← Back to list

Ibuku dan Bawang Merah Goreng

Aku baru sadar kalau sudah lama tidak ada bawang merah goreng di kulkas rumah.

anggit · 2026-05-24 13:23 · 3 claps · 2.7 min read
#lung-cancer #moms #ibu #keluarga
Open on Medium ↗

Ibuku dan Bawang Merah Goreng

Aku baru sadar kalau sudah lama tidak ada bawang merah goreng di kulkas rumah.

visualisasi diriku saat menulis

visualisasi diriku saat menulis

Jujuuuuur.. aku bahkan tidak ingat terakhir kali melihat toplesnya masih penuh. Atau setidaknya masih ada sedikit sisa di dalamnya. Semuanya seperti hilang pelan-pelan saja, lalu tiba-tiba sekarang sudah tidak ada sama sekali.

Padahal dulu itu termasuk salah satu hal yang pasti ada.

Ibuku memang sering membuat bawang merah goreng sendiri. Disimpan di kulkas untuk tambahan masakan atau sekadar topping kalau kami makan apa pun yang rasanya cocok ditambah bawang goreng, dan honestly, hampir semua makanan terasa cocok kan?

Aku nggak pernah benar-benar memikirkan keberadaannya sebelumnya, karena memang selalu ada.

Setelah ibu sakit, banyak hal di rumah berubah, tapi kebanyakan tidak langsung terasa.

Mungkin karena perubahannya terjadi sambil jalan. Dari bolak-balik rumah sakit sejak Januari, lalu diagnosa lung cancer (#FuckCancer) di Februari, sampai ibu yang sekarang sehari-harinya lebih banyak di tempat tidur dan dibantu pramurukti di rumah. Bahkan sampai akhir Maret kemarin pun masih memakai bantuan oksigen.

Di tengah semua itu, ternyata ada hal-hal kecil yang ikut berhenti, dan aku baru sadar belakangan. Salah satunya bawang merah goreng itu.

Dulu waktu mengerjakan skripsi, sudah lamaaa sekali.. awal tahun 2020 kira-kira. Ibuku membantuku membuat bawang merah goreng untuk sample penelitian. Skripsiku membahas persepsi konsumen terhadap bawang merah umbi dan biji, jadi perlu dibuat versi bawang gorengnya supaya orang-orang sebagai konsumen akhir bisa mencoba dan membandingkan.

Kalau tidak salah masing-masing sekitar dua kilo. Sekarang terdengar agak lucu memikirkannya. Skripsi tentang bawang merah, lalu ibu ikut membantu menggoreng bawang dalam jumlah sebanyak itu.

Dan seperti biasanya, beliau mengerjakannya dengan serius, dengan kasih sayang penuh.

Sekarang ibu sebenarnya sudah jauh lebih sehat dibanding beberapa bulan lalu. Sudah tidak memakai oksigen lagi setiap hari, sudah bisa banyak mengobrol juga, walaupun masih menjalani kemoterapi obat oral dan tentu belum bisa banyak beraktivitas seperti dulu.

Tapi ya memang ada hal-hal yang belum kembali. Ibu belum memasak lagi. Bukan karena aku hanya memandang beliau dari masakannya, tapi Ibu berkata sendiri kalau rindu memasak untuk keluarganya.

Tidak perlu bertanya, rumah tentu saja terasa berbeda. Bukan karena suasananya berubah total atau tiba-tiba jadi muram seperti di film-film. Semuanya masih berjalan seperti biasa. Televisi tetap menyala, orang-orang tetap makan, dapur tetap dipakai. Berbeda karena pusat tata surya kami sedang terluka, you know, sedang tidak baik-baik saja.

Hanya saja, ada beberapa bagian yang sekarang terasa seperti dijalankan seperlunya. Aku jadi sadar kalau banyak hal yang dulu terasa “normal” sebenarnya terjadi karena ibu terus melakukannya secara konsisten dalam waktu yang sangat lama.

Stock bawang goreng itu salah satunya.

Tidak ada yang pernah meminta secara khusus, tapi selalu dibuat. Tidak pernah dibahas juga, tapi kalau habis biasanya tiba-tiba sudah ada lagi.

Mungkin memang begitu ya, cara seorang ibu bekerja di rumah. Banyak hal yang dilakukan sampai keberadaannya terasa otomatis. Sampai suatu hari berhenti, lalu semua orang baru sadar ternyata itu ada karena seseorang terus menjaganya tetap ada.

Belakangan ini aku juga jadi nggak terlalu nyaman kalau terlalu lama meninggalkan rumah. Kalau ada kesempatan, pasti pulang saat weekend.

Padahal ibu sekarang kondisinya relatif baik. Tapi entah kenapa rasanya tetap berbeda.

Mungkin karena beberapa bulan terakhir membuatku sadar kalau keadaan bisa berubah sangat cepat. Atau mungkin karena sekarang aku jadi lebih memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya nggak pernah kupikirkan.

Seperti toples bawang goreng yang kosong itu.

Dan anehnya, dari semua perubahan besar yang terjadi tahun ini, justru itu yang paling lama tinggal di kepala. Bukan suara alat bantu pernapasan. Bukan bau kamar rawat inap rumah sakit dan lorongnya. Bukan juga hasil pemeriksaan yang waktu itu rasanya sulit dipercaya.

Tapi bawang merah goreng yang sudah lama nggak ada di kulkas rumah.

aku sekeluarga di depan orang-orang

aku sekeluarga di depan orang-orang


메타데이터
post_id
bc968ef3ebcf
slug
ibuku-dan-bawang-merah-goreng-bc968ef3ebcf
url
https://medium.com/@thephysalis/ibuku-dan-bawang-merah-goreng-bc968ef3ebcf
canonical_url
https://medium.com/@thephysalis/ibuku-dan-bawang-merah-goreng-bc968ef3ebcf
author_url
https://medium.com/@thephysalis
status
ok
fetched_at
2026-06-09 14:34:10