← Back to list

Di Balik Hiruk Pikuk Pemira: Mengapa Mahasiswa Tidak Lagi Peduli?

Di suatu hari yang cerah, suasana di Kampus X sedikit berbeda daripada hari-hari sebelumnya. Mahasiswa berjalan santai menuju kelas…

Reyhan Naufal · 2025-12-03 18:39 · 0 claps · 1.8 min read
#politics #education #democracy #university #apatisme
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics EDU · Education & Learning 🏛️ · Politics

Di Balik Hiruk Pikuk Pemira: Mengapa Mahasiswa Tidak Lagi Peduli?

source : Pinterest

source : Pinterest

Di suatu hari yang cerah, suasana di Kampus X sedikit berbeda daripada hari-hari sebelumnya. Mahasiswa berjalan santai menuju kelas, sebagian lainnya berhenti di taman kampus, tempat sebuah antrean terbentuk. Di situlah proses Pemira sedang berjalan, sebuah prosesi pemilihan umum raya mahasiswa, tempat demokrasi kampus terjadi, namun apa yang terlihat di permukaan tidak sepenuhnya mencerminkan proses yang berjalan sebelumnya.

Beberapa hari menjelang Pemira, arah pilihan mahasiswa sebenarnya sudah diarahkan, sejumlah mahasiswa senior menghubungi mahasiswa baru untuk menyampaikan ajakan memilih salah satu kandidat tertentu, yang disampaikan dengan dalih “demi kepentingan bersama”. Bagi mahasiswa baru yang masih beradaptasi dengan lingkungan kampus, pesan tersebut terdengar seperti saran. Selain itu, pesan tersebut tidak memberi mereka ruang untuk menolak dan tidak ada penjelasan mengenai visi-misi atau alasan substansif, hanya sebuah klaim bahwa pilihan tersebut adalah yang “terbaik” dan mereka adalah pasangan calon “paling tepat”.

Di tengah perbincangan tersebut, muncul pula kabar bahwa beberapa mahasiswa baru diminta mengirimkan bukti berupa foto Kartu Tanda Mahasiswa. Permintaan itu tidak disertai alasan yang jelas dan tidak ada penjelasan tujuan. Ketiadaan penolakan atau pertanyaan di antara mahasiswa baru membuat proses ini berjalan begitu saja, seolah wajar, namun tidak semua mahasiswa baru memiliki sikap seperti itu. Akan tetapi, mereka yang “sadar” seharusnya sudah mengingatkan dan menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Di berbagai sudut kampus, mahasiswa menjalani rutinitas tanpa banyak bertanya. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka tidak melihat perbedaan nyata antara memilih atau tidak memilih. Mereka tidak merasakan dampak nyata dari pilihan mereka, tidak mengetahui background masing-masing pasangan calon, tidak mengetahui visi-misi yang dibawa, sehingga mengakibatkan Pemira berlangsung seperti serangkaian langkah administratif.

Bagi banyak mahasiswa, apatisme tidak muncul dari ketidakpedulian, melainkan dari nilai bahwa suara mereka tidak memiliki peranan penting dan tidak mengubah apa pun. Pemira menjadi sebuah ritual tahunan yang harus dilaksanakan, bukan sebuah arena berdiskusi dan berargumen. Mereka yang diarahkan untuk memilih mengikuti instruksi bukan karena keyakinan, akan tetapi karena tekanan sosial yang dianggap sebagai bagian dari sistem.

Pada akhirnya, Pemira berakhir tanpa kehebohan, tanpa perdebatan, dan tanpa keterlibatan yang mendalam. Hasil diumumkan layaknya formalitas belaka dan menguntungkan mereka yang telah bermain. Bagi sebagian mahasiswa, pemira hanya menjadi catatan kecil di kalender akademik. Cerita ini menggambarkan bahwa apatisme bukan sekadar mentalitas mahasiswa, tetapi tumbuh dari sistem yang tidak memberikan ruang bagi suara untuk benar-benar berarti. Ketika proses politik lebih menekankan kepatuhan daripada pemahaman, demokrasi hanya hadir sebagai tanda kegiatan, bukan sebagai mekanisme untuk menentukan arah bersama.


메타데이터
post_id
be3fce7c484d
slug
di-balik-hiruk-pikuk-pemira-mengapa-mahasiswa-tidak-lagi-peduli-be3fce7c484d
url
https://medium.com/@rennou/di-balik-hiruk-pikuk-pemira-mengapa-mahasiswa-tidak-lagi-peduli-be3fce7c484d
canonical_url
https://medium.com/@rennou/di-balik-hiruk-pikuk-pemira-mengapa-mahasiswa-tidak-lagi-peduli-be3fce7c484d
author_url
https://medium.com/@rennou
status
ok
fetched_at
2026-07-26 15:15:35