← Back to list

Dirayakan.

“Ibu salut sama kamu, padahal kemarin udah dimaki sama, Prof. Tapi kamu gak nyerah, malah makin cepet ngerjainnya.”

haechansplit · 2025-09-30 06:46 · 1 claps · 3.2 min read
#alternative-universe #ospek
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

Dirayakan.

“Ibu salut sama kamu, padahal kemarin udah dimaki sama, Prof. Tapi kamu gak nyerah, malah makin cepet ngerjainnya.”

Kaylie memberi senyum pada Bu Retna — dosen penguji yang baru saja memujinya. “Aduh, ketauan satu gedung ya, bu.” Tangan Kaylie bergerak menggaruk kepalanya, sedikit canggung mengingat kejadian ia dimaki di depan umum tersebut.

“Tapi gapapa, nak, kamu bisa buktiin kalau kamu nggak layak dimaki gitu.”

Seminar hasil Kaylie baru saja selesai, profesor pembimbing Kaylie telah memutuskan bahwa seminar tersebut berhasil. Setelah memutuskan, kedua dosen pembimbing dan salah satu dosen penguji Kaylie meninggalkan ruangan seminar. Menyisahkan Kaylie, Bu Retna dan teman-teman Kaylie yang menjadi saksi seminar tersebut.

“Iya, Bu.”

“Ibu pulang, ya, nak. Semangat mengejar sidangnya.”

Kaylie dengan cepat bergerak mendekat, “Ibu saya bantu aja bawa laptopnya.” Tawarnya sopan.

Bu retna tersenyum, kemudian mengangkat sendiri laptopnya, “Udah, itu temen kamu udah nggak sabar ngerayain.” Bu Retna kemudian menatap ke depan, dimana teman-teman Kaylie masih duduk.

Beberapa dari teman Kaylie jadi ikut tertawa. Kaylie akhirnya mengangguk, “Makasih banyak, Ibu.”

Bu Retna kembali memberikan senyumnya, kemudian berjalan keluar dari ruangan seminar hasil tersebut.

Sedetik kemudian sorakan terdengar menguasai ruangan tersebut.

“MANTEPPPPPPPPPP”

“GACOR”

“SARJANA PERTAMA KITA”

“KERENNNN!!”

“SELAMAT KAYLIE”

Di saat bersamaan, seluruh temannya itu bergerak maju ke depan. Mulai mengerumuni Kaylie. Britta, Selena, Joy, Hayungie dan Erinda yang berdiri paling depan sudah memeluk Kaylie erat.

Di belakang Kaylie, Teo modus, ikut memeluk dari belakang.

“Oi!” Uta dengan cepat menjewer Teo, menjewer cowok itu untuk tidak ikutan. “Nyari mati lu, ya!”

Selena melirik ke belakang, kemudian melepas pelukannya pada Kaylie untuk memukul Teo. “Gua aduin Deandoy lu.” Omel Selena.

Sedangkan Teo jadi cemberut menjauh. “Mumpung gak ada pawangnya.” Balas Teo santai.

“Mentang-mentang si Jeffryan PHO nggak ada, lu jadi mau ambil jobdesk dia.” Tambah Tenn mengingat Jeffryan yang tak hadir sejak awal seminar.

“Jangan samain gue sama si Profesor PHO itu!” Balas Teo tak terima dan tak tau diri juga.

Seluruh isi ruangan yang menyaksikan mereka jadi tertawa.

Setelah itu, satu persatu teman Kaylie meberikan selamat pada gadis itu. Teman-teman Kaylie dari jurusannya yang juga hadir ikut maju. Tak lupa mereka juga mengabadikan moment tersebut. Bahkan, Britta yang biasanya jadi objek kamera, hari ini ada di belakang kamera. Ia mengambil gambar untuk setiap teman Kaylie yang ingin berfoto dengan gadis itu.

Beberapa teman Kaylie juga datang membawa hadiah. Apresiasi atas pencapaian Kaylie. Untuk hari itu Kaylie dirayakan.

Di tengah perayaannya, Deandoy, Zetta dan Johnatan yang sebelumnya pergi untuk mengurus konsumsi masuk kembali ke ruangan. Di belakang mereka Jeffryan juga masuk, namun, dengan jarak yang cukup jauh. Kaylie yang awalnya tengah mengambil foto dengan Calista — salah satu teman jurusannya, jadi tehenti.

“Lu mau meluk cowok lu nggak?” Tanya Calista menggoda.

Pipi Kaylie jadi bersemu kemudian menyenggol temannya itu. “Nanti aja, ayo foto dulu.”

Tak lagi menjawab, Calista hanya tertawa kemudian merangkul Kaylie. Britta kemudian memberikan aba-aba, hingga akhirnya beberapa potret telah diambil.

Di lain sisi, Deandoy masuk dalam diam, wajahnya nampak lebih muram. Ia kemudian duduk di bangku tengah dekat Kaylie sekarang berdiri. Setelahnya, hanya diam memainkan ponselnya. Dibelakang Deandoy, Zetta dan Johnat juga nampak lebih tegang. Mereka seperti berusaha menjaga jarak dari Doy. Setelah memasuki ruangan buru-buru mereka berbaur dan membagikan makanan. Ketika Uta dan Tenn ingin menghampiri Doy, Johnat juga dengan cepat menghalangi. Baik Zetta dan Johnat seperti sedang memberikan ruang untuk Deandoy.

Sedangkan Jeffryan dari awal hanya berdiri di ujung pintu, berbicara dengan siapapun yang ada di dekatnya. Nampak seperti tak mau masuk.

Hanya melirik saja, Kaylie bisa tau ada yang aneh dengan atmosfir di antara mereka berempat. Setelah selesai berfoto dengan Calista, Kaylie dengan cepat menghampiri Doy.

Namun, baru melangkah, Zetta menariknya. “Bokap Nyokap lu dateng.” Jelas Zetta tiba-tiba.

Kaylie makin susah untuk mengolah keadaan. Semuanya terasa terlalu tiba-tiba. “Hah?”

“Iya, mereka di parkiran.”

Dahi Kaylie mengerut. Mencoba menyambungkan potongan kejadian ini. Mencari alasan semua ini. Deandoy yang nampak muram, orang tuanya yang tiba-tiba datang. Apa Deandoy kembali bertengkar dengan Papanya? Hanya itu satu-satunya alasan yang masuk akal sekarang.

Kaylie menghembuskan napasnya, lelah. Ia kemudian melanjutkan berjalan, hingga berhenti tepat di hadapan Deandoy. Ia kemudian mengambil bangku di sebelah Doy, “Sayang kenapa?”

Deandoy menoleh, lalu tersenyum. Terpaksa. Kaylie bisa merasakan senyum itu tak tulus. “Selamat sayang.” Balas Deandoy tak nyambung, kemudian merengkuh Kaylie ke pelukannya.

“Di bawah ada Mama sama Papa kamu, ketemu mereka dulu.” Setelah melepas pelukannya, Deandoy bangkit berdiri. Ia mengaitkan jemarinya pada jemari Kaylie.

Kaylie tak bergeming, ia tetap duduk, “Papa komen yang aneh-aneh lagi, ya?” Tatapan Kaylie terkunci pada Deandoy.

Sedangkan Deandoy malah berusaha mengalihkan pandangannya. Kaylie tak penah melihat kekasihnya seperti ini, seperti tak percaya diri.

“Enggak, sayang. Ayo, ketemu dulu.”

Kaylie paham sekarang bukan waktu tepat untuk mereka membicarakan ini. Tak tepat di depan semua teman-temannya. Akhirnya Kaylie hanya bisa setuju. Ia bangkit dengan tak semangat. Kemudian berjalan mengikuti Deandoy yang berjalan lebih dahulu.

Tepat ketika mereka berada di dekat pintu, genggaman Doy jadi lebih erat. Rahangnya juga nampak mengeras, ia melewati pintu dengan lebih cepat. Bahkan tanpa sadar membuat Jeffryan jadi mundur, hingga terbentur pintu.

Ruangan seminar tersebut berubah jadi lebih hening dan tegang.


메타데이터
post_id
bc91593f87c3
slug
dirayakan-bc91593f87c3
url
https://medium.com/@rruthagnes/dirayakan-bc91593f87c3
canonical_url
https://medium.com/@rruthagnes/dirayakan-bc91593f87c3
author_url
https://medium.com/@rruthagnes
status
ok
fetched_at
2026-06-27 07:40:21