← Back to list

In Defense of Degrowth

Karena pertumbuhan ekonomi tak selalu bermakna kebaikan untuk bumi

Ringgo in Booknotations · 2026-05-30 07:25 · 85 claps · 4.9 min read paywalled
#booknotations #ekonomi #lingkungan #ulasan-buku #mei
Open on Medium ↗

In Defense of Degrowth

Karena pertumbuhan ekonomi tak selalu bermakna kebaikan untuk bumi

Dokumentasi pribadi.

Dokumentasi pribadi.

Belum jadi anggota Medium? Klik di sini untuk lanjut membaca secara cuma-cuma. 🔑🔓

In Defense of Degrowth adalah buku kumpulan esai karya ekonom ekologis asal Yunani **Giorgos Kallis, *dengan editor Aaron Vansintjan. Buku ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris pada tahun 2017. Pada prinsipnya, buku ini berisi opini dan “minifesto” (manifesto mini*) yang membahas kritik terhadap dunia modern kita yang begitu terobsesi pada pertumbuhan ekonomi.

Salinan buku In Defense of Degrowth sebagaimana yang ada di gawai Kindle saya bisa kamu dapatkan secara gratis di laman resminya ini. Kamu akan ditanya apakah kamu berkenan untuk bederma, dengan nominal rekomendasi sebesar lima dolar Amerika Serikat. Kalau enggan, kamu bisa pilih nominal nol saja, dengan syarat mencantumkan alamat surelmu.

Tangkapan layar indefenseofdegrowth.com

Tangkapan layar indefenseofdegrowth.com

Akan tetapi kalau kamu tak berkenan dengan semua itu, kamu bisa menggunakan tautan resmi yang sudah saya gunakan saja, sehingga kamu bisa langsung mengunduh salinan bukunya tanpa banyak drama. Ada tiga format salinan yang akan sekaligus kamu dapatkan: epub, mobi, dan PDF.

Inti sari buku ini

In Defense of Degrowth berangkat dari gagasan bahwa sumber daya yang bumi kita punya itu terbatas, sementara sistem ekonomi modern terus menuntut pertumbuhan tanpa batas. Akhirnya terjadilah krisis lingkungan, perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan kelelahan manusia modern di mana-mana. Itu semua bukanlah petaka-petaka yang terpisah. Itu semua merupakan dampak langsung dari sistem yang selalu menuntut agar angka produksi dan konsumsi harus selalu lebih besar dari sebelumnya.

Buku ini menyanggah keyakinan bahwa teknologi saja bisa menyelamatkan dunia. Ia juga mengkritik konsep pertumbuhan hijau (green growth) yang percaya bahwa ekonomi bisa terus berkembang tanpa merusak lingkungan. Menurutnya, efisiensi teknologi sering kali hanya akan menghasilkan konsumsi baru dalam skala yang lebih besar. Dunia modern menjadi semakin efisien, tetapi juga semakin rakus terhadap energi, sumber daya, dan ruang hidup alam kita.

Yang perlu digarisbawahi, degrowth di sini bukan berarti bahwa kita mesti kembali hidup primitif atau menolak kemajuan. Buku ini menegaskan bahwa degrowth berbeda dari resesi ekonomi. Resesi adalah kemerosotan yang tak direncanakan dan sering menyengsarakan masyarakat. Sebaliknya, degrowth adalah upaya sadar untuk menurunkan produksi dan konsumsi secara adil sambil tetap meningkatkan kualitas hidup.

Lewat gagasan degrowth, buku ini mengajak kita membayangkan masyarakat yang lebih sedikit bekerja, lebih banyak waktu luang, lebih kuat dalam hubungan sosial, berbagi sumber daya, dan tak lagi menjadikan konsumsi sebagai pusat identitas manusia.

Di sepanjang buku juga terdapat relasi isu lingkungan dengan demokrasi dan cara hidup kita. Buku ini berpendapat bahwa semakin besar sistem ekonomi dan teknologi modern, semakin besar pula kekuasaan elite, korporasi, dan birokrasi teknokratis atas kehidupan manusia. Karena itu, degrowth bukan hanya proyek ekonomi, tetapi juga proyek politik dan budaya. Ia jadi semacam usaha membangun masyarakat yang lebih sederhana, lebih setara, dan lebih manusiawi.

Kekuatan buku ini

In Defense of Degrowth begitu kuat dalam keberaniannya mempertanyakan sesuatu yang selama ini hampir selalu dianggap benar secara mutlak, yaitu pertumbuhan ekonomi. Di banyak negara, keberhasilan selalu diukur dari naiknya produk domestik bruto (PDB), bertambahnya investasi, atau meningkatnya konsumsi. Buku ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: Apa iya pertumbuhan tanpa batas benar-benar membuat kita lebih bahagia?

Pertanyaan itu terasa kuat karena ditulis dengan bahasa yang relatif sederhana dan penuh perenungan. Meski berasal dari dunia akademik, Giorgos Kallis berusaha berbicara kepada pembaca umum. Gaya bahasa buku ini keluar dari bahasa kampus yang rumit, sehingga terbaca lebih hidup dan lebih mudah dipahami. Akibatnya, buku ini terasa seperti percakapan intelektual yang hangat, bukan sekadar teori ekonomi yang kaku.

Kekuatan lain buku ini ada dalam bagaimana ia menawarkan imajinasi alternatif. Banyak buku kritik kapitalisme berhenti pada kemarahan atau pesimisme, tetapi buku ini tidak. Buku ini justru menunjukkan berbagai praktik kecil yang sudah mulai hidup di tengah masyarakat kita: kebun-kebun perkotaan, koperasi pangan dan petani, berbagi pekerjaan, komunitas hidup bersama, dan hingga ekonomi kesetiakawanan.

Ia menyebut praktik-praktik tersebut sebagai “nowtopia”, yaitu bentuk utopia yang perlu mulai kita wujudkan sejak sekarang, bukan sekadar mimpi masa depan semata.

Selain itu, buku ini menarik karena memadukan ekonomi, ekologi, politik, filsafat, hingga budaya populer dalam satu narasi. Kita tak sekadar diajak memahami angka atau teori, tetapi juga dipersilakan memikirkan ulang arti kehidupan yang baik. Di titik inilah In Defense of Degrowth jauh lebih terasa seperti risalah filsafat ketimbang risalah ekonomi.

Relevansinya dengan kehidupan kita

Dunia modern kita punya paradoks yang aneh. Teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia memang semakin maju, tetapi mengapa banyak orang justru semakin lelah, cemas, dan kehilangan waktu untuk hidup dengan tenang? Budaya produktivitas membuat kita merasa harus selalu sibuk agar dianggap keren. Selain itu, tren media sosial dan bisnis periklanan terus mendorong konsumsi-konsumsi baru, meninggalkan lingkungan yang semakin rusak dan biaya hidup yang semakin tinggi.

Di tengah situasi yang demikian, In Defense of Degrowth mengajukan pertanyaan penting: Benarkah kehidupan yang baik benar-benar identik dengan punya lebih banyak barang? Pertanyaan tersebut begitu dekat dengan pengalaman banyak orang, mungkin juga termasuk kamu, yang mulai jenuh dengan budaya kerja berlebihan dan tekanan untuk selalu mengikuti standar hidup yang berjejal di media sosial.

Buku ini juga relevan bagi para pengambil kebijakan di negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang hampir selalu memandang pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya jalan menuju kemajuan.

Buku ini tak menyangkal pentingnya kesejahteraan material, tetapi ia mengingatkan bahwa pertumbuhan yang tak terkendali justru bisa menghasilkan kerusakan ekologis dan sosial yang jauh lebih mahal pada masa depan. Dalam banyak kasus, pertumbuhan ekonomi harus dibayar dengan hilangnya hutan, rusaknya ruang hidup masyarakat adat, polusi yang begitu mencemari, dan semakin meningkatnya ketimpangan sosial.

Menariknya, sejumlah nilai yang dibela melalui konsep degrowth sebenarnya tak asing lagi bagi masyarakat Asia, termasuk Indonesia. Gagasan hidup secukupnya, gotong royong, memperbaiki barang daripada membuangnya, serta menghargai hubungan sosial di atas konsumsi material adalah nilai-nilai yang sudah lama hidup dalam kearifan budaya lokal kita.

Refleksi akhir

Dengan fokus utama pada ekonomi dan lingkungan, In Defense of Degrowth mengajak kita untuk memikirkan kembali arah peradaban manusia. Jangan-jangan masalah terbesar dunia modern kita bukanlah lemahnya teknologi atau kurangnya sumber daya, melainkan ketidakmampuan dan ketidakmauan kita untuk merasa cukup?

Buku ini memang tak menawarkan jawaban yang sederhana. Banyak gagasannya bahkan terbaca naif dan sulit diwujudkan dalam sistem dunia sekarang. Namun dari situ, buku ini membuka ruang imajinasi bahwa kehidupan yang lebih sederhana tak selalu berarti kemunduran. Boleh jadi, kesederhanaan justru merupakan bentuk kebebasan diri dari tekanan konsumsi dan perlombaan tanpa henti.

Di tengah dunia yang terus memaksa kita untuk tumbuh, berlari, dan menghasilkan jauh lebih banyak keluaran, buku ini hadir merangsek ke ruang-ruang diskusi kritis kita dan menegaskan keresahannya: Kalau pertumbuhan ekonomi memang tak selalu bermakna kebaikan untuk bumi, mungkin yang kita butuhkan saat ini bukan terus-terusan “mengonsumsi lebih banyak”, melainkan menjadi pribadi yang “mudah merasa cukup”.

Terima kasih telah membaca sejauh ini. Jika menyukainya, mungkin kamu juga akan menyukai tulisan-tulisan saya tentang **buku, [film dan musik](https://ringgo.medium.com/list/music-0d42ebfd8fc4), [linguistika](https://ringgo.medium.com/list/linguistics-b96094909652), [refleksi diri](https://ringgo.medium.com/list/reflections-85ee21d6f0ec), dan yang [lainnya](https://ringgo.medium.com/list/others-cf2bebaa976a)**.

Foto oleh Karolina Kołodziejczak di Unsplash.

Foto oleh Karolina Kołodziejczak di Unsplash.

Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!

[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com


메타데이터
post_id
bdecd1c1419e
slug
in-defense-of-degrowth-bdecd1c1419e
url
https://medium.com/booknotations/in-defense-of-degrowth-bdecd1c1419e
canonical_url
https://medium.com/booknotations/in-defense-of-degrowth-bdecd1c1419e
author_url
https://medium.com/@ringgo
status
ok
fetched_at
2026-06-11 21:11:36