← Back to list

Bisakah Pria dan Wanita Bersahabat?

Ulasan film People We Meet on Vacation (2026)

Dian Larasati in Maratonton · 2026-05-23 02:21 · 248 claps · 3.2 min read paywalled
#millennials #ulasan-film #hollywood #maratonton #komunitas-blogger-medium
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television 🌐 · Society · General

ULASAN FILM

Bisakah Pria dan Wanita Bersahabat?

Ulasan film People We Meet on Vacation (2026)

Rotten Tomatoes

Rotten Tomatoes

Non-member atau dalam mode gratis? Klik **di sini** untuk membaca ulasan sampai habis!

Biasanya, saya segan mencoba sesuatu yang sedang viral — entah itu makanan, buku, atau film dan serial. Tapi ada tiga hal yang mendorong saya menonton People We Meet on Vacation (2026) saat film ini masih hangat-hangatnya dibahas di media sosial.

Pertama, dia diangkat dari novel berjudul sama karya Emily Henry, yang tak luput dari pandangan setiap saya main ke toko buku yang berbeda beberapa tahun terakhir. Kedua, fokus ceritanya adalah dinamika kehidupan dua orang berusia 30-an. Ketiga — dan ini alasan utamanya — salah satu konflik ceritanya adalah, keseruan bercampur resah di balik pertemanan platonik jangka panjang antara pria dan wanita sebaya.

Jangan tanya apakah saya relate dengan alasan terakhir, saya rasa sebagian milenial pernah mengalaminya setidaknya sekali seumur hidup: ketika kita mulai sadar betapa rapuhnya batas antara bersahabat dan berharap.

Bagi yang belum familier, ini bukan tentang dua turis yang kebetulan bertemu lalu jatuh cinta. People We Meet on Vacation bercerita tentang Poppy (Emily Bader) dan Alex (Tom Blyth), dua teman kampus yang membuat janji untuk traveling bersama ke berbagai negara setiap musim panas.

Bagi Poppy, traveling itu bukan hanya soal petualangan dan seru-seruan, tapi momen di mana dirinya merasa bebas, seolah bisa jadi orang lain: bertemu dengan orang asing yang tak akan pernah dijumpai lagi dan berbuat hal-hal yang mustahil ia bayangkan saat di kampung halaman.

Sementara Alex? Ia traveling karena… diajak Poppy.

Poppy itu spontan, luwes, bingung, dan ekspresif, sementara Alex sedikit kaku dan agak tertutup. Mereka ibarat golden retriever dan black cat yang “dipaksa” jalan berdampingan. Emily Bader dan Tom Blyth sukses membuat chemistry keduanya terasa natural sekaligus hidup.

Sejujurnya, di usia yang sudah bukan remaja lagi, sulit bagi saya untuk bilang saya tidak terganggu sama sekali dengan premis cerita film ini: Alex dan Poppy traveling bersama ke negara berbeda setiap musim panas selama bertahun-tahun.

Bagi saya, itu sedikit janggal.

Apalagi sejak awal kenal Poppy, Alex sudah punya pacar bernama Sarah (diperankan Sarah Catherine Hook), yang kemudian putus-sambung dengannya. Dan beberapa tahun setelahnya, Poppy juga punya pacar — dan sempat berganti pacar. Namun selama itu pula, ritual tahunan mereka terus berlanjut.

Karena itu, rasanya sulit mengabaikan kesan bahwa film ini menormalisasi perselingkuhan emosi (emotional cheating).

Apakah saya setuju dangan ide persahabatan jangka panjang antara pria dan wanita straight ketika keduanya sudah punya pasangan? Ya, tapi dengan batas. Atau, jika salah satu saja dari mereka memang tidak memiliki ketertarikan romantis pada lawan jenis. Lain halnya jika di cerita ini, Alex dan Sarah mempraktikkan hubungan terbuka (open relationship).

Terlepas dari itu, People We Meet on Vacation menawarkan sesuatu yang lebih. Ia juga — setidaknya berupaya — bercerita tentang wanita muda yang berada di fase transisi: saat berplesiran dan menulis mulai kehilangan daya tarik.

Saya yakin banyak dari kita bisa relate — ketika hal-hal yang dulu kita anggap bagian dari identitas diri mulai kita pertanyakan ulang makna dan tujuannya.

Tetapi sayangnya, bagi saya film ini tidak bisa dibilang sukses menggali semua itu.

Di sini saya tidak melihat akar mengapa Poppy tidak pernah menyukai hidup yang settle down — apakah ia punya trauma, insecurity, atau rasa takut menjadi biasa-biasa saja. Yang saya lihat hanyalah gadis muda yang senang jalan-jalan. Barulah kecenderungan itu diutarakan Alex di klimaks, dan tau-tau semuanya jadi pilihan hitam-putih antara berpetualang tanpa akhir atau menetap.

Selain kurang digali, hal-hal tersebut lebih sering diucapkan daripada diperlihatkan. They tell instead of show.

Saya belum membaca bukunya, jadi saya tidak bisa menilai apakah adaptasi filmnya sukses. Tapi saya punya kesan bahwa People We Meet on Vacation meng-oversimplify konflik utama dalam cerita. Sepertinya sutradara dan penulis Brett Haley lebih ingin menonjolkan sisi rom-com dan visual ketimbang menjadi reflektif dan emosional.

Bagian favorit saya tentu saya adegan dance dadakan Poppy-Alex di sebuah pub di Kroasia. Selain menontonnya berulang-ulang, saya yang sebelumnya tak pernah mendengarkan Paula Abdul jadi kecanduan lagu “Forever Your Girl” setelah nonton film ini.

Meski begitu, saya tetap mengerti mengapa banyak orang menyukai film ini. People We Meet on Vacation memang punya chemistry yang hangat, visual yang nyaman dipandang, dan nostalgia tentang masa ketika hidup terasa lebih sederhana — saat hubungan ambigu masih terasa menyenangkan, bukan melelahkan.

Mungkin itu sebabnya film ini tetap oke sebagai tontonan ringan. Selain menghibur, ia cukup berhasil membuat kita rindu pada versi diri yang pernah percaya, bahwa kedekatan dan timing pada akhirnya akan berjalan searah.

Selamat berakhir pekan dan selamat menonton!

[embed]List: Ulasan Film dan Serial | Curated by Dian Larasati | Medium Ulasan Film dan Serial · 14 stories on Mediummedium.com


메타데이터
post_id
bd224ba6e71c
slug
bisakah-pria-dan-wanita-bersahabat-bd224ba6e71c
url
https://medium.com/maratonton/bisakah-pria-dan-wanita-bersahabat-bd224ba6e71c
canonical_url
https://medium.com/maratonton/bisakah-pria-dan-wanita-bersahabat-bd224ba6e71c
author_url
https://medium.com/@dianlarasati
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30