Banyak Santo dan Santa Pernah Tersesat
Teman saya baru-baru ini mengirim sebuah artikel tentang kisah hidup Beato Bartolo Longo. Ia menulis, “Kenapa dia bisa jadi santo? Dosanya…
Banyak Santo dan Santa Pernah Tersesat
Teman saya baru-baru ini mengirim sebuah artikel tentang kisah hidup Beato Bartolo Longo. Ia menulis, “Kenapa dia bisa jadi santo? Dosanya bahkan lebih besar dari kisah hidup kakek saya waktu muda. Kakek saya aktif di gereja, selalu menolong orang, hidupnya lurus, kenapa dia tidak dijadikan orang suci di gereja, ya?” Kami tertawa bersama, dan dari situlah saya terpikir menulis ini. Tidak seperti artikel yang teman saya kirim, tulisan ini tidak akan sedetail proses kanonisasi di Gereja Katolik, melainkan lebih ke refleksi tentang kehidupan, kesalahan, dan panggilan Tuhan.
Bartolo Longo adalah contoh yang jelas. Lahir dari keluarga Katolik yang saleh, ia tersesat ke dalam gereja setan, menjadi imam satanis, hidup dalam praktik gelap dan moral yang bebas. Ia tampak jauh dari iman dan kebaikan, tetapi hatinya tidak pernah benar-benar damai. Saat ia mendengar panggilan Tuhan melalui hati dan bimbingan sahabat serta seorang imam Dominikan, Bartolo memutuskan untuk kembali. Ia bertobat, menata hidupnya, dan menempatkan seluruh bakat dan pengaruhnya untuk membangun Gereja St. Maria Ratu Rosario di Pompei serta menuntun masyarakat dari kegelapan ke jalan iman. Dari pendosa yang tersesat, ia menjadi teladan pertobatan dan pelayanan.
Kisah Bartolo mengingatkan kita pada Santo Paulus. Dahulu ia adalah Saulus, penganiaya umat Kristiani, ikut membunuh demi keyakinannya sendiri. Namun di jalan ke Damaskus, Tuhan menemuinya dengan cahaya yang mengubah hidupnya. Paulus bertobat, menjadi rasul yang menulis surat-surat penuh inspirasi dan membentuk fondasi Gereja. Dari musuh Kristus, ia menjadi salah satu penginjil terbesar. Santa Maria Magdalena pun mengalami perjalanan serupa; hidupnya dulu penuh kesalahan, tetapi ketika Yesus memanggilnya, ia bertobat sepenuhnya, menjadi pengikut setia, hadir di salib Kristus, dan menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya. Santo Agustinus juga tersesat dalam kesenangan duniawi dan ambisi pribadi, namun melalui bimbingan ibunya dan pencarian batin yang panjang, ia bertobat dan menjadi salah satu pemikir teologi terbesar, Uskup Hippo yang bijaksana, dan penulis karya monumental Confessiones.
Melihat kisah-kisah ini, kita mungkin bertanya-tanya, kenapa banyak santo yang awalnya pendosa, sementara orang-orang baik yang hidup lurus dan menolong sesama, seperti kakek teman saya, tidak diangkat menjadi santo? Refleksinya sederhana: kesucian sejati bukan hanya tentang tidak pernah salah atau hidup lurus, tetapi tentang kemampuan hati untuk bertobat, bangkit dari kesalahan, dan menjawab panggilan Tuhan. Mereka yang pernah tersesat memahami kasih Tuhan dengan cara yang dalam, karena mereka pernah merasakan kegelapan dan hampa, sehingga ketika kembali, hidup mereka menjadi saksi kuat dari kuasa pertobatan.
Namun tentu saja, ini bukan ajakan untuk sengaja berbuat salah agar bisa disucikan. Santo dan santa ini hanyut dalam perjalanan hidup mereka, dan Tuhan memanggil mereka di tengah kegelapan itu. Kita bisa belajar dari mereka tanpa harus melewati jurang dosa yang sama. Kisah-kisah mereka juga mengingatkan kita untuk tidak menghakimi orang lain, karena setiap manusia punya pasang surut dalam hidup. Orang yang tampak jauh dari iman mungkin sedang menunggu panggilan untuk kembali, sementara orang yang hidup lurus tetap dipanggil untuk menjadi berkat melalui tindakan baik mereka.
Pada akhirnya, inti refleksi ini adalah bahwa Tuhan memanggil kita setiap hari. Kesucian bukan tentang catatan dosa yang rendah, tetapi tentang mendengar, menjawab, dan berjalan di jalan-Nya dengan setia, meski dunia penuh godaan. Dari kegelapan ke cahaya, dari tersesat ke benar-benar hidup bagi Tuhan, itulah perjalanan yang membuat seseorang menjadi teladan iman. Dan bahkan jika kita tidak tercatat resmi sebagai santo atau santa, setiap tindakan kecil yang lahir dari kasih dan pertobatan hati tetap menjadi kesucian yang nyata di mata Tuhan.
메타데이터
- post_id
- bce8f799c0cc
- slug
- banyak-santo-dan-santa-pernah-tersesat-bce8f799c0cc
- url
- https://medium.com/@loeisrivaldowitak/banyak-santo-dan-santa-pernah-tersesat-bce8f799c0cc
- canonical_url
- https://medium.com/@loeisrivaldowitak/banyak-santo-dan-santa-pernah-tersesat-bce8f799c0cc
- author_url
- https://medium.com/@loeisrivaldowitak
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-15 12:52:19