Apakah Listrik Dari Energi Surya Pasti Lebih Murah dari Listrik PLN?
Cadangan minyak bumi dan batubara (energi fosil) yang selama ini kita andalkan untuk memproduksi energi listrik sebentar lagi habis. Hal…
Apakah Listrik Dari Energi Surya Pasti Lebih Murah dari Listrik PLN?
Cadangan minyak bumi dan batubara (energi fosil) yang selama ini kita andalkan untuk memproduksi energi listrik sebentar lagi habis. Hal ini karena energi fossil merupakan jenis cadangan energi yang dapat habis (tidak terbarukan). Padahal pemanfaatan energi fosil tersebut sejatinya sudah sejak lama membantu manusia dalam banyak hal, terutama dalam memberikan energi ke peralatan yang ‘memudahkan’ manusia dalam kegiatan sehari-hari. Kemudahan ini dapat dinikmati, misalnya, melalui kendaraan yang digunakan atau peralatan rumah tangga yang menggunakan energi listrik. Dengan demikian manusia perlu menemukan sumber energi baru yang dapat menjamin keberlangsungan ‘kemudahan’ yang selama ini telah dinikmati.

Belakangan ini muncul tren untuk memanfaatkan energi listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan di Indonesia, misalnya energi surya. Menurut para ahli, sumber energi ini sangat menjanjikan untuk mengganti energi fosil karena potensinya yang besar. Selain itu sebagian masyarakat bahkan memandang sumber energi ini sebagai alternatif yang lebih murah bahkan jika dibandingkan dengan energi fosil. Persepsi ini muncul karena mereka berpandangan bahwa matahari muncul setiap hari secara gratis di mana saja, sedangkan energi fosil harus diperoleh dengan cara membeli di pasaran.
Apakah benar bahwa bahkan saat ini, energi surya merupakan energi yang jauh lebih murah dibandingkan energi fosil, setidaknya bagi pelanggan listrik di Indonesia? Untuk menjawab hal ini kita harus mengerti lebih dahulu, antara lain: (1) biaya listrik yang harus ditanggung pelanggan di Indonesia, (2) Pola konsumsi listrik pelangggan/Profil Beban, dan (3) prinsip produksi-konsumsi energi surya yang ekonomis. Setelah mengerti hal-hal tersebut, selanjutnya perlu dilakukan simulasi perhitungan untuk mencari tahu solusi murah bagi pelanggan: apakah tetap menggunakan listrik dari operator listrik (PLN), menggunakan campuran energi surya, atau bahkan 100% menggunakan energi surya?
Biaya listrik yang harus ditanggung pelanggan di Indonesia
Perhitungan Biaya Listrik Konvensional (PLN)
Saat ini, pelanggan Listrik di Indonesia (rumah tangga dan bisnis) hanya dapat membeli listrik dari operator listrik tunggal yaitu PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN Persero). Per Triwulan I Tahun 2025, tarif listrik untuk pelanggan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Penetapan Tarif Tenaga Listrik (Tariff Adjustment) PLN pada Januari — Maret 2025.

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat, jika seorang pelanggan rumah tangga mengkonsumsi listrik sebesar pada bulan Maret 2025 sebesar 100 kWh, maka biaya pemakaian yang dikenakan oleh PLN kepada pelanggan adalah sebesar Rp1.444,70/kWh x 100kWh = Rp144.470,-. Hal ini tentu saja masih belum termasuk biaya Pajak Penerangan Jalan (PPJ) yang besarannya tergantung dari kebijakan Pemerintah Daerah setempat (biasanya di kisaran 3 s.d 10 persen).
Perhitungan Biaya Listrik Terbarukan (Energi Surya)
Lalu bagaimana dengan energi surya, apakah dapat dimanfaatkan secara gratis? Tentu tidak! Walaupun energi matahari tersedia secara gratis setiap hari, namun peralatan yang digunakan untuk ‘menangkap’ energi surya tersebut membutuhkan investasi dan perawatan sehingga menimbulkan biaya tertentu. Untuk menghitung biaya produksi listrik (Rp/kWh) dari pemanfaatan energi surya adalah dengan membagi Biaya Total Peralatan Energi Surya dengan Jumlah Produksi Listrik yang dihasilkan oleh peralatan energi surya tersebut, selanjutnya hal ini disebut dengan Levelized Cost of Energy (LCOE) dengan satuan “Rupiah/kWh”.
Sebagai contoh, jika suatu instalasi listrik surya membutuhkan investasi modul sebesar Rp10.000.000,- dan biaya perawatan sebesar Rp1.000.000,-/tahun dan diasumsikan ‘usia pakai’ modul dan instalasi dapat bertahan selama 8 tahun, maka Biaya Total Peralatan Energi Surya selama 8 tahun tersebut adalah sebesar Rp10.000.000,- + (8 tahun x Rp1.000.000,-/tahun) = Rp18.000.000,-. Jika selama 8 tahun tersebut total produksi yang dihasilkan peralatan tersebut sebesar 25.000 kWh, maka LCOE adalah sebesar Rp18.000.000,- / 25.000 kWh = Rp720,-/kWh.
Tabel 2. Ilustrasi (asumsi) perhitungan biaya produksi listrik tenaga surya per kWh.

Biaya Listrik Konvensional versus Biaya Listrik Energi Surya
Sebenarnya ‘pendekatan’ contoh perhitungan lainnya dapat juga dapat dilakukan secara tahunan. Misalnya, jika modul dan instalasi yang dibeli sebesar Rp10.000.000,- dengan usia pakai 8 tahun, maka biaya investasi tahunan yang timbul adalah sebesar Rp10.000.000,- / 8 tahun = Rp1.250.000/tahun. Hal ini belum termasuk asumsi biaya perawatan seebsar Rp1.000.000,-/tahun sehingga total Biaya Total Peralatan Energi Surya selama setahun adalah sebesar Rp1.000.000,-/tahun + Rp1.250.000,-/tahun = Rp2.250.000,-/tahun. Selanjutnya total biaya tahunan ini dapat dibagi dengan produksi listrik tahun itu sehingga nilai LCOE dapat diperoleh.
Perlu diingat bahwa contoh perhitungan di atas hanya berupa asumsi semata. Untuk memperoleh nilai LCOE yang akurat, maka kita perlu melakukan simulasi perhitungan dengan menggunakan data harga komponen riil dan data asumsi produksi dengan aplikasi digital tertentu. Kalaupun nilai contoh di atas dianggap benar, maka apakah LCOE energi surya sebesar Rp720,-/kWh dapat membuat pelangggan R-1/TR 2.200VA mengeluarkan biaya lebih sedikit dibandingkan jika menggunakan tarif listrik PLN sebesar Rp1.444,70,-? Jawabannya: belum tentu. Untuk itu mari kita membahas terlebih dahulu mengenai Pola Konsumsi Listrik Pelanggan / Profil Beban.
Pola Konsumsi Listrik Pelanggan (Profil Beban)
Setiap pelanggan listrik memiliki pola konsumsi berbeda-beda sepanjang hari atau dapat disebut sebagai Profil Beban harian. Hal ini dipengaruhi oleh tipe kegiatan pelanggan, jumlah orang yang mengkonsumsi listrik, maupun jenis peralatan yang digunakan oleh pelanggan.

Gambar 1. Contoh Profil Beban harian rumah tangga (kiri) dan komersial (kanan).
Sebagai contoh, pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa pada profil beban harian rumah tangga umumnya berubah-ubah sepanjang hari namun akan mencapai puncaknya pada sore hari. Hal ini karena aktivitas harian rumah tangga akan dimulai dari pagi hari pada saat orang mulai bangun dan persiapan ke tempat kerja/sekolah, sedangkan siang hari akan terdapat aktivitas-aktivitas domestik seperti mencuci, menyetrika, dan lainnya. Sedangkan aktivitas komersial cenderung konstan sepanjang pagi hingga mulai menurun pada malam hari. Hal ini karena aktivitas komersial cenderung konstan sepanjang pagi hingga menjelang malam karena penggunaan pendingin udara (AC) dan menjelang malam pelanggan mulai berkurang sehingga menurunkan aktivitas pelayanan mereka yang membutuhkan energi listrik.
Memahami konsep profil beban ini sangat penting, karena energi surya hanya dapat dihasilkan pada siang hari. Selain itu pemahaman ini juga diperlukan untuk mengetahui kapasitas modul surya yang tepat agar dapat dihasilkan pilihan paling ekonomis (yang menimbulkan total biaya serendah mungkin). Sebagai contoh, pada pada Gambar 1 (kanan), jika memang pada pelanggan komersial dipasang kapasitas modul surya yang dapat mencapai produksi puncak hingga 300 kWp, maka terdapat kelebihan sebesar 300kW — 200kW = 100kW produksi dari energi surya yang dihasilkan. Kelebihan produksi ini sebenarnya bisa saja disimpan dalam baterai, namun membeli baterai akan menimbulkan biaya baru lagi. Sedangkan menjual kelebihan listrik ke PLN tidak lagi diakomodir oleh Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) terbaru sehingga kelebihan listrik yang dijual pelanggan ke jaringan akan dianggap Rp0,-/kWh. Namun demikian keputusan membeli baterai atau tidak juga perlu dianalisis lebih dalam lagi apakah akan menimbulkan total biaya yang lebih tinggi bagi pelanggan, atau bahkan tetap lebih murah dibandingkan membeli listrik dari operator listrik (PLN).
Prinsip Produksi-Konsumsi Energi Surya Yang Ekonomis
Sebelum memahami prinsip produksi dan konsumsi tenaga listrik dari energi surya secara ekonomis, kita harus memahami konsep Total Biaya (Total Cost) yang harus ditanggung oleh konsumen tenaga listrik.
Total Biaya (Total Cost)
Apabila pelanggan listrik di Indonesia memang ingin tetap memanfaatkan energi surya dengan tujuan mendukung keberlanjutan lingkungan, bagaimana cara memanfaatkan energi surya dengan cara paling ekonomis? Untuk menjawabnya, setelah memahami konsep-konsep sebelumnya, selanjutanya kita harus memahami terlebih dahulu konsep Total Biaya (total cost) yang harus ditanggung pelanggan listrik di Indonesia dengan ilustrasi berikut.
Misalnya dua buah rumah tangga mengkonsumsi listrik dalam sebulan rata-rata sebesar 500 kWh. Kita menanggap bahwa biaya produksi listrik dari tenaga surya sebesar Rp720,-/kWh (Tabel 2) dan diasumsikan seluruh energi surya yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh pelangggan (tidak diekspor ke jaringan).
Tabel 3. Ilustrasi (contoh simulasi) total biaya energi listrik oleh pelanggan di Indonesia.

Berdasarkan Tabel 3 kita dapat melihat konsep total biaya secara sederhana. Baik Pelanggan A maupun Pelanggan B sama-sama mengkonsumsi listrik per bulan sebesar 500 kWh. Pada Pelanggan A seluruh listrik dibeli dari PLN dan Ia membayar Rp722.350,- atas listrik yang dia konsumsi. Sedangkan pelanggan B, selain membeli listrik dari PLN, ia mengkonsumsi listrik dari instalasi modul surya pribadi miliknya. Alhasil karena modul surya-nya berhasil memproduksi listrik sebanyak 260,42 kWh, maka ia pada dasarnya hanya mengeluarkan Rp533.623,- dalam satu bulan. Hal ini terdiri dari tagihan PLN sebesar Rp346.121,- dan biaya investasi+perawatan ‘bulanan’ sebesar Rp187.502,-. Berdasarkan Tabel 3 kolom 4, kita dapat menyimpulkan bahwa Total Biaya yang dikeluarkan oleh Pelanggan A adalah lebih besar dari Total Biaya yang dikeluarkan oleh Pelanggan B.
Memahami Ilustrasi Total Biaya sangat penting untuk memahami apakah pemanfaatan energi surya dapat menjadi pilihan lebih ekonomis bagi pelanggan listrik. Hal ini karena, bisa saja terdapat kondisi di mana solar panel hanya memproduksi sedikit listrik. Misalnya (contoh lainnya) instalasi solar panel Pelanggan B dengan biaya bulanan Rp187.502,- hanya dapat memproduksi listrik sebesar 100 kWh. Maka sisa 400 kWh konsumsinya akan dipenuhi dari PLN sebesar 400 kWh x Rp1.444,70/kWh = Rp577.880,-. Maka Total Biaya yang harus dibayar Pelanggan B adalah sebesar Rp187.502,- + Rp577.880,- = 765.382,-. Dalam kasus baru ini, membeli listrik PLN oleh Pelanggan A akan lebih ekonomis karena hanya sebesar Rp722.350,- (Tabel 3).
Total Biaya Solar Panel Paling Ekonomis dan Profil Beban.
Jika sebelumnya tulisan ini menerangkan cara membandingkan ke-ekonomisan biaya tenaga listrik tenaga surya dengan listrik dari operator (PLN), kali ini kita akan membahas cara memanfaatkan listrik solar panel dengan cara yang paling ekonomis. Pada prinsipnya, penentuan kapasitas tenaga surya akan sangat penting untuk mendapatkan Total Biaya serendah mungkin dari pemanfaatan tenaga surya. Penentuan kapasitas yang paling ekonomis ini akan dipengaruhi oleh Pola Konsumsi/Profil Beban dari si pelanggan.
Pemanfaatan solar panel yang paling ekonomis adalah dengan memastikan bahwa 100% produksi listrik dari solar panel yang dihasilkan tidak terbuang dan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Perlu dipahami, pemanfaaan solar ‘paling ekonomis’ artinya adalah pemanfaatan solar panel dengan Total Biaya serendah mungkin. Namun demikian, belum tentu pemanfaatan solar panel dengan pendekatan paling ekonomis akan memiliki Total Biaya yang lebih rendah daripada membeli listrik dari PLN. Untuk dapat mengerti konsep ini lebih lanjut, berikut ini contoh simulasi pada Tabel 4.
Tabel 4. Ilustrasi (contoh simulasi) total biaya energi listrik oleh pelanggan di Indonesia dengan/tanpa modul tenaga surya.

Pada ilustrasi di Tabel 4, diasumsikan pola konsumsi Pelanggan A, B, dan C adalah sama dengan jumlah konsumsi listrik bulanan yang sama, di mana Pelanggan B dan C sama-sama mengoperasikan modul surya. Namun, Pelanggan C memiliki kapasitas modul surya sebesar 3 kali lipat dibandingkan modul surya Pelanggan B, sehingga biaya investasi+perawatan bulanan modul surya Pelanggan C adalah tiga kali lipat Pelanggan B yaitu sebesar Rp187.502,- x 3 = Rp562.506,-. Namun energi listrik dari modul surya Pelanggan C hanya dapat dimanfaatkan sebesar 300 kWh dari produksi total sebesar 781,26 kWh (3 kali produksi total modul surya Pelanggan B), sehingga terdapat energi listrik dari Pelanggan C sebesar 481,26 kWh yang diekspor ke jaringan PLN yang hanya dihargai Rp0/kWh. Padahal jika memperhatikan ilustrasi pada Tabel 2 dan Tabel 3, nilai produksi listrik surya hanya sebesar Rp720/kWh, hal ini lebih murah dari tarif listrik PLN sebesar Rp1.444,70/kWh. Dengan ilustrasi di atas dapat dilihat bahwa memperbesar kapasitas modul solar panel belum tentu membuat Total Biaya yang harus ditanggung pelanggan menjadi lebih rendah.

Gambar 2. Contoh produksi versus konsumsi harian dari suatu konsumen solar PV, garis biru merupakan kurva beban setiap jam (pola konsumsi) sedangkan garis merah merupakan tingkat produksi modul solar panel setiap jam. Dapat dilihat bahwa Area 1 merupakan beban di luar waktu solar panel beroperasi (matahari belum terbit), sedangkan Area 3 merupakan konsumsi yang berhasil dipenuhi dari listrik solar panel. Sedangkan Area 2 merupakan jumlah konsumsi listrik yang tidak dapat dipenuhi oleh solar panel (sehingga diambil dari sumber lain misalnya operator PLN).
Pemanfaatan baterai memang mungkin akan meningkatkan pemakaian energi listrik surya yang dihasilkan modul solar panel, namun investasi baterai juga akan menimbulkan biaya investasi dan perawatan tambahan. Jika ingin memaksimalkan konsumsi energi listrik surya tanpa baterai, pelanggan dapat melakukan dua hal:
- Perhatikan kapasitas pemasangan agar sesuai base load konsumsi pelanggan
Melihat harga baterai yang masih relatif mahal saat ini, penentuan kapasitas pemasangan energi surya yang paling optimal saat ini adalah dengan memperhatikan base load dari profil beban pelanggan. Base Load di sisi pelanggan adalah tingkat beban (konsumsi) listrik yang berlaku sepanjang hari. Biasanya tingkat konsumsi sepanjang hari ini dihasilkan dari kegiatan peralatan seperti kulkas, pemanas nasi, dan penerangan di ruangan tertentu (24 jam).
Untuk mengetahui base load ini, pelanggan perlu mengetahui daya dan pola pemakaian yang ditimbulkan oleh peralatan elektroni-nya. Berikut ini contoh tabel untuk keperluan tersebut:
Tabel 5. Contoh Perhitungan Daya (P), Durasi Operasi (T), Konsumsi Energi (E) dan pola pemakaian tenaga listrik di suatu pelanggan.

Pada Tabel 5 diketahui suatu pelanggan memiliki 11 buah peralatan elektronik. Setiap peralatan elektronik memiliki daya, durasi operasional, dan pola konsumsi yang berbeda-beda. Dari 11 peralatan elektronik, hanya ada 3 alat yang beroperasi selama 24 jam, yaitu Lemari Pendingin (100 watt), Rice Cooker (60 watt), dan Lampu Peneranan Dapur (10 watt) dengan total daya sebesar 100 + 60 + 10 = 170 watt. Dengan demikian maka base load dari pola konsumsi ini adalah sebesar 170 watt. Sehingga, kapasitas solar panel yang paling optimal/ekonomis dipasang adalah sebesar maksimal 170 watt peak (Wp).
- Ubah pola konsumsi
Konsep lain untuk memanfaatkan energi surya yang ekonomis adalah dengan mengubah pola konsumsi yang mungkin bisa dilakukan. Sebagai contoh, Pelanggan C (Tabel 3) mungkin bisa mengubah jam nyala mesin air (Tabel 5) dari pagi dan sore hari, menjadi siang hari saja di mana tenaga surya sedang melimpah.
Kesimpulan
Pemanfaatan energi listrik dari panel surya di Indonesia berpotensi besar untuk menghasilkan Total Biaya yang harus ditanggung konsumen listrik menjadi lebih murah. Hal ini bisa diusahakan melalui Penentuan Kapasitas yang tepat sesuai Profil Beban Pelanggan dan Penyesuaian Pola Konsumsi oleh Pelanggan. Selain itu, perlu juga diperhatikan pemilihan harga komponen yang paling ekonomis dengan masa layanan yang sepanjang mungkin agar dapat menghasilkan nilai biaya produksi listrik energi surya serendah mungkin.
메타데이터
- post_id
- bc5aa7b448ef
- slug
- apakah-benar-saat-ini-listrik-dari-energi-surya-merupakan-solusi-yang-lebih-murah-bagi-pelanggan-di-bc5aa7b448ef
- url
- https://medium.com/@andreas.novier/apakah-benar-saat-ini-listrik-dari-energi-surya-merupakan-solusi-yang-lebih-murah-bagi-pelanggan-di-bc5aa7b448ef
- canonical_url
- https://medium.com/@andreas.novier/apakah-benar-saat-ini-listrik-dari-energi-surya-merupakan-solusi-yang-lebih-murah-bagi-pelanggan-di-bc5aa7b448ef
- author_url
- https://medium.com/@andreas.novier
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16