← Back to list

Silent Love

Part of “In The End Of The Park”, PromMark’s Side Story

Yuuki_icenfire0803 · 2024-12-12 07:12 · 0 claps · 9.2 min read
#prommark #yinwar #fanfiction #alternative-universe #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative 🥊 · Combat Sports

Silent Love

Part of “In The End Of The Park” (PromMark’s Side Story)

Prom adalah seorang pria yang menyukai musik Hip-Hop, Rapp dan B-Boying. Seorang ekstrovert yang langsung berganti menjadi introvert begitu berhadapan dengan Mark, teman dari tetangga sekaligus sahabatnya yang menghadiri satu tempat kursus musik yang sama, War. Prom bukanlah tipe orang yang begitu suka dengan bernyanyi, namun karena suatu hari War membawa Mark berkunjung ke area perumahan mereka, sejak itulah Prom menjadi orang yang suka untuk memainkan instrumen musik dan menyanyikan lagu romantis disamping kesehariannya yang masih tetap dengan Hip-Hop dan B-Boying. Hingga suatu ketika, Dia secara terang-terangan meminta “bantuan” Bonz, “ketua” di tempat kursus musiknya dan tetangganya itu untuk “memperkenalkan” Dia kepada Mark dan dari sanalah Prom menjadi pribadi yang berbeda hingga membuat semua orang yang mengenalnya mengira Pria ini telah berubah menjadi sosok orang lain. Namun hal itu jugalah yang membuka berbagai fakta tentang diri Mark yang tidak Ia ketahui dan sekaligus membuatnya berada di sisi Up-Down untuk mencintai Mark dalam diam.

Di dalam diam pulalah, Prom seakan memberikan segalanya kepada Mark hingga pada akhirnya……….

[embed]

Suasana hari itu sangat mendung, berbeda dari biasanya. Aku juga tidak mengerti apa yang tengah terjadi disini, yang jelas, hari ini sangat gelap dari hari biasanya. Anginnya pun berhembus lumayan lebih keras.

Di malam hari, anak-anak B-Boying akan berkumpul dan latihan menari disini dan oleh karena itu, Aku yang biasanya akan dengan senang hati “bermain” di halaman rumahku dengan memutar lagu-lagu Hip-Hop yang kusuka sambil membereskan pekarangan rumah yang penuh dengan bekas oli dan spare-part berserakan ini agak mengurungkan niat untuk mengurangi aktivitasku dan “menyingkirkan” kata bermain dan hanya fokus untuk membereskan berbagai perkakas dan sisa oli saja. Sebagai mahasiswa teknik dengan jurusan mekanik, tentu saja Aku harus banyak praktek demi bisa mengasah skill-ku. Untuk itulah, Aku juga membuka usaha bengkel kecil-kecilan di halaman rumahku dengan teman-temanku sebagai karyawan part-time-nya.

Tuk tuk tuk tuk!!” Hujan mulai turun dan suaranya semakin deras. Suara hujan ini menutupi iringan lagu Hip-Hop yang Aku putar dari sound system yang terpasang di samping area pintu masuk rumahku.

Hujan ini membuat area disekitar rumah menjadi berkabut dan membuat jarak pandangan menjadi lebih pendek. Tiba-tiba muncul guntur yang membuatku kaget. Tapi bersamaan dengan itu, Aku mendengar suara teriakan yang keras, tapi juga melengking. Aku kira itu suara wanita, tapi setelah seseorang semakin mendekat dan berteduh ke area halaman rumahku, Aku jadi tahu Dia adalah seorang Pria. Pria asing yang bahkan wajahnya tak pernah Aku lihat sebelumnya. Aku menatapnya, sampai melambatkan aktivitasku membersihkan ceceran oli hitam yang berserakan di lantai semen. Pria itu tetap fokus memperhatikan langit sambil membersihkan badannya yang lumayan terguyur oleh air hujan. Rambutnya yang sedikit basah masih tetap bisa membuatnya tersenyum, meskipun tampaknya Dia sedikit mengigil karenanya.

“Mark!” Tiba-tiba ada suara seseorang yang sepertinya, memanggil namanya? Dan orang itu adalah War!

Hah? Pikirku, apa hubungan dari kedua orang itu?

War yang membawa payung sejak awal itu melihatku. Dia menyapaku dan Akupun membalas sapaannya. Barulah pria bernama “Mark” itu menoleh ke arahku, dengan senyum canggungnya. Tangannya seakan menggaruk kepalanya yang agak basah dengan tangan satunya mengapit siku tangannya yang lain. Oh, Mark benar-benar kedinginan sepertinya.

“Kesini dululah Kalian berdua! Mampir dulu. Hujannya tak bersahabat, itu!” Ajakku kepada mereka dan langsung di iyakan oleh War. Hahah, tetanggaku yang satu itu memang selalu jujur.

Pria bernama Mark itu duduk di atas dipan bambu sambil melihat-lihat ke sekitaran bengkelku. Dia duduk tepat di samping lemari berisi berbagai macam merek oli baru dan bekas, ban, bemper dan segala perkakas motor dan mobil lainnya. Sementara War, yang sudah terbiasa disini itupun langsung pergi ke dapur untuk menjerang air, sepertinya? Karena sebelumnya Dia bertanya apakah Aku punya persediaan teh dan gula di dapur? Yah, Kami memang bertetangga dan teman sejak balita, jadi Kami terbiasa mengunjungi satu sama lain dan membawa keperluan untuk satu sama lain juga. Kami pun bersekolah dan sekarang berkuliah di tempat yang sama, meskipun dengan jurusan yang berbeda. Dia ada di arsitektur dan Aku di teknik. Tapi lagi-lagi seperti rumah Kita, fakultas tempat Kami menuntut ilmu pun bertetangga pula tapi tetap saja, Aku dan War sangat jarang bertemu kalau di kampus karena perbedaan jadwal pembelajaran Kami. Jadi kawan, satu tempat perkuliahan tak menjamin jika Kau akan memiliki waktu untuk bersua dengan tetanggamu! Hahaha.

[embed]

Aku memberikan handuk bersih yang baru Aku keluarkan dari lemari kepada si Mark itu. Dengan canggung Dia menerimanya. “Terima kasih” katanya. Suaranya manis, juga senyumnya. Hemmm……… dari mana si War-War ini menemukan mahluk semaacam ini, ya? Penasaran Aku.

“Kamu mau mandi sekalian, kah Mark?” Tanya si War itu dari dalam. “Baju Prom kayaknya bakal pas di Kamu…” Eh? Sekate-kate si War kalo ngomong, ya! Panik Aku sumpah, kagak boong!

“Enggak, War. Enggak usaaah.”

“Kalau begitu cuci rambutmu saja. Rambutmu basah karena air hujan dan…” Aku melihat ke arah bajunya yang juga agak basah kuyup, “Mandi saja Kau sekalian! Nanti masuk angin!” Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil baju bersih yang sekiranya cocok dengan postur tubuhnya dari lemariku. Aku tahu Dia sebenarnya ingin menolak dengan gesturnya yang seperti mencegahku itu. Tapi Aku terlalu gesit untuk membalikkan badanku dulu sebelum Dia bisa mengucapkan kata “Tidak” haha.

Aku kembali dan memberikan Dia kaus dan celana pendek selututku. Dia tampak terkejut.

“Aku sobatnya War dari balita, tenang saja. Aku bukan Om-Om meskipun tampangku menyeramkan seperti ini. Mataku memang tajam dan ekspresiku memang selalu begini, bukannya Aku sedang marah. Tenang saja.”

“Pffttt!” Dia hampir tertawa, namun ditahannya dengan ujung jari telunjuknya yang ditekuk. Aku sedikit lega mendengar itu, karena ya~ dengan wajah ini Aku sudah sering di salahpahami oleh banyak orang sampai teman-teman sefakultasku sendiri memanggilku “Prom, Si Om Galak” karena tampangku. Jadi melihat ada yang bisa tertawa dengan “leluconku” itu, Aku agak……. senang? Mungkin?

Si Mark itu akhirnya mau pergi ke kamar mandiku yang terletak di ujung dapur, jadi Aku yakin pasti mereka sedang berpapasan sekarang. Dan Aku? Kembali membereskan pekerjaanku yang tertunda itu.

Tak lama, War sudah datang dengan 3 gelas teh hangat dan tekonya sedangkan Mark datang bersamaan dengan panci besar berisi mie kuah instan yang asapnya masih mengepul keras dengan 3 mangkok dan peralatan makannya. Tak lupa dengan handuknya yang masih menggantung di leher, Dia tampak sangat berhati-hati membawanya, berusaha untuk tetap seimbang. Aku terkejut, dan segera Aku taruh semua peralatan montir itu ke lemari luar dan mengambil lap untuk membersihkan tanganku. Aku segera berlari sembari melemparkan lap itu ke dipan untuk membantu Mark membawa nampan yang terlihat cukup berat itu. Tangan Kami bertemu dan Mark menatapku. Awalnya Dia tersenyum, tapi senyuman itu hilang saat mata Kami bertemu. Mungkin Dia kira, kalau Aku adalah War dan tak menyangka jika Prom-lah yang datang, tara~!

Aku mengangguk, memberikan Dia isyarat agar melepaskan tangannya dari nampan itu supaya Aku leluasa untuk membawanya ke meja ruang tengah dimana War sedang mengatur tempat Kami akan makan.

Eum….” Mark mencolek pundakku, lalu bertanya padaku takut-takut, “Ini handuknya ditaruh dimana?”

“Disana! Tuh, tuh!” Tunjukku dengan dagu dan telunjukku ke arah tali gantungan yang terletak di ujung sudut rumah, di samping tembok pagar. Pria bernama Mark itu segera pergi kesana dan menggantungkan handuk berwarna kuning menyala itu disana. Lalu Dia kembali untuk bergabung bersama Kami.

Setelah sekian lama turun dengan derasnya, akhirnya hujan pun mulai mereda. Makanan dan minuman sudah selesai disantap dengan nikmat, tinggal giliran untuk membereskannya. Aku sudah ingin membereskan semuanya agar War dan Mark bisa pulang sebelum hari mulai gelap, tapi Mark menolak. Dia ingin ikut membereskan juga. Mungkin Dia merasa sungkan untuk meninggalkan barang-barang berantakan begitu saja.

Akhirnya Dia membantuku untuk membawa semua peralatan ke dapur untuk mencucinya, sementara War berpamitan pulang untuk membawa segala peralatan kerja kelompoknya ke rumah Prom. Mereka berdua sepakat akan mengerjakan pekerjaan mereka itu di rumahku dan sekaligus menginap, lalu baru kembali ke rumah War untuk sarapan dan bersiap-siap ke kampus, tentu saja Aku ikut! Mark sudah terlihat tidak canggung lagi ketika berada di dekatku. Terbukti dengan bagaimana Dia memberikan berbagai peralatan yang sudah dicucinya itu untuk di bilas. Tiba-tiba Mark bersuara. Aku mengantisipasinya kalau-kalau Dia ingin mengajakku bercengkrama.

“Kamu tinggal disini sendirian?”

Yap!

Em… maaf bertanya lebih jauh, kalau boleh tau, sanak familimu dimana?”

Aku ingin tertawa rasanya! Baru kali ini ada orang yang sangat sopan bertanya kepadaku tentang sanak familiku dan kenapa Aku bisa tinggal sendirian di rumah ini, karena biasanya orang-orang, bahkan tetangga ujung komplek perumahan ini saja bertanya “langsung” tanpa berpikir terlebih dahulu. Tapi Dia berbeda. Seperti agak sungkan dan ragu-ragu. Aku melihat bagaimana Dia menggaruk-garuk jari-jarinya yang penuh busa dan menggigiti ujung bibirnya gelisah. Dia memang anak baik, kurasa.

“Orang tuaku masih ada, tenang saja!” Wajah Mark tampak lega begitu kulihat Dia menolehku dan Aku membalasnya dengan senyum.

“Orang tuaku kembali ke kampung halaman Ibuku di Ilsan, karena mereka ingin tinggal di rumah mendiang orang tua Ibuku yang tidak ada penghuninya. Ibuku anak tunggal, jadi begitu Kakek dan Nenekku sudah ke Akhirat, tidak ada yang mengurusi semua peninggalan mereka disana. Jadinya Aku tinggal sendirian disini, sekaligus berkuliah dan membuka bengkel kecil.”

Mark tampaknya sudah mengerti sekarang kenapa area lantai semen halaman rumahku penuh dengan noda hitam dan ada perkakas montir di lemari kayu di dekat tembok di samping dipan yang Ia duduki di awal.

“Kamu keren, ya.”

“Hah?” Aku tidak salah dengar, kan?

“Iya, Kamu orang yang mandiri. Kalau Aku, sejujurnya, Aku tidak akan sanggup, hehe.”

Eh? Aku kira Mark juga orang yang sedikit tertutup seperti War? Nyatanya tidak juga. Atau mungkin Dia nyaman denganku? Bisa jadi.

“Maaarrkkkk!! Prroooommm!!”

Tiba-tiba terdengar suara War yang meneriaki nama Kami dari luar. Kami berdua pun segera mengusap tangan basah Kami ke kaus masing- masing dan segera berlari keluar rumah dan benar saja, ada War membawa berbagai peralatan dari laptop, tas isi gulungan selubung kertas yang mencuat, tas ranselnya dan berbagai barang lain yang seperti….. mainan? Seruling?

“Heh BIAWAK! Ngapain Lu bawa ginian juga kesini?”

“Biar Aku nggak bosen~”

“Orang mau belajar kelompok sampek nginep dirumah orang tuh yang ada bawa barangnya yang pentiiingggg!! Lah ini ngapain bawa barang nggak jelas-”

“ENAK AJA!” War menyahut mainan dan tas kertas berisi serulingnya dari tanganku, “Ini tuh penting buat Gueh, TAU!” War meninggalkanku dengan dengusan kesal, sedangkan Mark hanya melihat Kami berdua dengan gelengan kepala.

[embed]

Malam itu, suasana dirumahku ramai seperti biasa, tapi kali ini keramaiannya beda. Jika biasanya halaman rumahku di kelilingi oleh anak B-Boying dan mengalun musik Hip-Hop dan Rapp, kali ini di rumahku ada manusia berisik yang memainkan serulingnya sepanjang malam dan seseorang yang tak henti-hentinya mengomel seperti seorang Ibu yang mendapati anaknya lebih sibuk untuk bermain dari pada mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ini pemandangan yang unik sekali, kurasa. Lalu bagaimana denganku?

Aku mengamati mereka sambil meminum teh hangatku dan bermain game di laptopku sendiri yang ku letakkan di meja portable yang menghadap langsung ke arah mereka berdua.

“War, Kita tidur dimana?” Terdengar suara Mark yang bertanya di sela-sela Ia menempelkan kerangka desain di atas meja. War yang tengah mengelem sambil melihat kertas blue print desain itu langsung menatapnya, lalu melihat kesana kemari, mungkin si Biawak itu sedang mencariku yang memilih untuk bersembunyi di balik tembok, hehe.

“Proooommmm!! Proommm!!!”

“Tenang! Udah tak siapin semua! Tinggal tidur.” Seruku dari balik tembok ruang tengah sembari memunculkan diri. Aku lihat Mark tersipu. Waaahh… lucu ya, Dia?

Tepat jam 1 malam War mulai menguap dan Mark sudah mulai memejamkan matanya dengan tangan kanan yang menyangga kepalanya. Aku yang sudah terbiasa begadang karena bermain game itu merasa mereka lemah karena disini hanya Aku sendiri yang masih segar bugar. Agak terdengar sombong memang, tapi lebih mendingan dari pada tidak ada yang bisa Aku sombongkan di hadapan Biawak yang pintar segala hal seperti War itu. Aku akui, Wanarat ini memang terlahir dengan segudang talenta dan seperti tidak memiliki celah! Bahkan sampai keinginan untuk bertahan hidupnya, Tuhaaannn!! Itulah kenapa Aku panggil Dia “War” dan dipakainya sampai detik ini, karena Dia suka. Biawak itu seperti merasak jika Dia adalah prajurit perang yang siap untuk menaklukan apapun! Aku cuma berdoa, siapapun itu pasangannya di masa depan, semoga tidak kaget dengan pola pikir anehnya di balik wajah kalem nan imutnya itu.

Aku pergi ke depan rumah untuk mengecek kembali gerbang halaman. Sudah terkunci check! Semua peralatan montir sudah aman check! Dan sekarang Aku sedang mengunci pintu rumahku sampai Aku mendengar ada suara siulan kecil dari belakang yang ternyata berasal dari War yang sudah terlelap.

Aku mendekati keduanya, lalu mendapati Mark masih setengah terbangun karena mendengar Aku mendekat. Dia yang linglung melihat ke arahku.

“Ayo, ayo pindah ke kamar dulu.” Ajakku sambil menepuk pundaknya pelan. Mark bangun dan menyentuh lenganku sambil salah satu tangannya sibuk mengucek-ucek mata. Agak terkejut Aku sumpah! Bagaimana tangan Mark terasa begitu hangat? Aku agak bersyukur sih tadi ambil kaos tanpa lengan, eh tapi loh? LOH? Aku ngapain kok se-seneng ini YAAAAAAAA……!!!!

Rasanya, posisi alam bawah sadarku seperti meme orang yang sedang memegangi kepalanya dan jatuh ke dasar spiral tanpa ujung. Itulah Aku.

Aku menaruh War yang Aku papah ke kasur lipat, lalu di sebelahnya ada si Mark yang datang-datang langsung tidur terlentang. Lah? Terus Aku tidur di sebelah Mark, gitu? Mau tidak mau ini mah, karena cuma di sana saja ada ruang kosong untuk menaruh kasur tambahan. Padahal Aku sengaja menaruh War ditengah agar Mark bisa Aku suruh tidur di dekat tembok karena bagaimanapun juga, War adalah teman Mark jadi mereka sudah saling kenal. Tapi malah…….Yasudahlah, apa kata besok.

Dan yah, bencana bagiku dan kewarasanku sekarang. Pagiku terbangun dengan Mark yang kini sedang tidur di pundakku dengan tangannya yang melingkar di lenganku. Aku diam mematung. Bingung tak tahu harus berbuat apa. Kalau kalian bertanya apakah jantungku deg-degan? YA JANGAN DITANYA! SUDAH MELEDAK INIIIII!! Dan si Biawak War juga sudah terbangun dari tidurnya. Dengan mengucek-kucek matanya Dia menoleh kearahku, mata Kami saling bertemu dan Dia langsung berteriak,

“SHIAAAAAAA!!!”

Aisat memang orang satu ini. Bikin Ku kaget saja! Dan tentunya, Mark juga langsung terbangun donk dan ikut melempar badanku begitu saja. Terus pergi ke arah War dan bersembunyi ke belakangnya.

Aku merasa seperti mahluk yang terhina tiba-tiba. Memang Aku sering memanggil War dengan sebutan “Biawak” karena tingkahnya yang membuatku sedikit kesal dan memancing sakit kepala, tapi kali ini, Aku sekarang yang merasa jadi Biawak-nya.


메타데이터
post_id
bdfae4a79c74
slug
silent-love-bdfae4a79c74
url
https://medium.com/@ekayuuki/silent-love-bdfae4a79c74
canonical_url
https://medium.com/@ekayuuki/silent-love-bdfae4a79c74
author_url
https://medium.com/@ekayuuki
status
ok
fetched_at
2026-07-21 16:44:47