← Back to list

Candu Bersendiri

Di satu pertemuan pertama dengan seseorang tiga bulan lalu, aku membuat dua pengakuan.

Putri Milenia · 2025-05-11 08:43 · 50 claps · 4.9 min read
#sendiri #kesendirian #candu
Open on Medium ↗

Candu Bersendiri

Di satu pertemuan pertama dengan seseorang bulan Februari (2025) lalu, aku membuat — setidaknya yang kuingat — dua pengakuan.

Pengakuan pertama: aku nggak punya teman.

Kami duduk di kafe yang sembarang kami pilih setelah berjalan dari dua kafe tujuan sebelumnya yang begitu ramai.

Itu pun kami pilih dari internet, karena kami bukan akamsi. Seperti biasa, aku dengan Matcha Latteku, dia dengan basic coffee dan seporsi makanan berat yang aku lupa tepatnya apa. Sambil menyantap makanan dengan lahap, dia menatapku heran.

Ah masa? Aku nggak percaya. Bukannya (kelihatannya) temanmu banyak?

Aku tertawa sebagaimana aku biasanya yang cengengesan kalau bicara. Justru itu, temanku pernah mereview aku. Dia bilang “kamu nggak punya teman ya?”

Kenapa kamu bisa bilang gitu? Bukannya aku mudah ke sana ke mari ya?—ke orang & circle modelan apa saja.

Ya karena itu, karena banyak teman, kamu jadi nggak punya teman ‘dekat’.

Aku pun terdiam. Masuk akal juga ulasannya tentangku. Dan sebenarnya, aku pun setuju.

Kenapa begitu?

Kayaknya, aku yang sudah membangun batasan duluan. Tidak mau berteman dekat dengan sembarangan orang. Lagi pula, aku nyaman-nyaman saja sendiri, nggak ribet. Jawaban ini pula yang aku sampaikan pada orang itu di pertemuan pertama kami.

Lalu dia menanggapi dengan, aku jadi takut nih nggak bisa jadi teman kamu. Standarnya tinggi.

Tentu aku tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan itu. Bukan, bukan karena aku tidak mau berteman dengan siapa pun, apalagi mensyaratkan yang tinggi — toh temanku memang banyak & aku berterima kasih atas mereka semua karena telah bersedia hadir untuk Putri yang senang sendiri ini. Aku hanya tidak ingin teman dudukku, teman karibku, temanku menghabiskan waktu dan bertukar pikir dalam waktu lama itu yang sia-sia. Makanya, aku cenderung menghabiskan sebagian besar waktuku dengan bersendiri saja. Aku menyadari bahwa jika bersama orang lain yang aku senangi (terlalu lama), aku akan tergolong banyak bicara. Kekhawatiranku besar bahwa akulah yang berpotensi menyebabkan kesia-siaan itu.

Meski bagaimana pun, manusia itu makhluk sosial. Kesulitanku terbuka dan nyaman bersama yang lain membuatku bertanya: apakah lantas kemanusiaanku berkurang?

Aku pikir, pelampiasan terbaikku adalah menulis. Kalau orang lain merasa lega saat selesai curhat dengan sahabat, maka aku akan lega saat selesai menulis: curhat dengan diri sendiri.

Pengakuan kedua: aku senang sendiri.

Di usia produktif saat satu persatu teman-temanku menikah dan membersamai anak bertumbuh, aku ada di titik tidak masalah bila harus sendiri sampai bertemu mati. Selain karena senang, nyaman, dan terbiasa bersendiri, sakit kronisku menjadi satu alasan krusial lain — karena tidak semua orang siap dan bersedia menemani pasangan yang sakit. Iya, itu matematisku sebagai manusia.

Teman-temanku dan banyak orang di usiaku mulai memikirkan uang, untuk beli rumah, mobil, investasi saham dan lainnya. Sementara aku, nggak begitu memikirkannya. Tentu saja tetap dengan realistisku yang sejak dulu ada, bekerja seoptimal yang kubisa untuk memaksimalkan potensi titipan-Nya — dan yang paling utama ya untuk menuainya di dunia yang pascaini. Bahasa kerennya, untuk-Nya: mengkreasikan dunia untuk akhirat.

Meskipun senang berada di jalan kesendirian, aku juga kerap mempertanyakan, apakah selamanya aku akan sendiri? Ada saatnya aku merasa kosong dan berkeluh cepatlah datangkan aku pangeran berkuda itu! atau kenalkanlah aku dengan teman kalian yang potensial, agar aku tidak berkutat dengan diri sendiri karena harus berfitrah: menyukai orang lain tapi tidak bisa apa-apa! Datangkan dia yang siap menemaniku bolak-balik rumah sakit, Tuhan! Walaupun belum pernah sampai menangis di pojokan kamar karena itu, sih.

Setelah selesai menyantap makanan beratnya, dia mengajakku pindah kursi — ke kursi yang sejak awal dia pilih tapi kutolak. Aku tidak suka duduk berhadapan dengan meja rendah dan kecil sementara kursinya sofa, ada jarak besar antar dua yang sedang bicara itu rasanya. Tapi yasudahlah, kami pindah.

Kamu pernah pacaran? kataku.

Gimana gimana? Pernah atau sedang?

Iya, pernah.

Kamu nggak tau ya kalau sekarang aku lagi pacaran?

Oohh iyaya? Aku nggak tau.

Trus mau nikah kapan? tanyaku.

Aku, sih, sekitar 26 atau 28. Tapi, dia (pacarnya) setahun lebih tua, dan besar kemungkinan akan segera dipertanyakan ‘kapan’ (nikah) oleh keluarganya, karena kan dia perempuan ya.. Sementara, dia belum pernah kasih statement apa-apa, cuma bilang akan nunggu aku.

Aku tersenyum. Merefleksikan dalam diam kalimatnya soal perempuan seakan tabu bila menikah di usia yang mendekati tiga puluh. Aku tidak menyalahkannya, hanya.. aku kesal stereotipe itu masih menjadi PR besar untuk dimusnahkan.

Kalau kamu, kapan? lanjutnya.

Entahlah ya. Kalau orang yang tepatnya sudah datang mungkin? Tapi, aku juga siap-siap saja bila harus sendiri. Mengingat aku bawa luggage banyak dari masa lalu, belum lagi sakit kronisku. Tidak banyak yang siap menghadapinya.

Siapa tau nanti ada yang datang dari Kairo, Mesir kan ya? katanya dengan nada sok optimis yang berniat menghiburku. Konteks: dia berasumsi bahwa aku salih dan berilmu agama tinggi karena aku pernah bilang pernah nyantri. Padahal, ya santri juga ada levelnya, aku abal-abal aja, nggak pantes disandingkan dengan lulusan Al-Azhar, Mesir. Hahaha.

Mendengar pertanyaannya, aku jadi terbawa pada satu momen dan pertanyan persis di lima tahun lalu — dengan seseorang dan tempat yang berbeda. Kalau kali ini di (mantan) ibu kota dan kafe mahal kapitalis, waktu itu di kota pelajar dan kedai kopi (yang terkesan) murah karena berlatar sawah.

Orang di masa lalu itu menanggapi jawabanku yang, aku nggak kepikiran kapan detailnya dengan,

Kamu jangan sampai kayak tanteku, sampai sekarang mendekati empat puluh belum menikah. Waktu itu sempat akan menikah, tapi calonnya meninggal. Sekarang dia belum mau lagi dan cuma fokus kerja, kariernya oke, sukses. Nah, kamu jangan fokus akademis aja ya?

Mengingat tanggapannya itu aku masih kesal, memang apa salahnya kalau perempuan dengan sadar memutuskan pilihan besar dalam hidupnya yang melawan arus? Lagian, dia tau apa soal tantenya yang berjuang menyembuhkan diri dari ‘kegagalan’ menempuh pernikahan dengan orang yang dia cinta dan berujung nyaman sendiri? Aahh, geramnya aku.

Namun, satu hal yang aku tangkap dan kurefleksikan adalah: terdapat harga mahal untuk sebuah kesuksesan. Harga itu adalah kesendirian.

Kalau boleh kuakui hal lain dalam tulisan ini, aku cukup potek saat mendengar respon siapa tau nanti ada yang datang dari Kairo, Mesir kan ya? dari relatif baruku itu. Mengingat aku masih manusia, aku rasa aku sedang di titik penasaran dan ingin membaca buah pikirnya yang lain. Seperti kata Tulus, tipikal klise ingin tahu pikirnya, entah ini ingin entah ini sayang. Sedihnya, dia sedang ada kekasih, dan untuk jadi teman saja pun sulit, kami tidak di satu kota yang sama.

Tapi minimal, dia pernah berujar, sama, aku juga nyaman sendiri, ini buktinya aku di sini, beberapa tahun lalu juga pernah ikut kegiatan relawan di sini saat kubilang aku pernah jalan-jalan sendiri ke Bandung (dari Pekanbaru) saat SMA — dan barangkali karena melihat realitasku yang nomaden juga, sendirian. Mendengar itu hatiku terhibur, kami menangkap getaran yang sama — tentu saja simpulanku hasil akumulasi interaksi lainnya — terlepas dari dirinya sudah berpunya.

Oiya, aku teringat juga saat kutanya bagian kesukaannya di buku The Prophetnya Kahlil Gibran. Dia bilang dia suka bagian Menikah: menghayati ketunggalan masing-masing.

Tidak terasa, sudah jam 9 rupanya. Kami pun menyudahi obrolan di kafe dan melanjutkan tujuan lain yang padahal adalah tujuan utama kami, yakni menuju Taman Ismail Marzuki. Untuk merasakan getaran di tongkrongan Kenduri Cintanya Cak Nun.

Kita jalan kaki aja ya? Deket kok, katanya.

Selama perjalanan, sambil melanjutkan obrolan tipis-tipis dengannya, aku tetap merenungi hasil refleksiku itu dalam diam.

Ya Allah.. meskipun aku mengaku senang sendiri, semoga aku nggak berakhir seperti tantenya teman lamaku itu yang larut dalam candu.

Candu dalam kesendirian.

—buktinya, ada harap-harap cemas dalam dadaku yang berujar, semoga aku dan dia tidak hanya serupa dalam vibrasi, tapi juga bersinggungan dalam frekuensi.


메타데이터
post_id
bdecbc5f544d
slug
candu-bersendiri-bdecbc5f544d
url
https://medium.com/@putrriiiii/candu-bersendiri-bdecbc5f544d
canonical_url
https://medium.com/@putrriiiii/candu-bersendiri-bdecbc5f544d
author_url
https://medium.com/@putrriiiii
status
ok
fetched_at
2026-06-26 03:39:16