Sebenarnya, Jatuh Cinta Itu Apa, Sih?
Aku menulis ini di saat aku sedang kebingungan. Bingung untuk memutuskan apakah aku sudah siap untuk jatuh cinta lagi atau belum.
Sebenarnya, Jatuh Cinta Itu Apa, Sih?
Aku menulis ini saat aku sedang kebingungan. Bingung untuk memutuskan apakah aku sudah boleh untuk jatuh cinta lagi atau belum.

Jujur, mungkin bisa dikatakan kalau sekarang ini ada seseorang yang sedang dekat denganku.
Aku… mulai belajar untuk menyukainya. Pun memahami kebiasaannya, memaklumi segala ketidaksempurnaannya, tak hanya terpikat oleh hal-hal indahnya saja. Karena aku tahu, saat awal PDKT, pasti semua orang ingin menunjukkan sisi terbaiknya, kan?
Tapi… sebenarnya jatuh cinta itu apa, sih?
Apakah sekedar rasa suka ketika melihatnya? Rasa sayang atau rindu yang membuat ingin memberi perhatian ‘lebih’? Atau… rasa bahagia yang hadir lewat senyum yang sumringah dan dada berdebar setiap kali melihat notifikasi pesan dari seseorang?
Eh, ataukah semua itu memanglah gejala dari orang yang mulai jatuh cinta, ya?
Duh. Aku bingung! Dan jujur saja, aku takut. Takut salah lagi, takut mencintai orang yang ternyata tak punya rasa yang sama. Takut salah menaruh hati kembali setelah pernah berkali-kali dikecewakan. Apalagi kalau ternyata ia sebenarnya hanya singgah, hanya sekedar mengisi waktu senggangnya. Aduuuuuuh!
Meski begitu, aku merasa nyaman dengannya. Obrolan kami tak pernah membosankan — dari topik berat seperti politik dunia sampai meme receh pun bisa terbahas! Ya,, meskipun kita tak sesering itu bertukar pesan layaknya pasangan yang sedang PDKT (ya memang aktivitas kami cukup padat, sih), tapi entah, aku tak merasa terbebani. Rasanya ada ketenangan karena aku merasa ‘tahu’ ke mana ia melangkah, meski tak selalu hadir secara ‘live’ dalam kabarnya. Ya… walaupun ini tetap terasa menyebalkan karena aku juga ingin tahu kesehariannya, tapi it’s okay (untuk sekarang)!
Yang membuatku heran, ia seakan bisa selaras dengan dunia yang sedang aku jalani. Ia sering hadir sebagai solusi, membuatku merasa aman, dan bebas menjadi diri sendiri. Ia tahu caranya membuatku senang, bahkan bisa tertawa dengan ajakan recehku. Aku sangat terharu!
Tak perlu effort yang berlebih untuk membuatnya mengerti apa yang ingin aku bahas. Setiap hari, aku seakan merasa bisa memahami perasaannya — kapan ia ingin diperhatikan, kapan butuh ruang. Meski jarang bertemu, tapi rindu ya tetap rindu. Aku ingin memeluknya, menemaninya, ikut bahagia saat ia bahagia, atau ikut merasakan sakit saat ia sakit.
Pokoknya aku ingin menemani dia, apapun kondisinya.
Duh.
Namun, pertanyaan itu kembali: Apakah ini cinta? Apakah ia merasakan hal yang sama?
Jika tidak… aku belum siap menghadapi kenyataan itu.
Aku juga takut, bila ternyata aku hanyalah sebuah opsi baginya.
Oh Tuhan, kalaupun saat ini aku memang belum diizinkan untuk benar-benar menjatuhkan hati padanya, semoga kelak, ketika waktunya sudah tepat dan hati kami sama-sama siap, aku dan dia dapat menjadi satu!
Sepertinya, kali ini aku perlu banyak belajar soal cinta lagi, deh. Namun akan kucoba mencintainya dengan cara yang sederhana; lebih ikhlas, lebih tenang, dan lebih bijak — seperti air yang hening, namun tetap mampu menghanyutkan.
🦦🌱
메타데이터
- post_id
- bd847de93fcd
- slug
- sebenarnya-jatuh-cinta-itu-apa-sih-bd847de93fcd
- url
- https://medium.com/@papertotz/sebenarnya-jatuh-cinta-itu-apa-sih-bd847de93fcd
- canonical_url
- https://medium.com/@papertotz/sebenarnya-jatuh-cinta-itu-apa-sih-bd847de93fcd
- author_url
- https://medium.com/@papertotz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01