← Back to list

Mengapa Ruang Kelas Sering Hening?

Coba ingat-ingat momen di akhir sesi kuliah ketika dosen bertanya, “sampai sini ada yang ingin ditanyakan?” Diam sejenak. Dosen bertanya…

Black Swan News · 2026-06-27 08:05 · 2 claps · 3.9 min read
#bystander-effect #herd-mentality #mahasiswa #psikologi
Open on Medium ↗

Mengapa Ruang Kelas Sering Hening? Membedah Bystander Effect dan Herd Mentality pada Mahasiswa yang Enggan Bertanya

https://www.magnific.com/free-photo/exhausted-students-desktop_1247925.htm#fromView=search&page=1&position=22&uuid=f8ba9918-0ae7-452a-ab9d-5dd52dcb2a78&query=mahasiswa+di+kelas+takut+bertanya

https://www.magnific.com/free-photo/exhausted-students-desktop_1247925.htm#fromView=search&page=1&position=22&uuid=f8ba9918-0ae7-452a-ab9d-5dd52dcb2a78&query=mahasiswa+di+kelas+takut+bertanya

Coba ingat-ingat momen di akhir sesi kuliah ketika dosen bertanya, “sampai sini ada yang ingin ditanyakan?” Diam sejenak. Dosen bertanya lagi “Ayok masa ndak ada?” Namun Ruang kelas tetap sunyi. Semua mahasiswa kompak menunduk, melirik jam tangan, atau pura-pura sibuk merapikan buku. Kita semua pernah ada di situasi itu, baik sebagai yang ingin bertanya tapi menahan diri, atau sebagai yang ikut diam karena semua orang diam. Fenomena “kelas bisu” ini sering dianggap tanda mahasiswa malas atau sudah paham semua materi. Padahal di baliknya ada dorongan psikis yang jauh lebih kuat daripada sekadar rasa malas, yaitu bystander effect dan herd mentality yang bekerja diam-diam setiap kali forum bertanya dibuka.

Bystander Effect dan Ilusi Bahwa Orang Lain Akan Bergerak Lebih Dulu

Fenomena ini sering dianggap sebagai tanda mahasiswa malas, tidak kritis, atau bahkan tidak tertarik belajar. Padahal dalam psikologi sosial, kondisi seperti ini punya penjelasan yang jauh lebih kompleks. Banyak mahasiswa sebenarnya memiliki pertanyaan, tetapi mereka memilih menyimpannya karena tekanan sosial yang muncul ketika harus menjadi orang pertama yang berbicara.

Salah satu konsep yang menjelaskan fenomena ini adalah bystander effect, yaitu kondisi ketika seseorang lebih kecil kemungkinannya mengambil tindakan ketika berada dalam kelompok dibandingkan ketika sendirian. Konsep ini awalnya banyak digunakan untuk menjelaskan mengapa orang bisa diam ketika melihat kejadian darurat. Namun pola yang sama juga bisa muncul dalam ruang kelas.

Ketika dosen bertanya kepada seluruh kelas, tanggung jawab untuk menjawab terasa terbagi ke semua orang. Pikiran sederhana muncul, “Nanti juga ada yang tanya.” Masalahnya, semua orang berpikir hal yang sama. Akhirnya, tidak ada satupun yang bergerak.

Inilah yang disebut herd mentality, yaitu kecenderungan seseorang merasa tanggung jawabnya mengecil karena banyak orang lain di sekitarnya.

Herd Mentality Membuat Mahasiswa Mengikuti Arus Mayoritas

Terdapat beberapa faktor yang bekerja dalam perilaku semacam ini, salah satunya pluralistic ignorance. Fenomena ini terjadi ketika seseorang salah membaca pikiran kelompok. Kita mengira orang lain memahami sesuatu, padahal sebenarnya mereka juga bingung.

Kita bisa membayangkan suasana kelas ketika dosen menjelaskan teori yang cukup rumit. Meski kamu sebenarnya belum paham bagian tertentu. Namun ketika kamu melihat teman-teman di sekitar hanya diam dan mengangguk, dari situ muncul akan asumsi, “Kayaknya cuma aku yang nggak ngerti.” Padahal bisa jadi setengah kelas mengalami kebingungan yang sama, hanya saja semua orang terlalu takut terlihat tidak tahu.

Fenomena ini sudah lama dibahas dalam psikologi sosial. Penelitian mengenai pluralistic ignorance pada 1987 menjelaskan bahwa individu sering menyembunyikan pendapat atau kebingungan pribadi karena mereka salah memperkirakan bagaimana orang lain berpikir. Dalam proses belajar mengajar, mahasiswa dapat menahan pertanyaan karena menganggap teman-temannya lebih memahami materi dibanding dirinya.

Takut Terlihat Bodoh

Selain itu, ada faktor yang sering tidak terlihat, yaitu kebutuhan menjaga citra diri.

Banyak yang menganggap dengan bertanya di kelas hanya akan membuahkan jawaban terbuka akibat rasa penasaran. Namun bagi sebagian mahasiswa, bertanya terasa seperti membuka kemungkinan untuk dinilai. Mereka takut pertanyaannya dianggap terlalu sederhana, takut dianggap tidak membaca materi, atau takut mendapatkan respons yang membuat malu.

Ha (2024) menunjukkan bahwa keheningan mahasiswa dalam kelas berkaitan dengan kecemasan sosial dan kekhawatiran terhadap evaluasi dari teman sebaya. Ini yang menjadi sebab kenapa mahasiswa sering memilih diam karena ingin menjaga posisi sosial mereka di dalam kelompok. Ironisnya, budaya diam ini kemudian menciptakan lingkaran yang terus berulang. Mahasiswa baru melihat seniornya diam. Senior melihat teman-temannya diam. Dosen melihat kelas diam lalu menganggap tidak ada masalah. Akhirnya, keheningan dianggap sebagai kenormalan saja.

Padahal ruang kelas yang terlalu sunyi bisa menjadi masalah bagi proses belajar. Diskusi adalah bagian penting dari pembentukan pemikiran kritis karena mahasiswa belajar menyusun argumen, menguji pemahaman, dan melihat perspektif lain.

Penelitian Warneri, W., & Ramadhan, I. (2022) tentang keterlibatan mahasiswa menunjukkan bahwa partisipasi kelas memiliki hubungan dengan pengalaman belajar yang lebih aktif. Ketika mahasiswa merasa aman untuk bertanya dan berdiskusi, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.

Mahasiswa tidak selalu takut bertanya karena tidak tahu, tetapi karena takut identitasnya terlihat “kurang pintar”.

Pertanyaan di kelas bukan cuma aktivitas akademik. Secara psikologis, itu menjadi momen ketika seseorang membuka dirinya untuk dinilai. Satu pertanyaan bisa terasa seperti pertaruhan reputasi.

Lalu bagaimana cara memecahkan masalah ini?

Mengubah kelas pasif membutuhkan perubahan dari dua arah.

Dosen dapat menciptakan suasana yang lebih aman secara psikologis dengan memberi respons positif terhadap pertanyaan, menggunakan diskusi kelompok kecil, atau menyediakan media anonim untuk menyampaikan kebingungan. Mahasiswa lebih mudah berbicara ketika mereka merasa kesalahan bukan sesuatu yang memalukan.

Dari sisi mahasiswa, langkah kecil seperti berani menjadi orang pertama yang bertanya dapat memecahkan kebekuan kelompok. Sering kali satu pertanyaan sederhana menjadi pintu bagi mahasiswa lain untuk ikut berdiskusi.

Kelas yang sehat bukan kelas yang tidak memiliki pertanyaan. Kelas yang sehat adalah ruang yang membuat seseorang tidak takut terlihat sedang belajar.

Pada akhirnya, ruang kelas yang hening bukan tanda semua mahasiswa memahami materi, melainkan hasil dari tekanan sosial, rasa takut dinilai, dan kecenderungan manusia mengikuti mayoritas. Memahami fenomena ini membantu kita melihat bahwa keberanian berbicara tidak hanya soal kepribadian, tetapi juga soal lingkungan yang mendukung.

Kalau kamu pernah menjadi mahasiswa yang diam padahal ingin bertanya, mungkin masalahnya bukan karena kamu tidak punya rasa ingin tahu. Bisa jadi kamu hanya berada di ruang yang belum cukup memberi tempat untuk suara itu muncul.

REFERENSI

Grezzo, S., Antonietti, C., & Schmid, R. (2023). From empathy to apathy: The bystander effect revisited. Frontiers in Psychology. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6099971/

Ha, V. L. (2024). Silence in the classroom: Unraveling the cultural dynamics affecting participation and critical thinking in Malaysian and Vietnamese engineering education. Cogent Education, 11(1), 2404780. https://doi.org/10.1080/2331186X.2024.2404780

Julinar, J., Syarif, K., & Aiyuda, N. (2024). Hubungan antara bystander effect dengan perilaku prososial pada mahasiswa Pekanbaru. Indonesian Research Journal on Education, 4(3), 317–326. https://doi.org/10.31004/irje.v4i3.787

Warneri, W., & Ramadhan, I. (2022). Analisis persepsi mahasiswa terhadap cara mengajar dosen Prodi Pendidikan Ekonomi dan motivasi belajar mahasiswa. Jurnal Basicedu, 6(1), 1417–1429. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i1.2134

Amtiran, A. A. (2022). Fenomena bystander effect dan krisis kasih akibat kemajuan teknologi. JIIP Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(6), 1980–1985. https://doi.org/10.54371/jiip.v5i6.669

Penulis: Andika Pratama Editor: Lingga Reviewer: Lingga


메타데이터
post_id
be5202fbb0ce
slug
mengapa-ruang-kelas-sering-hening-be5202fbb0ce
url
https://medium.com/@hongdam.team/mengapa-ruang-kelas-sering-hening-be5202fbb0ce
canonical_url
https://medium.com/@hongdam.team/mengapa-ruang-kelas-sering-hening-be5202fbb0ce
author_url
https://medium.com/@hongdam.team
status
ok
fetched_at
2026-07-07 13:19:33