Meskipun masih terlalu dini, mungkinkah gubernur baru Jawa Barat yang sangat populer itu akan…
Dedi Mulyadi, gubernur Jawa Barat, provinsi terpadat di Indonesia, telah menjadi sorotan sejak ia menjabat pada 20 Februari 2025, sebagian…
Meskipun masih terlalu dini, mungkinkah gubernur baru Jawa Barat yang sangat populer itu akan tampil dalam pemilihan presiden Indonesia berikutnya?

Source: Facebook Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi, gubernur Jawa Barat, provinsi terpadat di Indonesia, telah menjadi sorotan sejak ia menjabat pada 20 Februari 2025, sebagian karena ia pandai menggunakan media sosial untuk mengembangkan basis pendukungnya. Dedi adalah politisi sukses yang telah membangun citra populis, dimulai dari 10 tahun menjabat sebagai bupati Purwakarta (2008–2018), diikuti dengan pengabdiannya sebagai anggota parlemen (2019–2023) mewakili Golkar. Ia kemudian bergabung dengan Gerindra, partai Presiden Prabowo Subianto, dan mengikuti pemilihan legislatif 2024 di bawah benderanya. Meskipun terpilih, Dedi memilih untuk mengundurkan diri untuk maju dalam pemilihan gubernur Jawa Barat. Dedi memenangkan pemilihan gubernur Jawa Barat pada tahun 2024, dengan perolehan suara 62,2 persen dalam pemilihan empat arah. Survei terkini menunjukkan bahwa popularitas Dedi melampaui Jawa Barat, memperkuat spekulasi tentang kemungkinan pencalonannya untuk jabatan tinggi pada tahun 2029.
Dedi, 54 tahun, telah berhasil membangun persona sebagai politisi yang tidak pernah ragu untuk mengotori tangannya, secara harfiah dan kiasan. Salah satu unggahan viral di media sosial adalah saat ia turun ke selokan kotor pada tanggal 5 Maret 2025 untuk membersihkan pintu air sungai yang tersumbat. Kebijakan terbarunya yang menimbulkan kontroversi adalah pengiriman siswa bermasalah untuk menghadiri pelatihan disiplin dan konseling selama dua minggu di kompleks militer, yang didanai oleh anggaran provinsinya. Para akademisi menganggap tindakan ini sebagai bentuk “biopower”, yang secara eksklusif berkonsentrasi pada pendisiplinan tubuh anak-anak tanpa menumbuhkan kreativitas pikiran mereka. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengkritik pemerintahannya karena mengirim siswa ke ‘kamp’ semacam itu tanpa penilaian terlebih dahulu dari psikolog.
Meskipun demikian, kebijakan Dedi memperoleh persetujuan publik yang luas. Jajak pendapat Indikator yang dilakukan pada 12–19 Mei 2025 di enam provinsi menunjukkan bahwa tingkat kepuasan responden terhadap kinerja 100 hari pertama Dedi sebagai gubernur Jawa Barat adalah yang tertinggi di antara semua gubernur di Jawa (Gambar 1), yaitu 94,7 persen. Sebagai perbandingan, Sultan Hamengkubowono X, gubernur veteran daerah istimewa Yogyakarta, berada di posisi kedua dengan 83,8 persen.
Gambar 1. Kepuasan Publik terhadap Kinerja Gubernur & Wakil Gubernur, Jawa (%)
Catatan: Survei di enam provinsi di Jawa dilakukan secara langsung pada 12–19 Mei 2025, menggunakan pengambilan sampel acak multi-tahap. Ukuran sampel bervariasi: 500 responden (Jakarta), masing-masing 600 (Jawa Barat, Tengah, dan Timur); dan masing-masing 400 (Yogyakarta dan Banten). Kolom biru menunjukkan tingkat kepuasan terhadap gubernur, sedangkan kolom kuning menunjukkan kepuasan terhadap wakil gubernur.
Tentu saja, approval rate yang tinggi terhadap Dedi tidak semata-mata disebabkan oleh kinerjanya sebagai gubernur, karena ia baru menjabat selama tiga bulan. Survei tersebut juga mengungkap adanya perbedaan antara pandangan publik terhadap kinerja pemerintah provinsi Jawa Barat dan popularitas pribadi Dedi. Responden hanya cukup puas dengan kemampuan pemerintah provinsi untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja (47 persen), memajukan koperasi (43 persen), memfasilitasi akses ke modal (43 persen), dan mengurangi kemiskinan (42 persen). Wakil Dedi, Erwan Setiawan, memperoleh peringkat kepuasan sebesar 61,3 persen.
Popularitas Dedi yang meluas dipengaruhi oleh keberhasilan penyelarasan kampanye digitalnya dengan aktivitas luring: aktivitas tatap mukanya disiarkan di semua platform media sosialnya. Hingga 12 Juni 2025, ia telah mengumpulkan 12 juta pengikut di Facebook, 8 juta di TikTok, 7,7 juta di YouTube, 4,5 juta di Instagram, dan lebih banyak lagi di X — meskipun beberapa dari pengikut ini akan tumpang tindih. Tempo menilai bahwa keunggulan Dedi disebabkan oleh dukungan kuat dari tim media sosial yang kreatif yang mencakup tujuh videografer. Sementara itu, banyak politikus Indonesia lainnya memiliki tim konten tetapi konten atau narasi mereka tidak beresonansi dengan khalayak secara luas, dan peringkat mereka juga tidak terlalu tinggi. Melihat pandangan responden Jawa Barat, konten media sosial Dedi dapat diterima karena relevansinya dan kebijakan populisnya (Tabel 1). Tabel 1. Pandangan Warga Jawa Barat terhadap Kebijakan/Peraturan Dedi Mulyadi
Survei dilakukan di Jawa Barat pada 12 hingga 19 Mei 2025, melibatkan 600 responden (dengan margin of error ±4,1 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen).
Yang menarik, setiap kebijakan yang diterapkan Dedi juga diketahui oleh warga di lima provinsi lain di Jawa, kemungkinan karena ia sangat aktif menggunakan media arus utama dan media sosial. Indikator menemukan bahwa 83,7 persen warga Banten, 88,5 persen warga Jakarta, 73,1 persen warga Yogyakarta, 60,5 persen warga Jawa Tengah, dan 55,6 persen warga Jawa Timur mengetahui kebijakan Dedi yang memenjarakan siswa nakal di barak militer. Mayoritas penduduk Jawa yang mengetahui kebijakan ini mendukungnya.
Acceptance rate yang tinggi terhadap Dedi tidak semata-mata disebabkan oleh kinerjanya sebagai gubernur, karena ia baru menjabat selama tiga bulan.
Dapat dibayangkan bahwa popularitas Dedi akan meluas ke luar Jawa. Kenaikannya yang tampaknya meroket meningkatkan prospeknya untuk menduduki jabatan tinggi pada tahun 2029. Tiga pemilihan presiden (PE) terakhir di Indonesia telah memperlihatkan bagaimana jabatan gubernur merupakan salah satu jalan yang paling menjanjikan bagi politisi untuk naik ke tingkat ketenaran nasional tertinggi, termasuk kenaikan Joko Widodo ke kursi presiden 2014 setelah menjadi gubernur Jakarta, dan mantan gubernur Jakarta lainnya, Anies Baswedan, yang bersaing untuk kursi presiden 2024 melawan Prabowo Subianto.
Namun, popularitas Dedi menghadirkan situasi politik yang rumit. Sebagai kader Gerindra, ia terikat oleh keputusan partai untuk mencalonkan kembali Prabowo sebagai kandidat PE2029. Lebih jauh, prospek Dedi untuk menjadi calon wakil presiden Prabowo juga tipis karena pasangan calon cenderung berasal dari partai yang berbeda. Popularitas Dedi yang meroket bahkan dapat mengancam Prabowo jika partai lawan mendekati pria yang jauh lebih muda itu sebagai calon mereka. Ketika setiap partai peserta pemilu pada 2029 dapat mencalonkan calon presiden dan wakil presiden mereka sendiri, sekarang setelah Mahkamah Konstitusi menghapus ambang batas pencalonan, ada kemungkinan beberapa akan mulai mendekati Dedi, karena bintangnya terus bersinar.
메타데이터
- post_id
- bd4f6dcd56d0
- slug
- meskipun-masih-terlalu-dini-mungkinkah-gubernur-baru-jawa-barat-yang-sangat-populer-itu-akan-bd4f6dcd56d0
- url
- https://medium.com/@thaharizieqramadhan/meskipun-masih-terlalu-dini-mungkinkah-gubernur-baru-jawa-barat-yang-sangat-populer-itu-akan-bd4f6dcd56d0
- canonical_url
- https://medium.com/@thaharizieqramadhan/meskipun-masih-terlalu-dini-mungkinkah-gubernur-baru-jawa-barat-yang-sangat-populer-itu-akan-bd4f6dcd56d0
- author_url
- https://medium.com/@thaharizieqramadhan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 19:21:26