← Back to list

Again, Mau Gak?

Rumah dengan konsep klasik dipenuhi koleksi peralatan keramik yang begitu cantik menjadi lokasi pertama untuk pemotretan majalah kali ini…

ger · 2026-04-30 13:25 · 7 claps · 6.6 min read
#soogyu #soobin #beomgyu
Open on Medium ↗

Again, Mau Gak?

Rumah dengan konsep klasik dipenuhi koleksi peralatan keramik yang begitu cantik menjadi lokasi pertama untuk pemotretan majalah kali ini. Tidak hanya fotografer dan penata rias, cameramen untuk merekam video balik layar dari konten ini pun sudah siap.

Soobin dan Beomgyu mulai diarahkan di berbagai sudut ruangan dan dipotret bergantian. Pakaian yang mereka gunakan memliki tema hangat, warna krem kecoklatan dipadukan dengan jaket kulit hitam. Semua terasa sangat sempurna.

Setelah pemotretan individu selesai, mereka kembali diarahkan untuk melakukan foto unit di salah satu set area makan yang memiliki kursi dan meja. Terdapat gelas yang berisi teh sebagai aksen tambahan dan pose seakan meminumnya.

“Soobin coba gayanya lebih candid, gak usah diangkat gelasnya. Tangannya ditumpu di kepala terus nengok arah lain.”

Soobin menurut dengan arahan yang diberikan. Tatapannya lurus ke arah luar, berbeda dengan Beomgyu yang belum mengambil posisi dan masih sibuk memperhatikannya.

“Gaya yang bener, jangan liatin gue.” Beomgyu tersentak dan tersenyum berusaha meredakan perasaan yang aneh dalam dirinya.

“Apaan sih dih,” balasnya ceria. Soobin mengerutkan keningnya, pemuda di hadapnnya masih saja melayangkan tatapan padanya. “Jangan liatin muka gue, dibilangin,” ucapnya sekali lagi.

Kali ini Beomgyu tertawa kecil dan akhirnya mengalihkan pandangannya. “Katanya gak boleh diliatin, lebay kan,” adunya pada kamera yang sedang merekam.

“Ini aku pegang gelas aja kan?”

“Iya, biar gak monoton dan sama kayak Soobin.”

Beomgyu kembali mengangkat cangkir berisi teh dan berpose hangat ke kamera yang mulai memotretnya. Sekilas matanya melirik pada Soobin yang masih pada posisi sebelumnya, menumpukan tangan pada kepalanya. Namun, pandangan pemuda itu kini sepenuhnya kepada dirinya.

Orang-orang yang berada di sana seperti patung yang tidak telihat di mata Soobin. Atensinya hanya kepada seseorang yang sibuk tersenyum menatap kamera dengan segelas teh di tangannya. Oh lihat, manis di teh itu sepertinya diserap habis oleh sang pemilik senyum.

Seseorang yang ditatap hanya terus berusaha profesional diantara para pekerja yang sedang melakukan pekerjaan mereka. Begitu juga dirinya sebagai model majalah. Namun, tatapan dari Soobin sedikit mengganggunya. Ada debaran kasat masa yang terasa kencang di dadanya, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain terus berpose di depan kamera.

Ketika kamera diturunkan, Beomgu melepaskan cangkir dan balik menatap Soobin dengan tatapan kesal. “Iya tau gue ganteng, liatin aja terus sampe mimisan,” sarkasnya tiba-tiba.

Soobin hanya tertawa dan mengalihkan pandangannya sebentar, sebelum kembali menatap Beomgyu dengan lekat. Pemotretan terus berlanjut, masih di tempat yang sama. Namun, kali ini hanya Beomgyu yang disorot penuh. Posenya sedikit menunduk dibalut senyuman tipis, tangannya mengepal dan berumpu di pipinya. Pemandangan yang jarang Soobin dapatkan.

Waktu istirahat tiba, Soobin dan Beomgyu dipersilakan untuk bebas melakukan apapun. Keduanya melihat sebuah kamera dan mulai menggunakan bergantian, saling memotret satu sama lain. Setidaknya semenjak malam itu, memang tidak ada lagi kecanggunggan di antara mereka. Kondisi sudah kembali seperti semua meskipun tidak ada status yang pasti.

Terkadang, pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benak Beomgyu. Apakah situasi mereka seperti sekarang merupakan hal yang seharusnya dijalankan? Apakah dirinya terlalu memaksa jika meminta status yang pasti kepada Soobin? Pernyataan Soobin ketika ulang tahunnya sedikit membuat dirinya berharap akan adanya suatu peran yang pasti. Namun, kata “teman” begitu melekat di antara keduanya, membuat ia mengubur dalam harapan itu.

“Siap-siap ya, abis ini mau lanjut ke pemotretan di balkon.”

Beomgyu masih sibuk menunjukkan kepada Soobin hasil foto-foto yang dia tangkap tadi. “Iya cantik.” Pujian tiba-tiba itu membuat Beomgyu tersenyum lebar. Jarang sekali pemuda itu mau memujinya jika di publik seperti ini. Biasanya, butuh pancingan yang panjang supaya bisa mendengar pujian itu.

“Oh iya, Beomgyu.”

“Hum?”

“Mau gak, kalo jadi pacar aku lagi?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Keduanya mematung di tengah keheningan. Suara Soobin terlampau kecil dari sebelumnya, tetapi Beomgyu masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Tidak ada jawaban yang dilontarkan. Atmosfer hangat perlahan memudar mendatangkan hawa dingin di antara mereka. Pertanyaan Soobin merupakan suatu hal yang tidak bisa Beomgyu duga. Ia baru saja memikirkan ketidakmungkinan akan hubungan mereka.

“AYO PINDAH KE BALKON YA.”

Suara dari staf mengintrupsi keduanya. Beomgyu bergegas menuju balkon tanpa menghiraukan Soobin yang tersenyum tipis. Pemuda itu menghela napas berat, mungkin diamnya Beomgyu merupakan jawaban dari pertanyaan.

Sejak awal ini memang salahnya. Memutus hubungan secara sepihak karena masalah pribadi yang sedang mengganggunya. Kata-kata jahat secara tidak sengaja meluncur dari mulutnya setelah pulang dari pantai hari itu.

“Kayaknya, it’s better for us to go back to being just friends.”

“Kak?”

“Hubungan kita gak sehat, Gyu. Being in a relationship within the same friend group, selalu bersikap gak terjadi apa-apa padahal gue nahan cemburu. You always teased me about it. Lebih baik kita temenan aja kayak sebelumnya.”

Dentuman keras membuat Soobin menoleh. Tidak, Beomgyu tidak membanting apapun. Soobin berbicara tanpa menatapnya sama sekali. Pernyataan secara sepihak. Ponselnya tidak sengaja terlepas karena terlalu lemas mendengar apa yang katakan Soobin.

“Gue gak pernah permasalahin lo yang cemburu. I loved it. Gue selalu suka lo cemburu, karena itu artinya lo sayang dan — ”

“Suka? Terus? Karena lo suka, lo selalu mancing supaya gue cemburu. Akhirnya lo juga yang ngeledek gue perkara cemburu cemburu terus. Baru yang itu, terus — ”

“APALAGI KAK? Kalo cuma itu yang lo permasalahin, you’re fucking childish.”

Keduanya saling memotong ucapan satu sama lain dengan intonasi yang lebih tinggi. Tidak ada yang mau kalah. Memang sifat mereka yang satu ini tidak mungkin tidak diketahui. Bahkan, Soobin yang biasanya bisa mengalah kali ini tidak berusaha lebih tenang sedikitpun.

“Hubungan kita selesai, Gyu. Lo sama gue, kita temen. Kayak sebelumnya.” Final Soobin. Ia berbalik membelakangi Beomgyu.

“Lo brengsek banget, Kak.”

Setelah mengatakan itu Beomgyu keluar dari kamar Soobin. Seharusnya malam ini mereka tidur di satu kamar yang sama. Meskipun diberikan kamar masing-masing selama berada di hotel, mereka sering bergantian menempati kamar satu sama lain untuk tidur bersama. Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi untuk malam ini, atau bahkan malam-malam selanjutnya.

“Soobin,” panggil salah satu pengarah.

Mereka mulai kembali mengarahkan pose untuk pemotretan berikutnya yang berada di luar ruangan. Kali ini, pemotretan unit dilakukan sedikit lebih intens. Jarak keduanya begitu dekat, berdiri bersandingan dengan pagar balkon menjadi sandaran.

“Kami akan foto dengan wajah kalian yang menempel.”

Beomgyu menatap Soobin ragu, tapi berubah dalam detik berikutnya. “Kalo gitu dia harus munduran soalnya kepalanya besar.” Berusaha mencairkan suasana, karena ia menyadari hadirnya kecanggungan setelah pemuda itu melontarkan pertanyaan yang tidak terduga.

Senyum terulas di wajah Soobin diiringi tawa kecil. Menganggap perkataan Beomgyu begitu lucu, “Perlu lebarin kaki atau enggak? Biar tingginya imbang.”

“Kalo bersedia ya silakan.”

Soobin melebarkan kaki dan sedikit merendahkan dirinya supaya setara dengan Beomgyu. Kepala mereka mulai bersinggungan dan pipi mereka bertemu satu sama lain. Soobin bisa merasakan kulit halus Beomgu menyentuh kulitnya. Mereka benar-benar menempel.

Posisi mereka dipertahankan cukup lama, atau setidaknya itu yang dirasakan keduanya. Beomgyu nyaris menahan napas ketika merasakan kulit mereka bersentuhan. Debaran itu kembali kencang membuat Beomgyu ingin berteriak.

“Soobin bisa agak mundur dikit, nempel gitu bagus tapi agak kasih jarak ya,” saran pengarah yang mengundang tawa Beomgyu diselingi teriakan yang sebelumnya terpendam.

“Katanya munduran, hahaha, kepalanya keliatan besar banget itu di kamera.”

Tidak ada tanggapan apapun dari Soobin selain senyum lebar. Dirinya tertangkap basah jika dengan sengaja mendekatkan dirinya dengan Beomgyu. Ia bisa melihat respon dari para staf yang berusaha menahan tawa akan aksinya.

Namun, perkataan Beomgyu mengarah pada ledekan terhadap ukuran kepala yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Maka, Soobin hanya menanggapinya dengan senyum tanpa berniat menimpalinya sama sekali. Lagipula, ekspresi Beomgyu saat ini begitu bahagia, dan sudah lama tidak ia lihat.

“Foto sekali lagi ya.”

Mereka kembali pada posisi yang begitu dekat dan mengundang tawa kecil dari staf karena menyadari aksi Soobin yang tetap berusaha menempelkan dirinya pada Beomgyu dengan sangat intens. Melupakan sebentar tentang penolakan tidak langsung dari Beomgyu sebelumnya.

“Oke, abis ini kita pindah lokasi, ganti baju terus mulai dua jam lagi.”

Tidak ada waktu untuk mereka sekedar berbincang. Soobin bahkan sudah tidak mengungkit pertanyaannya tadi, membuat Beomgyu dipenuhi pertanyaan. Sebenarnya Soobin serius dengan ucapannya atau tidak.

Keduanya sudah berganti pakaian dengan konsep yang sedikit lebih mewah dan bersiap untuk pemotretan. Kali ini mereka diarahkan untuk bersandar satu sama lain. Beomgyu menyamankan kepalanya di punggung Soobin sebelum akhirnya fotografer tersenyum lebar dan mengambil gambar.

Konsep selanjutnya lebih kasual dan mereka kembali berganti pakaian. Pemotretan kali ini hanya menggunakan latar biru dan kursi yang ditempati oleh keduanya. Mereka kembali diarahkan untuk menempelkan wajah satu sama lain. Beomgyu menoleh sekilas memberikan sapuan halus napasnya pada wajah Soobin yang hanya fokus pada kamera.

“Aku mau.”

Mata Soobin sontak membesar mendengar jawaban Beomgyu. Belum sempat menoleh, fotografer sudah memberikan aba-aba untuk mempertahankan posisi mereka.

“Soobin ganti pose bebas, Beomgyu ekspresinya bagus lanjut.”

Mendengar ucapan pengarah, Soobin dengan santai mengangkat tangannya untuk merangkul bahu Beomgyu. Ia menarik tubuh itu lebih dekat dengannya, bahkan sampai ujung kepala mereka berbenturan tipis.

“Oke, sudah selesai semua untuk hari ini.”

Tepuk tangan menjadi penutup jadwal hari ini. Baik Soobin, Beomgyu, staf, dan pekerja lainnya saling mengucapkan terima kasih satu sama lain. Mereka mengakhiri dengan sesi wawancara singkat untuk video balik layar dan berpamitan.

“Jadi, pacar?” Soobin menatap Beomgyu yang sibuk memainkan jari. Pemuda itu mengkat kepala yang lebih muda untuk menatapnya.

“Iya...”

Satu kecupan singkat mendarat di bibir tipis Soobin. Mematung sebentar sebelum akhirnya menyadari jika dirinya ditinggal oleh sosok yang kembali berstatus sebagai kekasihnya. Ia menyusul Beomgyu yang sudah terduduk santai di kursi mobil padahal belum ada satu pun staf yang bersiap pulang.

Pintu belakang tertutup rapat. Soobin memandang area luar mobil, memastikan tidak akan ada yang datang dalam waktu dekat. Pandangannya beralih menuju Beomgyu yang sibuk dengan ponselnya.

Dalam satu gerakan, Soobin menarik Beomgyu keluar dari kursinya. Memeluk pinggangnya tepat setelah kedua bibir mereka menyatu. Lenguhan keluar dari Beomgyu merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Soobin. Ciuman yang entah kapan terakhir kali mereka lakukan.

Beomgyu selalu menyukai bagaimana cara Soobin menciumnya. Bagaimana pemuda tinggi itu memberikan lumatan halus pada bibirnya hingga kekurangan pasokan oksigen. Beomgyu suka semua hal yang dilakukan Soobin terhadap dirinya. Jemarinya menggenggam erat pakaian Soobin, membuat sang pemilik tersenyum di sela-sela ciuman mereka.

Suara pintu terbuka membuat keduanya reflek melepaskan ciuman mereka. Beomgyu bergegas kembali ke kursinya dan kembali memainkan ponsel seakan tidak terjadi apapun. Meskipun terlihat sekali jika dirinya sedang berusaha mengatur napasnya. Sedangkan Soobin hanya tersenyum tipis, sesekali menatap Beomgyu yang tidak menghiraukannya sama sekali selama perjalanan pulang.

What a good day…


메타데이터
post_id
bcb96cff5a2e
slug
again-mau-gak-bcb96cff5a2e
url
https://medium.com/@grudgeraa/again-mau-gak-bcb96cff5a2e
canonical_url
https://medium.com/@grudgeraa/again-mau-gak-bcb96cff5a2e
author_url
https://medium.com/@grudgeraa
status
ok
fetched_at
2026-07-14 08:13:23