← Back to list

Melanja jalan-jalan: menjala-jala ajal

Hati penuh, laiknya isi kepala yang utuh — lahir aku lahir, dan pulang aku pulang, pada dunia yang sepantasnya angkuh

Athala, T. · 2024-04-10 20:34 · 0 claps · 1.4 min read
#hehehe #ok #slipknot
Open on Medium ↗

Melanja jalan-jalan: menjala-jala ajal

Hati penuh, laiknya isi kepala yang utuh — lahir aku lahir, dan pulang aku pulang, pada dunia yang sepantasnya angkuh

Langit sore di Pogung Lor, 18 Maret 18.00 WIB

Langit sore di Pogung Lor, 18 Maret 18.00 WIB

Kau mengenalku melalui huruf-huruf yang bersaksi pada laman daringku: Kembaraku tidak pernah jauh-jauh dari urusan begah dan singgah. Sewajarnya moyangku, aku lekat pada apa yang membuatku senang, terang, dan kenyang.

Seperti hari-hari biasanya yang juga berat, beberapa pekan terakhir adalah hal-hal keparat — mengesampingkan tawa yang kubagi kala sahur dan iftar dengan kawan, kongkow lucu di ruang aman, hingga motoran dan rokokan sendirian. Kadar teladan yang kian lama kian kuemban adalah beban.

Koranku terbit setiap harinya, dan kau tidak lebih dari membacanya melalui huruf-huruf yang bersaksi pada laman daringku. Satu yang purna- aku yakini terang adanya: Sulit bagiku untuk kembali menyisakan kolom obituarium air mata.

Lekat pada kepalaku jalan-jalan tikus Pogung Raya, yang tiap jam sembilan digembok pagar-pagarnya. Aku tidak lagi mengunjungi angkringan-angkringan karena kupikir gawaiku menjajah. Tidak menggoda di kepalaku teh manis panas dan tempe berbongkah-bongkah. Menjelma aku manusia beton dengan mata memindai layar maya — membuat tajuk anyar anjay esai ilmiah populer: Apakah Generative AI Adalah Kita?

Khatib bilang kita kembali pada fitrah — namun jika watak asal manusia adalah amarah, tamak, dan serakah? Urgensi untuk kembali, masihkah? Walakin, kita semua amin: kedunguan itu membentuk kita sebagaimana mestinya manusia. Jika tidak, barangkali kita bersilih serupa Gregor Samsa dan Yozo Oba.

Tidak ada yang pernah menyuruh mahasiswa untuk bertahan hidup lebih lama demi buku dan jurnal dalam C:\Users\userName\Downloads yang dibengkalaikan, tuak tak terjamah di lemari kayu kontrakan, tanaman hias yang tidak boleh layu dan diairi dua kali siraman, tonjok-tonjokan pasca musyawarah tahunan, mamang warung PS-an, seniman perempatan jalan. Padahal, barangkali hidup lebih besar dari gelar sarjana — semua lulusan SMA dengan kartu mahasiswa menjadi bangsat dan gangsta sampai CLING satu pesan Nak…kpn plang? dari Mama.

Malang, 11 April


메타데이터
post_id
bd17e8d732fe
slug
melanja-jalan-jalan-menjala-jala-ajal-bd17e8d732fe
url
https://medium.com/@paniterabanal/melanja-jalan-jalan-menjala-jala-ajal-bd17e8d732fe
canonical_url
https://medium.com/@paniterabanal/melanja-jalan-jalan-menjala-jala-ajal-bd17e8d732fe
author_url
https://medium.com/@paniterabanal
status
ok
fetched_at
2026-07-24 02:11:13