← Back to list

Melawan Paradoks Digitalisasi Pendidikan: Ketika Jawaban Terbaik Bukan Aplikasi, Tapi Kehadiran

Anakmu sedang nonton video belajar matematika di YouTube.

Yogaasadiuw · 2026-06-12 10:43 · 0 claps · 5.8 min read
#digital-education #parent-involvement #education #education-reform #digitalization
Open on Medium ↗
Wiki topics: EDU · Education & Learning 🎙️ · Creator Economy ⚖️ · Law & Justice

Melawan Paradoks Digitalisasi Pendidikan: Ketika Jawaban Terbaik Bukan Aplikasi, Tapi Kehadiran

Sumber Gambar: dibuat oleh Gemini AI

Sumber Gambar: dibuat oleh Gemini AI

Anakmu sedang nonton video belajar matematika di YouTube.

Kamu lega — setidaknya bukan kartun, bukan konten receh, bukan yang itu-itu lagi. Ini edukatif. Ini bagus. Kamu bahkan sempat cerita ke pasangan: “tadi si kecil nonton belajar sendiri lho.”

Lalu kita kembali ke HP sendiri.

Mungkin kita pernah ada di momen itu. Dan boleh jadi kita merasa itu sudah cukup.

Tapi di sinilah masalahnya dimulai, bukan dari kontennya, bukan dari teknologinya, tapi dari ilusi keterlibatan yang kita bangun tanpa sadar. Kita merasa sudah hadir karena sudah memilihkan tontonan yang benar. Padahal kehadiran yang sesungguhnya baru saja kita tinggalkan di detik kita mengalihkan pandangan ke layar kita sendiri.

Dan ternyata, pola yang sama terjadi di level yang jauh lebih besar.

Paradoks yang Tidak Pernah Kita Akui

Negara lewat berbagai kebijakannya sudah menghabiskan triliunan rupiah untuk pendidikan. Salah satunya untuk pendidikan digital dan kecakapan literasi digital. Atau, bahkan beberapa dari pembaca secara sadar mengeluarkan biaya besar untuk pendidikan anak dengan memilihkan sekolah, program tambahan, les, atau kegiatan terbaik untuk anak.

Program laptop untuk siswa. Bantuan kuota internet. Pelatihan guru berbasis teknologi. Pembangunan infrastruktur jaringan hingga ke pelosok. Di atas kertas, Indonesia sedang bergerak. Penetrasi internet mencapai 79,5% populasi, menurut APJII. Hampir delapan dari sepuluh orang Indonesia sudah terhubung.

Tapi hasil PISA 2022 bercerita berbeda. Skor literasi dan numerasi Indonesia masih tertinggal jauh dari rata-rata negara OECD. Teknologi sudah masuk ke ruang kelas — tapi kualitas berpikir tidak ikut naik bersamanya.

Negara pun melakukan hal yang sama seperti kita di sofa tadi: memilihkan alatnya, lalu pergi.

Ini yang aku sebut paradoks digitalisasi pendidikan: uang ada, fasilitas ada, koneksi ada — tapi ekosistemnya tidak pernah dibangun. Dan ekosistem itu tidak bisa dibangun oleh pemerintah sendirian — karena ia harus dimulai dari tempat yang paling kecil: ruang keluarga, dan kehadiran orang tua di dalamnya.

Sumber Gambar: Pinterest

Sumber Gambar: Pinterest

Ketika Orang Tua Tidak Hadir

Ada variabel yang jarang masuk ke diskusi kebijakan pendidikan, tapi secara konsisten muncul di hampir setiap riset tentang prestasi anak: keterlibatan orang tua.

Sebuah tinjauan dari American Psychological Association pada 2019 yang menganalisis 448 studi independen menemukan bahwa ketika orang tua terlibat aktif dalam pendidikan anaknya, anak menunjukkan prestasi akademik, keterlibatan, dan motivasi belajar yang lebih tinggi. Bukan teknologi yang jadi pembeda. Bukan sekolahnya. Tapi apakah ada orang tua yang hadir di prosesnya (Libby Stanford, 2023) dalam EdWeek.

Studi lain menemukan bahwa keterlibatan orang tua yang lebih tinggi berkorelasi dengan meningkatnya kemungkinan anak menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMA — dan menariknya, pola keterlibatan yang terlalu ketat dan otoriter justru menurunkan kemungkinan itu. Kehadiran yang bermakna bukan soal kontrol — tapi soal keterlibatan yang hangat dan aktif, (Kantova, K, 2024).

Riset lain membandingkan lebih dari 3.000 sekolah sebelum dan sesudah pandemi, dan menemukan bahwa sekolah dengan keterlibatan keluarga yang lemah mengalami peningkatan ketidakhadiran kronis 16% lebih tinggi dibanding sekolah dengan keterlibatan keluarga yang kuat. Pandemi hanya memperlihatkan dengan lebih jelas apa yang selama ini sudah ada: ekosistem pendampingan keluarga adalah penyangga yang tidak tergantikan. The Annie E. Casey Foundation

Di Indonesia, kita punya tantangan tambahan. Fenomena fatherless — bukan hanya soal ayah yang pergi, tapi ayah yang ada secara fisik namun tidak hadir dalam percakapan — menjadi salah satu wajah dari masalah ini. Tapi ini bukan hanya soal ayah. Ini soal kedua orang tua, soal keluarga, soal budaya yang kadang menganggap “mencari nafkah” dan “menyekolahkan anak” sudah cukup sebagai bentuk keterlibatan.

Belum cukup. Data mengatakan demikian.

Yang Sudah Kita Tahu Sejak Lama: Local Wisdom

Aku orang Jawa. Jadi mungkin wajar kalau yang paling aku kenal adalah nilai-nilai yang tumbuh dari tradisi itu.

Ada konsep among yang diwariskan Ki Hajar Dewantara — mendampingi tanpa mendominasi. Memberi ruang bagi anak untuk tumbuh, tapi tetap hadir sebagai pengarah. Tut wuri handayani — mengikuti dari belakang sambil memberi dorongan — bukan berarti melepas. Justru sebaliknya: tetap ada, tetap awas, tetap terlibat.

Ada ngemong — mengasuh dengan kesabaran dan kehadiran yang tidak tergesa. Orang tua yang ngemong tidak hanya memberi instruksi — ia hadir dalam proses. Ia duduk bersama anaknya. Ia mendengar sebelum berbicara.

Tapi makin aku pikir, ini bukan milik Jawa saja. Nilai-nilai ini ada di hampir setiap tradisi lokal kita — karena ia lahir dari kebutuhan manusia yang universal: anak butuh didampingi, bukan hanya difasilitasi. Kita sudah tahu ini jauh sebelum ada internet, jauh sebelum ada kurikulum digital, jauh sebelum ada program pemerintah manapun.

Yang berubah bukan pengetahuannya. Yang berubah adalah kita terlalu sibuk — dan terlalu mudah merasa sudah cukup hanya dengan memilihkan alatnya.

Ibrahim dan Pelajaran yang Tidak Pernah Usang: Tinjauan Teologis

Sebagai muslim, Idul Adha tahun ini, aku mendengar sesuatu dari khutbah yang membekas. Dan hal ini resonate juga membuka satu POV baru tentang bagaimana kisah dibaliknya yang ternya tidak sekadar pengorbanan saja.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail — yang mungkin sudah kita dengar puluhan kali, tiba-tiba terasa berbeda. Bukan pada peristiwa besarnya. Tapi pada satu detail kecil yang selama ini aku lewatkan: kapan Ibrahim menyampaikan mimpinya kepada Ismail.

Bukan langsung setelah mimpi itu datang. Ibrahim menunggu. Ia menunggu sampai Ismail tumbuh ke titik di mana ia sudah bisa diajak berpikir, merasakan, dan memutuskan bersama. Yang para psikolog sebut formal operational stage — kemampuan berpikir abstrak dan mempertimbangkan konsekuensi secara moral. Yang Islam sebut mumayyiz — sudah layak diajak bicara seperti manusia.

Lalu Ibrahim membuka percakapan itu dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?”— QS. As-Saffat: 102

Bukan perintah. Bukan ultimatum. Ia mengajak anaknya berpikir bersama, bahkan dalam momen paling berat dalam hidupnya.

Dan Ismail — yang tumbuh dalam ekosistem pendampingan itu — menjawab dengan seluruh dirinya. Bukan karena takut. Tapi karena ia percaya pada ayahnya, dan tahu ayahnya percaya padanya.

Ibrahim tidak punya aplikasi pembelajaran. Tidak punya kuota internet. Tidak punya program pemerintah yang mendukungnya. Tapi ia membangun sesuatu yang jauh lebih tahan lama — ekosistem pendampingan yang tumbuh dari kehadiran, kesabaran, dan dialog. Ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus menunggu, dan bagaimana cara melibatkan anaknya bahkan di momen yang paling berat sekalipun.

Dan aku rasa, ini bukan keajaiban atas kenabiannya. Tapi hasil dari kehadiran yang konsisten dan panjang sebagai orang tua untuk anaknya.

Sumber: Kemenkeu Mengajar — Pinteres

Sumber: Kemenkeu Mengajar — Pinteres

Lalu Apa yang Kita Lakukan? refleksi dasar

Disini, aku tidak sedang bilang teknologi itu tidak penting. Bahkan aku sangat mendukung jika teknologi dikategorikan sebagai hal yang SANGAT PENTING — dan akses yang merata tetap harus diperjuangkan.

Tapi teknologi tanpa ekosistem pendampingan orang tua atau aktor pendidikan lainnya adalah seperti buku yang tidak pernah dibuka. Seperti sekolah bagus di lingkungan yang tidak peduli pendidikan. Seperti kuota internet yang habis untuk konten yang tidak mendidik — karena tidak ada yang mengajarkan bagaimana memilih, memahami, dan eksplorasi.

Ekosistem pendampingan itu dibangun dari hal-hal kecil yang tidak terlihat di laporan pemerintah manapun: orang tua yang duduk sebentar menanyakan apa yang baru dipelajari hari ini. Yang menonton konten bersama, lalu mendiskusikannya. Yang mengawasi bukan dengan kecurigaan, tapi dengan keterlibatan. Yang hadir dalam kebingungan anak — bukan hanya dalam pencapaiannya.

Ki Hajar Dewantara sudah mengajarkannya. Tradisi kita sudah mewariskannya. Ibrahim sudah mencontohkannya ribuan tahun lalu.

Jawabannya sudah ada di sekitar kita. Mungkin, anggaran triliunan hanya akan jadi akselerator. Program barupun mungkin jawaban atas masalah baru yang muncul. Anak lebih membutuh kita, orang tuanya— yang memilih untuk benar-benar hadir.

Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis, 2021

Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis, 2021

Aku menulis ini bukan sebagai orang tua yang sudah tahu jawabannya. Aku menulis ini sebagai seseorang yang suatu hari nanti ingin menjadi orang tua — dan takut. Takut terjebak dalam paradoks yang sama: menyediakan semua fasilitas, tapi lupa hadir.

Sibuk bekerja untuk anak, tapi tidak pernah benar-benar bersama anak. Merasa sudah cukup hanya karena memilihkan konten yang benar — lalu kembali ke layar sendiri.

Mungkin melawan paradoks digitalisasi pendidikan tidak dimulai dari kebijakan. Tapi dari satu keputusan kecil malam ini: meletakkan HP, dan duduk bersama anak.

Pelan-pelan — kita belajar bersama untuk wujudkan pendidikan anak yang bermakna!

Refleksi ini hadir dari gabungan beberapa tulisan di Instagram penulis untuk section: #yogamikir

Catatan penulis: Data PISA 2022 dan APJII digunakan sebagai referensi umum. Riset lapangan merujuk pada Wicaksono et al. (2022), Jurnal Spektrum Analisis Kebijakan Pendidikan, Vol. 11(1). Terjemahan QS. As-Saffat: 102.


메타데이터
post_id
bdd1474cb6dd
slug
melawan-paradoks-digitalisasi-pendidikan-ketika-jawaban-terbaik-bukan-aplikasi-tapi-kehadiran-bdd1474cb6dd
url
https://medium.com/@yogaasadiuw/melawan-paradoks-digitalisasi-pendidikan-ketika-jawaban-terbaik-bukan-aplikasi-tapi-kehadiran-bdd1474cb6dd
canonical_url
https://medium.com/@yogaasadiuw/melawan-paradoks-digitalisasi-pendidikan-ketika-jawaban-terbaik-bukan-aplikasi-tapi-kehadiran-bdd1474cb6dd
author_url
https://medium.com/@yogaasadiuw
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39