mengusahakan dirinya berada di dekat Zhang Hao semampunya. Terkadang dirinya menjemput Hao di kosannya dan juga mengantarnya pulang.

Awalnya, Hanbin hanya menawarkan diri dengan alasan agar kejadian waktu itu tidak terulang lagi, mengingat kemungkinan Jiwoong yang tidak akan menyerah begitu saja untuk menemui Zhang Hao. Tak disangka, Zhang Hao tidak menolak tawaran Hanbin.

Seiring berjalannya waktu, Zhang Hao mulai terbiasa dengan kehadiran Hanbin dalam kesehariannya. Zhang Hao merasa aman saat berada di dekat pemuda yang kini sering bersamanya.

Tak hanya hubungannya dengan Zhang Hao yang semakin dekat, Hanbin juga semakin sering bertemu dengan kelima teman dekat Zhang Hao lainnya. Tentu saja, awalnya Zhang Hao lah yang mengajak Hanbin untuk ikut bergabung dengan mereka.

Hanbin juga secara kebetulan sekelas dengan Seunghwan di salah satu mata kuliah dan membuat mereka semakin sering bertemu dan menjadi dekat satu sama lain.

Seperti saat ini, Hanbin dan Seung Hwan baru saja menyelesaikan kelas mereka dan berjalan bersama menuju parkiran kampus. Mereka berencana pergi ke kafe untuk berkumpul bersama — tentu saja, Zhang Hao yang secara pribadi mengajak Hanbin.

Selama perjalanan, keduanya berbincang mengenai berbagai hal, sesekali menyapa mahasiswa yang mereka kenal. Namun, obrolan mereka berubah ketika Seung Hwan tiba-tiba membuka topik mengenai Zhang Hao.

“Bin, makasih banyak ya kemarin lo udah bantuin Zhang Hao.” Ujar pemuda itu tiba-tiba.

Hanbin terkejut. Bagaimana Seung Hwan bisa tahu? Setahunya, teman sekelasnya ini tidak mengikuti acara waktu itu.

Apa mungkin kak Zhang Hao yang bercerita? Bagaimanapun, mereka bersahabat — pikirnya.

“Lo tahu dari mana, Hwan?” Tanya Hanbin, penasaran.

“Kemarin pas lagi kumpul. Gue denger pas Rui lagi nanya ke Zhang Hao, terus ya anaknya cerita.” Jelas Seung Hwan santai.

“Kemarin? Kalian berenam ngumpul?” Hanbin menoleh ke arah Seung Hwan.

“Nggak semua, cuma gue, Rui, Keita, sama Zhang Hao aja. Matt sama Taerae masih ada kelas.” Jawab Seung Hwan sambil mengingat kembali memori kemarin.

“Oooh, gitu…” Hanbin mengangguk memahami.

Seung Hwan melirik Hanbin sejenak sebelum menambahkan, “Gue nggak nyangka kalau Jiwoong tuh naksir sama Zhang Hao. Yang gue tahu, Matt suka sama Jiwoong.”

Hanbin mengangkat alis, terkejut. “Lo tahu kalau Matt suka sama Jiwoong, Jiwoong itu?”

Seung Hwan tertawa kecil. “Semua juga tahu, Bin. Matt tuh seterbuka itu. Ya, sebenernya kita tahu bukan karena dia yang cerita langsung, tapi kita semua bisa lihat. Setiap nggak sengaja ketemu Jiwoong, Matt tuh suka senyum-senyum sendiri liatin tuh orang.”

Hanbin mengangguk paham, namun masih memproses informasi yang baru saja ia dapatkan. Ternyata, perasaan Matthew sudah menjadi rahasia umum di lingkaran pertemanan mereka.

“Keita kemarin hampir aja ngamuk.” Seung Hwan melanjutkan ceritanya, kali ini dengan nada lebih serius.

“Dia mau nyamperin tuh ketua BEM kalau nggak ditahan sama Rui dan Zhang Hao.”

Hanbin terkejut dan menghentikan langkahnya. Dia menghadap Seung Hwan ingin memastikan apa yang dia dengar itu benar.

“Keita sampai mau ngamuk?”

Selama beberapa waktu mengenal Keita, di matanya pemuda itu selalu tenang dan tidak mudah terpancing emosi.

“Iya. Kita semua sangat amat tahu kalau Zhang Hao itu nggak suka dipaksa kayak gitu.” Seung Hwan menghela napas. “Dan…. gitu-gitu juga, Matt kan adiknya dia.”

Hanbin terdiam sejenak, menerima semua yang baru saja ia dengar. Dirinya tidak menyangka kalau kejadian kemarin bukan hanya membuatnya semakin dekat dengan Zhang Hao, tetapi juga memengaruhi orang-orang di sekeliling Zhang Hao.

Seung Hwan kemudian berkata, “Bin, gue tahu lo tertarik sama Zhang Hao. Cuma satu yang gue dan mungkin yang lain juga mau. Kalau lo serius sama Zhang Hao, gue minta banget tolong jagain dia ya."

Hanbin kembali menatap Seung Hwan, apakah perasaannya itu sangat terlihat? selama ini dia berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan — batinnya.

“Dia di luar emang keliatan kayak yang kuat, tapi aslinya dia nggak sekuat itu. Dia tuh masang tembok gede dan nolak semua yang berusaha ngedeketin dia yaaa buat ngelindungin diri dia sendiri biar nggak sakit lagi.” Lanjut pemuda taurus ini.

Hanbin masih menatap Seunghwan yang kini berbicara dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya. Dia merasa lega karena Zhang Hao memiliki teman-teman yang tulus dan juga perhatian.

Namun, di satu sisi dirinya mencerna apa yang Seung Hwan katakan padanya. Kata-kata itu menggema di kepalanya. Tanpa perlu berpikir panjang, Hanbin sudah tahu jawabannya.

tbc,,

starforthesky — 2025


메타데이터
post_id
bc457a1dbccf
slug
you-unexpectedly-bc457a1dbccf
url
https://medium.com/@starforthesky/you-unexpectedly-bc457a1dbccf
canonical_url
https://medium.com/@starforthesky/you-unexpectedly-bc457a1dbccf
author_url
https://medium.com/@starforthesky
status
ok
fetched_at
2026-07-20 09:42:25