Untuk Para Terabaikan, FSTVLST Menyanyikan Kita
RESONANSI #2
Untuk Para Terabaikan, FSTVLST Menyanyikan Kita

‘Hits Kitsch’ — Album by Fstvlst
“Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan” adalah salah satu demo akustik FSTVLST (baca: Festivalist) yang dirilis sekitar tahun 2014 dalam kompilasi Rilisan Pertama Rintisan Bersama Festivalist #02.
Dengan aransemen sederhana, nyaris mentah, lagu ini justru menyimpan kekuatan besar dalam liriknya. Ia berbicara tentang ketidakadilan, pengabaian, dan kerusakan—bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional.
Pertama kali mendengarnya, sulit untuk tidak merasakan sesuatu yang dalam. Lagu ini terdengar seperti doa, teriakan, sekaligus pelukan bagi siapa saja yang pernah merasa sendirian di tengah keramaian.
FSTVLST sendiri lahir dari kebetulan yang kemudian menjadi takdir. Band ini bermula dari acara makrab mahasiswa ISI Yogyakarta, ketika Farid Stevy dan kawan-kawan membentuk band bernama Jenny pada tahun 2003. Dari sana, mereka sempat merilis album Manifesto.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus, beberapa personel memutuskan hengkang, hingga akhirnya pada tahun 2010 band ini bereinkarnasi dengan nama baru: FSTVLST, dengan formasi Farid (vokal), Roby (gitar), Mufid (bas), Danish (drum), dan Rio (keyboard).
Perubahan nama tidak menghapus akar lama. Baik Jenny maupun FSTVLST sama-sama tumbuh dalam genre alternatif rock, dengan lirik yang menyorot keresahan sosial dan rasa ketidakadilan. Bedanya, FSTVLST hadir lebih matang, lebih berani, dan lebih lantang. Album perdana mereka, Hits Kitsch (2014), bahkan masuk daftar 20 album terbaik Indonesia versi Rolling Stone Indonesia pada 2015.
Yang membuat FSTVLST begitu khas adalah caranya merajut seni rupa dan musik menjadi satu kesatuan. Farid Stevy bukan hanya vokalis dan penulis lirik, tetapi juga seorang perupa dan ilustrator. Sampul-sampul album FSTVLST digarap langsung oleh tangannya sendiri, menghadirkan estetika visual yang menyatu dengan pesan musik.
Dalam wawancara bersama Soleh Solihun di kanal YouTube Authenticity ID, Farid pernah berkata bahwa ia tak pernah memilih antara seni rupa atau musik, sebab keduanya saling menghidupi.
Kini, FSTVLST tetap tegak sebagai band indie asal Yogyakarta dengan identitasnya yang unik: “almost rock/ barely art/acoustic”, seperti yang tercatat di laman Bandcamp. Basis penggemarnya pun tersebar dari kota ke kota, dikenal militan, dan selalu setia mengikuti setiap panggung.
Dan Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan menjadi salah satu potret paling jujur dari perjalanan mereka—lagu sederhana, tapi menghantam. Ia menunjukkan bahwa musik bisa lahir dari luka, dari keterabaian, dan tetap tumbuh menjadi ruang aman bagi siapa saja yang pernah ditinggalkan.
Membaca Lirik, Membaca Kehidupan
“Di tanah tua yang tinggal hanya debu, darah, dan marah / Di antara keranda prasasti janjimu.”
Bait ini membuka dengan gambaran suram: tanah renta, penuh reruntuhan, sisa janji yang kini hanya jadi prasasti dingin. Ada luka yang tak hanya fisik, tapi batiniah—sebuah representasi dari hati yang pernah dijanjikan banyak hal, lalu ditinggalkan. Semua yang tersisa hanyalah marah, debu, dan kenangan pahit. Siapa pun yang pernah dikhianati atau diabaikan bisa bercermin di sini.
“Ku bangun kendara dari kayu, pasak, dan tali bekas bakal rumah itu / ku bangun mesinnya dari logam senjatamu yang menyayat-nyayat”
Di sini, lahir simbol kekuatan dari keterbatasan. Kendaraan itu dibuat dari bahan seadanya: kayu, pasak, tali, bahkan logam senjata. Sesuatu yang semestinya melukai justru dijadikan mesin penggerak.
Inilah hidup: kita kerap dipaksa bangkit dari sisa-sisa luka, mengubah puing penderitaan menjadi energi untuk melangkah. FSTVLST seakan berbisik, kita tak perlu bekal sempurna; dari sisa yang ada pun kita bisa mencipta arah baru.
“Kurangkai sayapnya dari sampah serapahmu yang menampar-namparku”
Sungguh getir: bahkan hinaan dan caci bisa berubah jadi sayap untuk terbang. Dari sampah pun manusia bisa menemukan daya untuk bertahan.
“dan kuajak mereka yang merasa serupa / Kan kujemput jiwanya di rumahnya / Jiwa-jiwa yang terabaikan, rusak, dan ditinggalkan terundang terbang bersama”
Lirik ini adalah ajakan solidaritas. Bukan sekadar jeritan pribadi, tapi seruan sosial bahwa banyak jiwa lain yang merasakan keterabaian. Ada panggilan pulang, tempat bersama bagi mereka yang pernah ditinggalkan, sebuah ruang di mana luka bisa saling menguatkan.
“Kita kan tinggalkan sauhnya dan abaikan kompasnya / Kita berlabuh di mana saja.”
Bait ini menegaskan keberanian untuk melepaskan kendali. Sauh diangkat, kompas ditinggalkan. Pesannya sederhana: tersesat tak apa, asal bersama. Dalam hidup, kadang kita perlu berani meninggalkan zona aman untuk menemukan pelabuhan baru, meski tanpa kepastian arah.
Di titik ini, Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan bukan lagi milik FSTVLST semata. Ia jadi milik semua orang yang menyanyikannya. Lagu ini mengumpulkan suara-suara yang tadinya terabaikan, lalu menggaungkannya bersama.
Ada kekuatan kolektif yang lahir dari luka, dari keterasingan, dari rasa ditinggalkan. Dan barangkali, itulah yang membuatnya tetap abadi karena ia menyanyikan kita semua.
[embed]Tanah Indah Untuk Para Terabaikan — Fstvlst
메타데이터
- post_id
- bc4daf42bc2b
- slug
- untuk-para-terabaikan-fstvlst-menyanyikan-kita-bc4daf42bc2b
- url
- https://medium.com/sua-suara/untuk-para-terabaikan-fstvlst-menyanyikan-kita-bc4daf42bc2b
- canonical_url
- https://medium.com/sua-suara/untuk-para-terabaikan-fstvlst-menyanyikan-kita-bc4daf42bc2b
- author_url
- https://medium.com/@bukansiskakhol
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-29 03:52:24