Jangan selalu Merasa Spesial Dihidup Orang Lain, kita Bukan Martabak.
Merasa spesial adalah hal yang manusiawi. Hampir setiap orang ingin menjadi bagian penting dalam hidup seseorang diingat, diperhatikan…
Photo by Timon Studler on Unsplash
Jangan selalu Merasa Spesial Dihidup Orang Lain, kita Bukan Martabak.
Merasa spesial adalah hal yang manusiawi. Hampir setiap orang ingin menjadi bagian penting dalam hidup seseorang diingat, diperhatikan, dijadikan prioritas.
tapi sering kali, keinginan itu tumbuh menjadi ketergantungan yang tidak disadari. Kita mulai menempatkan orang lain sebagai sumber kebahagiaan, menjadikannya penentu tenang atau tidaknya hati kita. Ketika mereka tidak membalas perhatian dengan kadar yang sama, kita kecewa dan menyimpulkan bahwa mereka berubah, padahal yang berubah adalah cara kita menggantungkan makna hidup pada mereka.
Perasaan ingin diistimewakan seringkali disamakan dengan cinta. Kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati, berharap mereka juga mencintai kita dengan cara yang sama. Tapi begitu mereka tidak menaruh kita di posisi yang sama tinggi, kita merasa direndahkan.
Kita lupa, rasa istimewa itu tidak bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita, tapi dari bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. cinta yang tulus bagiku tidak menuntut timbal balik yang sempurna, ia hanya meminta untuk tetap tumbuh tanpa beban.
Hubungan yang sehat, baik dalam pertemanan maupun percintaan, selalu membutuhkan ruang untuk bernegosiasi. Ruang untuk memahami batas antara harapan dan kenyataan. Kita perlu belajar bertanya pada diri sendiri: apakah kasih sayang yang kita berikan tulus, atau sekadar ingin dibalas? Apakah kita mencintai seseorang karena mereka membuat kita bahagia, atau karena kita takut kehilangan rasa berharga yang hanya muncul saat mereka hadir? Sebab jika cinta selalu diukur dari seberapa besar orang lain mengistimewakan kita, maka yang kita kejar bukanlah cinta, tapi validasi.
Kebanyakan orang tidak sadar bahwa mereka sering menjadikan orang lain sebagai pengisi kekosongan diri. Mereka berharap kasih sayang bisa menambal lubang di hati yang tidak pernah terisi sejak lama. Lalu ketika orang itu gagal memenuhi ekspektasi, mereka merasa dikhianati. Padahal, tidak ada satu pun manusia yang bertugas mengisi kekurangan orang lain. Setiap orang hanya bisa menambah bukan melengkapi.
Ada sebuah kalimat yang pernah aku baca;
“Hubungan kekasih tidak harus selalu saling mengisi, bisa juga saling menambah.”
Cinta yang matang tidak berangkat dari rasa kurang, tapi dari rasa cukup. Dua orang yang sama-sama utuh tidak saling menuntut untuk menjadi pusat semesta satu sama lain; mereka hanya berjalan berdampingan, saling menumbuhkan, saling menenangkan, tanpa merasa perlu menjadi satu-satunya sumber bahagia.
Salam Hangat, Fadhilrey
메타데이터
- post_id
- bc9bb9dedd45
- slug
- jangan-selalu-merasa-spesial-dihidup-orang-lain-kita-bukan-martabak-bc9bb9dedd45
- url
- https://medium.com/@fadhilrey10/jangan-selalu-merasa-spesial-dihidup-orang-lain-kita-bukan-martabak-bc9bb9dedd45
- canonical_url
- https://medium.com/@fadhilrey10/jangan-selalu-merasa-spesial-dihidup-orang-lain-kita-bukan-martabak-bc9bb9dedd45
- author_url
- https://medium.com/@fadhilrey10
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31