← Back to list

Mengapa Ejekan terhadap Aksi Solidaritas Palestina Masih Terus Ada?

Oleh: Muhammad Irhas Noor

UNY Student for Justice in Palestine · 2026-06-11 10:09 · 18 claps · 2.6 min read
#palestine #freedom #global-solidarity
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🥊 · Combat Sports

Mengapa Ejekan terhadap Aksi Solidaritas Palestina Masih Terus Ada?

Penulis (kanan) bersama dengan massa aksi lainnya dalam Aksi Solidaritas Palestina bertajuk “UNY Solidarity for Palestine: Stop The Genocide” pada 19 September 2025 di Gerbang Utama UNY.

Penulis (kanan) bersama dengan massa aksi lainnya dalam Aksi Solidaritas Palestina bertajuk “UNY Solidarity for Palestine: Stop The Genocide” pada 19 September 2025 di Gerbang Utama UNY.

Oleh: Muhammad Irhas Noor

Beberapa waktu lalu, saya menyaksikan sebuah rekaman video aksi damai di Titik Nol Kilometer Yogyakarta yang digelar sebagai bentuk dukungan kepada rakyat Palestina. Para peserta mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina, bergerak dengan tertib di bawah pengawalan petugas keamanan. Suasana yang tercipta terasa penuh kekhidmatan. Namun, yang justru menorehkan rasa sedih di hati saya bukanlah aksi itu sendiri, melainkan gelombang komentar yang membanjiri kolom bawah video: penuh sinisme, olok-olok, bahkan cacian.

“Ketawa liatnya disaat negara sendiri lagi miris”, “Masih banyak masalah di sini, ngapain urus yang jauh”, “Urus negara sendiri dulu…… negara lain belakangan”, atau “p info bisnis donasi”.

Rangkaian kalimat seperti itu terus berulang, seakan-akan kesengsaraan yang tengah berlangsung ribuan kilometer jauhnya di Gaza sama sekali bukan tanggung jawab kita.

Saya memahami bahwa banyak orang saat ini tengah berjibaku dengan beban kehidupan sehari-hari: harga kebutuhan pokok yang kian melambung, sulitnya mencari pekerjaan, dan ketidakadilan yang terasa begitu nyata di depan mata. Menjadikan itu sebagai prioritas adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, yang sulit saya cerna adalah ketika kepedulian terhadap kondisi Gaza disambut dengan ejekan. Bukan kritik yang konstruktif, bukan pula perbedaan pandangan yang disampaikan dengan santun, melainkan sikap yang seolah-olah menganggap martabat kemanusiaan orang lain tidak bernilai apa pun.

Empati bukanlah sumber daya terbatas yang akan menipis ketika kita menggunakannya. Ia bukan seperti baterai yang harus kita jaga dayanya semata-mata untuk merespons penderitaan di sekitar kita. Selama masih ada anak-anak yang kehilangan tempat tinggal, keluarga yang dilanda kelaparan, dan warga sipil yang menjadi korban konflik bersenjata, maka seharusnya nurani kita pun masih sanggup merasakan perihnya kepedihan itu. Apabila kita tidak mampu memberikan dukungan nyata, setidaknya memilih untuk diam jauh lebih bermartabat ketimbang melontarkan hinaan.

Aksi Solidaritas Palestina bertajuk “77 Years of Nakba: A Week of Action, Solidarity, and Resistance” pada 15 Mei 2025 di Gerbang Utama UNY.

Aksi Solidaritas Palestina bertajuk “77 Years of Nakba: A Week of Action, Solidarity, and Resistance” pada 15 Mei 2025 di Gerbang Utama UNY.

Aksi damai seperti yang berlangsung di Yogyakarta memang bukan obat mujarab yang secara langsung akan mengakhiri konflik. Ia adalah sebuah pengingat kolektif — pengingat bahwa di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan kita, masih ada sesama manusia yang sedang menanggung penderitaan yang tak terbayangkan. Solidaritas sejati tidak mengenal sekat geografis maupun batas waktu. Ia adalah pernyataan tegas bahwa kita masih menyimpan kemanusiaan di dalam diri.

Saya tidak menampik kenyataan bahwa Indonesia masih menghadapi segudang persoalan domestik yang mendesak untuk diselesaikan. Kemiskinan, korupsi, kesenjangan sosial, dan tekanan ekonomi adalah realitas yang harus kita tatap dan tangani dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, empati yang sejati tidaklah bersifat zero-sum. Kita tidak dipaksa untuk memilih antara peduli terhadap Gaza atau peduli terhadap Indonesia. Keduanya dapat — dan semestinya — berjalan secara bersamaan.

Mengejek aksi solidaritas dengan dalih “benahi dulu masalah sendiri” adalah bentuk penyederhanaan yang sesungguhnya berbahaya. Sebab pada dasarnya, penderitaan manusia di belahan bumi mana pun merupakan cerminan dari kegagalan kita sebagai sebuah peradaban. Ketika kita membiarkan empati dalam diri kita mati di hadapan derita orang lain, perlahan-lahan kita pun akan kehilangan kepekaan terhadap penderitaan yang terjadi di sekitar kita sendiri.

Kita boleh berbeda pandangan soal penyelesaian konflik politik di Timur Tengah. Kita boleh memperdebatkan seberapa efektif aksi demonstrasi dalam mendatangkan perubahan. Namun, satu hal yang tidak boleh kita korbankan adalah fondasi kemanusiaan yang paling mendasar: kemampuan untuk melihat penderitaan orang lain dan merasakannya sebagai bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan kita bersama.

Jika tidak ada kata-kata baik yang bisa diucapkan, lebih baik memilih diam. Sebab di balik setiap komentar sinis yang terlontar, ada seseorang yang sedang belajar — atau justru perlahan melupakan — apa artinya menjadi manusia yang seutuhnya.

*Penulis merupakan mahasiswa berprestasi 2 FIPP UNY 2025 dan pernah menjadi Wakil Ketua BEM KM FIPP UNY 2024.


메타데이터
post_id
bcf75e8cad20
slug
mengapa-ejekan-terhadap-aksi-solidaritas-palestina-masih-terus-ada-bcf75e8cad20
url
https://medium.com/@unystudentforjusticepalestine/mengapa-ejekan-terhadap-aksi-solidaritas-palestina-masih-terus-ada-bcf75e8cad20
canonical_url
https://medium.com/@unystudentforjusticepalestine/mengapa-ejekan-terhadap-aksi-solidaritas-palestina-masih-terus-ada-bcf75e8cad20
author_url
https://medium.com/@unystudentforjusticepalestine
status
ok
fetched_at
2026-07-09 13:22:05