Langit Biru atau Hitam Kelabu

Langit biru atau hitam kelabu ?
“Sudah siap berangkat Mak ? Pagi ini langit amat biru, seolah menyisipkan semangat pada kalbu akan harapan-harapan baru”.
Adalah jadwalku hari ini menjadi supir pribadi mamak berkeliling, menyelesaikan checklist harian sang “ibu negara” kunjungan ke beberapa tempat. Satu demi satu daftar tujuan kami datangi, beberapa hanya sebentar tapi tak sedikit yang membutuhkan waktu cukup lama, sampai tak terasa bahwa hari telah menjelang siang, waktunya bergegas pulang.
Di perjalan, cahaya matahari terasa lebih membakar dari biasanya— meskipun tidak terlalu terik tetapi suhu & kembaban udara terasa lebih pengap, ini sudah saatnya bagi Mamak segera istirahat. Tak butuh waktu lama pipinya telah bersandar sempurna di punggungku, mataku awas mengawasi dari spion motor menjaga duduknya pada posisi aman. Sudah 4 tahun sejak Mamak di diagnosa sakit, membuatnya tak boleh terlalu lama terpapar cahaya matahari. Dalam benakku sedikit menggerutu, “Mengapa pula panas sekali cuaca siang ini !”.
Maha Besar Allah yang telah menulis segala hal untuk makhluknya. Seakan mendengar keluhanku, belasan menit berselang cahaya matahari nampak mulai tertutup. Langit perlahan mulai gelap bersiap menumpahkan apapun dari atas sana, debu dan dedaunan kering mulai beterbangan mengikuti kemanapun angin berhembus. Ini mendung kali pertama sejak dua pekan terakhir Jakarta terpapar cuaca panas. Jika turun hujan pastilah lebat sekali, gumamku.
Benar saja, jutaan disusul miliaran tetes air yang dibendung itu akhirnya tumpah. Kami menyerah, memilih menepi untuk berteduh hingga hujan reda. Mamak menerka aku paling basah karena menyetir didepan, meskipun setelahnya aku menggeleng, ini belum seberapa.
Sebenarnya, sejak kecil sampai dewasa sekarang anak-anak Mamak menyukai hujan. Tentang suasananya yang syahdu, suara dari rintikan airnya, dan aroma yang dikeluarkan dari uap panas permukaan yang berangsur padam karena basah. Tetapi kali ini, ada sedikit rasa kecewa karena hujan turun dengan derasnya sebelum kami sampai dirumah. Mamak sepertinya manyadari suasana hatiku saat tiba-tiba hemat bicara sejak berteduh tadi.
Di situasi seperti itu, Mamak mengingatkanku yang hampir lupa dengan mulai mengangkat tangan, memanjatkan segala hal yang menjadi hajatnya selama ini. Sekarang adalah diantara waktu mustajabnya doa, aku bergegas mengikuti.
Setelahnya kami berbincang sedikit mengenai urusan Mamak hari ini, berterimakasih padaku yang telah menemaninya berkeliling mengantar kesana kemari, aku hanya mengangguk mengiyakan walaupun sebenarnya tak pernah keberatan karena inilah salah satu kesempatanku dan adik-adik ku menghabiskan waktu lebih banyak dengan Mamak sejak beranjak dewasa.
Aku lalu menyambung pembicaraan tentang cuaca hari-hari ini yang sering tidak menentu, menyarankan agar Mamak lebih banyak beristirahat sampai kondisi lebih pulih. Anehnya alih-alih setuju, Mamak memilih menjawabnya dengan senyum tipis, lalu memberikan nasihat yang akan aku catat beberapa bulan setelahnya sebagai momen terakhirku saat menemaninya berkeliling.
“Nang, langit yang kita tatap tak selalu biru, tapi kamu benar soal ia menandai prasangka baik akan harapan baru. Begitu pula cahaya matahari yang tak selalu terasa hangat, kendati ia seolah membakar apapun yang ada di permukaan bukan berarti dia tak bersahabat kan, ia hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya saat mulai meninggi”.
“Tetapi jikapun gelap kelabu bukan berarti ia selalu menyelipkan duka lara, menutupi mimpi mu yang tinggi itu. Bukan kah dedaunan terlihat lebih menghijau saat mendung ? seperti istilah yang sering kamu sebut saat merancang gambar atau desain itu, Mamak lupa?” tanya Mamak.
“Visual maksudnya Mak?” jawabku mengkonfirmasi.
“Oh ya itu lah pokoknya, visualnya memanjakan mata berbeda sekali dengan gelapnya para awan kan ?. Demikian pula kita manusia, tumbuhan dan hewan-hewan, berharap bulir air satu demi satu jatuh membasahi”.
“Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita menyukai langit hanya karena ia biru tetapi membenci suhu panas yang datang bersamanya, pun kita tak bisa mengatakan bahwa kita menyukai hujan karena suasananya yang syahdu tetapi membenci kilat, guntur bahkan badai yang datang bersamanya. Setiap nikmat juga membawa serta ujiannya, keduanya adalah ketetapan dari Allah”.
“Nah semua sedih atau kecewa kita mungkin lantaran pemahaman kita yang belum sampai pada rencana Allah esok hari. Sabar ya nang, semoga dengannya menghimpun keberkahan dan kebaikan lebih banyak, lebih lengkap. Dan yang paling penting Allah ridha”.
Selepas hujan reda, kami bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku mengingat kata demi kata yang Mamak katakan tadi, meskipun pada awalnya tak banyak yang aku benar-benar pahami maknanya hingga kami mengalami beberapa hal besar di tahun berikutnya.
اللهم ارحم امي رحمة واسعة, وأنزل نورا من نورك عليها, و أكرم ها با لفردوس الأعلى من الجنة يا كريم
메타데이터
- post_id
- bda17fc29d47
- slug
- https-www-instagram-com-p-buhlmn7luw3-bda17fc29d47
- url
- https://medium.com/@eryfebrianto22/https-www-instagram-com-p-buhlmn7luw3-bda17fc29d47
- canonical_url
- https://medium.com/@eryfebrianto22/https-www-instagram-com-p-buhlmn7luw3-bda17fc29d47
- author_url
- https://medium.com/@eryfebrianto22
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 23:00:14