← Back to list

Kritik Terhadap Stoik Kontemporer

Bagus Budiyana · 2024-12-24 13:48 · 2 claps · 3.0 min read
#philosophy #stoikisme #stoa #stoik
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Stoikisme & Emosi

Saya telah membaca banyak artikel, sedikit buku kontemporer, dan menonton video/podcast yang membahas tentang stoikisme. Bahkan saya menjadikan stoikisme sebagai tema diskusi belakangan ini. Ajaran stoikisme baik logika, fisika, atau etika mengalihkan perhatian saya untuk terus menganalisa lebih dalam mengenainya. Begitu banyak wawasan baru yang mencengangkan dan memikat akal pikiran. Terlebih, relevansinya dengan kondisi saya pada saat itu yang sangat mudah dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sejauh ini saya menikmati stoikisme, walaupun belum bisa mengaplikasikan ajarannya dengan bijak dalam realita.

Akan tetapi, saya tidak ingin menerima ajaran stoikisme yang saya baca begitu saja mentah-mentah. Dalam diskusi, saya banyak mempertimbangkan sudut pandang lain yang kontra dengan ajarannya. Termasuk yang paling saya kritisi adalah pengibaratan dikotomisasi emosi yang dikategorikan menjadi “emosi positif dan negatif”. Dikotomisasi ini banyak saya temui dalam artikel/buku yang disajikan oleh para penulis stoikisme modern. Saya sendiri tidak mengetahui secara pasti apakah para perintis stoikisme (stoikisme klasik) mengemukakan klaim dikotomis ini atau itu hanya adaptasi dan translasi dari para penulis modern saja.

Sejujurnya, akal pikiran saya keberatan dengan penggunaan diksi tersebut. Tentu saja, saya bukanlah pakar dari stoikisme, akan tetapi mengkritisasi adalah sebuah tuntutan untuk memperluas sudut pandang. Maka, izinkan saya untuk memaparkan argumentasi yang melatarbelakangi keberatan saya.

Dikotomisasi itu -secara pemahaman spontan sebagai pembaca- mengarah pada konteks perilaku yang dihasilkan dari emosi tersebut. Dengan demikian, dikotomisasi ini menjadi tertolak dengan fakta bahwa marah dan sedih -yang seringkali digolongkan sebagai emosi negatif- terkadang dalam perwujudannya dalam perilaku menjadi sesuatu yang positif. Begitupun sebaliknya, senang dan cinta -yang seringkali dikategorikan sebagai emosi positif- terkadang menghasilkan perilaku yang negatif.

Misalkan, ada sebuah proyek yang membabat habis sebuah hutan secara masif. Tentu, pembabatan secara masif memberi pengaruh negatif bagi keseimbangan ekosistem, dan mencemari nilai biosentris dan ekosentris yang luhur. Seorang pecinta alam menanggapi kejadian tersebut dengan marah dan kutukan di dalam hatinya pada orang-orang dibalik proyek tersebut. Bersamaan dengan itu, dia merasa simpati dan sedih pada makhluk hidup yang berhabitat di sana. Atas dasar kemarahan dan kesedihannya itu, dia mengadakan demonstrasi atau protes akan proyek tersebut. Dan akhirnya proyek itu pun berhasil dihentikan dan ekosistem kembali terjaga. Dari sini kita melihat bahwa emosi tersebut memiliki aplikasi yang positif walaupun dikategorikan sebagai negatif.

Dikotomisasi tersebut menjadi sedikit lebih relevan dalam pikiran saya jika diarahkan pada konteks emosi yang memberi pengaruh tidak mengenakkan pada diri -sehingga ingin segera terlepas darinya, dan emosi yang memberi pengaruh berupa kenyamanan terhadap diri -sehingga ingin terus langgeng di dalamnya. Namun, pengibaratan dengan diksi positif dan negatif dirasa kurang cocok untuk mengarah pada konteks ini. Diksi tersebut tidak mengarah secara spontan kepadanya. Karena pemahaman spontan mengenai positif adalah hal yang konstruktif, sedangkan negatif adalah hal yang destruktif. Konstruktif dan dekstruktif tidak terkait dengan nyaman atau tidaknya sesuatu itu dalam diri. Melainkan baik buruknya pengaruh dari sesuatu tersebut terhadap diri. Adapun makna positif dan negatif yang relevan dengan konteks ini adalah makna penetapan dan penafian. Namun, untuk membawa kepada makna ini, diksi “emosi positif dan negatif” mesti berupa istilah yang independen, bukan penyifatan bahasa secara umum.

Saya kira, walaupun diksi tersebut kemungkinan besar digunakan sebagai cara untuk menyederhanakan konsep kepada pembaca kontemporer. Namun, saya rasa penyederhanaan ini justru menghilangkan kompleksitas penting dari pandangan stoik klasik mengenai emosi. Terlebih, penyederhanaan dengan dikotomisasi ini memberikan sebuah konsekuensi buruk, diantaranya:

  1. Pengabaian terhadap nuansa dan perbedaan kontekstual dari setiap emosi yang ada.

Pemahaman yang terlalu menyederhanakan emosi ke dalam kategori positif dan negatif mengabaikan nuansa yang ada dalam setiap perasaan, yang dapat muncul dalam berbagai konteks dan dengan berbagai dampak. Misalnya, kemarahan bisa menjadi pendorong perubahan sosial yang konstruktif, atau sebaliknya, bisa berubah menjadi destruktif dalam konteks lain.

  1. Meningkatkan stigma terhadap emosi yang dikategorikan sebagai “negatif”.

Jika emosi seperti kesedihan, kemarahan, atau rasa takut dipandang sebagai negatif, maka ada sebuah kecenderungan untuk menghindari atau menekan emosi tersebut. Padahal, setiap emosi adalah fitrah dan memiliki peran pentingnya masing-masing dalam kehidupan manusia.

  1. Menghambat pertumbuhan emosional dan pembelajaran

Emosi yang dianggap “negatif” sering kali dianggap sebagai hal yang harus dihindari, sementara emosi yang “positif” dianggap sebagai hal yang harus dicari dan dipertahankan. Padahal, emosi yang sulit atau tidak nyaman, seperti rasa sakit atau kekecewaan, sering kali mengandung pelajaran berharga yang membantu perkembangan sebagai individu. Jika seseorang hanya fokus pada emosi yang dianggap positif, maka dia akan melewatkan peluang untuk belajar dan berkembang.

Hemat saya, pada hakikatnya setiap emosi adalah netral. Ia bisa menjadi baik atau buruk tergantung pada kendali akal. Meskipun dikotomisasi emosi ini lebih sederhana, akan tetapi tidak mencerminkan kompleksitas hubungan antara emosi dan perilaku. Saya percaya bahwa pendekatan yang lebih holistik dan kaya akan nuansa diperlukan untuk memahami bagaimana emosi berkontribusi terhadap kehidupan yang bermakna.

Tulisan ini bukanlah kritik terhadap Stoikisme secara keseluruhan, tetapi lebih mengarah pada interpretasi Stoikisme modern dalam menggunakan dikotomisasi emosi sebagai penyederhanaan sesuatu yang kompleks.


메타데이터
post_id
bcfbcd1bbd71
slug
kritik-terhadap-stoik-kontemporer-bcfbcd1bbd71
url
https://medium.com/@bagusbudiyana/kritik-terhadap-stoik-kontemporer-bcfbcd1bbd71
canonical_url
https://medium.com/@bagusbudiyana/kritik-terhadap-stoik-kontemporer-bcfbcd1bbd71
author_url
https://medium.com/@bagusbudiyana
status
ok
fetched_at
2026-07-21 13:34:43