Aku Pulang, Walaupun Sekarang Rasanya Berbeda
Sepenggal Cerita Milik Wafa dan Dyaka
Aku Pulang, Walaupun Sekarang Rasanya Berbeda

Cr. pinterest
[embed]This story inspired by this song🤍 cr. spotify
Prolog
Sayup-sayup dari ruangan yang gelap ini terdengar gema takbir melalui pelantang suara di luar sana. Diiringi dengan suara dari arah dapur yang sudah hidup, walaupun tak sepagi satu bulan terakhir.
Rasa ini sungguh asing untuk salah satu lelaki yang tinggal di sudut rumah ini. Rumah yang terasa hidup untuk menyambut hari kemenangan, tidak familiar baginya. Paling tidak untuk beberapa tahun terakhir ini.
Biasanya, Ia masih berjibaku dengan shift kerja saat di kota rantau. Tetapi, tahun ini berbeda, Ia memutuskan pindah. Sepertinya suasana ini akan Ia rasakan hingga tahun-tahun mendatang.
Walaupun, ada rasa yang sama tetap dirasakan sedari beberapa tahun terakhir. Rasa yang entah akan sampai kapan tetap akan dirasakan. Perihal kekosongan dan kehilangan yang lebih nyata terasa di momen hari kemenangan.
Tahun lalu berjuta alasanku
"Maaf, Bu mas belum bisa pulang. Mas masih jaga, belum dapet libur," kata lelaki itu melalui sambungan telepon.
"Yawes ndak papa, Le. Berarti adekmu pulang sendiri. Kamu ndak papa sendirian disana? Apa bapak sama ibu nanti kesana sekalian antar adekmu pulang?" Jawab Ibu di ujung sana.
"Ndak usah, Bu. Nanti merepotkan bapak sama ibu. Kan bapak sama ibu dah sepuh, gampang capek. Apalagi kalau lebaran tamu banyak, belum kalau sowan ke yang lain. Nanti biar mas aja yang pulang kalau dapet libur agak panjang.” Jawabku panjang kepada ibu.
"Yawes, Le kalau gitu. Jaga kesehatan ya, Le." Pungkas ibu.
Di ujung sana, setelah ibu menutup telepon dari anak sulungnya, Ia terdiam dengan pandangan jauh ke depan. Beberapa saat kemudian berucap pada anak bungsu di sampingnya, “Masmu tuh sesibuk itu to, Le?”
“Lumayan lah, Bu. Mas kan lagi jadi residen. Pulang ke rumah juga jarang. Aku loh bisa seminggu gak ketemu dia,” jawab Dyaka si anak bungsu sembari menerawang ingatan ke beberapa bulan belakang.
“Masih sama nak Tisha gak to, Le?” lanjut tanya ibu pada anaknya.
“Ketemu aja aku jarang, Bu. Gimana bisa tahu masih sama Mbak Tisha atau enggak. Tapi, seingetku bulan lalu Mbak Tisha sempet ke rumah ambil barangnya mas. Katanya mau nemuin mas di rumah sakit.” Jawab Dyaka.
“Kadang ibu tuh khawatir, Le. Masmu itu kan gak kayak kamu yang suka cerita ke ibu, apalagi kalau gak ditanya. Takutnya sebenernya dia kesusahan, tapi gak cerita,” jelas ibu pada Dyaka dengan perasaan khawatir pada Wafa, anak sulungnya.
“Mas tuh emang gitu sih, Bu. Tapi, nanti kalau ada waktu Dyaka ajak bicara. Ibu gak usah khawatir, ya? Sekarang yuk ke depan, tadi bapak udah nunggu untuk foto bareng. Bertiga dulu ya, Bu? Semoga tahun depan formasinya lengkap sama mas, syukur-syukur mas udah bawa Mbak Tisha juga,” ajak Dyaka kepada ibu untuk ke teras depan rumah.
Tapi, ternyata harapan itu pupus. Karena setahun berselang formasi foto ini semakin berkurang.
Dan tahun ini ku bisa pulang. Ku bertamu di rumah barumu
Tempat ini cukup asing baginya. Hanya dua kali hitungan untuk mendatanginya, itupun Ia tak terlalu mengamatinya. Saat itu pikiran lelaki itu, Wafa si anak sulung, mengambang mempertanyakan apakah ini nyata atau hanya mimpi belaka. Harus mengantarkan kepergian dua orang kesayangannya dalam kurun waktu kurang dari setahun ke tempat peristirahatan terakhir. Tak pernah ada di bayangannya. Ia pikir momen itu masih lama. Tapi, nyatanya? Kenyataan pahit itu cukup menghantamnya.
Ia tak pernah menyadari bahwa sudah lama tak menginjakan kaki di tempat ini. Ia memang sengaja. Tak pernah menginjakan kaki disini selepas mengantarkan kepergian orang tuanya dahulu. Menjauhi tempat ini merupakan caranya untuk menghindari rasa sakit dan sedih akan kehilangan.
Berbeda dengan Dyaka, si anak bungsu. Ia sudah beberapa kali mendatangi pusara kedua orang tuanya. Ia sering pulang ke kota ini selepas kepergian orang tuanya. Bisa dibilang bahkan lebih sering dibandingkan sebelum orang tuanya berpulang. Cukup miris. Namun, itu cara Dyaka menebus rasa sesal dan rindu pada orang tuanya.
Maka pada hari ini di hari kemenangan yang baru, kedua kakak adik berjalan bersama mengunjungi rumah abadi orang terkasih. Mengumpulkan keberanian dan juga kerinduan yang sangat dalam kepada dua orang yang telah beristirahat dengan tenang sejak beberapa tahun silam.
“Ibu, Bapak Mas akhirnya datang setelah sekian lama. Mas kangen sekali,” ucap Wafa dalam hati.
“Ibu, bapak Adek akhirnya bisa datang sama Mas. Adek kangen sekali menjadi anak bungsu kalian,” ucap Dyaka dalam hati.
Keduanya bersimpuh dengan salah satu tangan memegang nisan dan satu tangan lagi mengadah. Lantunan doa terpanjat dari batin masing-masing. Khidmat penuh permohonan yang tulus dari keduanya dengan kepala yang tertunduk. Serta, langit cerah dengan udara pagi yang sejuk mungkin menjadi tanda bahwa mereka disambut dengan baik oleh kedua orang terkasih.
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir. Manusia ini kehilanganmu
“Nih, Mas,” Ucap Dyaka menyodorkan air mineral dingin kepada kakaknya, Mas Wafa.
Selepas selesai ziarah ke pusara kedua orang tua, dua orang kakak-beradik itu beristirahat di bangku dekat tempat parkir makam. Belum ada yang bersuara setelah sodoran minum dari Dyaka ke Wafa. Mereka berdua tenggelam pada pikiran masing-masing.
“Tahun terakhir lebaran sebelum ibu berpulang, padahal aku janji sama ibu kalau tahun selanjutnya formasi foto keluarga kita lengkap, Mas. Bahkan berharap mas juga bawa Mbak Tisha,” ucap Dyaka memecah keheningan diantara mereka berdua dengan pandangan tetap lurus ke depan.
“Tapi, ya namanya manusia cuman bisa berencana kan, Mas?” tanyanya pada Wafa di sebelahnya.
Sedangkan wafa mengamini dalam hati dengan anggukan kecil yang samar terlihat dari ujung mata Dyaka.
“Aku juga padahal udah janji sama ibu mau ngajak mas ngobrol. Ibu khawatir sama mas, karena mas beda sama aku yang suka tiba-tiba telepon bapak atau ibu untuk cerita random,” lanjut Dyaka karena merasa tidak ada respon dari kakaknya.
“Gak tau ya, Dek. Rasanya mas tuh masih bingung,” ucap Wafa untuk pertama kalinya sejak Ia menginjakan kaki ke pemakaman.
“Untuk itu, Mas. Coba bagi ke aku biar kita bisa saling memahami. Aku tuh apa ya, bingung juga harus bahas tentang bapak ibu ke mas gimana? Aku ngelihat mas kayak menghindar dari pembahasan tentang bapak dan ibu. Dari hari H kepergian ibu, kepergian bapak, terus mas yang memilih gak pernah nyekar ke makam bapak ibu. Aku tahu mas juga terpuruk, aku pun sama,” jawab Dyaka panjang mengungkapkan rasa bingungnya selama ini.
“Waktu bapak gak ada, mas bingung. Rasanya kayak masih ngeraba sama apa yang barusan terjadi. Apalagi ngeliat ibu seterpuruk itu, baru pertama kali mas lihatnya, Dek. Waktu itu di pikirannya mas, mas cuman pengen jadi kuat untuk kalian berdua karena mas anak sulung yang akan gantiin peran bapak,” cerita Wafa panjang setelah sekian lama.
“Tapi, mas gak perlu sebegitunya. Rasa-rasanya aku juga masih belum bisa sepenuhnya menerima. Bohong banget kalau aku bilang sudah ikhlas. Aku masih ingin ada bapak sama ibu yang menyambut aku ketika pulang ke rumah,” sela Dyaka menimpali Wafa.
“Mas tahu, Dek. Mas juga belum sepenuhnya ikhlas dengan kepergian bapak dan ibu. Tapi, ya bagaimana lagi? Apalagi pas ibu gak ada sekitar 7 bulan berselang setelah bapak pergi. Mas makin bingung, karena gimanapun duka kehilangan bapak belum sembuh. Kemudian ibu menyusul. Rasanya semakin hari semakin mengambang, gak tahu hidup arahnya mau kemana. Waktu itu juga posisinya mas sudah gak sama Tisha,” lanjut Wafa bercerita.
“Maka dari itu mas memilih menghindar? Menahan apa yang mas rasakan selama ini?” Tanya Dyaka.
“Mas pikir dengan menyibukan diri dengan seluruh beban kerja dan jauh dari kota yang membesarkan kita itu bisa membuat mas terbiasa. Terbiasa akan kehilangan dan kesepian,” jawab Wafa sembari menolehkan kepala kepada adiknya.
“Tapi nyatanya rasa sakitnya masih ada ya, Dek?” ucap Wafa lirih dengan kepala yang makin tertunduk.
“Mas tuh apa ya, gak perlu untuk selalu terlihat kuat. Apalagi cuman ke aku, aku adekmu, Mas. Satu-satunya keluarga mas yang siap menerima kondisi mas dengan bentuk apapun. Kalau mau nangis dan hancur, ayo bareng berdua,” ucap Dyaka menenangkan.
“Aku khawatir dari awal, Mas. Mas gak pernah terlihat menangis sedikitpun dari kehilangan bapak maupun ibu. Aku malah lebih khawatir. Aku, aku juga sedih, Mas. Rasanya sakit sekali disini,” ucapnya dengan tangan menunjuk ke dada.
Wafa menolehkan kepalanya dan merasa sangat sedih melihat adik satu-satunya meluapkan rasa sedih dan sakitnya dengan air mata yang tak berhenti turun.
“Aku pengen berbagi rasa supaya gak terlalu sakit, biar gak terlalu sepi. Tapi, aku sendiri bingung harus nge-reach out mas gimana. Waktu di Jakarta kita bisa seminggu gak ketemu walaupun kita tinggal satu atap. Jadi gimana caranya aku tahu kondisi mas dan mas tahu kondisiku,” protes Dyaka sampaikan atas uneg-unegnya selama ini.
“Maafin mas ya, Dek. Maaf, maaf kalau sikap mas selama ini bikin kamu bingung. Ternyata sifat mas yang ini juga sempet bikin bapak sama ibu khawatir ke mas. Maaf, Dek. Maaf banget,” Ucap Wafa sembari mendekap adik kesayangannya.
“Boleh gak mas kalau pelan-pelan terbuka sama aku? Aku juga mau jadi temen cerita buat mas. Sesekali ngeluh tentang kehidupan gak papa banget, Mas,” pinta sang adik ke kakaknya.
“Iya mas coba ya, Dek. Pelan-pelan kita coba untuk cerita satu sama lain, ya? Mas coba untuk jujur tentang apa yang mas rasakan ke kamu ya, Dek. Mas mau coba,” jawab Wafa dengan anggukan kepala yang mantap.
“Iya, Mas. Ayo buat bapak dan ibu gak khawatir sama kita di atas sana. Ayo buat mereka bahagia di sana,” jawab Dyaka dengan yakin pula.
Seiring dengan rasa yakin yang ada pada benak masing-masing. Semakin kuat pula rengkuhan mereka berdua.
Epilog
Di pagi hari yang cerah itu dengan saksi tempat parkir peristirahatan terakhir orang yang mereka cintai menjadi titik awal baru bagi hubungan persaudaraan kakak adik itu.
Pagi itu dihabiskan oleh mereka untuk menceritakan segala hal yang mereka rasakan satu sama lain selama ini. Mulai hari itu masing-masing berjanji untuk saling ada, untuk saling menguatkan satu sama lain. Bukan untuk menjadi yang terkuat, tetapi untuk menjadi penguat satu sama lain.
“Ibu, Bapak Mas janji mulai hari ini akan menjadi mas yang baik untuk Dyaka. Bukan menjadi mas yang kuat, tetapi menjadi mas yang lebih peduli dan terbuka dengan Dyaka. Terima kasih ya, Pak, Bu atas kasih sayang yang besar kepadaku sampai akhir hayat kalian. Sampai berjumpa lagi,” ucap Wafa dalam hati sembari melihat jauh ke sudut pemakaman tempat orangtuanya disemayamkan.
“Bapak, Ibu adek berhasil bawa mas ke pusara kalian lagi. Mas sama adek udah janji mulai hari ini akan lebih terbuka satu sama lain. Lebih sering punya waktu berdua untuk ngobrol. Itu yang ibu mau kan di lebaran terakhir kita waktu itu? Adek sama mas coba wujudkan ya, Pak, Bu. Tenang dan bahagia disana ya. Sampai kita jumpa lagi dan berkumpul lengkap berempat lagi. Adek sayang kalian dan mas,” ucap dalam hati Dyaka dengan pijakan kaki yang mantap menuju mobil.
Selamat beristirahat dengan tenang orang tua kebanggaan Rafardhan Wafa Tamawiijaya dan Sandyakala Harsa Tamawijaya. Dua jagoan kecil kalian sudah tumbuh dewasa dengan aman dan baik. Tenang dalam keabadian dan sampai jumpa lagi.

Rafardhan Wafa Tamawijaya (Cr. Pinterest)

Sandyakala Harsa Tamawijaya (Cr. Pinterest)
Note.
Untuk karya lain dan pengenalan karakter ada pada link di bawah ini
Pustaka Cerita (Klik tulisan)
Karakter Cerita (Klik tulisan)
메타데이터
- post_id
- bcc5e52ad00c
- slug
- aku-pulang-walaupun-sekarang-rasanya-berbeda-bcc5e52ad00c
- url
- https://medium.com/@umichanaa/aku-pulang-walaupun-sekarang-rasanya-berbeda-bcc5e52ad00c
- canonical_url
- https://medium.com/@umichanaa/aku-pulang-walaupun-sekarang-rasanya-berbeda-bcc5e52ad00c
- author_url
- https://medium.com/@umichanaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31