Vienna, Revisited: Melayat Ambisi at the Edge of Desire
(Dan Bandung!)
Vienna, Revisited: Melayat Ambisi at the Edge of Desire
(Dan Bandung!)
Photo by Kayvan Mazhar on Unsplash
Pada suatu zaman lawas, di hamparan padang es Arktik yang sunyi, para Eskimo berburu serigala dengan menanam bilah pisau tajam yang diselimuti darah beku di tanah. Lapis demi lapis darah ditumpuk rapi hingga mata pisau itu tersembunyi sempurna di dalam “es loli” merah.
Bagi seekor serigala yang lewat, aroma anyir itu menjadi undangan yang mustahil ditolak. Ia akan menjilati es darah itu dengan antusias, menikmati hidangan cuma-cuma. Lama-kelamaan, dinginnya es membuat lidah sang serigala mati rasa, hingga ia tak bisa membedakan darah es loli itu dengan darahnya sendiri — yang mulai mengucur deras saat jilatan mengenai mata pisau.
Masih menyangka ia telah menemukan sumber kenikmatan yang tak terbatas, sang serigala meneruskan jilatan obsesifnya. Dahaganya tak hilang-hilang. Ia meminum kehidupannya sendiri sampai akhirnya — ia tumbang lemas di atas salju.
Barangkali para Eskimo mengerti taktik ini karena manusia tak jauh berbeda.
Young and full of running Tell me where has that taken me? Just a great figure eight or a tiny infinity?
2026 rupanya tak mengenal rem. Sayangnya, ia seperti tak mendengar tatkala diminta untuk mengalir sedikit lebih pelan. Rutinitas awal 2026 sejauh ini berjalan seolah seluruh hidupku selama ini memang seperti ini dan akan seterusnya seperti ini. Seolah aku sedari dulu memang adalah Rakean yang tinggal sendiri di Jakarta Pusat dan akan seterusnya seperti itu.
Maka, ketika ada kesempatan untuk pulang ke Bandung di weekend lalu, aku baru pertama kalinya relate dengan romantisasi para rombongan wisatawan Jakarta terhadap kotaku itu. Aku serap semuanya seolah sudah bertahun lamanya tak pulang. Dingin dan pepohonan dan hujan dan kafe-kafe lucu dan akang-teteh someah dan kesantaian orang Sunda. Semuanya begitu abadi. Semuanya begitu syahdu. Kemacetan ke Bandung Timur? Mungkin gak terlalu syahdu yah hahahaha, tetapi aku ikut menaruh arti padanya seperti hal-hal-Bandung-ku yang lainnya karena itu pun bagian besar dari ceritaku.
Sayangnya, berkaitan dengan pulang, ada satu hal yang lupa aku lakukan: mengabari Rajji.
Menyempurnakan Experience Bandung
Photo by Glen Ardi on Unsplash
Setelah Sabtu yang panjang itu sudah berjalan separuh lewat sedikit, waktu shalat Ashar temukan diriku di daerah Merdeka. Sambil menunggu adik bungsuku dan orang tuaku menjalankan agenda masing-masing (untuk aku jemput lagi nanti malam), aku memilih untuk shalat di sebuah masjid yang dulu suka dikunjungi Ibuku karena ada tukang bakso enak di dekatnya. Baksonya sudah tidak ada, tetapi masjidnya — dan memorinya — tetap nyata sekali. Setelah shalat dan jajan batagor, aku pun beranjak menuju Lengkong Kecil untuk berolahraga sore sembari menunggu malam.
Bagiku, hari itu sudah Bandung sekali. Aku telah berangkat pagi-pagi mengantar keluarga ke agenda weekend mereka, mendatangi kafe nge-hits dan memesan kopi susu creamy walaupun aku tak begitu suka ngopi, membuat konten dan Zoom call dari situ, mencari baju diskon di Sports Station terdekat, dan tiba-tiba ketemu kakel SMA dan kating kampus. Aku seolah kembali ke zaman kejayaanku waktu sekolah dan berkuliah di kota ini.
Ternyata, ada satu hal yang kurang dari hari-yang-sangat-Bandung-itu hingga belum paripurna — belum ada catch-up dengan kawan lama. Untungnya, Rajji menyadari aku sedang di Bandung lewat story Instagram dan langsung meluncur ke kota dari Ujungberung untuk menemuiku dan menjadikan experience Bandung-ku itu bulat sempurna.

Sebuah ajakan
Rajji adalah salah satu teman sebangku SMA-ku. Kita bertemu hampir setiap hari selama tiga tahun penuh karena sistem SMA kami mempertahankan siswa-siswi yang sama di kelas yang sama selama SMA. Kami bahkan satu gugus di Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, dan sejak waktu itu jadi teman diskusi yang satu pace. Sejak kelas 10, aku tertular untuk menjadi lebih cultured dan bijaksana melalui pengaruh Rajji. Dan aku turut merasa telah ikut melebarkan cakrawalanya jua.
Sejak berkuliah, meskipun kita di kampus yang sama, cakar-cakar kehidupan telah mencengkeram kami dan menerbangkan kami ke arah masing-masing. Dengan begitu, setiap obrolan langsung bersama Rajji adalah catch-up sekian bulan yang tidak bisa sebentar, dan biasanya penuh dengan poin-poin unik dan mendalam yang biasanya membuat kepikiran bahkan jauh setelahnya.
Salah satu obrolan kami yang demikian terabadikan dalam tulisanku, *Vienna & Bogor: Kiat-Kiat Berambisi Sehat, yang dalamnya kami berdiskusi mengenai lagu legendaris Vienna karya Billy Joel sembari proyekan bersama di Bogor. Catch-up *tersebut terjadi hampir 30 bulan yang lalu, di saat kami berdua masih mahasiswa. Obrolan kami, dan tulisanku itu, adalah produk dari fase perjalanan masing-masing pada zaman itu.
Ternyata batu-batu perjalanan yang sama menusuk kaki kita lagi hari ini.
Tak lama setelah berkabar singkat dan menerima teh tarik panas, kata Rajji, “Urang baru baca lagi tulisan yang Vienna…”
Menyempurnakan Tulisan Lampau

Waroeng Atjeh di sebelah utara Gor Saparua adalah salah satu tempat langganan Rajji (dan aku) semenjak SMA. Bahkan, salah satu sirkel kami sewaktu masa sekolah menamai grup LINE kami “Mie Aceh” karena suka bertemu di sini.
Seperti biasa, Rajji memesan mi goreng daging andalannya; aku memesan versi tumis. Sementara itu, teh tarik kami berdua panas. Harus panas. Menu tambahan di atas default kami kali ini cukup martabak dan kerupuk putih.
Sama seperti bertahun-tahun lalu, kami saling berkabar dan memberikan cerita konyol terbaru — terutama yang berhubungan dengan teman dekat kami lainnya. Kami turut senang dengan kabar bahagia sahabat lama, dan ikut penasaran dengan takdir para rekan lainnya yang entah sudah hilang ke mana.
Lalu, Rajji menyinggung tulisan Vienna-ku.
Di tulisan itu, aku mengemas percakapan dengan Rajji yang berawal dengan kesimpulannya terkait mengapa orang tua seolah tidak berambisi lagi. Rajji, yang pada saat itu ialah seorang mahasiswa teknik yang “melarikan diri” ke dunia kreatif dengan obsesif, sampai pada kesadaran bahwa mimpi-mimpinya sudah mulai ter-ceklis satu-satu. Ini membuatnya teringat akan lagu Vienna yang mengajak para hustler untuk tenang dan tidak tergesa-gesa dalam beranjak karena “Vienna waits for you”. Vienna di sini menjadi suatu simbol kebahagiaan yang lebih berarti dan kekal.
Obrolan ini membawaku untuk mengeksplorasi konsep-konsep seperti kedewasaaan seimbang dari Kang Yasir Mukhtar, “We don’t all have to be Mark Zuckerberg”-nya Kak Zhafira Aqyla, ambisius nonmaterialistis ala Gibran Huzaifah, dan tentu Vienna-nya Billy Joel. (Please read the piece if you haven’t! It’s quite long, but I’m happy to say that it has inspired many people)
Kesimpulan yang kutemukan adalah bahwa ambisi sehat mungkin tercapai ketika seseorang mampu untuk tidak terjebak dalam dikotomi hidup medioker versus gila kerja, dan menemukan keseimbangan di antaranya — belajar untuk “melambat” seperti pesan dalam lagu Vienna dan menerima bahwa hidup tidak harus selalu berupa pendakian tanpa henti.
Kita yang muda dan naif menuntut diri dan dunia untuk dapat menghasilkan output secepat-cepatnya. Masyarakat pun cenderung mendukung narasi ini. Melalui lagunya, Billy Joel mempertanyakan — apakah ini pandangan yang bijaksana?
Menanggapi paradoks antara obsesi berkarya dengan batasan wajar, Rajji menganggap bahwa kuncinya adalah balance.
Ambisi yang imbalanced adalah api yang cenderung mengorbankan diri dan orang lain, menghabisi segalanya. Di sisi lain, jika ia ditangani secara deliberate dengan cekatan, ia bisa menjadi sumber kehangatan bagi semesta.
Tanpa perhatian kepada akar-akar dari sebuah ambisi itu sendiri, bisa jadi kita terjebak pada treadmill dan terus-terusan mengejar fatamorgana. Dan dengan begitu segala pencapaian terasa hampa — which isn’t worth the effort anyway, no?
Masing-masing diri kita punya rezeki dari Allah berupa hidup yang terlalu sayang untuk didzalimi demi ambisi tak murni yang mati-matian dikejar dan bila didapat pun cenderung tak menghasilkan kepuasan yang berarti.
Di selingan obrolan lainnya tentang tren Bandung terbaru, budaya orang New York City, modifikasi jam tangan Casio, rencana program sedekah baru, dan Alexander the Great, Rajji tetiba kembali membahas ambisi. Dari suatu Instagram Reels random yang ia temukan, ia dapatkan cerita tentang serigala dan es loli berisikan darah dan pisau. Katanya, itu membuatnya teringat dengan obrolan kita waktu itu.
Manusia tak ubahnya serigala di cerita itu. Tak tahu-menahu akan celaka yang ia timpakan pada dirinya, ia tetap saja antusias menjilat-jilat pisau itu — menghabiskan sisa hidup singkatnya dalam kenikmatan semu dalam kerusakan dirinya sendiri.
Rajji menyamainya dengan cemilan pedas. Meskipun mungkin enak, ia pastinya membuat sakit. Kadar gizinya pun dipertanyakan. Namun, selama cemilan pedas itu masih ada dan kita tak ada kuasa atas diri, ya bakalan terus kita makan hahaha.
Dari Instagram Reels yang sama, kata Rajji, ada kisah lain tentang anak-anak yang diberi kesempatan untuk membuat wish yang pasti terkabul. Terkabullah keinginan-keinginan mereka, sekonyol apapun itu, dan bahagialah para pendoa. Akan tetapi, setiap anak yang dikabuli wish-nya pada akhirnya menemukan ketidakpuasan tertentu yang akhirnya membuatnya menderita. Di antara anak-anak itu, satu-satunya anak yang selamat dari penderitaan adalah anak yang membuat wish agar hidupnya berjalan tetap seperti biasanya — karena toh sudah cukup memuaskan.
Menurut Rajji, pemikiran-pemikiran ini menjadi sangat berharga untuk dikunjungi kembali karena ia rasa bahwa hidupnya sebentar lagi akan mengalami transisi lagi. Dan pastinya bersama transisi ada tantangan dan keinginan baru. Ia hanya ingin agar lebih selamat dan bijaksana menjalaninya.
“Dari cerita itu katanya teh,” Rajji elaborasikan, “Sebenernya, what we want isn’t our wish, but to not need to wish.”
Hal itu ia coba untuk sadari terus.
“Urang mah jadi keinget ceramahnya Imam Omar Suleiman,” aku balas, “Bahasannya tentang zuhud. Kan kalau kita sebut orang zuhud, suka kebayangnya orang yang ascetic dan miskin dan gak punya apa-apa karena fokus ibadah.”
“Oh, siga nu geus ngarasa jadi wali meureun nya,” kata Rajji.
Tertawalah kita.
Aku melanjutkan, “Nah, kata Imam Omar teh, zuhud is not about owning nothing, but about being owned by nothing.”
Menyempurnakan Keinginan
Photo by Abdul Ridwan on Unsplash
Ingin dan angan itu wajar. Harus ada malah. Merekalah pertanda keistimewaan kita sebagai manusia, dan merekalah alat dahsyat untuk berkarya.
Akan tetapi, rupanya kita harus senantiasa belajar untuk menempatkannya dengan benar. Jika kita tak hati-hati, bisa jadi kita terkena jebakan keinginan yang tak ada habisnya dan berakhir dengan lemas di atas padang salju. Bisa jadi kita tidak sadar seperti sang serigala. Atau bisa jadi kita sangat sadar — sesuatu yang digambarkan sangaat apik oleh John Mayer dalam lagu Edge of Desire — tetapi memilih untuk mengorbankan diri dan mengejar terus hal-hal yang kita inginkan karena toh menyenangkan.
Itu memang by design. Kata Allah dalam Surah Ali Imran ayat 14, hal-hal di dunia ini memang zuyyina linnaas — dijadikan indah.
“Dijadikan tampak indah dalam pandangan manusia cinta terhadap nafsu, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.
Betapa universalnya contoh-contoh yang digunakan, bukan? Wanita, anak, uang dan perhiasan, kendaraan, aset produktif. Rupanya obsesi keinginan material dan bahan pamer kita tak jauh-jauh dari hal-hal dalam daftar tersebut. By design, merekalah kesenangan hidup di dunia yang dijadikan indah.
Dalam perjalanan menyikapi keinginan, aku membaca buku Filsafat Kebahagiaan karya Ustadz Fahruddin Faiz. Di dalamnya, dijelaskan bahwa menurut Imam Al-Ghazali, kebahagiaan fisik itu rendah karena hewan pun memilikinya. Kenikmatan hatilah (spiritual) yang lebih abadi, dan dengan demikian mempunyai kadar yang lebih tinggi.
Menurutnya, bahagia adalah “pulang”. Jiwa manusia berasal dari Tuhan, maka ia hanya akan benar-benar tenang dan bahagia jika ia kembali dekat dengan Tuhan. Untuk itu, manusia harus membersihkan hati dari iri dan sombong, serta mengendalikan respons diri terhadap keinginan-keinginannya.
Ada juga bahasan kebijaksanaan lokal dari Ki Ageng Suryomentaram yang mengemukakan bahwa keinginan manusia itu sifatnya mulur (memanjang) — saat satu keinginan terpenuhi, nafsu tidak akan berhenti, melainkan meminta porsi yang lebih besar lagi. Mulur ini adalah resep penderitaan abadi. Ia dapat membawakan kesulitan tak berujung, sementara membatasi keinginan justru membawa seseorang pada tentrem (ketenteraman) yang langgeng. Cukup mirip dengan esensi cerita-cerita yang kubahas dengan Rajji.
Maka, mungkin inilah esensi dari “Vienna waits for you” yang sesungguhnya. Vienna kita sendiri barangkali menunggu di tempat yang sangat dekat; bukan di garis finis yang jauh di depan sana atau di suatu masa kebercukupan yang abstrak, tetapi di sini, di saat ini, pada pilihan kita sendiri dalam menyikapi keinginan.
Tak terasa, mi telah habis dan aku harus segera menjemput keluarga. Rajji bercanda bahwa kita sudah seperti kakek-kakek, dan aku menimpalinya dengan pandangan bahwa kemungkinan perjalanan masih sangat panjang dan akan sangat exciting.
Setelah berpamitan dengan Rajji, dan ikut penasaran tentang langkah-langkah kehidupannya (dan aku!) yang berikutnya, terbesit dalam benakku bahwa ini bukan terakhir kalinya kita akan membahas Vienna.
Young and full of running Tell me where has that taken me? Just a great figure eight or a tiny infinity? Love is really nothing But a dream that keeps waking me For all of my trying, we still end up dying How can it be? … So young and full of running All the way to the edge of desire
메타데이터
- post_id
- bdaa4bd23e1d
- slug
- vienna-revisited-melayat-ambisi-at-the-edge-of-desire-bdaa4bd23e1d
- url
- https://medium.com/@rakeanradya/vienna-revisited-melayat-ambisi-at-the-edge-of-desire-bdaa4bd23e1d
- canonical_url
- https://medium.com/@rakeanradya/vienna-revisited-melayat-ambisi-at-the-edge-of-desire-bdaa4bd23e1d
- author_url
- https://medium.com/@rakeanradya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13