← Back to list

15 Tahun Bersama Linux: Dari Eksperimen ke Production

Pertama kali saya bersentuhan dengan Linux terjadi sekitar tahun 2010. Saat itu ada program desa PNPM Mandiri yang memberikan kursus gratis…

Toni Listiyo · 2025-12-26 01:52 · 0 claps · 7.0 min read
#linux #fedora #manjaro #programmers-life
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔓 · Open Source

15 Tahun Bersama Linux: Dari Eksperimen ke Production

Photo by Gabriel Heinzer on Unsplash

Photo by Gabriel Heinzer on Unsplash

Pertama kali saya bersentuhan dengan Linux terjadi sekitar tahun 2010. Saat itu ada program desa PNPM Mandiri yang memberikan kursus gratis Microsoft Office. Di tempat kursus, setelah selesai, peserta diperbolehkan menggunakan komputer yang tersedia untuk browsing. Komputer tersebut menggunakan Linux. Saya sudah lupa distro apa yang dipakai, tetapi saya masih ingat browser yang saya gunakan adalah Konqueror, sehingga kemungkinan besar distro yang digunakan adalah Kubuntu. Saat itu Linux terasa asing, tetapi juga menarik.

Lompat ke tahun 2013, ketika saya pertama kali bekerja (belum sebagai programmer) dan membeli laptop sendiri. Suatu hari saat jalan-jalan di CFD, saya melihat ada yang menjual DVD installer Ubuntu Natty Narwhal. Ya, versi yang sudah outdated karena dirilis tahun 2011 — tapi bagi pemula seperti saya saat itu, yang penting adalah kesempatan mencoba Linux. Saya membelinya dan mencoba dual boot dengan Windows. Sayangnya, saya mengalami kendala pada koneksi modem, yang akhirnya membuat Ubuntu jarang saya gunakan.

Kuliah, Eksperimen, dan Mencari Jati Diri

Memasuki tahun 2015, saya mulai kuliah di jurusan IT. Pada masa ini, saya juga bergabung dengan UKM Open Source, yang kembali membangkitkan semangat saya untuk menggunakan Linux secara lebih serius. Saya mulai mengenal banyak distro Linux. Ada yang merekomendasikan elementary OS karena tampilannya yang cantik dan minimalis, ada juga yang menyarankan Linux Mint karena stabil, ringan, dan ramah untuk pengguna baru. Sementara itu, beberapa teman lain merekomendasikan Kali Linux untuk belajar hacking.

Saya mencoba elementary OS terlebih dahulu, dan memang harus diakui tampilannya sangat menarik. Namun, karena saya cukup cepat merasa bosan dan ingin mencoba hal lain, saya kemudian berpindah ke Linux Mint. Mint terasa nyaman dan stabil, terutama dengan pendekatan yang lebih “langsung jalan” tanpa banyak konfigurasi. Meski begitu, rasa ingin mencoba dan bereksperimen membuat saya kembali berpindah distro.

Selanjutnya saya mencoba Kali Linux, tetapi setelah beberapa waktu saya menyadari bahwa Kali tidak cocok untuk kebutuhan coding dan penggunaan sehari-hari. Kali memang dirancang untuk keperluan security testing, bukan sebagai daily driver. Akhirnya saya kembali ke pilihan yang lebih aman dan umum, yaitu Ubuntu, dan saat itu saya menggunakan Ubuntu Trusty Tahr (14.04 LTS).

Antara LTS, Upgrade Gagal, dan Arch Linux

Saya selalu menggunakan versi LTS (Long Term Support). Ketika Xenial Xerus (16.04 LTS) rilis, tentu saya ingin melakukan upgrade. Namun pada praktiknya, proses upgrade dari terminal sering kali gagal — entah karena konflik dependency, repository yang bermasalah, atau berbagai issue lainnya — sehingga saya terpaksa melakukan install ulang. Dari situ muncul pertanyaan di kepala saya:

“Ada ngga ya distro yang update-nya mudah, tidak harus menunggu lama, dan tidak ribet?”

Dari pencarian itu, saya akhirnya mengenal Arch Linux. Banyak orang menganggap pengguna Arch sebagai “level tertinggi” Linux user — lengkap dengan meme legendaris “I use Arch btw” 😄. Sekitar tahun 2017, saya mencoba menginstal Arch Linux. Prosesnya tidak mudah: semuanya dilakukan manual, mulai dari partisi, base system, konfigurasi network (ini yang paling sering bikin gagal), sampai memilih dan menginstal desktop environment sendiri. Sebagai pengguna yang masih newbie (dan jujur saja, sampai sekarang pun belum jago-jago amat 😆), saya justru sering menemui masalah dalam penggunaannya.

Dari situ saya kembali berpikir:

“Ada nggak ya distro rolling release, tapi lebih ramah pengguna?”

Jawabannya adalah Manjaro.

Manjaro: Rolling Release yang Nyaman, Tapi…

Saya menggunakan Manjaro cukup lama — bahkan saya pakai untuk kerja — dari 2017 hingga 2022. Alasan utamanya sederhana dan masuk akal: saya tidak perlu menunggu enam bulan atau dua tahun untuk mendapatkan versi software terbaru. Update datang terus-menerus, dan ekosistem AUR (Arch User Repository) memberikan akses ke hampir semua software yang saya butuhkan.

Namun, justru di sinilah masalahnya mulai terasa. Model rolling release memang cepat, tetapi stabilitasnya kadang tidak konsisten. Terkadang setelah update sistem, ada saja package yang conflict atau software yang tiba-tiba error. Ditambah lagi, beberapa software yang saya butuhkan untuk pekerjaan tidak menyediakan dukungan resmi untuk Arch-based distro. Akhirnya saya sering bergantung pada AUR atau harus build from source. Awalnya terasa menyenangkan dan challenging, tetapi lama-kelamaan melelahkan — apalagi ketika update sistem justru memicu error baru yang mengharuskan saya troubleshooting di tengah deadline kerja.

Kembali ke Ubuntu Family

Pada tahun 2022, karena tanggung jawab pekerjaan semakin besar dan prioritas saya berubah, saya memutuskan untuk meninggalkan Manjaro. Fokus saya bukan lagi eksplorasi dan eksperimen, tetapi stabilitas dan efisiensi waktu. Saya tidak ingin membuang waktu memperbaiki sistem hanya demi bisa bekerja. Yang saya butuhkan adalah distro yang “just works” — tidak banyak drama, tidak banyak troubleshooting.

Saya kembali ke keluarga Ubuntu dan memilih Xubuntu. Alasannya sederhana: lebih ringan dibanding Ubuntu standar dengan GNOME, tetapi tetap mendapatkan ekosistem repository Ubuntu yang matang dan stabil. Dukungan software jauh lebih baik, dokumentasi lengkap, dan komunitas besar. Di fase ini, saya benar-benar merasa lelah dengan *AUR dan build from source* — saya lebih memilih apt install yang straightforward.

Meski begitu, saya akui, keinginan untuk kembali menginstal Arch Linux itu selalu ada — entah kapan 😄.

Migrasi ke Fedora

Walaupun sudah nyaman dengan Ubuntu LTS, saya masih kurang cocok dengan pola update-nya. Untuk mendapatkan versi software yang benar-benar baru, sering kali harus menunggu rilis LTS berikutnya, yang berarti dua tahun sekali. Memang ada opsi menggunakan PPA (Personal Package Archive) untuk mendapatkan versi lebih baru dari software tertentu, tetapi mengelola banyak PPA juga membawa risikonya sendiri — mulai dari konflik dependency, masalah stabilitas, hingga concern keamanan karena PPA tidak melalui proses verifikasi seketat repository resmi Ubuntu. Versi non-LTS sebenarnya ada dan rilis setiap enam bulan, tetapi sejak awal saya memang terbiasa dan lebih mempercayai stabilitas LTS.

Di sisi lain, saya juga sudah kapok dengan rolling release yang terlalu agresif seperti Manjaro. Dari situlah saya mencari distro yang berada di tengah-tengah: update cukup cepat, tapi tetap stabil.

Pilihan itu akhirnya jatuh ke Fedora. Fedora berhasil menyelesaikan dua masalah utama saya:

  1. Update software bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu rilis LTS. Fedora merilis versi baru setiap 6 bulan dengan dukungan selama 13 bulan, jadi selalu ada overlap untuk upgrade yang smooth.
  2. Stabilitas jauh lebih terjaga dibanding rolling release. Setiap rilis sudah melalui testing yang ketat, dan meski update frequent, risikonya jauh lebih kecil dibanding Arch-based.

Saya mulai menggunakan Fedora 40 pada September 2024, dan hingga kini sudah update ke Fedora 43. Prosesnya smooth tanpa perlu install ulang — inilah yang saya cari selama ini. Selain itu, dukungan software di Fedora jauh lebih baik untuk kebutuhan kerja saya, tanpa harus sering build from source. Package manager DNF juga sangat reliable, dan ekosistem Fedora terasa lebih “bleeding edge” namun tetap production-ready.

Kubuntu sebagai Secondary Driver

Meskipun Fedora menjadi sistem operasi utama saya untuk kerja, saya juga masih menggunakan distro keluarga Ubuntu — saat ini Kubuntu — di laptop cadangan (secondary driver). Menariknya, laptop ini spesifikasinya justru lebih tinggi dari PC utama saya. Namun, karena RAM-nya tidak bisa diupgrade dan sudah mentok, saya tidak menjadikannya daily driver. Laptop ini sekarang digunakan untuk keperluan yang lebih santai seperti belajar teknologi baru, eksperimen dengan berbagai software, atau sebagai backup ketika PC utama sedang bermasalah.

Tentang Windows dan macOS

Saya tidak menggunakan Windows bukan karena Windows itu buruk. Secara tampilan dan user experience, Windows itu bagus — modern, familiar, dan well-supported oleh hampir semua software. Namun saya sudah terlalu terbiasa dengan terminal Linux dan workflow berbasis CLI. Lingkungan kerja di Linux terasa sangat natural bagi saya sebagai programmer.

Saat mencoba ngoding di Windows menggunakan terminal bawaan (Command Prompt/PowerShell), rasanya aneh dan tidak nyaman — command-nya berbeda, path separator pakai backslash, dan workflow-nya jauh dari Linux. Memang ada WSL (Windows Subsystem for Linux), tetapi WSL menambahkan layer tambahan yang membuat sistem lebih kompleks dan memakan memori lebih banyak. Selain itu, ada friction antara Windows filesystem dan Linux filesystem di WSL yang kadang menyebabkan permission issues atau performance overhead.

Yang paling penting bagi saya: environment Linux desktop sangat mirip dengan environment server. Apa yang saya kerjakan di lokal dengan Laravel, Alpine, atau Vue hampir selalu konsisten dengan production server yang kebanyakan berbasis Linux. Command yang saya jalankan, package manager yang saya gunakan, bahkan cara sistem menangani permission dan networking — semuanya identical. Ini membuat development workflow jauh lebih smooth dan mengurangi “works on my machine” problems.

Tentang macOS

Saya juga pernah menggunakannya. Saya punya Mac dengan chip Intel, tetapi sudah tidak saya gunakan lagi untuk coding karena performanya terasa berat — terutama ketika menjalankan Docker, multiple IDE, dan development server secara bersamaan. Menurut saya, macOS adalah gabungan terbaik dari Linux dan Windows: terminal yang nyaman (karena berbasis Unix) dan tampilan yang rapi dengan UX yang sangat polished.

Namun alasan utama saya belum bermigrasi penuh ke Mac adalah harga. Mac dengan spesifikasi yang mumpuni untuk development — terutama yang menggunakan chip M-series terbaru — harganya sangat tinggi. Bahkan Mac mini sekalipun, ketika dikonfigurasi dengan RAM dan storage yang cukup untuk development work, harganya sudah setara dengan PC desktop mid-to-high end.

Dengan budget yang sama, saya merasa bisa merakit PC Linux dengan performa yang lebih baik dan lebih fleksibel sesuai kebutuhan saya. RAM bisa di-upgrade kapan saja, storage bisa ditambah, dan ketika ada komponen yang bottleneck, saya bisa upgrade secara incremental tanpa harus ganti seluruh sistem.

Mungkin suatu hari jika budget memungkinkan dan kebutuhan berubah, saya akan mencoba Mac dengan chip Apple Silicon yang katanya performanya excellent untuk development. Tapi untuk saat ini, Linux tetap menjadi pilihan yang paling cost-effective dan powerful untuk workflow saya.

Kesimpulan

Pada akhirnya, pilihan sistem operasi bagi saya bukan soal mana yang paling keren atau paling populer, tetapi mana yang paling cocok dengan fase hidup dan pekerjaan saya saat ini.

Dulu, ketika masih kuliah dan punya banyak waktu luang, saya menikmati eksplorasi, oprek sistem, compile kernel, bermain dengan window manager, dan bereksperimen dengan berbagai distro. Fase itu penting karena membuat saya memahami Linux secara mendalam — bagaimana sistem bekerja, bagaimana package manager mengelola dependency, bagaimana systemd mengatur services.

Sekarang, ketika sudah bekerja full-time sebagai programmer dengan deadline dan tanggung jawab yang lebih besar, saya lebih menghargai stabilitas, konsistensi, dan efisiensi waktu. Saya tidak punya waktu untuk troubleshooting sistem di tengah sprint. Yang saya butuhkan adalah distro yang reliable, up-to-date, dan “just works”.

Linux tetap menjadi rumah bagi saya karena environment-nya paling dekat dengan server dan cara kerja saya sebagai programmer yang fokus pada Laravel, Alpine, dan Vue. Fedora menjadi titik temu terbaik antara update frequency dan stabilitas — saya bisa mendapatkan versi terbaru dari tools development yang saya butuhkan tanpa mengorbankan production readiness.

Windows dan macOS bukan pilihan yang salah — keduanya adalah sistem operasi yang excellent dengan use case masing-masing. Hanya saja, saat ini keduanya belum cocok dengan kebutuhan dan kenyamanan saya sebagai developer yang sudah terlalu terbiasa dengan Linux workflow.

Dan mungkin itu inti dari semuanya:

Tidak ada OS terbaik, yang ada adalah OS yang paling pas untuk fase hidup dan pekerjaan Anda saat ini.


메타데이터
post_id
bcd0120cdc79
slug
15-tahun-bersama-linux-dari-eksperimen-ke-production-bcd0120cdc79
url
https://medium.com/@l-toni2007/15-tahun-bersama-linux-dari-eksperimen-ke-production-bcd0120cdc79
canonical_url
https://medium.com/@l-toni2007/15-tahun-bersama-linux-dari-eksperimen-ke-production-bcd0120cdc79
author_url
https://medium.com/@l-toni2007
status
ok
fetched_at
2026-07-09 21:48:21